PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 185. Lemon dihadang Kabut Hitam Gelap - Kakek Tua


__ADS_3

Dewi hanya terharu melihat suasana keluarga Lemon yang terlihat Romantis, sehingga Dewi menggenggam tangan calon Mertuanya itu supaya tidak terlalu mengeluarkan air mata.


Setelah 2 Jam menghabiskan waktu ditempat itu, Lemon dan kedua orang tuanya memilih untuk kembali kerumah, waktu juga sudah menunjukkan pukul 3 sore.


Setelah sampai dirumah, Lemon langsung berpamitan kepada kedua orangtuanya untuk langsung kembali kekota Gowe.


Ibu Meti hendak menahan Lemon untuk masih tetap tinggal beberapa hari kedepan, apalagi dimasih ingin mengakrabkan diri dengan Dewi sang Calon mantu, namun apalah daya dia juga mengerti posisi Lemon sekarang.


Karena yang mereka tau adalah Lemon hanya sebatas temannya Dewi, sementara Mobil hanyalah pinjaman Lemon dan harus dikembalikan dalam kurun waktu yang sangat singkat.


"Ayah dan Ibu tidak bisa menahan kalian terlalu lama, yang penting kamu harus tetap fokus kuliah supaya kamu bisa sukses dimasa depan" Ucap Pak Yosa dengan perasaan sedih.


"Ayah dan Ibu tidak usah terlalu kuatir soal itu, Lemon akan selalu berusaha dan tetap berdoa, supaya semua bisa dilancarkan oleh Sang Maha Kuasa" Sambut Lemon dengan memeluk kedua orang tuanya.


Pak Yosa dan Ibu hanya bisa mengangguk pasrah, ketika Lemon menguatkan mereka.


"Ayah dan Ibu jangan kuatir, Lemon pasti fokus untuk menyelesaikan kuliahnya" Timpal Dewi seraya mengusap punggung Bu Meti.


Maret Silalahi telah selesai memasukan barang-barang mereka kedalam Mobil, setelah itu Lemon berpamitan kepada Kedua orang tuanya.


Namun sebelum Lemon dan Dewi berangkat, Lemon mengambil segepok Uang yang sudah disediakan ditas kecil, kemudian dia memberikan kepada sang ibu.


Bu Meti seketika terkejut ketika melihat Lemon memberikan dia uang sebanyak itu "Nak Kamu dapat uang darimana? Kenapa banyak sekali?" Tana Sang Ibu keheranan.


"Ini Uangku bu, karena aku selain Kuliah aku juga bekerja paruh waktu, sehingga uang ini terkumpul, dan aku ingin memberikannya kepada kalian untuk membeli perlengkapan kalian beberapa bulan kedepan" Jawan Lemon sembari memberikan uang itu ditangan sang ibu.


Ibu Meti tidak berkata-kata lagi, dia hanya bisa menerima Uang yang diberikan Lemon padanya, dengan meneteskan butiran-butiran Air Mata kesedihan bercampur dengan kebahagiaan.


Setelah merasa semuanya beres, Lemon dan Dewi langsung naik mobil dan meninggalkan halaman rumah berlalu jauh pergi.


Diperjalanan dipersimpangan Desa Tora dan Desa lain, tiba-tiba Muncul Awan Hitam Gelap, yang membuat Jalanan tertutup dengan kegelapan, dan dengan terpaksa Maret Silalahi menghentikan Mobilnya.


"Maaf Tuan kenapa tiba-tiba jalanan menjadi Gelap begini? Saya tidak bisa melihat kedepan" Ucap Mareti Silalahi kebingungan.

__ADS_1


"Eemm.. Kalian tunggu saja disini, jangan ada yang turun dari dalam mobil" Sahut Lemon dengan bergerak langsung turun keluar.


Dewi hanya bisa menggigit bibir karena sedikit ketakutan, dia tidak bisa berkata apa-apa.


Dewi dan Maret Silalahi hanya memandang dengan tatapan tajam kearah depan, mereka berharap akan melihat apa yang sebenarnya yang terjadi didepan.


Setelah Lemon sampai didepan mobil, dia langsung mengangkat tangannya keatas langit, dengan satu komak kamik dari bibirnya, Pedang Emas langsung muncul digenggamannya, Pedangnya bersinar bagaikan kilatan cahaya Mentari pagi hari.


Maret Silalahi mengangkat tangan bersama Dewi untuk menghalau dampak dari Sinar tersebut.


Kilatan Pedang Emas menembus langit, sehingga memancarkan sinar yang begitu terang, yang membuat sekelilingnya menjadi Cerah dalam sekejab.


Gelap berubah menjadi terang, dengan perlahan sosok seorang anak muda bersama seorang kakek tua yang berkisar umur 70an, dengan beberapa orang yang berdiri dibelakang mereka.


Rombongan pihal lain terlihat menatap Lemon dengan tatapan tajam, dengan *******-***** jari-jari mereka masing-masing.


"Heeii.. Cristof! Apakah anak ini yang kamu inginkan!? Hah" Kakek Tua berkata dengan tegas, yang membuat Cristof langsung memalingkan Mukanya memanggil seseorang dibelakangnya.


