PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 49. Dewi Penasaran Siapa Lemon Sebenarnya


__ADS_3

Lemon sudah tahu apa maksud Dewi, tanpa berkata-kata lagi, dia berjalan kearah dewi dan mengambil tas Ransel Dewi, kemudian dia berjalan pergi.


"Dasar wanita Manja! Mengangkat Tas saja tidak mampu, bagaimana menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik" Lemon berkata sedikit.


"Makanya kamu yang cocok menjadi Suaminya, karna kamu sudah tahu sifatnya" Bryan berkata bercanda.


"iihh.. Amit-amit deh, ogah banget saya menjadi istrinya" Dewi membalas ocehan Bryan.


Sambil mereka memasuki Lift, Lemon berkata: "Kalau Amit-Amit.. Ngapain mengejar saya sampai disini" Lemon berkata mencibir.


"iih.. Siapa juga yang mengejar kamu, ogah banget, kayak tidak ada kerjaan saja, tidak masuk akal saya mengejar-ngejar kamu" Dewi berkata memalingkan Wajahnya dan sambil memutar bola matanya.


"Sudah sudah.. Kita Jalan saja dulu, nanti baru mengoceh" Lea menengahi mereka berdua.


Tidak berselang lama mereka sudah sampai di Kamar Lemon, Lemon meletakan Tas Dewi kemudian dia berkata: "Sekarang kalian sudah aman, sekarang kalian mandi dulu, saya dan bryan pergi kekamar teman saya disebelah".


Kemudian Lemon melihat Bryan lalu berkata: "Bryan.. ayo bawa tasmu kita pergi".


Merasa semuanya sudah beres, Lemon menarik Bryan lalu mereka pergi.


"Bang Bro.. Kita mau pergi kemana" Bryan berkata penasaran.


"Sudahlah.. Kamu Jangan banyak nanya, kita tinggal dikamar sebelah" Lemon berkata santai.


Melihat Lemon pergi, Dewi seketika berkata: "Kenapa Lemon sekarang semakin Aneh ya? Dia sekarang dipanggil Tuan" Dewi mengingat kejadian sewaktu bertemu Lemon di Koridor Hotel, seseorang memanggilnya Tuan, begitu juga sewaktu di Hotel Soechi, Seorang Pria memanggilnya sebagai Tuan.


Mengingat Hal itu, Dewi hanya bisa menghela nafas panjang, keberadaan Lemon dihatinya semakin Misterius.


"Makanya kita disini, untuk membuktikan rasa penasaranmu itu" Lea berkata menyemangatkan Dewi.


"Iya Lea.. Saya harus tahu siapa dia sebenarnya" Dewi berkata sambil mengepalkan Tinjunya.


Dikamar Sebelah, Lemon membawa membawa Bryan dikamar Hasrat, "Tok tok tok" suara pintu diketuk oleh Lemon.


Hasrat Naibaho membukakan Pintu, ketika melihat Hasrat Naibaho, wajah Bryan seketika menjadi Pucat, ketika dia melihat Hasrat Naibaho dia tertegun dan sedikit gemetar.


"Tuan! Kenapa tuan tidak menelpon saya, biar saya yang datang kekamar Tuan" Hasrat berkata sopan.


"Saya dan Teman saya, gabung tidur disini malam ini! Karena dikamar saya sudah ada teman-teman kami perempuan" Lemon menjelaskan kepada Hasrat Naibaho.


"Oh Tidak Masalah Tuan, saya nanti tidur bersama saudara-saudara yang lain" Hasrat mempersilahkan Lemon.


"Tidak perlu! Saya akan pergi kesuatu tempat malam ini, jadi kalian tidur saja" Lemon berkata sambil mengambil Sebatang Rokok sempurna diatas meja.


"Baik Tuan" Hasrat berkata sambil membungkuk.


Lemon melihat Bryan dan berkata: "Ini adalah saudara seperjuangan saya, Namanya Hasrat Naibaho, jadi kamu tidak perlu sungkan, anggap saja seperti rumah sendiri".


Bryan tidak berkata apa-apa, dia hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia pergi untuk mandi.

__ADS_1


"Memangnya Tuan Mau pergi kemana malam-malam begini, kalau boleh saya ikut tuan" Hasrat berkata kepada Lemon.


"Kamu jangan ikut denganku, lebih baik kamu tetap disini menjaga teman-teman saya" Lemon berkata santai.


"Baik Tuan" Hasrat menjawab dengan jujur.


Tidak lama kemudian, Bryan keluar dari kamar mandi, wajahnya sangat segar dan dia kelihatan sangat bersemangat.


