PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 129. Lemon bersama Dewi Datang Keperusahaan Kuil Naga


__ADS_3

Lemon hanya pasrah mengikuti Dewi dari belakang, namun tiba-tiba Dewi berbisik kepadanya "Kamu itu harus didepan, karena yang menjadi kepala keluarga itu Kamu! Bukan Aku! Jelas" Mata Dewi sedikit melotot.


"Kalau aku didepan, kan aku gak tau jalannya, kemana kita akan pergi! Huhh" Jawab Lemon menghela nafas.


Dewi hanya bisa mengerutkan keningnya, karena dia sadar apa yang dikatakan Lemon padanya adalah benar.


"Ya Sudah! Terserah kamu sajalah" Kata Dewi ketus sambil menghentakan kakinya, kemudian mereka berjalan menuju ruangan kerja Sekretaris CEO, Widya Sirait.


Lemon yang mengekori Dewi dari belakang, dia hanya terus tersenyum ketika dia memperhatikan lekukan tubuh kekasihnya itu, yang bentuknya bagaikan bentuk Guitar Spanyol.


Lemon hanya terus menatap dengan menggelengkan kepalanya pelan, namun tanpa dia sadari karena dia terus berfantasi dalam mimpinya, dia tidak menyadari kalau sekarang Dewi sudah menatapnya.


"Dasar Lelaki Mesum! Beraninya Kamu memandangiku sepeti itu!” Dewi mengejar Lemon dan memukul-mukulnya dengan Lembut.


"Hahahaa... Ampun-Ampun" Lemon tertawa sambil memohon dan dia meraih tangan Dewi yang lembut itu, namun tiba-tiba Dewi terpeleset dan jatuh langsung kedalam pelukan Lemon.


Lemon dan Dewi saling bertatapan Mesra, Lemon tersenyum melihat kekasihnya itu berada didalam pelukannya, sementara Dewi juga bertingkah yang sama, sehingga mereka tidak menyadari kehadiran Hasrat Naibaho dan Widya Sirait.


"Eehehemm".. Suara Deheman Hasrat Naibaho, yang membuat Lemon dan Dewi tersadar dari lamunan mereka berdua, yang masih berada dilangit ketujuh.


Dewi buru-buru berdiri dan melepaskan dirinya dari pelukan sang Pahlawan, kemudian Dewi membungkuk hormat kepada Hasrat dan Widya, sambil meraih tangan Lemon untuk ikut membungkuk memberi hormat.


Lemon hanya pasrah mengikuti instruksi sang Dewi, Lemon membungkuk kepada Hasrat dan Widya.


Lemon mengedipkan matanya kepada Hasrat dan Widya, sehingga Hasrat langsung mengetahui arti dari kode yang diberikan Lemon.


Hasrat langsung menarik tangan Widya, untuk memberikan hormat dan membungkuk kepada Lemon dan Dewi, sementara Widya hanya bisa mengikuti Hasrat.


Dewi langsung memutar tubuhnya untuk melihat Lemon, kemudian dia berkata "Sayang.. Temanmu, dia bekerja diperusahaan ini" sambil menghujuk Hasrat Naibaho.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu! Dia bisa membantu kamu jika butuh sesuatu" Jawab Lemon datar, tanpa dia melihat kearah Hasrat dan Widya.


"Mari Nona, kita langsung masuk keruangan saya, bersama temannya Nona" Widya mempersilahkan untuk masuk kedalam Ruangan kerjanya.


Dewi dan Lemon berjalan masuk kedalam Ruangan Kerjanya Widya, Lemon berbisik pelan setelah dia melewati Hasrat Naibaho "Kalian harus bersikap biasa saja, jangan sampai dia curiga" lalu dia berjalan mengikuti Dewi.


Widya mempersilahkan Dewi dan Lemon, untuk duduk disofa yang berada dipojok ruangan itu,


Widya hanya masih tetap berdiri tanpa berkata-kata, karena dia sungkan akan keberadaan Lemon dihadapannya.


"Kenapa Masih berdiri, silahkan mba duduk" ucap Lemon datar namun sedikit memberikan senyuman.


Sementara Hasrat tidak berlama-lama ditempat itu, dia langsung menuju ruangan kerjanya untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain.


"Baik Nona, apakah yang perlu kita diskusikan, bukankah Dana yang disuntikan keperusahaan nona sudah ditransfer 100%" tanya Widya dengan sedikit gemetar.


"Iya mba.. Memang Dananya sudah ditransfer ke rekening perusahaan kami, namun saya terus ditanyain oleh Ayah saya, kenapa Suntikan Dana yang ditransfer oleh Perusahaan ini sangatlah besar, kami takut hal ini akan menjadi sebuah masalah dimasa depan" Ujar Dewi menjelaskan panjang lebar.


