
Dan benar saja ketika Marko selesai berkata kepada Dewi, Dewi langsung meraih HPnya dan langsung melakukan panggilan, dia menghubungi Nomor Lemon.
Marko bersorak dalam hatinya, ketika dia melihat Dewi yang sudah terprovokasi dengan kata-kata Marko barusan, sehingga Marko tidak susah-susah untuk mencari keberadaan Lemon si kurus miskin.
Tidak Menunggu lama sambungan teleponpun terhubung "Hallo Dewi" Jawab Lemon diujung telepon.
"Hallo Lemon! Kamu sekarang dimana? Apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Dewi cerewet yang membuat pendengaran orang lain menjadi pusing sendiri.
"Emm.. Aku lagi diloby Kampus, aku baik-baik saja" Kata Lemon santai menjawab pertanyaan dari Dewi.
Mendengar Lemon sudah sampai dikampus, perasaannya Dewi menjadi tenang karena Lemon ternyata baik-baik saja.
Marko menggertakan giginya dengan wajahnya yang Kusam, dia terus menatap kearah Loby dengan perasaan yang tidak bisa diartikan.
Dewi kembali menatap Marko, kemudian dia berkata sambil tersenyum terpaksa "Kamu dengar sendiri kan? Dia sudah sampai dikampus, berarti dia baik-baik saja".
Marko dan Vina saling menatap, mereka berdua tertegun tak bisa berkata-kata, tidak ada kata lagi untuk bisa diucapkan.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kemana Ki Buyut dan saudaranya, kok Lemon masih baik-baik saja" Ucap Marko membantin dalam hati.
Dari pojok koridor kelas, terlihat Lemon yang sedang santai berjalan kearah Dewi, Lea Marko dan Vina, mata Marko semakin dipenuhi dengan niat membunuh, ketika dia melihat Lemon yang sedang berjalan santai.
Setelah sampai didekat Marko, Lemon langsung menyapanya dengan senyuman sinisnya, sambil Lemon memukul-mukul pundaknya Marko.
"Haaaii Marko, apa kabarmu?" Kata Lemon dengan senyuman yang tidak bisa ditebak, dilemparkan Lemon kepada Marko.
Namun Marko tidak berkata Apa-apa, dia hanya terus menggertakan giginya dan mengepalkan tinjunya, sampai mereka semua memilih untuk masuk didalam kelas, karena dosen yang mengasuh mata kuliah sudah masuk didalam kelas.
Setelah proses perkuliahan telah selesai, Lemon segera pergi dari dalam kelas itu, namun sebelum dia sampai diloby, dia langsung dicegat oleh Marko ditaman Kampus.
Tanpa berlama-lama Marko langsung berkata kepada Lemon "Apa yang sudah kamu lakukan kepada Ki Buyut dan saudara-saudaranta?".
Lemon hanya bisa tersenyum sumringah, sambil bertanya balik kepada Marko "Kalau menurutmu bagaimana? Apakah ada Toleransi nyawa untuk mereka" sambil dia mengedipkan matanya kepada Marko.
__ADS_1
"Bajingan Sialan! Kamu jangan berani-berani mempermainkanku, kamu harus tahu bahwa Ki Buyut bukanlah sebuah perguruan yang bisa kau provokasi sesuka hati, karena Mereka berasal dari Perguruan Lembah Mondrowe, dan Ketua mereka Fanolox sudah berada ditahap Inedia" Marko berkata memaki Lemon, sambil dia memegang kerah bajunya Lemon.
Namu Lemon tidak bergeming sama sekali, ketika Marko menggertaknya dengan kasar, namun dia hanya tersenyum.
"Sepertinya kamu tidak akan bertemu lagi dengan mereka, apalagi kepada Si Aki-Aki yang memiliki Janggut, siapa namanya?" Lemon bertanya kepada Marko berpura-pura tidak kenal, "aahh. Ki, Ki Buyut! Nah itu dia, Ki Buyut!" Kata Lemon ketus, sambil melepas genggaman Marko dikerah Bajunya.
"Bangs"t aku berjanji akan memetahkan sendiri Lehermu" teriak Marko sambil dia mengundurkan dan melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Lemon.
Setelah melepaskan cengkeramanya, Marko dengan raut wajah membara dia berjalan kearah Pintu keluar, kemudian dia langsung pergi dari tempat itu.
Lemon hanya bisa memonyongkan bibirnya ketika dia melihat Marko, pergi dengan raut wajah yang sangat Kusam.
Ketika Lemon hendak pergi meninggalkan Kampus, dia berpapasan dengan Bryan Calvin yang wajahnya terlihat sangat sedih, kemudian tiba-tiba Lemon menahannya dengan meraih lenagnnya.
