
Beberapa orang yang datang, dengan langkah yang tergesa-gesa menghampiri Lemon dan pihak lain.
Hasrat Naibaho membawa orang-orang terhebatnya, yang berjumlah ratusan orang dengan kemapuan ditahap yang berbeda-beda.
Debu-debu pasir berterbangan ketika Hasrat dan bawahannya sampai ditempat itu, yang membuat pantai tidak dapat dilihat tembus pandang.
Kibuyut hanya bisa mengernyitkan keningnya, ketika dia melihat ratusan orang berdatangan memenuhi tempat itu.
Tidak terkecuali Marko dia sangat tercengang, sampai-sampai matanya tidak berkedib, ketika dia melihat Hasrat Naibaho dan beberapa orang-orangnya, namun Marko masih tidak menghiraukan hal itu, dia mengira Hasrat berpihak padanya, mungkin saja Kakeknya Yerfan Laiya yang telah meminta bantuan kepada Hasrat.
"Hahahaa... Ki Buyut jangan panik, orang-orang itu pasti berpihak pada kita, mungkin kakekku telah meminta bantuan Preman Jalanan, lihat saja kepala Preman Jalanan kota Gowe Hasrat Naibaho, dia langsung datang kesini, siapa lagi yang bisa memintanya kalau bukan kakekku" Marko berkata dengan arogan sambil dia menyilangkan tangannya didada.
"Hahaha.. Itu sebuah kerjasama yang sangat bagus" Ucap Ki Buyut sambil menganggukan kepalanya, ketika dia mendengar perkataan Marko.
Ki Buyut masih belum melihat wajah Hasrat dengan jelas, berhubung karena Debu-debu berterbangan, apalagi Hasrat tidak dikenal oleh kibuyut sebagai kepala Preman jalanan.
Kenapa orang-orang Seni bela diri tidak mengenal preman jalanan, berhubung mereka hanya terus melakukan latihan didalam Kuil, sehingga kekejaman dunia malam jalanan mereka tidak ketahui.
"Hahahaa.. Hai Lemon! Sekarang kamu tidak bisa lagi pergi, karena kakekku telah meminta bantuan dari Kepala Preman jalanan, dan sebentar lagi kamu akan menjadi abu disini" Kata Marko sambil tertawa terbahak-bahak.
Lemon hanya tersenyum sinis, namun dia mengelus tangan Dewi yang masih menggenggam lengannya, kemudian dia berbisik "kamu jangan panik, karena sebentar lagi kita akan pergi dari sini".
Dewi hanya menganggukan kepalanya, dia sangat ketakutan ketika dia melihat orang-orang semakin berdatangan, yang membuat tempat itu menjadi gelap dalam sekejab.
Hasrat Naibaho bersama orang-orangnya, terus berjalan melangkah dihadapan Lemon, dengan diikuti oleh orang-orang yang sangat banyak mengekori Hasrat dan Maret Silalahi
"Salam Hormat Tuan Lemon" Hasrat berkata membungkuk, dengan diikuti oleh ratusan bawahannya yang berdiri dibelakangnya.
Tiba-tiba Marko tersendak dan memuntahkan seteguk darah, ketika dia melihat orang-orang yang barusan datang bukan untuknya, melainkan datang untuk membantu pihak lain.
Marko sangat terkejut ketika dia menyaksikan adegan dihadapannya, dia tidak mengira Lemon si lelaki pengecut sekarang sudah menjadi Bos Kepala Preman jalanan.
__ADS_1
Kibuyut juga melihat orang-orangnya, kemudian dia menghitung kekuatannya,
Kibuyut mengedarkan pandangannya, kemudian dia menghitung, ketika selesai menghitung kekuatannya, dia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Bawahan kibuyut berjumlah 30 orang, sementara pihak lawan berjumlah ratusan orang bahkan lebih, yang membuat pertarungan ini tidak seimbang.
"Maaf Tuan Lemon! Siapa yang sudah berani menghalangi jalan Tuan" kata Hasrat terdengar dingin.
Namun Lemon hanya bisa memajukan bibirnya, dan mengedarkan pandangan kearah Marko, yang membuat Hasrat mengerti seketika.
Hasrat membalikan tubuhnya melihat pihak lain, namun Hasrat sedikit terkejut ketika dia melihat Ki Buyut berada ditengah-tengah pihak lain.
