
Lemon bangun dari tempat tidurnya, kemudian dia pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri, namun tiba-tiba HPnya berbunyi, kemudian dia langsung mengangkat.
"Halo Tuan!" Kata Hasrat dari Ujung Telepon.
"Iya Kenapa?" Tanya Lemon singkat.
"Maaf Tuan, saya terpaksa menelponmu pagi-pagi ini, karena ada yang harus tuan tandatangani" Kata Hasrat dengan nada rendah.
"Baik saya akan kesana setelah saya mandi" Jawan Lemon santai. "Baik Tuan" Jawab kembali Hasrat.
Setelah Lemon beres-beres, dengan pakaian seadanya, dia langsung menancap pedal Gas Mobilnya kearah Perusahaan Yayasan Kuil Naga.
Sesampainya disana dia sangat terkejut ketika melihat Dewi bersama Lea, mereka berjalan masuk memasuki pintu masuk perusahaan.
Namun Lemon tidak terlalu menghiraukan hal itu, dia terus berjalan masuk kedalam, dia naik Lift menuju ruangan CEO.
Lemon berjalan memasuki ruangan kerja CEO, kemudian dia susul Oleh Hasrat Naibaho, "Mana dokumen yang harus saya tandatangani?" Tanya Lemon singkat, sambil dia memutar Kursinya melihat kearah Jendela.
"Maaf Tuan kita tunggu sebentar, karena dokuemennya ada ditangan Sekretaris CEO, dia sedang bertemu dengan Nona Dewi dari keluarga Chandra" kata Hasrat pelan, dengan posisinya yang masih berdiri.
"Eeemm.. Baik! Oh ya.. Saya sudah SMS tadi Widya, jika perwakilan dari Keluarga Chandra datang untuk mengajukan Proposal, untuk segera diproses dan dikirim dananya" kata Lemon sambil memegang rokok Sampurna Mentolnya.
"Selamat Pagi Nona, kita bertemu lagi" Kata Widya dengan hormat, ketika dia berbicara kepada Dewi.
Lea sedikit tersentuh dengan keramahan Widya, karena jarang sekretaris CEO perusahaan besar mau melayani tamu.
"Maaf mba.. Saya sudah mengganggu waktu kerja anda" Jawab Dewi dengan berdiri sambil menganggukan kepalanya.
"Oohh.. Nona Chandra! Tidak usah berlaku sopan seperti itu, saya merasa tidak enak sama nona" kata Widya sambil memancarkan aura kecantikannya.
__ADS_1
"Biasa saja mba, kita itu harus saling menghargai" kata Dewi singkat.
"Oh ya Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Widya penasaran, walau sebenarnya dia sudah tahu tentang tujuan Dewi datang keperusahaannya, namun dia berpura-pura tidak tahu.
"Maaf Mba.. Saya sebenarnya tidak enak, cuman saya sekarang dalam keadaan darurat, begini loh mba! Kami mau mengajukan proposal lagi, karena dana kami masih kurang, dan kami membutuhkan suntikan dana segera, karena di perusahaan kami ada kecelakaan, dan ada banyak korban" kata Dewi yan terlihat sangat sedih.
"Oooh.. Soal itu! Itu tidak menjadi masalah Nona, karena CEO kami sudah memberitahukan sama saya, dan dia setuju dengan pengajuan Proposal yang nona ajukan" kata Dewi yang terlihat santai.
Mendengar pernyataan dari pihak lain, Dewi hanya mengerutkan keningnya sambil berpikir "Kok direktur perusahaan ini tahu ya, kalau hari ini saya berkunjung kesini? Lemon!" dalam sekejab, Nama Dewi melintas dipikiran Dewi, karena dia teringat dengan,
Perkataan Lemon semalam kepadanya, dia bilang untuk mencobanya dan permohonannya kemungkinan akan disetujui.
Melihat ekpresi Dewi yang termenung, Lea menggoyangkan sedikit tubuh Dewi, sehingga Dewi tersadar dari lamunannya.
"Kok Nona Seperti kebingungan?" Tanya Widya penasaran.
"Maaf Mba.. Kalau boleh tau, kok CEO perusahaan tau ya, kalau saya datang kesini hari ini" Tanya Dewi dengan ekspresi menyelidik.
Melihat Ekspresi Widya yang tidak mengerti apa-apa, Dewi langsung bertanya "Apa Boleh saya ketemu dengan CEO anda?".
