PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 183. Seraf Terkejut dan Berlutut dihadapan Lemon


__ADS_3

Seraf melompat keatas langit dengan gerakan bersalto keatas langit, dia langsung mengarahkan pukulanya kepada Lemon.


Namun Lemon hanya bisa melihatnya dengan ekspresi acuh tak acuh, kemudian Lemon melompat keatas langit, dia menyambut tendangan Seraf langsung keatas langit, yang membuat kedua kaki bertemu dan mengeluarkan suara yang gemerincing.


Lemon kembali menarik kakinya, kemudian dia mengarahkan kaki kirinya kearah perut seraf, yang membuat seraf menjadi kelabakan untuk menangkis, sehingga Seraf langsung terlempar cukup jauh kebelakang.


Seraf terlempar keatas tanah yang sedikit berlumpur, dengan suara gedebuk Seraf langsung menyentuh tanah dengan posisi telungkup.


Lemon kembali keposisinya semula, dia langsung berdiri tegap tanpa merasakan dampak serangan dari Seraf.


Lemon menatao Seraf dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, kemudian dia memutar pandangannya kearah Wahyudin.


"Apakah ini yang kau harapkan untuk membalaskanku? Orang tua" Ketus Lemon kepada Wahyudin, yang membuat wahyudin geram dengan mengepalkan tinjunya.


Wahyudin melihat seraf dengan tatapan bingung, dia tadi sangat mengharapkan bantuan dari anak itu, namun sekarang dia malah terkapar tak berdaya melawan Lemon.


Seraf kemudian berdiri dari atas tanah dia telungkup, dia mengibaskan tangannya berpura-pura tidak merasakan dampak serangan tadi.


Sebenarnya Seraf mengalami rasa ngeri yang sangat menusuk didadanya, sepertinya organ internalnya mengalami luka yang cukup parah, namun dia menguatkan dirinya supaya tidak merasakan rasa malu.


"Saudaraku!! Kenapa kamu tidak mampu menghadapi bocah ingusan ini? Hah! Tadi kau bilang mampu menangani bocah sialan ini" Teriak Wahyudin dengan suara gemetar kepada Seraf.


"Orang tua.. Kau jangan hanya bisa omong doang! Apakah kau tidak melihat seluruh anak buahku mengalami cidera gara-gara anda" Jawab Seraf dengan nada kesalnya.


Setelah Seraf berkata kesal, dia memberi perintah kepada seluruh bawahannya untuk bergerak pergi, namun sebelum mereka melangkahkan kaki, tiba-tiba terdengar suara.


"Siapa bilang kalian boleh meninggalkan tempat ini? Apakaj kalian lupa apa yang telah kalian lakukan ditempat ini!" kata Lemon terdengar tegas, suaranya bergema bagaikan suara raja yang memberi titah kepada bawahanya.


Seraf dan beberapa bawahannya terhenti, mereka semua menoleh keasal suara tersebut.


Mereka semua terkejut melihat tatapan Lemon yang sangat tajam, bola matanya memerah bagaikan serigala yang sedang haus mangsanya.


Wahyudin merasa legah mendengar perkataan Lemon, dia berharap Seraf langsung menyerbu kearah anak sialan itu.


Wahdyudin mengenadah wajahnya keatas langit, dia menyilangkan kedua tangannya kedada, dia menatap semua orang-orang dengan meremehkan.

__ADS_1


Pak Yosa dan beberapa orang-orang yang berada dibelakang Lemon hanya bisa terdiam seribu bahasa tanpa mengatakan apapun.


Dewi hanya menatap punggung Lemon dengan penuh keyakinan dan kasih sayang, sehingga memeluk lengan Bu Meti, karena dia melihat Bu Meti Gemetar karena ketakutan.


"Ibu tidak usah kuatir, Lemon pasti bisa mengatasi semuanya, dia punya ukurannya sendiri" Ucap Dewi lirih kepada sang Calon Mertua, dengan langsung dianggukan oleh Bu Meti.


Seraf menggertakan giginya ketika dia memutar pandanganya kepada Lemon.


"Hei anak kecil? Apakah kau belum tau siapa kami? Asal kau tau kami ini memiliki ketua yang berada dibawah Pimimpinan Yayasan Kuil naga, saya punya saudara bernama Roy Hitler Tambunan" Tegas Seraf dengan nada tinggi.


Mendengar pernyataan Seraf, Lemon hanya bisa mengangkat sebelah sudut bibirnya, sambil mengerutkan kening.


Tanpa berkata-kata Lemon hanya memicingkan bibirnya, kemudian dia langsung meraih Ponselnya dari dalam saku celananya.


"Hallo.. Apakah kau punya saudara di Desa Tora?" Tanya Lemon langsung ketika sambungan telepon tersambung.


"Iya Tuan ada!? Kenapa? Tapi siapa namanya Tuan?" Jawab Roy dengan suara bergetar.


"Heii.. Apakah ini saudaramu yang bernama Roy Hitler Tambunan?" Tanya Lemon kepada Seraf yang membuat seraf mencibir tak percaya.


