PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 178. Lemon & Dewi di Desa Tora


__ADS_3

Lemon menelpon Hasrat Naibaho, untuk menyuruh Maret Silalahi menunggu di Vilanya diPuncak Villa Ginting.


"Hallo Tuan" Sambut Hasrat diujung Telepon setelah Telepon itu tersambungkan.


"Suruh Maret untuk menunggu saya diVila dipuncak Villa Ginting" Jawan Lemon dengan singkat.


"Baik Tuan! Akan saya langsung suruh dia sekarang" sahut Hasrat Naibaho dengan hormat.


Lemon langsung mematikan sambungan teleponnya, Dewi juga sudah sampai didekat mobil dengan satu koper kecilnya, sehingga Lemon terpaksa turun untuk memasukan Koper kecil itu kedalam bagasi mobilnya.


"Bagaimana Nona? Apakah semuanya sudah beres? Kalau sudah beres. Kita langsung Go!" Ucap Lemon asalan.


"Sudah Bosku.. Eh salah! Tuan besar Tabib Ajaib" Ucap Dewi dengan senyuman lebarnya, sambil dia menutup sedikit mulutnya.


Lemon langsung menancap gas mobilnya menuju Vila Ginting, Sementara Dewi hanya terus senyum-senyum menatap Lemon yang sedang menyetir.


Sesampainya diKomplek Vila Ginting, Lemon langsung menuju Vilanya, dia mendapatkan Hasrat Naibaho dan Maret Silalahi sedang menunggunya.


Lemon kemudian turun dari mobil, dia langsung menyuruh Maret Silalahi untuk menyusun semua barang bawaan mereka kedalam bagasi mobil Alpardnya.


Setelah semuanya dirasa beres, Lemon menjadi penumpang, sementara Maret Silalahi menjadi supir mereka.


"Kau pelankan saja ya, karena kita pasti malam baru sampai di Desa" Lemon berkata mengingatkan Maret Silalahi.


Lemon duduk santai dikursi penumpang, sementara Dewi sudah mulai terlelap tidur disamping.


Singkat Cerita Mereka sudah sampai diperbatasan Desa Tora, waktu sudah mulai menunjukan Gelap.


Jam menunjukan pukul 8 malam sesampainya mereka dirumah Lemon.


Lemon membangunkan Dewi yang sudah sangat terlelap, kemudian Dewi membuka matanya sambil bertanya: "Apakah kita sudah sampai?".


"Iya.. Kita sudah sampai, Ayo turun" Sahut Lemon dengan santai.


Dewi turun dari dalam mobil, dia mengikuti Lemon dari belakang, sementara Maret Silalahi sedang sibuk mengangkat barang bawaan mereka semua.


"Ibu, Ayah!" Teriak Lemon dengan antusias, dia membukakan Pintu Rumah mereka.


"Iya, Tunggu sebentar" Sahut Ibu Meti yang sedang didapur.

__ADS_1


Lemon mempersilahkan Dewi untuk duduk dikursi Kayu, Kursi Kayu dirumah Lemon merupakan Barang-Barang Zaman Dahulu, Kursi yang sudah terukir dengan pola-pola ukir kerajaan Zaman dahulu.


"Maaf ya Dewi, inilah Kondisi Keluargaku, kami adalah Keluarga yang tidak mampu, nyatanya perabotan dirumah ini sangatlah prihatin" Ujar Lemon dengan nada sedihnya.


"Heemm" Dengus Dewi sambil dia berdiri disamping Lemon, Kemudiam dia melanjutkan perkataanya "Aku gak pernah mengatakan tentang keadaan keluargamu, atau keadaanmu dan yang lain, yang aku inginkan hanya perhatian darimu, itu saja sudah cukup untukku" Jawab Dewi dengan senyuman kecilnya.


"Eemm.. Makasih ya, atas perhatianmu" Sambut Lemon dengan semyuman bahagianya.


Tiba-tiba dari Arah Dapur, Ibu Meti keluar bersamaan dengan Pak Yosa.


"Ohh.. Ternyata Anak Ibu sudah pulang ya, syukurlah kamu baik-baik saja dijalan" Ucap Ibu Meti dengan senyuman bahagia, Namun pandanganya jatuh kepada Gadis Cantik yang berada disamping Lemon.


"Salam Hormat Tante, Apa kabarnya" Kata Dewi dengan hormat sambil dia membungkukkan tubuhnya.


Dewi langsung menghampiri Ibu Meti, kemudian menjabat tangan ibu Meti bersamaan dengan Pak Yosa.


"Iya.. Iya Cantik! Silahkan duduk" Kata Ibu Meti Antusias, kemudian dia langsung mengajak Dewi duduk diKursi yang ad dipojok ruangan.


Ibu Meti mengajak Dewi mengobrol bersama, sementara Lemon duduk disamping Pak Yosa.


Maret Silalahi Masuk kedalam Rumah dengan membawa barang-barang bawaan mereka, Pak Yosa tidak terlalu memikirkan tentang keberadaan Maret Silalahi, karena dia berpikir Maret Silalahi adalah Supir Travel yang mengantar Lemon dan Teman perempuanya.


"Eemm.. Kamu taruh saja di dalam kamar itu" Jawab Lemon sambil dia menunjukkan Kamar yang di jadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang mereka.


