PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 164. Berys Selalu Gagal


__ADS_3

Ardin Kenzo dengan seragam dinasnya, dia keluar dari dalam mobil bagaikan seorang Dewa pembawa kebenaran.


"Kalian semua! Jangan ada yang bergerak, kalian berlutut dengan tangan diatas kepala" titah Ardin Kenzo kepada semua orang yang sedang melakukan pertarungan.


Wajah semua orang tiba-tiba berubah, karena mereka sekarang dihadapkan dengan puluhan orang polisi.


Ardin Kenzo langsung menyergap Hasrat Naibaho, Ardin mengira Hasratlah penyebab kekecauan di kediaman Keluarga Chandra, karena citra Hasrat Naibaho selama ini dimata Umum, dan lebih khusus dikacamata Polisi sangatlah tidak baik.


Hasrat Naibaho dan beberapa rekannya, hanya menunduk dan berlutut jongkok ketika mereka diperintahkan oleh Ardin Kenzo.


Kenji langsung berkata kepada Restu Chandra "Tuan Patriak! Disana ada Saudara Hasrat Naibaho dan rekan-rekannya, untunglah mereka datang.. Kalau tidak, saya mungkin tidak bisa menahan serangan orang-orang itu".


"Baik.. Biarkan saya menjemput mereka" sahut Restu Chandra dengan wajah penasaran mencari keberadaan orang-orang itu, mengingat banyak orang-orang yang sudah berlutut.


"Tuan Patriak! Bisakah Tuan menghujuk siapa orang-orang yang telah membuat keributan di kediaman anda?" Kata Ardin dengan lantang.


"Biarkan orang kepercayaan saya yang menghujuknya" Restu langsung memanggil Kenji untuk datang kepadanya.


Setelah Kenji sampai disamping Restu Chandra, Restu Chandra langsung meminta Kenji untuk menunjukkan orang-orang yang sudah membuat keribuatan dirumahnya.


"Baik Tuan" Kenji langsung menghujuk satu persatu orang-orang dari Kuil Lembah Mondrowe, namun ada satu orang lagi yang tidak kelihatan.


"Maaf Tuan! Sepertinya ada satu orang lagi yang tidak ada.. Bukankah tadi dia masih berada disini" Kenji berkata dengan dipenuhi pertanyaan, dia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.


"Bukankah dia orangnya" Ardin Kenzo berkata sambil menghujuk Hasrat Naibaho.


"Bukan.. Bukan dia Pak Inspektur, itu adalah Tuan Hasrat Naibaho, yang sudah membantu kami dalam melawan orang-orang itu" Kenji dengan cepat memotong perkataan Ardin.


"Eemm.. Baik! Lalu siapakah yang anda maksud?" Tanya Ardin lagi.


"Tadi ada ketua mereka, dialah yang telah menyebabkan seluruh kekacauan ini" Ujar Kenji dengan menerangkan.


"Baiklah!! Kami akan melakukan penyelidikan yang dalam terkait orang itu, biarlah kami membawa orang-orang ini kekantor Polisi, guna penyelidikan selanjutnya" Ardin Kenzo berkata tegas, kata-katanya bagaikan titah seorang raja.


"Kemana orang tua itu pergi? Bukankah tadi dia masih berada disini?" Kata Kenji dalam hati.

__ADS_1


Berys telah menggunakan Jurus pelebur tubuh, sehingga dia berubah menjadi Kabut Hitam tipis yang tidak bisa terlihat secara kasat mata.


"Terimakasih Tuan Patriak! Tuan telah membebaskan kami dari jeratan para polisi itu" Kata Hasrat dengan hormat.


"Opss.. Saudara Naibaho tidak perlu berkata seperti itu, seharusnya saya mengucapkan banyak Terimakasih kepada Saudara Naibaho, mungkin kalau saudara tidak datang tepat waktu bersama dengan orang-orangmu, mungkin seluruh orang-orangku telah tumbang dibuat oleh mereka" jawab Restu Chandra dengan antusias penuh minta maaf.


Hasrat Naibaho tersenyum lebar, kemudian dia berkata "Tuan terlalu berlebihan, sudah sepantasnya kami bertindak, karena itu merupakan perintah dari Tuan Lemon" Ujar Hasrat dengan tatapan datarnya.


Kembali kedalam kamar, Lemon masih saja terjaga dengan tungku ramuan dihadapannya, dia sudah sangat berkeringat dingin dalam meracik obat tersebut.


Waktu terus berjalan hingga keesokan harinya, terlihat kediaman Chandra sudah dijaga ketat oleh para Master Taekwondo, dan sebagian ada dari pihak kepolisian.


Lili berjalan kekamar Dewi, kemudian dia melihat Dewi yang sudah duduk diatas tempat tidur dengan memandangi kearah Jendela.


"Nak! Kamu sudah bangun" Kata Lili dengan memberikan senyuman manisnya kepada Dewi.


Dewi sontak membalikan pandangannya, ketika dia mendengar ibundanya berkata.


