PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 126. Pemilik Rumah Sakit Ternyata Keluarga Chandra


__ADS_3

Dokter itu memperhatikan Dewi, kemudian dia berkata "Heeii.. Gadis Manis! Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya berkata seperti kepadaku".


"Baiklah kalau kamu ingin mengenalku lebih jauh, perkenalkan! Nama saya DEWI Chandra, Anak dari Restu Chandra, Pemilik Rumah Sakit ini" Kata Dewi yang berjalan dihadapan sang Dokter.


Mendengar nama Keluarga Chandra, Dokter bersama dengan beberapa Suster yang lain, langsung merasa seluruh tubuh mereka tersengat listrik yang berapa ribu volt.


"Bagaimana Pak Dokter? Apakah ada lagi yang ingin kamu perjelaskan? Atau ada yang ingin mau kamu sampaikan kepada Pacar saya" Sambung Dewi sambil dia berjalan dan merangkul Lengan Lemon.


Sang Dokter tidak bisa membuka mulutnya lagi, dia hanya bisa berjalan dengan kaki gemetaran, kemudian dalam sekejab dia sudah berlutut dilantai dengan Suara Gedebuk.


Dewi hanya bisa menatapnya dengan tatapan jijik, sementara Lemon hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian dia berkata "Sudahlah! Kita tidak usah lagi mengingat-ingat masalah ini, Lebih pak Dokter segera meninggalkan kami disini".


Dokter itu langsung menganggukan kepalanya, tanpa berani menatap kemudian berkata "Baik.. baik Tuan dan Nona, saya akan pergi sekarang".


Selesai berkata sang Dokter itu langsung berdiri dengan membungkuk, dia berjalan pergi, namun sebelum dia sampai dipintu, tiba-tiba ada suara "Tunggu! Kamu boleh pergi, tapi mulai saat ini kamu tidak boleh lagi menjadi Dokter diRumah Sakit ini" Kata Dewi tegas, yang membuat Sang Dokter langsung lemas dan berlari keluar.


Lemon langsung ambruk kelantai setelah sang dokter telah pergi, dia telah banyak menghabiskan energi Qi Esensialnya sewaktu mengobati ibunya Bryan.


Dewi memapahnya duduk disofa yang terdapat dikamar itu, kemudian Lea memberikan sebotol air mineral, sehingga dalam sekali tegukan Air Mineral itu langsung habis.


Semua orang menatapnya dengan perasaan Kagum, tidak terkecuali Dewi dia sudah melihat kemampuan Lemon dalam pengobatan, sehingga dia hanya memasang ekspresi datar.


"Bang Bro, terimakasih, terimakasih" Bryan Calvin duduk disamping Lemon seperti anak kecil, kemudian ibunya bryan berkata "Nak.. Saya berharap kamu ikut bersama kami, untuk kembali kerumah karena saya ingin Suami saya tahu semua ini".


"Iya Bang Bro! Kamu ikut bersama kami ya, kami ingin memasak makanan yang istimewa untukmu" Ajak Bryan berharap Lemon menyetujuinya.


Lemon hanya tersenyum manis menanggapi ajakan Bryan dan Ibunya, kemudian dia berkata "Heemm.. Kalau Soal itu, kan masih ada hari dimasa depan, hal yang terpenting sekarang adalah bibi istirahat dan bisa sembuh total, sepertinya saya harus pergi kepinggir kota, untuk mencari obat Herbal, supaya luka-luka dipergelangan tulang-tulang bibi, bisa sembuh secara alami".

__ADS_1


"Apa yang dikatakannya Lemon itu benar, biarkan dia mencari obat Herbal untuk bibi terlebih dahulu, untuk soal jamuan makannya bisa dilain waktu" Dewi angkat bicara.


Dewi inginkan Lemon untuk mencari obat Herbal di pinggir kota, supaya dia tetap bisa bersama Lemon untuk pergi kesana.


Sedangkan Lea yang berada disamping, dia hanya bisa duduk bersama dengan ibunya Bryan, dia tidak berkata apa-apa.


"Ya sudahlah bang bro! Kalau bang bro pergi untuk mencari obat Herbal, tapi bang bro harus janji untuk menempati janji" Bryan Calvin berkata sambil tersenyum.


"Okey Masbro, saya akan tetap ingat apa yang telah aku janjikan" Lemon menjawab perkataan Bryan Calvin.


Dewi melihat kearah Lea yang sedang duduk memijat-mijat tangan ibunya Bryan, kemudian Dewi berjalan mendekati mereka berdua lalu berkata: "Lea.. apa kamu masih tinggal menemani bibi?".


Lea mengangguk lalu menjawab "iya.. Biarlah aku menemani bibi untuk sementara waktu" kata Lea singkat.