"Maaf Nona, Nona mau minum Apa? Biar saya pesan" Kata Widya tertegun, dengan ekspresi tidak berani menatap Lemon lagi.


"Eemm.. Apa saja mba" Namun sebelum Dewi selesai berkata, Lemon langsung memotong perkataannya "kalau ada Kopi Sidikalang, gak apa-apa mba pesan saja".


"Baik Tuan, biar saya pesan" dengan terbata-bata Widya langsung berdiri dari tempatnya, kemudian dia langsung melangkah pergi keluar memesan kopi sidikalang.


"Cantik juga dia" kata Lemon kecil, namun masih bisa didengar jelas oleh Dewi, yang membuat Dewi kaget dan membalikan pandangannya, dia langsung melihat kearah Lemon.


"Apa katamu? Aku kurang dengar tadi waktu kamu bicara" Dewi berkata sambil menatap tajam kearah Lemon.


"Oh.. Itu, Furnitur ruangan ini cantik sekali, aku sangat nyaman tinggal disini" jawan Lemon sambil tersenyum.

__ADS_1


"Dasar laki-laki Genit! Tak bisa melihat perempuan cantik, Mari kita pergi saja" kata Dewi tegas yang dipenuhi dengan amarah kecemburuan.


"Aaiissh.. Kamu jangan bertingkah seperti anak-anak kecil, malu sama orang-orang Dewasa! Cuman bilang cantik aja kamu kepanasan" Ejek Lemon dengan bercanda.


"Kamu pikir aku ini masih anak-anak! Aku gak bisa ngerti dari ucapanku itu, Hah!" Kata Dewi berkata keras, wajahnya berubah merah seakan dia meledak.


Mata Dewi mengekor, ketika dia membuang muka dari pandangan Lemon, dan tiba-tiba suara gagang pintu terdengar, kemudian muncullah Widya bersama dengan pelayan, dengan nampan ditangan pelayan tersebut dan diatasnya ada Tergeletak 2 Gelas Kopi Sidikalang.


Pelayan itu tersaji didepan mereka, namun Wajah Dewi terlihat Kusam, dia sudah terlanjur marah kepada Lemon.


"Non, Tuan, Silahkan" Pelayan itu mempersilahkan, Dewi dan Lemon untuk menyeduh Kopi Sidikalang yang sudah mereka pesan.


"Baik.. Terimakasih" Jawan Lemon dengan senyuman manisnya, yang membuat perasaan Dewi meledak-ledak, ketika dia melihat Lemon mengedipkan Mata kepada Pelayan itu, dan pelayan itu menyambut kedipan mata Lemon dengan senyuman.


Lemon sengaja memanas-manasi Dewi, supaya mereka segera pergi dari tempat itu.


Setelah pelayan itu pergi, Dewi mengalihkan pandangannya dari Lemon, dia melihat Widya sambil berkata "Maaf Mba, Apakah saya bisa langsung bertemu dengan CEO perusahaan ini, saya ingin langsung bertanya padanya, kemudian saya ingin memperkenalkan teman saya ini padanya, siapa tahu dia ada niat untuk kerjasama, karena teman saya ini mahasiswa jurusan Manajemen dan Mahasiswa terbaik dikampus".


"Uhuuk, Uhuukk" Widya terbatuk-batuk lagi, wajahnya seakan pucat karena dia tidak tau harus menjawab apa kepada Dewi.


Namun Lemon sama sekali tidak menghiraukan obrolan antara Dewi dan Widya, dia hanya bisa mendengarkannya dengan Acuh tak Acuh.


Widya melirik Lemon yang sama sekali tidak menghiraukan obrolan mereka, dan memilih mengesap Kopinya dengan tenang.


"Eemm.. Maaf Nona, C, CEO tidak sedang berada ditempat, dia se, sekarang berada diluar kota" Kata Widya terbata-bata sambil dia terus melirik Lemon.


"Kalau begitu, saya bisa meminta nomor HPnya" Kata Dewi memohon. "Maaf Non, saya tidak berani, karna saya tidak punya hak untuk itu, Mohon nona bersabar, nanti kalau CEO sudah pulang saya akan menyampaikan hal ini padanya" jawab Widya santai.


"Baiklah Mba, kalau begitu kami Pamit, karena saya masih ada kesibukan yang lain" Ucap Dewi tergesa-gesa karena dia sudah tidak tahan lagi dengan Lemon.

__ADS_1


Setelah berpamitan Dewi langsung menarik tangan Lemon, namun sebelum Lemon pergi terlebih dahulu dia meraih gelas Kopinya, lalu menghabisinya tanpa ada lagi sisa.


Widya hanya bisa tersenyum, dan menggelengkan kepala dengan Pelan.


__ADS_2