PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 200. Keluarga Tantowi di Provinsi Tera


__ADS_3

Dewi hanya bisa menghela nafas pelan, sambil dia memejamkan mata indahnya, kemudian dia mendengus pelan.


"Heemm.. Aku kemarin minta bantu loh, namun aku dicuekin! Dia lebih memilih untuk pergi kesuatu tempat, makanya aku gak gangguin lagi" Kata Dewi cemberut sambil dia berhadapan kepada Dewi.


"Wooi.. Sudah-sudah, kok malah sindir menyindir sih? Yang kita butuhin sekarang adalah solusi! Wooi.. Solusi! Ada gak solusi dari loe" Kata Lea dengan kasar sambil melihat Lemon.


"Kan aku sudah bilang tadi? Kalau soal itu mah gampang, yang penting jelas gak hadiahnya dari temanmu" Kata Lemon sambil memasukan tangannya dikantong.


"Ya Sudah! Aku nanti yang akan bujuk dia soal hadiahnya, sekarang bagaimana kamu bisa ngebantuin dia? Hah" Ucap Lea ketus.


Lemon melihat Dennis, kemudian dia berkata "itu Gampang, ini nih orangnya yang bisa ngebantuin Non Dewi, Dennis sekarang Sekretaris Ke 2 CEO diperusahaan Yayasan Kuil Naga, pasti dia bisa membantu Dewi sayangku" Goda Lemon sambil mengedipkan matanya.


Mendengar pernyataan dari Lemon, sontak saja wajah semua orang menjadi sangat terkejut, bola mata mereka melotot seakan keluar dari tempatnya, mulut Dewi terbuka lebar bisa dimasukan sebutir telur bebek.


Bryan Calvin kaget bukan main, sampai-sampai dia kalah Main Scater.


"Huuft.. Yang benar sajalah kalau kamu ngomong ah, masa kamu membual seperti itu" Ujar Lea dengan menggelengkan kepalanya.


"Bang Bro.. Janganlah! Nanti Bro Dennis bisa kesal" Ungkap Bryan Calvin mengingatkan Lemon, kemudian dia berjalan disamping Dennis.


"Bang Bro, kamu jangan tersinggung ya, kamu tau sendiri kan, Lemon kebanyakan canda" Sambung Bryan Calvin.


"Eehh.. Lo, kapan aku main-main kalau bicara! Kalau gak percaya! Kalian tanya sendirilah sama dia" Sambut Lemon memiringkan kepalanya.


Melihat keseriusan dari mulut Lemon, Dewi langsung menatap Dennis dengan penuh selidik.


"Den.. Apakah itu benar?" Tanya Dewi dengan wajah penasarannya.


"Eemm.. Benar! Apa yang dikatakan Lemon itu benara, aku baru beberapa waktu yang lalu diangkat sebagai Sekretaris 2 CEO, Peusahaan Yayasan Kuil Naga" Jawab Dennis dengan sedikit canggung, karena dia tidak enak kepada Lemon yang notabene sebagai CEO perusahaan tempat dia bekerja.


Lea menggelengkan kepalanya dengan pelan, kemudian dia berkata sambil mengusap wajahnya dengan lembut.


"Kalian jangan sengkokol untuk membual, mana mungkin kamu diangkat dijabatan itu dengan tiba-tiba" Ujar Lea dengan penuh ketidak percayaan.


"Terserah kalau kalian gak percaya, yang penting itulah kenyataannya" Sambung Dennis dengan menyilangkan tangannya didada.


"Aku bisa kok membantumu, tapi besok ya, karena hari ini kita kuliah" Kata Dennis dengan raut wajah serius dan terlihat santai.

__ADS_1


"Okelah.. Besok aku akan pergi ke Perusahaan Yayasan Kuil Naga" Ungkap Dewi dengan santai.


Setelah selesai mereka berkata-kata, mereka melangkahkan kaki untuk berjalan masuk kedalam kelas, namun Dewi menarik Lemon kebelakang, mereka berjalan sejajar.


"Kamu kok tau kalau Dennis sekarang menjadi sekretaris CEO?" Kata Dewi dengan penuh selidik.


"Ya ialah aku tahu, Dennis kan teman gua, kamu buktikan sendiri besoklah" Sahut Lemon yang segera berlalu pergi masuk kedalam kelas.


DiMarkas Lemon, Hasrat Naibaho terus menyiksa Bos Gangster, yang membuat Bos Gangster semakin menjerit dan meraung bagaikan serigala.


"Aku masih terus menyiksamu kalau kau tidak berkata" Tegas Hasrat kepada Bos Gangster dengan tatapan tajamnya.


"Cuiih!! Bunuh saja aku! Karena sampai kapanpun akun tidak akan mengatakannya" Cibir Bos Gangster dengan masih menundukkan kepalanya.


"Baik.. Kalau kau menginginkannya" Kata Hasrat dengan melangkah kesamping, dia berjalan menuju ketempat brankas.


Hasrat Naibaho mengambil sebilah pisau, kemudian dia kembali kesamping Bos Gangster, sambil dia memutar-mutar pisau itu ditangannya.


