
"Lebih baik kita mencari cara lain, atau kita lebih baik pergi kepelabuhan Pulau Tello, siapa tahu kita bisa mendapatkan Informasi tentang Lemon disana" Bryan terus berkomentar memberi saran yang mereka anggap sangatlah Jitu untuk saat ini.
"Ayooo.. Lebih cepat lebih baik" Sambut Dennis dengan sukacita tanpa berpikir panjang lagi.
"Tapi aku minta waktu sedikit ya? Sebelum kita pergi ke pelabuhan kota Gowe, biarkan aku menjenguk Dewi sebentar" usul Lea dengan wajah memohon kepada Bryan dan Dennis.
"Boleh juga tuh, malahan itu lebih baik, biar kita lihat sekalian kondisinya Dewi" Potong Dennis cepat menjawab perkataan Lea.
"Ya sudah! Ayo kita Otw" sambut Bryan Calvin dengan mengedipkan bahunya.
Mereka semua langsung bergegas pergi menuju kediaman Chandra, karena mereka ingin melihat Kondisi Dewi sekaligus berpamitan.
Tanpa Mereka sadari sepasang mata sedang mengintip mereka dari kejauhan, dengan tatapan tajam penuh dengan dendam Vina mengepalkan tinjunya, dia ingin sekali menghancurkan Lemon dan Dewi, karena dia tahu persis bahwa Marko mati karena Lemon.
"Aku tidak akan pernah membiarkan Anak kurus Miskin itu hidup tenang, aku akan berusaha membuat mereka hancur" Gerutu Vina ketus.
Waktu sudah menunjukan siang, Perlahan Kabut Putih samar menghilang dari hadapan Lemon, tinggal tersisa didalam tungku ramuan obat.
Lemon perlahan membuka matanya, dia merasakan Hawa Energi yang besar terpancar dari dalam Tungku, dia sejenak menggerakan tubuhnya, dia mengibaskan tangannya yang dipenuhi dengan kekuatan Energi Qi esensial.
Kabut putih samar mengembun dimulutnya, ketika dia menarik nafas dalam, Lemon merasakan kekuatannya ada yang bertambah.
Kekuatan Energi Ginseng 1000 tahun itu sangatlah besar, walau hanya menghirupnya saja seseorang merasakan perubahan tingkat kekuatannya.
Lemon membukakan penutup tungku yang berada dihadapannya, hawa energi dari Ginseng 1000 tahun langsung menyembur keluar, dia merasa bagaikan melayang keatas langit ketika Hawa Energi ginseng itu merengsek masuk keseluruh saraf-sarafnya.
Lemon hanya bisa menghela nafas pelan, dia menggelengkan kepalanya dia tidak bisa menahan rasa godaan dari hawa ginseng 1000 tahun.
Dalam sekejab Lemon langsung mengambil 3 buah Pil yang berwarna cokelat tua, kemudian memasukan kedalam kantung penyimpanannya, sedangkan air rebusan yang masih tersisa dia tuangkan kedalam wadah plastik yang sudah disediakan, kemudian dia bawa bersamanya.
Lemon berjalan keluar, dia terkejut ketika melihat Kenji yang sedang duduk berjaga didepan pintu.
"Kenapa Tuan Kenji Masih berada disini?" Tanya Lemon keheranan.
"Saya menunggu Tuan Lemon disini, karena perintah Tuan Patriak Chandra, dia takut akan ada yang mengganggu Tuan Lemon" Jawab Kenji dengan senyuman lebarnya.
"Baiklah... Mari kita temui Tuan Chandra" Ajak Lemon dengan mempersilahkan Kenji untuk ikut.
__ADS_1
Kenji yang mendengar ajakan Lemon, dalam sekejab dia langsung bangkit berdiri dan mengekori Lemon dari belakang.
Patriak Chandra langsung bangkit berdiri, setelah dia melihat Kedatangan Lemon bersama dengan Kenji.
"Tuan Lemon!" Seru Restu chandra dengan penuh semangat 46.
"Maaf Tuan Patriak! Sudah menunggu lama" Kata Lemon dengan sedikit menundukan kepalanya.
"Oh Tidak! Tuan Lemon jangan bersikap seperti itu, kami tidak pernah mempermasalahkan hal itu, silahkan saja" Jawab Restu Chandra dengan mengangkat tangannya.
"Sebaiknya saya langsung kekamarnya Dewi" Ucap Lemon dengan tergesa-gesa.
"Oh ya Tuan! Sepertinya ada perkelahian disekitar rumah ini? Apakah ada yang mengalami cidera atau korban?" Tanya Lemon kepada Kenji, sambil dia memutar balik tubuhnya.
Kenji langsung terkejut mendengar pernyataan Lemon, kemudian dia buru-buru menjawab "Oh.. Masalah itu! Itu sudah ditangani pihak kepolisian Tuan, Tuan Lemon tidak perlu memikirkannya" sahut Kenji dengan senyumannya.
