
"Tunggu Tuan Muda, biarkan saya cek dulu" Jawab Eben Singkat, sembari dia menutup sambungan teleponnya.
Marko hanya bisa menghela nafas panjang, ketika dia menunggu informasi dari Eben. Sedangkan diKantor Polisi, Eben sibuk membuka File untuk mencari tahu keberadaan Lemon.
Lemon dan Dewi sekarang berada diVilanya, dipuncak Villa Ginting, Lemon memberikan segelas teh dingin kepada Dewi.
Dewi masih terlihat gemetar karena kejadian yang dia lihat barusan, secara detilnya Dewi tidak pernah terlibat dalam pertengkaran, apalagi dengan pertarungan yang menyangkut nyawanya.
"Sudah.. Kamu jangan ingat-ingat kejadian tadi, anggap saja kamu tidak pernah melihatnya" Lemon berkata sambil duduk disamping Dewi.
Dewi menatap Lemon dengan tatapan yang tak bisa diartikan, kemudian Dewi menatap lurus kedepan sambil dia mengesap tehnya.
Dewi menatap Lemon karena dia sangat terkejut, ketika dia melihat orang-orang tadi berdiri dan membungkuk di hadapannya Lemon, yang semakin membuyarkan Pikirannya terhadap Lemon, karena Lemon selama ini terkenal hanya sebagai pria pengecut.
Selama ini Lemon selalu dibully dikampus oleh anak-anak kampus lainnya, namun hari ini dia menyaksikan dengan jelas, Lemon dihormati bagaikan seorang Dewa.
Lagi-lagi Dewi menatap Lemon, yang membuat Lemon sedikit risih dan tidak enak, sehingga dia berkata kepada Dewi "Kok kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang salah ya dengan wajahku?" Sambil Lemon mengusap-ngusap pipinya.
"Kenapa Orang-orang tadi, sangat tunduk dan menghormatimu? Siapa mereka" tanya Dewi dengan matanya yang menyelidik.
"Ohh itu!! Kebetulan ketua Gengnya adalah temanku sewaktu SMP, Namanya Hasrat Naibaho" Ucap Lemon santai, namun dia berusaha menyembunyikannya dari Dewi.
"Kenapa mereka sangat takut padamu dan sangat menghormatimu? Kalau hanya temanmu yang menjadi ketua mereka" kata Dewi sambil melirik Lemon.
"Gak tau juga, mungkin mereka pikir aku ini juga termasik ketua!! Heheheee" kata Lemon sambil tertawa kegirangan.
"iisss... Ge'er banget deh mau jadi ketua? Lulus kuliah dulu baru mau jadi ketua" Dewi berkata mencibir sambil dia kembali duduk santai.
__ADS_1
"Oke oke.. Sekarang kamu saya antar pulang kerumah" Tanya Lemon. "Gak mau, aku masih pengen disini, sekalian aku mau lihat nanti sunset dibelakang rumahmu" Kata Dewi sembari melangkah pergi kearah belakang, yang menghadap Danau Nias.
Lemon hanya bisa menghela Nafas panjang, ketika dia melihat Dewi sudah melangkah menuju tempat santai yang menghadap danau, sementara Lemon hanya bisa mengikuti Dewi dari belakang.
Kembali di kediaman Laiya, Marko sedang menunggu Informasi dari Eben, sembari dia memakan buah Anggur merah yang berada diatas Meja.
Tiba-tiba HPnya berbunyi "Diiirr..Diirr" Marko langsung melihat, kemudian dia menekan tombol jawab, lalu dia berkata "Hallo bagaimana?" Tanya Lemon tergesa-gesa, karena yang menelponnya adalah Eben Haezer.
"Hallo Tuan Muda" Jawab Eben Singkat.
Kemudian dia melanjutkan "Tuan Muda! Lemon tinggal disebuah Villa di Puncak Villa Ginting, yang menghadap Danau Nias" Ujar Eben, yang membuat mata Marko sedikit berdenyut, karena dia tahu tentang Villa ginting yang Elegan.
"Baik! Terimakasih atas Informasinya, saya akan menghubungi nanti" Ucap Marko dengan singkat.
Setelah sambungan Telepon terputus, Marko menghampiri Ki Buyut dan beberapa Master lainnya, yang sedang Asik menonton Pagelaran Budaya Ogoh-Ogoh di Bali.
"Bagaimana? Apakah sudah ada informasi tentang anak itu?" Sambut Ki Buyut ketika melihat kedatangan Marko.