"Apakah Anak ini yang bernama Lemon?" Tanya Lemon kedapa salah satu rombongannya, karena Cristof tidak pernah bertemu dengan Lemon sehingga dia menjadi gelapan, namun beda halnya dengan orang yang yang dipanggil Lemon, dia sudah pernah ikut dengan Berys dan Daman sewaktu dihutan, yang membuat dia tidak akan pernah lupa dengan kengerian dan wajah Lemon.


"Iya Kek! Ini orangnya, tapi sayang sekali, penampilannya tidak sesuai dengan ketenaran namanya" Jawab Cristof sambil memindai penampilan Lemon dari atas kaki sampai ujung kepala.


Kakek Tua tidak berkata apa-apa, dia hanya terus mengerutkan keningnya, dia memindai kekuatan Lemon dengan kesadaran ilahinya.


Memakan Waktu sekitar 5 menit, hingga dahi sang Kakek mengucur keringat dingin, namun dia tetap saja tidak mampu memindai kekuatan Lemon yang sebenarnya.


Sehingga dia menyimpulkan bahwa Lemon tidak sehebat dengan cerita para anggota sebelumnya.


Kakek Tua mendengus dingin, kemudian dia berkata dengan tatapan penuh intimidasi "Heiii Bocah Kecil! Apakah kau yang bernama Lemon?" Tanyanya dengan sedikit mencibir.


Lemon hanya menghela nafas kecil, kemudian dia menggerakan Pedang Emasnya, Lemon sengaja menggerincingkan Pedang Emasnya diAspal, sehingga mengeluarkan bunyi yang membuat mata orang untuk tertarik.


"Kakek Tua, saya memang bernama Lemon, Lemon Nababan, tapi setauku saya tidak pernah bertemu dengan anda, jadi tidak ada alasan untuk kita saling bermusuhan" Kata Lemon menjawab pertanyaan dari sang Kakek, sambil dia melangkah kakinya 2 langkah kedepan.

__ADS_1


Dari dalam Mobil Dewi dan Maret Silalahi hanya bisa menyaksikan percakapan antara Lemon dan Pihak lain.


Kakek Tua memutar Bola Matanya, setelah dia mendengar bunyi dari Pedang Emas, matanya menjadi serakah dengan Pedang Emas pusaka Lemon.


"Heemm.. Anak Kecil! Kau yang sudah mengalahkan saudara seperguruan Cucuku ini, Berys dan beberapa yang lain Jawab Sang Kakek sambil mengalihkan pandangannya kepada Lemon.


"Memang Benar! Saya yang sudah menghabisi mereka, karena mereka pantas mendapatkannya" Ujar Lemon dengan nada dinginya.


"B" Jingan Kgparat Kau! Kau dengan sombongnya memarkan kehebatanmu dihadapan Tetua Keluarga Kami" Sergah Cristof dengan menggertakan giginya.


"Hemm... Sepertinya kau tidak ada bedanya dengan saudara-saudaramu yang sudah duluan menghadap Neraka" Sahut Lemon dengan wajah datarnya.


"Sialan Kau! Semakin lama semakin ngelunjak mulut itu" Teriak Cristof yang langsung memberi Isyarat kepada Rombongannya untuk langsung menyerang Lemon.


Mendapatkan Perintah dari Seniornya, seluruh Anak Yayasan Perguruan Mondrowe langsung menyerbu kearah Lemon dengan berbagai gerakan gaya bertarung mereka masing-masing.


"Hiiaatt" suara para anggota ketika bergerak kearah Lemon.


Lemon tidak terlalu menganggap serangan itu, karena sebelum mereka bergerak kearahnya, sudah terlebih dahulu dia memindai kekuatan orang-orang tersebut dengan kesadaran ilahinya.


Lemon tetap menatap kedepan dengan tatapan acuh tak acuh.


Lemon dengan santainya membiarkan satu serangan datang kepadanya, dia membiarkan satu pukulan mengenai dadanya.


"Bruuks" suara pukulan terdengar nyaring ketika satu pukulan mendarat didadanya.


Dewi yang melihat adegan didepannya merasa gemetar, dia mencekeram sofa tempat duduknya, dia merasa tidak tega ketika satu pukulan itu mendarat didada sang kekasih.


Satu Pukulan, dua pukulan dan seterusnya, puluhan pukulan mendarat ditubuh Lemon, namun dia masih berdiri kokoh ditempat tanpa bergeming.


Ada yang mendendang perutnya, ada yang meninju bagian belakang kepalanya dan lain sebagainya, namun Lemon tidak berdampak sama sekali, dia masih tetap berdiam diri tanpa melakukan perlawanan.


Melihat Lemon dikelilingi oleh banyak orang, Maret Silalahi mengepalkan tinjunya dengan mata yang memerah, namun dia tidak berani untuk ikut campur, karena Lemon sudah memberi peringatan sebelum dia turun tadi.

__ADS_1


Dewi berteriak sambil dia menggerakan bahu Maret "Cepat.. cepat kamu bantu dia, dia bisa mati, lawannya sangat banyak" Cecar Dewi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Maaf Non.. Saya tidak berani membantah perintah Tuan Lemon" jawab Maret Silalahi.


__ADS_2