
Lemon melihat kearah Maret Silalahi, kemudian dia berteriak "Heeii.. Ayo keluarlah, kita akan melanjutkan perjalanan".
Namun sebelum mereka beranjak dari tempat itu, Pria berkopiah berlutut ketanah kemudian dia berkata "Maaf Tuan! Kalau boleh saya tau nama tuan".
Lemon memalingkan pandangannya kemudian berkata: "Nama saya Lemon Nababan" jawab Lemon Singkat.
"Terima Kasih Tuan, Ijin saya perkenalkan diri, Nama Saya Tianus Lase, dan mulai sekarang saya bersedia melayani Tuan dengan sepenuhnya" kata Tianus pria berkopiah dengan penuh hormat.
Maret Silalahi sampai disamping Lemon dan Tianus Lase, kemudian Maret melihat Tianus Lase dengan dipenuhi perasaan sedih.
"Salam kenal Tuan, nama saya Maret Silalahi" kata Maret Silalahi sambil mengulurkan tangannya.
Tianus Lase menatap Maret dengan tatapan senyuman hormat kemudian dia berkata "Maaf Saudaraku nama saya Tianus Lase, kita sama-sama sebagai pengikut Tuan Nababan, jadi saudara jangan memanggil saya Tuan".
Maret Silalahi hanya menganggukan kepala ketika dia mendengar perkataan Tianus Lase.
"Oohh.. Baik, baik saudara! Saya akan selalu mengingatnya" jawab Maret dengan senyuman sumringahnya.
Selesai memperkenalkan diri satu sama yang lain, Lemon bersama orang-orangnya melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah beberapa Jam mereka berjalan semakin masuk kedalam Hutan pedalaman, Lemon melihat ada kilatan cahaya yang sangat menyilaukan terlihat dari atas Gunung.
Namun Lemon tidak menghiraukannya, dia masih terus berjalan sampai mereka tepat dibawah pohon besar.
Kemudian Lemon memutar badannya sambil berkata "Kita Istirahat dulu, saya lihat kalian sudah mulai kelelahan, apalagi Saudara Tianus Lase, dia butuh istirahat sejenak".
Maret Silalahi dan Tianus Lase menganggukan kepala mereka, untuk menandakan bahwa mereka seutuju dengan saran Lemon.
Sebenarnya Lemon tidak akan merasa kelelahan walau berjalan bermil-mil, namun dia sangat peduli dengan teman-temannya, sehingga dia memilih untuk istirahat.
"Tujuanmu untuk datang kehutan rahasia ini? Sebenarnya untuk apa?" Tanya Lemon dengan wajah tegas kepada Tianus Lase.
Tianus Lase menundukkan kepala, kemudian dia menghela nafas panjang lalu berkata: "Sebenarnya tujuan kami datang kepedalaman hutan ini... untuk mengejar Ginseng 1000 tahun, karena dalam jangka beberapa hari lagi, Ginseng itu akan tumbuh kepedalaman hutan ini, namun kami belum mengetahui tentang keberadaan Monster-Monster ganas penghini Hutan ini".
Kemudian dia melanjutkan "itulah sebenarnya tujuan kami mendatangi Pulau Ini, kami diperintahkan oleh Ketua Sekte".
__ADS_1
"Heemm" Lemon hanya berdehem ketika dia mendengar penjelasan dari Tianus Lase.
"Untuk apa kalian mencari Ginseng 1000 tahun?" Ucap Lemon lebih lanjut.
"Mohon maaf Tuan! Kalau soal itu saya tidak tau, karena kami hanya menuruti perintah ketua sekte" Jawab Tianus Lase dengan perasaan tidak tau apa-apa.
"Kalau saya juga mencari barang langka itu, apakah kau merebutnya dariku?".
Dengan kepala tertunduk, Tianus Lase berkata menjawab pertanyaan Lemon "Kalau Tuan yang membutuhkannya saya tidak keberatan, mengingat nyawa saya lebih berharga dari barang apapun".
Lemon hanya menganggukan kepalanya dan memonyongkan bibirnya, sambil dia memperhatikan disekitar mereka.
Lemon melihat ada siluet seseorang sedang mengintip mereka dari balik pohon, sehingga dalam sekejab Lemon meraih kerikil kecil, kemudian menjentikkan dengan jarinya kearah pihak lain.
Tiba-tiba pihak lain melompat keatas langit, ketika dia berhasil menghindari serangan yang dilemparkan oleh Lemon.
Dia jatuh ketanah dengan dengan posisi memasang kuda-kuda, tangannya yang satu menyentuh tanah menopang tubuhnya.
Dia menatap Lemon dan orang-orangnya dengan tatapan tajam, kemudian dia berdiri tegap lalu berjalan melangkah mendekati Lemon.
Lemon hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya, kemudian dia tersenyum acuh tak acuh.
