
Kemudian Dewi menghampiri mereka, "Salam Ayah, Ibu" Sapa Dewi dengan Hormat, kemudian dia menghempaskan tubuh mungilnya disofa dekat sang Ibu.
Ibunda langsung melihat Sang Anak dengan senyuman, sembari dia mengelus punggung sang Anak.
"Kelihatannya Ayah sangat serius? Bicara apaan sih Yah, bu?" Sergah Dewi dengan rasa penasarannya.
Kenji hanya mendengus pasrah sambil dia melihat Restu Chandra, yang langsung dibalas oleh Restu Chandra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Eemm.. Perusahaan kita sedang mengalami masalah kecil, beberapa orang preman mendatangi pabrik dan merusak beberapa alat-alat yang kita miliki" Jawab Restu Chandra dengan wajah sembabnya.
"Iya nak! Kali ini perusahaan kita mengalami kerugian yang sangat besar" Sahut Sang Ibu menjawab pertanyaan dari Sang Dewi.
Dewi menatap langit dengan tatapan kosong, dia menggeram karena marah, dia mengepalkan tinjunya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang, kalau kalian sudah ketahuan samaku" Batin Dewi dengan menggerutu.
"Lalu bagaimana penyelidikannya? Apakah sudah dilaporkan dipihak kepolisian?" Tanya Dewi dengan penuh pertanyaan.
"Eemm.. Kita masih belum melaporkan dipihak kepolisian, kita menggunakan kekuatan keluarga untuk melakukan penyelidikan terlebih dahulu" Jawab Restu Chandra dengan wajah serius.
"Pasti malam ini mereka akan melakukannya lagi Tuan Patriak" Sahut Kenji dengan sungguh-sungguh.
Restu Chandra hanya menganggukan kepalanya, dia kemudian menatap langit-langit plafon ruangan itu, dengan tatapan yang terlihat kosong.
"Darimana lagi kita akan meminta bantuan? Tidak mungkin lagi kita meminta bantuan asupan dana dari Perusahaan Yayasan Kuil Naga, karena selama ini sudah banyak kita meminta bantuan dari mereka" Ujar Restu Chandra pelan, dengan posisi kepalanya masih menghadap keatas langit.
"Maaf Tuan! Bagaimana kalau Tuan mencoba menghungi Patriak Song, mungkinkah keluarga Song mampu membantu kita kali ini" Sambut Kenji dengan perasaan penasaran.
"Eemm... Betul juga, ide yang sangat bagus, lebih baik kita mencoba untuk menghubungi mereka, siapa tau ada solusi" Jawab Dewi dengan penuh antusias.
"Baiklah biar saya pertimbangkan dulu, saya butuh waktu untuk memikirkannya, karena mengingat dana yang kita butuhkan bukanlah jumlah yang sangat sedikit" Jawab Restu Chandra dengan santai.
Tidak menunggu lama Dewi langsung bergegas kekamarnya, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
__ADS_1
Dewi mencari nomor Tiwi Song, dia berharap permintaan bantuan keluarga mereka kali ini kepada keluarga Song, bisa mendapatkan hasil yang menyenangkan.
"Diirr... Diiirr" Suara Dering terdengar dari dalam telepon ketika Sambungan telepon terhubung.
"Hallo... Kenapa Dewi? Kok tumben kamu telpon aku?" Suara dari ujung telepon terdengar, ketika sambungan telepon dari Dewi diangkat oleh Tiwi Song.
"Iya sorry, habisnya akhir-akhir ini aku sangat sibuk, makanya aku gak bisa hubungi kamu" Jawab Dewi antusias.
"Okelah gak apa-apa, lalu kenapa kamu telepon?" Tanya Tiwi dengan nada penasaran.
"Eemm.. Begini Wi, Perusahaan Kami barusan diserang oleh para preman, kami masih belum kenal persis siapa para preman itu, yang jelas para preman itu sedang diselidiki, makanya aku menghubungimu siapa tau perusahaan keluarga Song mampu menyuntikan Dana diperusahaan kami" Dewi berkata panjang lebar dihitung luasnya.
"Waduuuhh...Dewi.. Sepertinya Nasib perusahaan kita sama ya, kebetulan perusahaan kami juga sudah mengalami nasib yang sama seperti perusahaan kalian, dan kami juga membutuhkan donatur untuk asupan dana" Sahut Tiwi Song dengan jujur.
"Memangnya yang menyerang perusahaan kalian apakah Termasuk Preman yang menyerang perusahaan kalian?" Dewi berkata bertanya penasaran kepada Tiwi.