"Tuan! Saya akan menelponnya, saya sudah tau siapa dia, pasti dia bernama Seraf" Ujar Roy dengan gigi terkatup-katup.


"Baik saya tunggu 2 menit, setelah itu saya akan mematahkan seluruh tulang-tulangnya" Tegas Lemon dengan tatapan dinginnya masih menatap Seraf.


Seraf yang mendengar percakapan Lemon, dia ketawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, kemudian dia berkata sambil menepuk-nepuk tangannya "Plok Plok Plok".


"Luar biasa aktingmu bocah kecil, kau mampu bersilat lidah dengan pura-pura kenal dengan saudaraku yang berada dilota Gowe" Seraf terus tertawa bangga yang diikuti dengan orang-orangnya.


Wahyudin semakin percaya diri setelah mendengar penuturan dari Seraf, kemudian dia berkata dengan congkak "Saudara.. Cepat bungkam saja mulut bocah ini, biar dia tau kalau diatas langit masih ada langit".


Tidak berselang lama, HP Seraf tiba-tiba berdering, namun dengan ekspresi santai acuh tak acuh, dia langsung meraih HP tersebut yang langsung dijawab dengan menekan tombol jawab tanpa melirik siapa penelpon.


"Kau memang dasar B-jingan! Apakah kau mau cari mati? Hah! Beraninya kau memprovokasi ketua Yayasan Kuil Naga, apakah kau tidak mengenal Tuan Lemon? Cepat kau berlutut dan meminta maaf padanya dan seluruh orang-orangmu, kalau tidak! Kau harus membayarkan dengan nyawamu" ucap Roy Hitler dengan berteriak didalam Handponnya.


Seraf bertanya dengan pelan "Apakah anda yang bernama Tuan Lemon?".

__ADS_1


Dengan wajah acuhnya Lemon mencibir dengan kasar, kemudian dia berkata "Apakah Saudaramu sudah menelponmu?".


Dengan wajah yang pucat Seraf mengangguk pelan, kemudian dia meletakan kembali Handponya ditelinga.


"Saudaraku dia memang bernama Lemon, apakah yang harus aku lakukan?" Tanya seraf dengan nada yang bergetar.


"Cepat kau berkutu dan tampar wajahmu berulang kali dihadapannya, dan seluruh anak buah berlutut meminta Ampun" Ujar Roy.


"Setelah itu apakah saya dimaafkan?" Tanya Seraf lagi dengan tatapan kosong, dia sepertinya sedang memikirkan akhir dari perbuatanya sendiri.


"Yaah!! Terserah Tuan Lemon! Apakah dia mau mengampunimu atau tidak" Sarkas Roy dengan marah dia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Dengan kaki bergetar dan wajah yang pucat, Seraf langsung melangkah kedepan Lemon dengan disusul oleh anak buahnya, dia langsung bersujud berlutut dihadapan Lemon begitu juga dengan anak buahnya.


"Mohon ampuni nyawaku Tuan! Saya yang salah, saya memang tidak punya mata, saya memang pantas mati" Ucap Seraf sambil dia menamparkan wajahnya berulang kali.


Melihat perubahan tingkah seraf, dengan bersujud dihadapan Lemon dan memukul dirinya sendiri, wajah congkak wahyudin yang barusan dia perlihatkan dalam sekejab berubah menjadi pucat bagaikan salju dipuncak gunung Fuji.


Suara tamparan terdengar bergema dihalaman rumah, yang membuat seluruh warga Desa berbondong-bondong untuk menyaksikan fenomena tersebut.


Pak Yosa yang melihat kejadian didepan matanya, merasa dia sedang bermimpi, dia juga ikutan untuk menampar wajahnya sendiri, yang membuat orang-orang disekelilingnya mengalihkan pandangan padanya.


"Ayah kenapa memukul wajah sendiri? Kita tidak sedang bermimpi" Ujar Bu Meti menyadarkan Oak Yosa dalam lamunanya.


"ii..iya bu saya pikir saya sedang bermimpi" sahut pak Yosa dengan rasa malu.


Seraf terus berlutut dan bersujud dihadapan Lemon tanpa berhenti, dia menyerahkan keputusan ditangan Lemon, kiranya nyawanya bisa diampuni.


Tatapan Lemon masih saja tidak terelakan dari orang-orang yang sedang berlutut dihadapannya sekarang ini, dia hanya terus menatap dengan acuh tak acuh.


"Baik! Saya akan mengampunimu, tapi kamu harus melakukan sesuatu kepada orang tua itu, yang membuatku senang sebagai balasan sakit hati adik sepupuku, karena dia ingin menikahinya" Ujar Lemon dengan wajah datarnya.


"Ba.. Baik Tuan, saya akan melakukan yang terbaik, yang membuat anda senang" Jawab Seraf dengan hormat dengan wajahnya masih menunduk kebawah.


"Baik! Orang tua itu aku serahkan ditanganmu" Sahut Lemon dengan menggerakkan tangannya memberi isyarat.

__ADS_1


Selesai berkata Lemon langsung mundur kebelakang.


__ADS_2