"Heemm.. Ternyata Anak itu memiliki banyak uang ya? Sampai-sampai dia tinggal di Villa mewah" Ketus Ki Buyut sambil dia menatap langit-langit Plafon ruangan itu.
"Uhuk uhuk.. Ki! Anak itu berasal dari Keluarga Miskin, biaya kuliahnya saja dari biaya pemerintah" Kata Marko batuk-batuk meremehkan sambil dia mengangkat sudut bibirnya.
"Tapi bagaimana cara kita untuk masuk kedalam Komplek itu, karena Penjagaannya sangat ketat, dan tidak diijinkan sembarang orang lain masuk kedalam Kompleks itu" Kata Marko sambil berpikir.
"Heehehee. Kalau orang lain yang masuk memang susah, tapi! kalau kami berempat itu hanya persoalan sepele" Ki Buyut angkat bicara dan tersenyum, sambil dia melihat ketiga temannya, yang memakai Jubah Hitam.
Wajah Marko tiba-tiba menjadi penasaran, ketika dia mendengar kata-kata Ki Buyut, dia menjadi sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Ki Buyut.
__ADS_1
"Ki! apa rencana ki buyut? Bagaimana cara ki buyut untuk memasuki Komplek itu" tanya Marko dengan wajah menyelidiki.
"Heemm.. Anak Muda! Walau saya jelaskan kepadamu bagaimana caranya, tentu kamu tidak bakalan paham, karena hanya Ayahmu David Laiya, yang mampu mengerti dengan apa yang akan saya lakukan" Ki Buyut berkata sambil mendongak keatas langit, dia berdiri dan sambil mengelus janggutnya.
Marko hanya menggelengkan kepalanya, ketika Ki Buyut selesai berbicara, dan tiba-tiba Ki Buyut berkata : "Nanti Malam, Saya dan bersama ketiga saudara saya, akan pergi kePuncak Gunung Villa Ginting, saya ingin mematahkan kedua anak itu, dan membawa menghadap ketua di Kuil Lembah Mondrowe".
"Ki! Apakah saya akan ikut bersama kalian?" Marko berkata memohon sambil dia bangkit dari Kursinya.
Kibuyut tidak menjawab pertanyaan Marko, namun dia hanya bisa melirik Marko, dengan ekspresi matanya yang memelas.
Melihat Ekspresi ki buyut yang memelas, Marko hanya bisa menundukan kepalanya dan kembali ditempat duduknya semula, dia takut memprovokasi kibuyut, karena kibuyutlah jalan terakhirnya untuk membalaskan Lemon.
Dengan tatapan dinginnya, Ki Buyut melihat temannya yang lain, kemudian dia berkata "Kalian sebaiknya beristirahat, simpan tenaga kalian, karena nanti malam kita akan pergi ketempat Bocah itu".
"Baik senior" Jawab orang-orang itu serentak, dan lansung bangkit dari tempat duduk mereka, mereka memilih pergi kekamar untuk beristirahat, untuk mengisi kekuatan mereka masing-masing.
Marko hanya bisa menggertakan giginya, dan mengepalkan tinju ketika dia melihat Ki Buyut dan beberapa saudaranya, pergi meninggalkan Marko sendirian.
Namun tiba-tiba HPnya berdering, kemudian dia mengangkatnya "Hallo Sayang.. Bagaimana?Apakah kalian berhasil melumpuhkan si miskin dan kurus itu" Terdengar Suara Perempuan dari ujung telepon, yang menelpon Marko adalah Vina.
Vina telah memberitahukan keberadaan Lemon kepada Marko, ketika mereka bertemu dikampus sehingga akhirnya Marko bersama Ki Buyut, langsung mendatangi Lemon dan Dewi dipantai Kute.
"Masih belum sayang" Jawab Marko singkat, karena Marko masih memikirkan cara untuk bisa bersama Ki Buyut malam ini, untuk pergi keVila Lemon dipuncak Gunung.
"Kok Bisa Sayang? Kan kamu bilang, kamu ada Ki Buyut yang memiliki kesaktian Mandraguna" Vina berkata mengoceh panjang lebar.
"Iya Memang! Tadi hampir saja kami menaklukan B*jingan itu, namun ada yang membantunya" Ucap Lemon dengan wajah datanya.
__ADS_1
Kemudian Marko melanjutkan "Ya Sudah dulu ya Sayang, karena aku mau berbicara lagi sama Ki Buyut" Kata Marko mencari alasan.
"Iya.. Ya sudah ya sayang? By By.. Ummuaahh" Kata Vina sebelum dia memutuskan sambungan Telepon, kemudian disambut ulang oleh Marko.