Lemon yang melihat Bryan keluar dari Kamar Mandi, Lemon langsung menyambutnya dengan berkata: "Bryan... Malam ini kamu tidur bersama Naibaho, karna saya akan pergi ke suatu tempat".


Lemon telah melihat tempat yang sangat bagus untuk berkultivasi, yang sangat dipenuhi Energi Spiritual, dia merasakan Energi Spiritual sewaktu mereka pergi melihat tempat pelelangan tadi.


"Bang Bro! Memangnya bang bro mau kemana malam-malam begini?" Bryan Calvin bertanya dengan penuh penasaran.


"Itu sangat rahasia masbro, saya akan pergi kesuatu tempat" Lemon berkata sambil tersenyum.


Selesai berkata Lemon langsung bergegas pergi dari tempat itu, dia menuju tempat dia ingin berkultivasi.


Setelah Lemon pergi, Hasrat Naibaho melihat Bryan, Kemudian dia tersenyum dan berkata: "Kamu jangan Takut, saya yang akan bertanggungjawab untuk keamanan kalian malam ini, apakah kamu mengenaliku?".


" ia..ia Tuan, saya kenal dengan Tuan!" Bryan Calvin berkata terbata-bata.


"Heem.. Bagus kalau sudah kamu tahu, jadi kamu jangan terlalu segan, anggap saja kita saudara" Hasrat tersenyum kepada bryan.


"Maaf Tuan, kalau boleh nanya?Apa hubungan Tuan dengan Teman saya Lemon?" Bryan bertanya dengan wajah penasaran.


"Heemm.. Saya tidak punya hak untuk memberitahukanmu, saya harus ada ijin dari Tuan Lemon baru saya berani bicara, yang jelas kamu jangan beritahu siapapun tentang hubungan kami" Hasrat berkata serius.


Tiba-tiba Hp bryan berdering, kemudian dia mengangkat "Kamu datang kemari bersama Lemon, kita pergi mencari makan" Lea berkata diujung telepon.


"Baik saya akan pergi kesana sekarang" selesai berkata, Bryan meminta Ijin kepada Hasrat untuk pergi mencari makan diluar.


"Baik.. Ini Nomor saya, jika ada sesuatu terjadi segera hubungi saya" Hasrat berkata datar.


"Baik Tuan... Terimakasih" Bryan langsung bergegas pergi setelah dia menyimpan Nomor Hasrat Naibaho.


Bryan sampai dikamar tempat Lea dan Dewi, seketika Dewi bertanya: "Dimana Lemon, kenapa kalian tidak bersama".


"Maaf! Lemon sudah pergi ke suatu tempat, makanya kami tidak bisa bersama" Bryan berkata sambil menghentakan tubuhnya dikursi sofa kamar hotel.


"Heem.. Siapa sebenarnya dia, kenapa dia semakin Misterius" Dewi berkata dalam hati.


"Sudahlah... Kita pergi cari makan, saya sudah sangat lapar!" Lea berkata dengan wajah serius.


Mereka bertiga langsung bergegas pergi, mencari Rumah makan yang masih terbuka, karna sekarang sudah jam 9 malam.


Ditempat lain, Lemon sampai disuatu tempat yang sangat sepi, dibawah pohon besar dia duduk bersilah.


Dia merasakan kekuatan Energi spiritual yang sangat besar, Kemudian dia berkosentrasi membuka kesadaran ilahinya, seketika buku mata dewa aktif, diatas kepala Lemon muncul asap tipis kemudian membentuk mahkota rantai, yang membuat dia berkharisma.

__ADS_1


Didepannya, tersusun banyak kekuatan ajaib pengobatan akupuntur kuno, dan beberapa susunan seni bela diri, yang membuat Lemon mengikuti seluruh alur gerakannya.


Jurus Gerakan seni bela diri yang paling aneh adalah, Jurus Naga Pencabut nyawa, Jurus ini dapat membagi tubuh pemakainya menjadi ratusan bahkan lebih.


Dalam sekejab Lemon menguasai Jurus Naga Pencabut nyawa, dan masih banyak lagi jurus yang lain.


Kembali dikamar Hotel, Dewi Lea dan bryan baru saja kembali, setelah mereka selesai makan diluar, namun Dewi terlihat wajahnya sangat cemberut, karena Lemon sudah pergi begitu saja.


"Sudahlah Lea, kamu jangan terus-terusan cemberut seperti itu, wajah kamu yang cantik berubah menjadi jelek" Lea bercanda ingin menghibur Dewi.


"Saya mau istirahat duluan ya, kalian lanjutkan saja bercerita" Dewi berkata acuh tak acuh, sehingga dia langsung bergegas pergi kedalam Kamar.