Lemon mengernyit kemudian dia berkata lagi "Pasti itu adalah orang-orang dari Perguruan Kuil Lembah Mondrowe".
"Iya Tuan" sahut Kenji cepat, dengan wajah yang penuh penasaraken.
Kenji penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan Lemon, karena Lemon bisa mengetahui tentang apa yang terjadi diluar rumah.
Setelah Lemon sampai didalam Kamar, dia sedikir terkejut melihat Dewi yang sedang duduk didekat Jendela, dengan posisi Lili dibelakangnya, Lili sedang merapikan rambut Dewi yang terlihat berantakan.
"Maaf Nyonya! Saya menganggu" Ucap Lemon dengan suara pelan.
Sontak saja Lili dan Dewi memutar tubuh ketika mereka mendengar suara Lemon.
"Ehh.. Nak Lemon! Kamu rupanya? Apakah Nak Lemon sudah siap meracik obatnya?" Tanya Lili dengan penasaran.
"Iya Nyonya? Saya sudah siap meracik obatnya, semoga Saja Non Dewi bisa pulih seperti dulu lagi" Jawab Lemon.
"Aminnn" Sahut Lili dengan senyuman sedih yang terpancar dari wajahnya.
Dewi terlihat memonyongkan bibirnya, ketika Lemon mengatakan Non Dewi, karena Dewi sudah berulang kali mengingatkannya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Non.
"Maaf Nyonya.. Saya harus memulai proses pengobatannya, kalau bisa Nyonya duduk disebelah sana" Ucap Lemon sambil memberi pengarahan kepada Lili, sang Calon Mertua.
__ADS_1
Lili hanya mengikuti arahan dari Lemon, tanpa dia banyak berkata, dia langsung duduk disofa dekat Lemarinya Dewi.
"Kamu duduk bersilah, biarkan aku duduk dibelakangmu" ujar Lemon memberi perintah
Dewi langsung duduk bersilah diatas tempat tidur, dengan posisi Lemon dibelakangnya.
Kemudian Lemon mengeluarkan Pil berwarna Cokelatnya, diameletakan ditangan Dewi.
"Kamu minum sekarang" titah Lemon.
Dewi mengangguk dan langsung melemparkan satu butir pil cokelat itu kedalam mulutnya, yang dalam sekejab Pil itu langsung lebur dan berubah menjadi cair.
Lemon langsung meletakan tangannya, Dibahu Dewi dan menyuntikan Qi Esensial kedalam tubuh Dewi.
Wajah Dewi langsung berubah merah dalam sekejab, dia merasakan ada sesuatu berupa Aliran hangat yang berjalan masuk kedalam tubuhnya.
Dewi memejamkan mata, karena Lemon menyuruhnya untuk tenang dan memejamkan mata, dia Merasakan hawa Kekuatan membakar seluruh pori-pori dan sendi-sendi tulangnya.
"Aargghh" Suara Dewi terdengar kesakitan, dia merasakan Tubuhnya akan remuk, seluruh uratnya berdenyut kencang.
Lili yang duduk tidak jauh dari samping Dewi, dia mengerutkan keningnya ketika mendengar keluhan dari sang putri, namun dia tidak berani buja suara karena Lemon sedang melakukan proses pengobatan Dewi.
Dewi berkeringat dingin disertai dengan tubuhnya yang gemetar hebat, namun Lemon masih tetap saja memejamkan matanya, dia terus menyuntikan Energi Qi Murninya kedalam tubuh Dewi.
Lemon melepaskan tangan kananya dari pundak Dewi, kemudian seberkas sinar cahaya beserta kabut putih samar keluar dari dalam jari-jarinya.
Lemon langsung membungkus Dewi dengan Kabut putih samar itu, semakin lama semakin tebal dan membungkus mereka berdua.
Pemandangan didalam kamar sangat berbeda, dimana terlihat Lemon dan Dewi diatas tempat tidur sudah dibungkus oleh Kabut putih, yang tidak bisa tembus pandang.
Lili hanya terus melotot dengan tidak percaya, dia seakan berada diDunia Dongeng.
Lili mengecup jarinya, namun dia merasakan kesakitan "Saya memang berada didunia nyata" ucap Lili didalam hatinya.
Lili menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menebak kekuatan Lemon akan semenakjubkan ini.
Tiba-tiba dari Pintu Masuk, Restu Chandra terkejut ketika mendengar suara langkah kaki yang banyak, dia menatap penasaran kearah Pintu.
__ADS_1
"Salam hormat patriak! Kami bertiga mohon maaf, kalau sudah mengganggu ketenangan patriak" Ucap Bryan Calvin sambil dia menundukan tubuhnya bersama Lea dan Dennis.
"Oh ternyata kalian" jawab Chandra sambil menarik nafas panjangnya, dia telah mengira Bryan dan yang lainnya adalah dari Pihak kepolisian yang melakukan wawancara.