Widya kaget mendengar permintaan Dewi, yang seketika dia menjawab dengan senyuman sambil berkata: "Maaf Nona, CEO kami lagi sibuk, dia sedang banyak tamu, jadi sepertinya dia tidak punya banyak waktu".
"Eemm.. Baiklah kalau begitu, saya tinggalkan saja Proposalnya" kata Dewi sambil meletakan Proposalnya diatas Meja.
"Baik Nona! Saya akan membawa Proposal anda keruangan Wakil CEO untuk ditandatangani" selesai berkata Widya langsung bergegas meninggalkan ruangan itu, dia melangkah menuju keruangan Wakil Presdir.
Lea yang melihat tingkah Dewi yang terasa Aneh, Lea memberikan pertanyaan kepada Dewi: "Wi.. Kok kamu seperti orang kesurupan sih! Banyak melamun, emangnya ada apa?".
Dewi hanya bisa menghela nafasnya, kemudian dia menggelengkan kepalanya sambil berkata " gak! Gak ada apa-apa kok, aku cuman berpikiran agar Permohonan ini diterima" kata Dewi beralasan, dia sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya, karena dia takut jika ada kesalahan, maka bisa-bisa proposalnya bisa dibatalkan.
__ADS_1
Widya sampai diruang kerjanya Lemon, "Tok tok tok" suara ketukan pintu terdengar, dan dalam sekejab Lemon langsung menyuruhnya untuk masuk.
Widya hanya bisa berdiri mematung, ketika dia melihat Lemon yang sedang sibuk, dengan berkas yang sangat banyak menumpuk didepannya, kharisma Lemon terlihat sangat jelas ketika Widya memperhatikannya dari jarak sekitar 2 meter.
Ketampanan dan kegagahan Lemon sangat jelas, ditambah dengan rambutnya yang terurai dimatanya, yang semakin membuatnya bagaikan bintang film bolywood.
"Ternyata dia sangat tampan bila dipandang secara inci, Heemm.. Andaikan saja dia menjadi kekasihku, aku akan selalu berada disampingnya sepanjang waktu" Kata Widya didalam hati sambil dia tersenyum-senyum sendiri.
Widya yang sedang asik melamun, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikannya, tiba-tiba dia tersentak ketika ada suara yang berteriak: "Heeii!!... Kenapa kamu senyum-senyam seperti orang yang gak waras!".
"Ma,, ma,, Maaf Tuan! Saya salah" Widya berkata sambil menundukan kepalanya, karena wajahnya memerah karena malu.
"Ada apa? Kenapa kamu masih berdiri disitu?" Tanya Lemon yang sudah kembali membolak-balik berkas-berkas, permohonan kerjasama kepada Perusahaan Yayasan Kuil Naga.
"Maaf Tuan! Ini Proposal dari
Perusahaan Chandra karena perwakilan dari keluarga Chandra sedang berada diruangan tamu, jadi saya sudah menerimanya sesuai dengan yang tuan SMSkan kepada saya semalam" Widya berkata lebar menjelaskan.
"Baik! Dimana proposalnya" Jawab Lemon singkat. "Ini Tuan" Kata Widya sambil dia menyerahkan Proposalnya kepada Lemon.
Setelah Lemon melihat semua isi Proposalnya, dia langsung menyuruh Widya untuk mempersiapkan segala sesuatu dokumen, dan surat perjanjian yang akan ditandatangani oleh keluarga chandra.
"Oh iya! Siapa yang datang mewakili keluarga Chandra" Tanya Lemon penasaran.
"Eemm.. Non Dewi, anak Tuan Restu Chandra" Jawab Dewi jujur.
"Kalau begitu, biar prosesnya cepat, dia langsung yang menandatangani Persetujuan itu" Ucap Lemon datar.
"Tapi.. Tapi Tuan! Apakah tidak akan ada masalah kedepan?" Tanya widya penasaran, karena dia takut jika bukan kepala keluarga yang menandatangani persetujuan itu, akan muncul masalah dimasa depan.
__ADS_1
"Sudah! Kamu jangan bantah, lakukan saja apa yang saya suruh" Kata Lemon tegas sambil dia memandang Widya tegas.
Widya hanya menundukkan kepalanya, tanpa berkata-kata lagi dia meninggalkan ruangan itu, namun Lemon tidak memperdulikannya dia langsung kembali melihat laporan perkembangan perusahaannya, baik laporan dari manejer maupun laporan dari perusahaan anak cabang diseluruh daerah pelosok negeri.