
Setelah dia berkata dia langsung berbalik dan pergi, tanpa melirik Lea dan Bryan yang masih berdiri sejajar disampingnya.
Lea dan Bryan hanya bisa menggelengkan kepala ketika mereka melihat sikap arogansi Vina barusan.
"Heemm.. Dasar wanita Gila! Beraninya dia mengancam kita" kata Lea ketus karena dia sangat kesal dengan sikap Vina barusan.
"Sudah! Sudah.. Kamu jangan menghiraukannya, lebih baik kita cari cara untuk bisa menghubungi Lemon, supaya kita tahu apakah dia sudah berhasil atau belum" Bryan Calvin berkata memberi saran.
Tiba-tiba Dennis datang menghampiri mereka berdua "Apakah aku mengganggu kalian?" Tanyanya dengan santai.
"Ehh.. Dennis! Gak apa-apak kok, apa-apaan sih lo! Masa teman dibilang pengganggu" jawab Bryan sambil tersenyum yang diikuti oleh Lea.
"Malahan bagus kita ketemu! Ada yang ingin kami tanyakan sama kamu" sambut Lea yang terlihat sangat serius.
"Ooopss.. Kelihatan wajah lo serius amat!" Kata Dennis bercanda.
"Begini Den! Apakah kamu sudah pernah chatingan atau menelpon sama Lemon akhir-akhir ini, karena kami sudah berapa kali menghubungi nomornya namun tidak bisa tersambung" Ujar Bryan dengan wajah serius.
"Waduuhh.. Itu juga yang ingin mau aku tanyakan sama kalian berdua, apa kalian sudah pernah tersambung dengannya akhir-akhir ini" Ucap Dennis menjawab pertanyaan dari Bryan sembari dia menghela nafasnya lembut.
Bryan dan Lea sama-sama merasa kecewa, karena mereka tidak mendapatkan kabar baik tentang Lemon.
Beberapa saat kemudian mereka memilih berpisah-pisah dari tempat itu.
Diperusahaan Yayasan Kuil Naga, Widya Sirait berjalan masuk kedalam ruangan Hasrat Naibaho "Tok Tok Tok" suara ketukan terdengar dari balik Pintu.
"Masuk" jawab Hasrat mempersilahkan Widya Sirait untuk masuk.
"Maaf Tuan! Ada berita yang tidak baik" Ujar Widya Sirait kepada Hasrat.
Hasrat mengernyit ketika dia mendengar ucapan dari dalam mulut Widya, kemudian dia berkata "Berita apa yang ingin mau kau sampaikan" Hasrat berkata keras dengan Logat Bataknya.
"Ada seseorang yang mendatangi Villa Tuan Lemon di Puncak Gunung Vila Ginting" Kata Widya dengan nada sedikit gemetar ketakutan.
__ADS_1
Hasrat menautkan kedua keningnya, sambil berpikir dia meraih HPnya kemudian dia melakukan panggilan telepon.
Tidak menunggu lama sambungan teleponpun terhubung, kemudian terdengar suara dari ujung telepon.
"Hallo Tuan! Salam Hormat.. Kenapa Tuan menghubungi saya? Apa ada yang perlu saya lakukan" Ujar seseorang dari ujung telepon, Widya Sirait hanya berdiri mematung dan fokus mendengarkan.
"Dion!! Kamu punya Tugas untukku" kata Hasrat dengan nada tegas, dengan tatapan tajamnya amarahnya membludak.
"Baik Tuan.. Akan saya laksanakan! Dion Hutapea selalu siap selama 24 Jam melayani Tuan Naibaho" Jawab Dion Hutapea dengan nada tegas dan tidak bergeming.
"Kau harus menyelidiki siapa orang yang sudah berani mendatangi kediaman Tuan Lemon secara diam-diam diPuncak Villa Ginting.
Ingat! Jika kau sudah menemukannya, maka lakukanlah dengan rapi" Titah Hasrat Naibaho dengan tegas.
"Siap Tuan! Perintah Tuan akan segera dilaksanakan" Kata Dion Hutape dari Ujung Telepon tanpa bergeming sedikitpun.
Hasrat Naibaho meletakan kembali HPnya diatas Meja, lalu dia melihat Widya Sirait "darimana kamu mendapatkan Informasi itu" tanya Hasrat dengan wajah serius.
"Saya tadi pagi ditelepon oleh Kepala keamanan Villa Ginting, dia bilang semalam mereka melihat ada seseorang yang sedang berada didepan Vilanya Tuan Lemon, namun ketika dia didatangi oleh para penjaga, dia berlari bagaikan angin sehingga para penjaga kehilangan jejaknya" Kata Widya menjelaskan.