"Baik Tuan!" Jawab Maret dengan langsung berjalan kearah kamar.


"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu, Apakah ibu sakit-sakitan lagi?" Ucap Lemon sambil dia duduk menghadap sang Ayah.


"Sampai saat ini, Ibu tidak sakit-sakitan lagi, sejak kamu meramu obat untuknya, bahkan dia lebih kuat bekerja dibanding ayah" Jawab Pak Yosa dengan sedikit keheranan.


"Oh iya ya, syukurlah kalau ibu sudah sehat, biar dia bisa menikmati hidup dengan bahagia" Ujar Lemon menatap sang ibu dengan syahdu.


"Ibu.. Kenapa ibu malah duduk tenang sih? Ayo buatkan Teh untuk Nona ini" Pak Yosa berkata dengan sedikit suara besar kepada sang Istri.


"Oh Iya.. Maaf Ibu Lupa" Jawan Ibu Meti dengan gerakan menepuk keningnya.


"Hehehee... Habisnya saya sudah keasikan cerita sama Nak Dewi.. Oh ya Ayah.. Non ini Namanya Dewi, dia adalah Teman dekatnya Nak Lemon dari Kota Gowe" Ucap Ibu Meti dengan sewot sambil dia berjalan kearah Dapur.


"Oh ya... Selamat datang ya Non digubuk kecil kami, maklumlah namanya saja orang Desa" Sahut Pak Yosa dengan menganggukan kepalanya kepada Dewi.

__ADS_1


"Oh Maaf.. Saya jadi sungkan, kalau bisa Ayah dan Ibu jangan memanggil Saya Non, saya menjadi gak enak" Jawab Dewi dengan sedikit sungkan, dengan dia menebarkan senyuman Pepsodennya.


"Oh ya sudah, saya panggil Nak Dewi saja ya, siapa tau beneran Jadi Mantu ibu, jadi sudah terbiasa deh" Kata Ibu Meti sambil dia tersenyum lebar, kemudian dia melangkah pergi kedapur.


"Aahh.. Ibu ini, ada-ada saja, Bu saya bantu ibu ya" Kata Dewi dengan senyuman kecilnya, kemudian dia langsung berdiri dan menyusul ibu Meti.


Lemon hanya bisa menggelengkan kepala, ketika dia mendengar candaan ibunya yang membuat telinga Dewi menjadi Naik 80%.


"Kalau kamu Ingin Mandi, ada Kamar Mandi dibelakang, Airnya langsung dari pengunungan" Kata Lemon kepada Maret Silalahi.


"Baik Tuan! Saya memang sangat Gerah, saya harus ganti pakaian" Jawab Maret Silalahi dengan nada hormat.


Selesai berkata Maret Silalahi langsung bergerak menuju Kamar Mandi.


Model Rumah Lemon adalah Model Rumah Zman dahulu, merupakan Peninggalan Nenek Moyang mereka, dengan memiliki Kamar tidur yang cukup banyak.


"Itu siapa nak? Kenapa sepertinya dia sangat hormat padamu?" Tanya Pak Yosa dengan raut wajah penasaran.


Didapur Dewi bersama dengan Ibu Meti "Loh kok kamu ikutin saya? Lebih Nak Dewi duduk saja didepan, biar ibu membuat Teh terlebih dahulu" Ujar Ibu Meti dengan memegang tangan Dewi.


"Gak apa-apa bu, biar saya bantu ibu membuat tehnya, saya sudah sering kok membuat Teh dirumah, jadi saya sudah kebiasaan" Sahut Dewi dengan senyuman antusiasnya.


Dewi langsung meraih Sendok teh dan mengadu Tehnya, sehingga dalam sekejan Aroma teh sudah tercium dengan aroma yang sangat wangi.


Dewi bersama ibu Meti langsung bergegas keruang tamu, dengan membawa Nampan Dewi menyeduhkan teh buatanya diatas Meja.


Lemon dan Pak Yosa mencium aroma teh yang sangat alami "Teh ini kok sangat wangi ya? Kok perasaan beda" Ucap Lemon dengan mengedarkam penciumannya.


"Iya Nih, Ayah juga merasakan baunya ini sangat beda, Wanginya sampai ke ubun-ubun" Timpal Pak Yosa dengan mengusap-usap hidungnya.


"Ya iyalah.. Wanginya jelas berbeza, karena yang membuat adalah Gadis Manis yang cantik" Balas Bu Meti dengan bangganya, sambil dia memegang kedua tangan calon sang menantu.


Dewi merasakan kepanasan dipipinya, ketika Bu Meti memberikan Pujian yang sangat luar biasa.


Pipi Dewi menjadi merah merona, dia sangat tekesima dengan pujian yang barusan di dengar.


"Oh... Ternyata Nak Dewi Toh?? Pantesan sajo Wanginya memenuhi seluruh ruangan ini" Puji pak Yosa dengan wajah seriusnya.


"Aahh.. Biasa ajalah Pak, saya hanya meraciknya apa adanya kok" Ujar Dewi singkat.

__ADS_1


Dewi melirik Lemon ketika dia selesai berkata menjawab pernyataan Pak Yosa dan Bu Meti.


__ADS_2