"Aku juga kurang tahu persis siapa pelakunya, yang penting menurut Informasi para saksi, yang telah menyerang perusahaan kami adalah para preman" Jawab Tiwi dengan suara datarnya.
"Heemm.. Pasti itu adalah preman yang sama, mereka pastilah pelakunya, dan mungkin saja mereka itu adalah preman bayaran" Ujar Dewi dalam hati.
"I-iya.. Aku masih dengar kok! Berarti para preman itu pastilah preman bayara" Ucap Dewi tiba-tiba, yang membuat Tiwi Song mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Tapi kamu bilang kalau orang-orang dari keluargamu sedang melakukan penyelidikan" Tanya Tiwi dengan sungguh-sungguh.
"Yaelah.. Tiwi, Tiwi.. Masa sih kamu gak bisa cerna dengan apa yang sudah terjadi sih? Bukannya yang telah menyerang perusahaan kalian adalah Para Preman, dan sekarang yang telah menyerang perusahaan kami adalah para preman juga" Balas Dewi dengan nada kesalnya.
"Bener juga ya Dewi? Kok bisa bersamaan ya? Lalu siapa yang membayar mereka untuk melakukan perbuatan bejat itu? Toh keluarga Laiya sudah tidak ada lagi sekarang" Ujar Tiwi dengan asal berkata.
"Memangnya kamu pikir, hanya keluarga Laiya yang besaing dengan keluara kita? Kan masih banyak lagi keluarga yang lain dikota Gowe ini, sehingga tidak bisa dipungkiri kalau mereka sakit hati" Jawab Dengan sedikit santai.
"Baiklah Tiwi, kalau kelurga Song tidak bisa membantu Keluarga Chandra, mungkin aku akan mencari yang lain saja" Ucap Dewi dengan santai kepada Tiwi.
"Kenapa kalian tidak mengajukan proposal di Perussahaan Yayasan Kuil Naga? Perusahaan itu pasti bisa membantu" Kara Tiwi dengan penuh pemahaman.
__ADS_1
"Heem.. Kami sudah berapa kali mengajukan proposal diperusahaan Yayasan Kuil Naga, tidak mungkin lagi kami mengajukan lagi proposal disana?" Dewi menjelaskan dengan suara dinginnya.
"Baiklah.. Kalian pikirkanlah! Siapa tahu kalian bisa berubah pikiran" Sahut Tiwi dengan penuh hormat.
"Okelah.. Maaf ya aku sudah mengganggu waktumu" Sambut Dewi dengan santai.
Selesai saling menyapa, sambungan telepon langsung terputus.
Dewi menghela nafas panjang, kemudian dia mendekat kedekat Jendela dengan Ponselnya masih posisi berada ditangannya.
"Siapakah mereka itu semua?" ujar Dewi dalam hatinya.
Waktu terus berjalan hingga menjelang sore hari, Lemon dan Maret Sampai disebuah gubuk kecil diarah puncak gungung.
Maret dan Lemon pergi kesuatu tempat, Lemon ingin melakukan Kultivasi dihutan, supaya tahap Kekuatannya bisa cepat meningkat.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti, disebuah warung kecil yang berada dibawah kaki gungung.
Lemon langsung turun dari dalam Mobil, kemudian dia menatap keseluruh alam tempat dia berada sekarang ini.
"Kamu sebaiknya cari tempat penginapan untuk tempat kamu istirahat, besok pagi kamu jempat saya disini" Titah Lemon yang langsung dianggukin oleh Maret Silalahi.
"Tuan hati-hati saja dijalan" Ujar Maret Silalahi sebelum dia memutar Mobil berlalu pergi dari tempat itu.
Setelah Maret pergi, Lemon memindai seluruh tempat itu, namun Lemon tidak menemukan apa-apa disekitar itu selain sebuah warung kecil yang sedang sepi.
Tapa menghiraukan warung itu, Lemon langsung bergegas pergi dari tempat itu, dia langsung berjalan masuk kedalam hutan belantara.
Namun sebelum dia berjalan jauh masuk kedalam hutan, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
"Nak! Kamu mau kemana?" Sebuah suara yang terdengar serak dan kecil namun terdengar tegas.
Mendengar ada suara, Lemon langsung membalikan badannya mencari sumber suara tersebut.
__ADS_1
Lemon terkejut ketika dia memutar tubuhnya, matanya sedikit berdenyut, dia tidak menyangka ada orang yang menghalangi perjalanannya kali ini.
Setelah Lemon berputar dan melihat sumber suara tersebut.