"Iya Nak! Biarlah dia menemani saya untuk sementara waktu saja, nanti Bryan akan mengantarkannya pulang" Ibu Bryan berkata dengan tersenyum kepada Dewi.


Setelah Lemon berpamitan, dia langsung meninggalkan tempat itu, dengan dia disusul oleh Dewi.


"Iya Bu.. Dia memang Hebat! Selain dia Hebat Seni bela diri, dia juga termasuk siswa pintar dikelas" Bryan Calvin membalas kata-kata Ibunya.


Ibunya sangat merasa iri dengan keterampilan Lemon, sampai-sampai dia bergumam dalam hatinya "Andaikan saja anak itu, adalah anakku, pasti saya akan sangat merasa bahagia, dan menjadi ibu yang sangat beruntung didunia ini".


Lemon dan Dewi telah sampai diloby rumah sakit, Dewi langsung menarik tangannya lalu berkata "Kita sekarang mau kemana?".


"terserah kamu sajalah, kan kamu yang menjadi Supir" Kata Lemon dengan wajah datarnya.


Dewi yang sudah mengerti akan pikiran Lemon, yang akan duduk dikursi belakang, dalam sekejab Dewi berkata "Enak saja! Aku gak mau menjadi supir pribadi kamu, kamu kan Lelaki yang akan menjadi kepala Keluarga, berarti kamu yang menjadi supir" Dewi langsung memberikan Kunci Mobilnya ditangan Lemon.

__ADS_1


Lemon hanya bisa menghela nafas panjang, lalu dia membukakan Pintu untuk Dewi, dan setelah itu dia langsung menancap Gas pergi dari tempat itu.


Ditempat lain dikediaman Keluarga Laiya, suara Gelas terdengar "Buuks" sebuah Gelas menghantam Dinding yang membuat gelas itu, langsung pecah berkeping-keping menjadi abu.


"Kau dan Ayahmu sama saja, sama-sama tidak berguna! Keluarga Laiya menjadi bahan tawaan dibawah kepemipinan Ayahmu" sorot mata tajam memandang kearah Marko yang sedang berlutut dihadapan Kakeknya, Yerfan Laiya.


"Hemmm.. Andaikan? Faris berada disini, dan menjadi Patriak Keluarga Laiya, pasti hal ini tidak akan terjadi" Yerfan Laiya menggerutu, sambil mengelus janggut putihnya dan menatap langit-langit plafon.


"Mohon ampun kek! Saya sudah berusaha untuk membunuh anak itu, namun dia memiliki kekuatan yang diluar kemampuanku" Marko berkata jujur sembari dia berlutut gemetaran.


"Bruuk" satu tendangan ringan mendarat didada Marko, yang membuat Marko terpental kebelakang dan terguling-guling ditanah bagaikan Kayu balok.


"Bertahun-tahun keluarga Laiya, tidak pernah mengalami rasa memilukan seperti sekarang ini, tapi lihatlah perbuatan ayahmu! dia bagaikan melemparkan keluarga Laiya di dikotoran babi yang sangat banyak" Ketus Yerfan Laiya.


Mata Yerfan Laiya dipenuhi dengan rasa ingin membunuh, wajahnya berwarna ungu karena amarahnya memuncak.


"Apa kamu tahu tempat anak itu? Yang bernama Lemon" Ucap Yerfan sambil dia memutar pandangannya kearah Marko.


"Iya.iya Kek! Saya tahu dimana dia tinggal, dia tinggal dipuncak Villa Ginting" Jawab Marko terbata-bata.


"Heemm" Yerfan Laiya hanya menjawab dengan deheman, sambil dia memutar pandangannya kearah luar jendela dan mengelus janggutnya.


"Dia punya pacar kek, yang sangat dia cintai, namanya Dewi" Kata Marko sambil menggertakan giginya.


Sontak saja tatapan Yerfan Laiya berpaling, memandangi lagi kearah Marko, kemudian dia berkata: "Apakah kamu tidak salah? Kamu jangan memberikan informasi yang salah, karna saya tidak suka mengganggu orang-orang yang tidak punya dendam terhadapku".


"Iya Kek! Saya benar, saya tidak mungkin salah karena Anak itu adalah teman saya dikampus, begitu juga dengan pacarnya itu" jawab Marko dengan jujur.

__ADS_1


"Baik! Kamu curi gadis itu, bawalah dia kemari, karena itulah salah satu cara untuk melumpuhkannya, asalkan dia memang benar-benar mencintai gadis itu" Kata Yerfan Laiya sambil berpikir.


"Saya berkata 100% Kek, dan saya yakin dia sangat mencintai gadis itu" ucap Marko dengan mengenadah wajahnya keatas.


__ADS_2