"Kamu kenapa bang bro? Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja" Kata Lemon bertanya penasaran kepada Bryan Calvin.
Bryan Calvin memalingkan badannya, dia menatap Lemon dengan raut wajah yang sangat sedih, kemudian dia berkata "Ibuku masuk rumah sakit seminggu yang lalu, tapi sekarang kondisinya semakin lemah, dokter bilang mereka sudah tidak bisa menanganinya".
"Memangnya Penyakit ibu kamu apa kata dokter?" Ujar Lemon yang menatap Bryan dengan tatapan serius.
Lemon berpikir sejenak sebelum dia berkata kepada Bryan "Sekarang kamu mau kemana?"
"Aku mau kerumah sakit untuk melihat kondisi ibuku" kata Bryan dengan lemah.
"Ya Sudah! Biar aku ikut bersamamu, siapa tau ada jalan keluar untuk menyembuhkannya" Ujar Lemon santai, yang membuat Bryan sedikit mengernyit, karena selama ini dia masih belum kehebatan Lemon dalam dunia Medis.
Tidak menunggu lama, Lemon dan Bryan masuk kedalam Mobil, dalam sekejab Bryan langsung menyetir kearah Rumah Sakit tempat ibunya dirawat.
Dalam perjalanan didalam Mobil HP Lemon tiba-tiba berdering, kemudian dia melihatnya lalu menekan tombol jawab.
"Hallo Dewi" kata Lemon singkat ketika sambungan telepon itu sudah tersambung.
"Kamu dimana sih! Aku sudah lama menunggumu dikantin" Kata Dewi menggerutu.
__ADS_1
"Oh iya! Aku lupa kasitau sama kamu, kalau aku sekarang bersama Bryan, kami mau pergi kerumah sakit untuk menjenguk ibunya" Ucap Lemon diujung telepon, yang membuat Dewi memonyongkan bibir mungilnya itu.
"Berarti kalian sekarang menuju rumah sakit ya" tanya Dewi penasaran.
"Iya.. Mungkin sebentar lagi juga nyampe" Jawab Lemon dengan nada rendah.
Lea mengerutkan keningnya, ketika dia mendengar perkataan Lemon dari Ujung telepon, kemudian dia berkata kepada Dewi: "Astaga Dewi! Aku lupa kalau ibunya Bryan masih dirumah sakit, Ayo kita pergi kesana" Ajak Lea.
"Ya Sudah kalau begitu, Ayo kita pergi" Sambut Dewi ketika Lea selesai berkata.
Mereka berdua langsung OTW kerumah sakit, tempat ibunya Bryan dirawat.
Lemon dan Bryan tidak menunggu lama sudah sampai dirumah sakit, mereka langsung berjalan kedalam menuju kamar tempat ibunya Bryan berada.
Bryan langsung berlari berdiri disamping ibunya, kemudian dia menggenggam tangan ibunya, yang sudah terlihat kurus dan lemas.
"Bu.. Apakah ayah sudah datang kesini hari ini?" Tanya Bryan kepada Ibunya. "Sudah Nak, tapi dia tidak lama, karena ada pertemuan dikantor" Jawab ibunya dengan suara kecil.
Tiba-tiba Pintu Kamar itu terbuka, dan beberapa orang yang memakai seragam Medis Masuk, seorang dokter dan bersama beberapa Suster, datang memeriksa kondisi ibunya Bryan.
Setelah beberapa saat melakukan pemeriksaan, dokter itu memeriksa jantung ibunya Bryan dengan memakai Stetoskopnya, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Bagaimana Dok?" Kata Bryan Singkat, setelah Dokter telah selesai melakukan pemeriksaan.
"Heemm.. Saya sudah menyerah Tuan Bryan, sepertinya hanya mukjizat dari Tuhan kalau ibunya Tuan bisa sembuh" Kata Dokter itu Pasrah, sembari dia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
Kemudian dia menepuk-nepuk pundak Bryan, untuk memberikan semangat kepada Bryan.
"Tetaplah Berdoa, supaya ibumu bisa melewati dengan semua penderitaan ini" ujar Dokter kepada Bryan.
Lemon berjalan mendekati Ibunya Bryan, kemudian dalam sekejab Buku Mata Dewanya Aktif, kemudian memindai seluruh tubuh ibunya Bryan.
Lemon memindai penyakit ibunya Bryan, yang teletak di setiap Jaringan buku-buku pergelangannya tulang, itu menandakan bahwa penyakit ibunya Bryan terletak disum-sum tulang dan harus segera dilakukan tindakan, supaya seluruh urat-uratnya bisa bergerak kembali.
__ADS_1
Lemon mengernyit ketika Buku Mata Dewanya selesai memindai.