Dengan senyuman Terindahnya Dewi berkata: "iya Bu.. Aku sudah bangun sejak matahari menyinariku".


Lili menggelengkan kepalanya pelan, kemudian dia berkata: "Masih belum Nak! Mari kita berdoa saja, supaya Nak Lemon bisa cepat menyelesaikan meramu obat itu untukmu".


"Berarti sejak dari kemarin dia belum keluar ya bu? Dia juga belum makan?" Kata Dewi dengan wajah penasarannya.


"Iya Nak" jawab Lili singkat, sambil dia menganggukan kepalanya.


"Bu.. Aku mau pergi kesana, biarkan aku melihatnya" Ucap Dewi memohon kepada sang ibu, yang membuat wajah sang ibu menjadi panik tak bisa menyetujui permintaan sang Putri.


Lili lagi-lagi menggelengkan kepalanya, kemudian dia berkata "Nak! Tidak bisa.. Karena Nak Lemon sudah berpesan supaya dia tidak bisa diganggu oleh siapapun".


"Huuuftt.. Baiklah bu" Jawab Dewi dengan menghela nafas panjangnya.


Didalam Rumah besar yang kosong, Berys sedang duduk dengan menikmati sebatang Rokok Cerutu dan ditemani dengan Anggur Merah orang Tua.


"Sial! Lagi-lagi aku gagal! Dasar Polisi brengsek! Beraninya mereka menghalangi rencanaku" Berys berkata dengan meremas pegangan Kursi Sofa.

__ADS_1


"Bagaimana aku kembali di Lembah Mondrowe kalau ceritanya seperti ini, bisa-bisa aku digantung oleh ketua, karena gagal membawa Anak Sialan itu! Lemon" Berys berkata dengan menggertakan giginya sambil dia menenggak sebotol Anggur Merah.


"Apakah aku harus kembali kesana, ataukah aku kembali ke lembah mondrowe" Kata Berys dengan pemikiran yang semakin kacau karena alkohol.


Tiba-tiba seorang bawahannya yang masih tersisa berjalan menghampirinya.


"Maaf Tuan! Ada Informasi penting yang ingin saya sampaikan" Kata Bawahan itu dengan sopan.


"Kenapa? Apakah ada Informasi yang sangat penting? Hah" Ujar Berys dengan kepalanya yang sudah mulai hoyong.


"Maaf Tuan saya ingin menyampaikan pesan dari Ketua Lembah Mondrowe, bahwa kesempatan kita hanya tinggal 2 hari lagi" Kata bawahan itu lagi.


"Aahh.. Sialan! Enyah kau dari hadapanku" bentak Berys dengan berteriak sangat keras.


"Dringg" Suara Botol terdengar pecah dilantai, Berys melemparkan Botol minumannya kelantai karena dia merasa sangat kesal, karena kesempatannya untuk menangkap Lemon hidup-hidup sudah habis.


Orang-orang yang masih tersisa, memilih keluar untuk mencari udara segar, dari pada mereka tetap bersama Berys yang hanya akan membuat mereka semakin kesal.


Lagi-lagi Berys menenggak Anggurnya, dia merasa sangat putus asa karena tidak bisa bertemu dengan Lemon selama menjelang beberapa Minggu.


Didalam Aula Kampus, Dennis bersama Lea dan Bryan sedang duduk, namun wajah mereka terlihat sendu, mungkin karena ada sebagian teman mereka yang tidak hadir mengikuti proses mata kuliah.


"Masbro.. Bagaiman dengan kabar Lemon? Apakah kamu sudah mendengar kabarnya" Tanya Dennis dengan wajah lesu kepasa Bryan Calvin.


Bryan Calvin menggelengkan kepalanya pelan "Aku belum mendapatkan Informasi tentang keberadaannya, karena sudah berulang kali aku menghubunginya, namun tetap saja tidak bisa tersambung" Sahut Bryan dengan kepala yang masih tertunduk sendu.


"Lalu bagaiman dengan Dewi? Apakah dia sudah sadarkan diri?" Tanya Dennis lagi sambil dia menggulung-gulung kertas kecil ditangannya.


"Eemm.. Keadaan Dewi juga masih belum ada Perubahan, karena Obatnya hanya tergantung dengan kepulangan Lemon" Sahut Lea dengan nada sedih.


Lea sangat bersedih dengan Kondisi sahabatnya itu, dia tidak bisa membantu sedikitpun sehingga dia menganggap bahwa, dia adalah sahabat yang tida berguna, sahabat yang tidak bisa berbuat apa-apa sewaktu sahabat akrabnya terkena penyakit.


"Sudahlah! Kita jangan terlalu bersedih, lebih baik kalau kita memikirkan bagaimana cara supaya bisa terhubung dengan Lemon" Ujar Bryan memberi saran.


"Aku rasa, itu ide yang sangat bagus untuk saat ini" Sambut Dennis dengan semangat.

__ADS_1


__ADS_2