Tianus Lase melangkah selangkah kedepan kemudian dia berkata: "Seharusnya kami yang bertanya padamu, kenapa kau mengintip kami" Tianus Lase menatap pihak lain dengan tatapan tajam.
"Dasar Tua bangka!! Beraninya kau menggertakku.. Saya adalah yang Manusia pertama yang menginjakkan kaki ditempat ini, jadi secara Aturan, saya yang berhak atas hutan ini" Kata Pihak lain dengan suara tegas.
Tianus Lase menggertakan giginya, wajahnya terlihat kusam karena amarahnya memuncak, dia mengepalkan tinjunya ingin bertarung, Namun pihak lain hanya tersenyum sinis ketika dia menatap Tianus Lase dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Heemm.. Masih Sok Jago! Padahal lenganmu tinggal satu! Apakah itu yang kau andalkan dihadapanku? Hah" Pihak Lain berkata mencibir ketika dia selesai memindai Tianus Lase.
Pihak lain telah memindai tahap kekuatan Lemon dan teman-temannya, sewaktu dia bersembunyi dibalik pohon tadi, sehingga dia bisa memastikan kekuatannya jauh tinggi dibanding dengan Lemon dan Orang-orangnya.
Lemon sengaja menyembunyikan kekuatan Jiwanya, supaya dia dan orang-orangnya tidak bisa dideteksi dimanapun berada.
Lemon mengangkat tangannya, dia ingin menahan Tianus Lase untuk jangan bergerak menyerang.
__ADS_1
Lemon menatap Pihak lain kemudian dia berkata: "Mohon maaf kalau kedatangan kami mengganggu ketenangan anda, kami hanya sekedar untuk lewat saja".
"Heemm" pihak lain mencibir dan mengangkat sudut bibirnya. Kemudian dia berjalan bagaikan seorang polisi didepan Lemon dan teman-temannya.
"Saya tidak percaya kalau kalian hanya sekedar lewat saja, saya ragu kalian pasti punya tujuan lain datang ketempat ini!" Kata Pihak lain tegas, sambil dia terus berjalan mondar-mandir dihadapan Lemon.
Maret Silalahi mengerutkan keningnya, kemudian dia maju selangkah, dia membungkukan
tubuhnya lalu berkata: "Tuan Kesatria!
Mohon maafkan atas kelancangan kami, ijinkan kami untuk lewat, kami sedang buru-buru" sambil membungkuk dan melentangkan tangannya didada.
"Heemm.. Tidak ada ceritanya Ki Baso mentolerir manusia-manusia yang telah menyerobot masuk kedaerah kekuasaanku" Tegas pihak lain berkata dengan nada tinggi.
Pihak lain ternyata bernama Ki Baso, seorang pria paruh baya yang menyatakan memiliki kekuasaan dihutan pedalaman.
Lemon, Tianus Lase dan Maret Silalahi merasa terhina dengan perkataan Ki Baso, namun Lemon masih tetap bersikap Legowo, dia menekan amarahnya supaya tidak memuncak.
"B" jingan keparat! Kau memilih untuk mati" Teriak Tianus Lase sambil menyerbu kearah Ki Baso.
Ki Baso tersenyum sinis ketika dia melihat Tianus bergerak kearahnya, dia memandang kemampuan Tianus Lase masih jauh dibawahnya, ditambah lagi dengan lengannya yang tinggal hanya satu.
Ki Baso juga tidak tinggal diam, dia langsung mengarahkan tinjunya kearah Tianus Lase yang sedang bergerak menyerangnya.
"Hiaat.. Hus, Sress" Suara Pukulan yang sangat keras antara Ki Baso dan Tianus Lase, Kekuatan Tianus Lase mampu mengimbangi kekuatan Ki Baso walau dia hanya menggunakan satu tangan.
"Bruuk" suara tendangan terdengar, ketika Kaki Tianus Lase menendang dada Ki Baso.
Kesempatan satu tendangan yang dilakukan oleh Tianus Lase, ketika Ki Baso memutar tubuhnya untuk meraih tangan Tianus Lase, namun Tianus Lase telah melakukan tipu muslihat, dia menarik Tangannya sehingga Ki Baso terkecoh, dan Satu tendangan menghantam Dada Ki Baso Yang membuat Ki Baso terseret kebelakang beberapa langkah.
Ki Baso mengibaskan tangannya untuk melepas Debu yang lengket di bajunya, dengan tatapan tajam dia menatap Tianus Lase.
"Dasar orang tua keparat! Ilmu beladirimu ternyata tidak serendah yang kubayangkan" kata Ki Baso sambil menggertakan giginya.
Kemudian dia meraih Pedang Saktinya yang berada dipunggungnya, sambil dia berkata: "Saya ingin tahu? seberapa kehebatanmu menghadapi pedang andalanku ini".
__ADS_1
Pedang Ki Baso berbentuk Berbentuk Bulan Sabit dengan ketebalan yang tidak bisa diukur namun terlihat sangat tajam, nampak dari kilatan-kilatan cahaya dari pedang itu.