Melihat Dewi pergi, Lea dan Bryan hanya bisa menghela nafas panjang, tanpa mengucapkan apa-apa.


Diloby Hotel, Hasrat Naibaho duduk santai disofa, dengan ditemani sebotol Anggur Merah, dan sebungkus Rokok T-Mild. Tiba-tiba David Laiya lewat bersama bawahannya, dan kepala pelayan keluaraganya Rius.


David Laiya menoleh kearah Hasrat Naibaho, tiba-tiba David Laiya terkejut dengan keberadaan Hasrat dihotel ini, David Laiya berpikir sejenak, kemudian dia mengingat tentang Pelelangan besok, sehingga dia mengerti keberadaan Hasrat di pucak gomo.


"Salam Tuan Naibaho, Apa Kabar? Sudah lama kita tidak jumpa" David Laiya menyapa Hasrat Naibaho.


Hasrat Naibaho terkejut ketika melihat David Laiya, dia mengernyitkan keningnya! Kemudian dia paham akan kedatangan Keluarga La ia di Puncak Gomo, Pasti karna Pelelangan Ginseng 100 tahun.


"Eehh.. Patriak La ia? Kabar baik Tuan, ayo kita duduk" Lemon menyambut David dengan senyuman.


David Laiya duduk disofa disamping Hasrat Naibaho, kemudian Hasrat menuangkan Amer diGelas David.


"Apakah karna Pelelangan Ginseng 100 tahun, Tuan Naibaho datang kemari?" David Laiya bertanya penasaran.


"Tidak! Tapi saya hanya menemani teman saya melihat Pelelangan tersebut" Hasrat menjelaskan.


"Oh... Saya kira Tuan Naibaho yang ikut, karna kalau Tuan saya akan lebih baik Mundur" David Laiya sedikit mengangkat sudut bibirnya, pertanda dia mencibir.


Perkataan David Laiya adalah, bahasa isyarat bahwa lawannya lebih baik mundur, karna bertemu dengannya.


David Laiya telah melihat Keadaan Hasrat Naibaho, bahwa dia tidak dapat menandinginya dalam hal keuangan.


Mendengar Bahasa Isyarat David Laiya, seketika wajah Hasrat Naibaho berubah menjadi Masam, kemudian dia berkata: "Saya yakin Tuan Laiya, tidak sesederhana itu, kalaupun saya yang mengikuti pelelangan tersebut, saya akan lebih menghormati Tuan Laiya, karna Tuan Laiya memiliki Aset dan Usaha Mebel nomor 3 dikota Gowe".


Hasrat Naibaho telah menyentil titik kelemahan David Laiya, yang membuat David Laiya sedikit Geram dan Kupingnya berdenyut.


Wajah Rius juga ikutan berkerut, ketika mendengar cibiran dari Hasrat Naibaho, dia mengepalkan tinjunya, mungkin kalau orang lain yang ada dihadapannya ini, pasti dia akan mencabik-cabiknya sampai menjadi potongan-potongan daging.


Melihat Ekspresi mereka, Hasrat Naibaho hanya melayangkan senyuman jahilnya, dia terus mengisap Anggur Merahnya, yang membuat wajahnya semakin sangar dilihat.


Tiba-tiba HPnya Hasrat Berdering, kemudian dia menekan tombol jawab: " Hallo Tuan... Saya Bryan.. Tuan ada dimana, saya didepan Pintu Kamar" Bryan menelpon Hasrat Ketika dia dan Lea sudah mulai merasa Kantuk, sehingga mereka memutuskan untuk istirahat.


"Hallo.. Oh Bryan.. Saya lagi dilobi Hotel, saya lagi mengobrol dengan Tuan Laiya... Tunggu sebentar saya akan kesana" Hasrat berkata kepada Bryan, dan setelah selesai bicara, sambungan Teleponpun langsung terputus.


"Baiklah Tuan Naibaho, saya rasa Tuan ada sedikit kepentingan! Jadi lebih baik kita istirahat, kalau ada waktu lagi kita akan mengobrol bersama.. Terimakasih untuk Anggur Merahnya" David Laiya berkata sambil mengangkat Gelasnya dan mengabiskan Anggur Merah yang masih tersisa didalam gelasnya.

__ADS_1


"Baik Tuan Laiya... Terimakasih sudah memberi waktunya, duduk bersama dengan orang rendahan seperti saya ini" Hasrat berkata merendahkan.


Selesai berkata David Laiya langsung bergegas pergi dari tempat itu, sementara Hasrat Naibaho hanya tersenyum bangga, melihat wajah David Laiya dan Kepala Pelayan Keluarganya, menggertakan gigi mereka karena telah terprovokasi.


__ADS_2