"Apakah para penjaga kenal dengan orang-orang itu, dan pakaian apa yang mereka kenakan?" Tanya Hasrat penasaran.
"Mereka tidak mengenal orang-orang itu sama sekali, dan mengenai pakaian yang mereka pakai para penjaga tidak terlalu fokus akan hal itu" kata Widya menjawab singkat.
Hasrat mengerutkan bibirnya sambil berpikir, kemudian dia menghela nafas dalam-dalam "Tuan Lemon sedang berada diluar kota, jadi kita tidak boleh membiarkan rumahnya diselidiki oleh siapapun" tegas Hasrat.
Dikediaman Pak Walikota, Daran Zebua berjalan dengan langkah kaki yang sangat cepat, dia menghampiri Walikota.
"Maaf Tuan!! Ada yang perlu saya sampaikan" Daran Zebua berkata sambil membungkuk hormat.
Walikota menatap Daran sambil menganggukan kepalanya, kemudian dia berkata: "Yah.. Katakanlah" walikota berkata sambil menyandarkan punggungnya disofa.
"Begini Pak Walikota.. Masyarakat dibagian selatan Kota Gowe sedang melakukan Aksi menuntut pembangunan Jalan yang rusak, mereka sedang berada didepan Kantor Pak Walikota sekarang" Ujar Daran Zebua dengan hati-hati.
__ADS_1
"Eemm.. Bukankah hari ini hari libur Nasional! Kenapa ada aksi seperti itu" ucap Walikota dengab Nada helaan nafas yang dalam.
Walikota menelpon Ajudannnya yang bernama Jhon, dia menyuruh Jhon untuk mengurus para pendemo, karena dia sedang berada diluar Kota.
Walikota sengaja menghindari Aksi Masa, karena dia takut masa akan bertindak diluar akal, karena semenjak dia menjabat sebagai Walikota Gowe, Masih banyak jalan-jalan yang masih belum tersentuh pembangunan.
Walikota langsung bergegas menyalakan TV, setelah dia memerintahkan Jhon dan beberapa pejabat lainya untuk mengurus para pendemo.
Walikota melihat Siaran TV, dia sangat terkejut ketika dia melihat Masa yang banyak mengerumuni didepan Kantor Walikota.
Namun dia melihat masa itu dengan acuh tak acuh, karena dia sudah menyerahkan segala urusannya kepada Bawahnnya Jhon.
Mata Hari Mulai terbenam sehingga hanya meninggalkan pemadangan Sunset yang sangat indah, Lemon bersama Maret Silalahi dan
Tianus Lase berhenti didepan sebuah Gerbang yang terbuat dari Batu Zaman dahulu.
Mereka melihat Gerbang itu dengan tatapan Aneh, karena disebelah Gerbang terdapat beberapa Patung Harimau yang berukuran sangat besar.
Mereka merasakan adanya Kekuatan Aura energi yang sangat besar, Tianus Lase beranjak ingin melewati Gerbang itu, namun dia ditahan oleh Lemon.
"Jangan gegabah! Gerbang ini sepertinya bukan gerbang biasa, pasti ada sesuatu dibalik Gerbang ini" Ucap Lemon dengan masih memperhatikan disetiap Gerbang Batu itu.
Tianus Lase menarik kembali langkah kakinya, yang sudah maju selangkah ingin maju melewati pintu gerbang.
Lemon mengambil sebuah batu yang ada ditanah, kemudian dia melemparkannya kedalam Gerbang.
Ketika Batu dilemparkan kedalam Pintu Gerbang, tiba-tiba suara yang sangat mekekikan telinga terdengar, ketika beberapa tombak saling menghantam bertabrakan, yang membuat patung-patung besar disekitar gerbang hancur menjadi berkeping-keping.
Wajah Tianus Lase berubah menjadi pucat, dia merasa ngeri dengan apa yang dilihatnya, namun Lemon masih tetap dengan wajah datarnya dia memindai sekitarnya.
Tiba-tiba dari dalam Hutan terdengar suara dengungan yang bergemuruh, yang memuat daun-daunan kering berterbangan diatas langit.
Lemon bersama Tianus Lase dan Maret Silalahi, mendongak keatas langit ketika mereka melihat Seekor Monster Raksasa yang sangat mengerikan, berdiri tegap setinggi 20 meter diatas langit.
__ADS_1
Lemon hanya bisa mengernyit, ketika dia memperhatikan dengan sesaksama Monster yang sangat mengerikan itu.
Raungan Monster itu sangat menggelegar, yang membuat Maret Silalahi dan Tianus Lase bergetar hebat.