Ki Buyut telah pernah menghajar Hasrat dan orang-orangnya, ketika dimarkas Yayasan Kuil Naga, namun Hasrat membuang jauh-jauh rasa keterkejutannya itu, karena dia sudah memasuki kekuatan tahap pembentukan pondasi, dan mampu menahan serangan dari pihak lain.
Hasrat Naibaho mengedipkan matanya kepada Maret Silalahi dan Roy Hitler, kemudian dian berbisik "kita harus bersama-sama menangani orang Tua itu, karena kekuatannya cukup kuat".
Maret dan Roy hanya menganggukan kepala mereka, ketika mereka mendengar maksud dari Hasrat.
"Baik! Tapi kalian harus hati-hati" jawab Lemon singkat, lalu dia menarik tangan Dewi mereka meninggalkan tempat itu.
"Sialan! Ki dia sudah pergi.. Bagaimana itu ki? Apa yang harus kita lakukan?" Kata Marko dengan menggertakan giginya.
"Lebih baik kita mundur, karena jumlah kita telalu sedikit, kita cari waktu lain untuk menghabisi anak itu" bisik Ki Buyut ditelinga Marko, yang membuat Marko langsung menyetujui hal itu.
"Kamo tidak urusan dengan kalian! Jadi lain waktu kita akan ketemu lagi" Teriak Marko kepada Hasrat dan bawahannya.
Melihat reaksi Marko, Hasrat juga menyetujui hal itu, karena dia sadar jika hal ini dipaksakan, maka akan terjadi korban yang sangat banyak.
Marko bersama kibuyut dan orang-orangnya, perlahan-lahan mundur dan menghilang dari tempat itu.
Melihat Pihak lain telah pergi, Hasrat Naibaho menarik orang-orangnya untuk kembali ke Yayasan Kuil Naga.
__ADS_1
Didalam mobil diperjalanan, Roy Hitler berkata: "Kenapa kita tidak mengejar orang-orang itu? Bukankah mereka telah mengganggu Pimpinan kita" sambil menggertakan giginya dengan marah.
"Tuan Lemon punya pemikiran lain, dia tidak ingin mengorbankan saudara-saudara kita terlalu banyak" Hasrat berkata menjelaskan, yang membuat semua orang didalam Mobil tertegun, karena mereka tidak menyangka Lemon akan mempunyai pemikiran sebrilian itu.
Marko meninju batang pohon, ketika dia dan orang-orangnya telah meninggalkan pantai, dan sampai ditaman dikediaman Keluarga Laiya.
"Ki!.. Saya ingin segera menghabisi anak sialan itu" kata Marko dengan dipenuhi niat membunuh.
"Sabar Marko.. Mari kita pikirkan cara lain untuk menghabisinya" Jawab Ki Buyut santai, sambil dia mengelus janggutnya.
"Aaahh" teriak Marko dengan semangat, karena dia telah mendapatkan cara yang jitu untuk menghabisi Lemon.
Ki Buyut dan beberapa orang-orangnya, terkejut ketika mereka mendengar teriakan Marko yang secara tiba-tiba.
"Ada apa Marko? Kok kamu seperti orang kegirangan, seperti orang yang sedang mendapatkan Berlian berkilogram" Ketus Ki Buyut keheranan.
"Ki.. Bagaimana kalau malam ini, kita lakukan penyerangan diam-diam, kita cari tau dimana Anak itu tinggal" Kata Marko dengan semangat, sampai-sampai matanya terbuka lebar.
"Memangnya selama ini kamu tidak tau dimana dia tinggal, kan kamu bilang, kalau anak itu teman sekampusmu" ujar Ki Buyut santai.
"Iya Sih Ki! Cuman kan say bukan teman akrabnya, jadi saya tidak soal pribadinya" kata Marko seraya dia menatap langit biru yang sedang berawan Putih.
"Utuslah orang-orang untuk menyelidikinya, karena lebih cepat lebih baik" Ujar Ki Buyut dengan perasaan tidak tenang.
"Oh iya... Saya ada cara lain" Ucap Marko tersenyum, sambil dia meraih Ponselnya dari dalam saku celananya.
Marko melakukan panggilan telepon, dia menelpon Eben Haezer untuk menanyakan tempat tinggal Lemon.
"Hallo Tuan Muda!” kata Eben dari ujung telepon, setelah telepon itu tersambung.
"Sekarang kamu dimana? Apakah kamu sedang tidak sibuk sekarang?" Tanya Marko dengan tergesa-gesa.
__ADS_1