Hasrat Naibaho langsung mengambil tangan Bos Gangster, kemudian dia meletakan tangan Bos Gangster diatas Meja.


Bos Gangster menatap Hasrat dengan pasrah, kemudian dia menggertakan giginya dengan sangat keras.


Hasrat Melirik Roy Hitler Tambunan, kemudian dia berkata "Bekap mulutnya, dan tahan tangannya".


"Siap Tuan" Jawab Roy dengan wajah garangnya, yang membuat wajahnya semakin menakutkan.


Hasrat menarik jari-jari Bos Gangster, kemudian satu kali hentakan, satu jari Bos Gangster langsung terputus, yang membuat Bos Gangster meraung dengan sangat keras.


Namun suara jeritan Bos Gangster itu tidak terlalu keras, dia hanya bisa menggertakan giginya dengan keras, sambil dia keringat didahinya bercucuran dengan keras.


Hasrat hendak menekan jari Bos Gangster yang satu lagi, namun dengan pasrah Bos Gangster langsung berteriak.


"Iya. Iya.. Aku akan jujur! Ta-tapi tolong, jangan disiksa saya lagi, saya akan bicara" Teriak Bos Gangster dengan sangat lirih.


"Heemm.. Bagus! Cepat kau katakan, siapa yang menyuruhmu?" Bentak Hasrat dengan suara tegas.


"Tapi tolong janji! Kalau kalian tidak akan menyiksaku lagi seperti ini" Ujar Bos Gangster lagi.

__ADS_1


"Baik! Kau sendiri yang menentukan nasibmu sekarang" Jawab Hasrat dengan santai, sambil dia berdiri tegak dan menjauhkan pisaunya dari tangan Bos Gangster.


Bos Gangster mengangguk dengan wajahnya yang terlihat sembab, kemudian dia berkata dengan lirih "Aku.. Aku disuruh oleh Keluarga Tantowi dari Provinsi Tera, dia merupakan saingan bisnis Mebel keluarga Chandra, sehingga keluarga Tantowi ingin menyingkirkan keluarga Chandra sebagai saingan bisnisnya".


"Preek" sebuah tamparan yang sangat keras langsung mendarat dipipi kiri Bos Gangster, sehingga Bos Gangster langsung tersungkur dilantai dengan dia masih memegangi tangannya yang masih berdarah.


Setelah Bos Gangster ditampar dengan keras, dia kemudian dilempar kelantai dengan keras, yang membuat suara gedebuk.


Hasrat Naibaho berdiri tegap, kemudian dia langsung mengangkat wajahnya keatas langit, sambil dia berjalan melangkah keluar.


Roy Hitler yang melihat Bos Gangster yang masih tergeletak dilantai, dia langsung menendang Bos Gangster dengan tenaga yang sangat kuat, sampai-sampai Bos Gangster terseret kesamping.


Hasrat Naibaho hanya melirik dengan sinis, ketika dia mendengar suara tendangan yang diakibatkan oleh Bos Gangster.


Setelah sampai diluar Mes, Hasrat Naibaho langsung meraih HPnya di Saku, kemudian dia melakukan panggilan telepon.


Sementara diloby Kampus, Lemon berjalan bersama Dewi dan yang lainnya, tiba-tiba HPnya berdering, dan langsung dia tekan tombol jawab.


"Hallo Tuan" Suara Hasrat Terdengar dari ujung telepon.


"Iya.. Ada apa?" Jawab Lemon singkat sambil dia menatap kearah jalanan dengan tatapan tajamnya.


"Si K-parat itu sudah buka suara tuan, dia mengatakan kalau yang menyuruhnya adalah Keluarga Tantowi dari Propinsi Tera, Keluarga Tantowi adalah pengusaha Mebel di Propinsi Tera" Ujar Hasrat dengan jujur.


"Eemm.. Lalu apa tujuan mereka?" Tanya Lemon dengan raut wajah penasaran.


"Ini persoalan Dunia Bisinis Tuan, Karena Keluarga Chandra merupakan keluarga Mebel terbesar saat ini Kota Gowe" Ungkap Hasrat dengan sungguh-sungguh.


"Eemm.. Baik! Kamu selidiki Siapa Keluarga Tantowi, dan sampai dimana kekuatannya" pungkas Lemon dengan tatapan seriusnya.


"Baik Tuan, saya akan mengerahkan orang-orang kita untuk menyelidiki keluarga tersebut" sambut Hasrat dengan hormat.


"Baik, lakukan dengan hati-hati, jangan sampai gerakan kita diketahui oleh orang-orang itu" Ujar Lemon singkat.


Setelah menutup sambungan telepon, Lemon langsung berjalan kearah Dewi dan yang lainnya.


"Kamu bicara sama siapa?" Tanya Dewi penasaran ketika Lemon sudah sampai didekat mereka.

__ADS_1


"Aku bicara sama kawan, dia lagi ada masalah keuangan, dia minta bantu samaku, tapi kan gak uang, makanya aku gak bisa ngebatuin dia" Jawab Lemon dengan berbohong.


Mereka semua langsung berjalan menuju tempat parkiran.


__ADS_2