
Bedebah!! Kau berani mengatai patriak keluarga Ngurah! Itu sama saja dengan pencemaran nama baik, kau harus membayarnya dengan nyawamu" Kata pengawal berbadan kekar yang sudah berdiri disana, kemudian dalam satu langkah dia menyerbu kearah Lemon.
Lemon hanya meliriknya dengan acuh tak acuh, senyuman seringai muncul dari sudut bibirnya.
Pengawal Wanti Ngurah melepaskan satu pukulan kearah wajah Lemon, namun dia memukul diarah yang kosong, karena sebelum pukulannya mendarat disasarannya, dengan kecepatan kilat Lemon berpindah berada tepat dibelakangnya.
"Boom" suara tendangan terdengar, ketika Lemon menendang pengawal tersebut.
Pengawal itu langsung terhempas kedepan, dia terpental diMeja yang berada tepat dihadapannya, yang membuat Meja dan Kursi disekitar itu menjadi pecah porak-porakan.
Hasrat Naibaho mengernyit melihat kondisi pengawal itu, yang sudah tersungkur ditanah dengan tidak sadarkan diri lagi.
Wanti Ngurah menggertakan giginya, dia menatap tajam kearah Lemon yang tidak memperdulikannya sama sekali.
"Kalian semua!! Buat dia berlutut dan meminta maaf" titah Wanti Ngurah kepada seluruh pengawal pribadinya dengan suara tegas.
"Baik Nona Muda, Siap kami laksanakan!' Suara seluruh pengawalnya terdengar bergemuruh.
Wanti Ngurah mengangkat wajahnya tinggi-tinggi keatas langit, kemudian dia tersenyum miring.
Melihat pihak lain bergerak menyerang, Hasrat Naibaho melangkah maju kedepan, namun Lemon terlebih dahulu mengangkat tangannya, dia memberi isyarat supaya Hasrat tetap tenang.
Hasrat Naibaho langsung mundur kebelakang, ketika dia melihat perintah dari Lemon.
Lemon langsung menjetikan jarinya, dalam waktu sekejab kabut putih samar langsung keluar dan memenuhi seluruh tubuh pihak lawan.
Mata semua orang terbelalak ketika melihat kabut putih itu, termasuk mata Wanti Ngurah seakan keluar dari tempatnya.
Lemon langsung mengarahkan seluruh Qi Energi esensialnya kedalam Kabut Putih, sehingga Kabut Putih langsung menghempaskan seluruh pengawal Wanti Ngurah ketanah dengan suara gedebuk.
"Bruuk, Bruuk, Duaar" suara meja dan kursi terdengar, ketika semua pengawal itu terhempas dan menabrak barang-barang perabotan yang ada di dalam klub tersebut.
Semua pengawal tersungkur ketanah bagaikan udang goreng, ada yang mengalami luka-luka dan ada juga yang sudah langsung pingsan.
Melihat seluruh pengawalnya telah mengalami nasib yang malang, Wanti Ngurah bergetar ketakutan, dia merinding hebat yang membuat wajahnya seketika menjadi pucat bagaikan wajah pocong kuntil.
__ADS_1
Wanti Ngurah ingin mengangkat kakinya, namun dia tidak bisa menggerakan, yang membuat dia langsung jatuh kelantai dengan tidak berdaya.
Rasa Bangga, Egois dan menantang yang dimiliki oleh Wantu Ngurah sekitar 20 menit yang lalu, seketika runtuh bersama dengan rasa ketakutannya melihat pihak lain, yang hanya dengan Jentikan Jari sudah menumbangkan seluruh pengawalnya.
Lemon memutar pandangannya kearah Wanti Ngurah, kemudian dia tersenyum mencibir lalu dia berjalan kearah Gadis Cantik tersebut.
"Tadi kau memintaku untuk berlutut dihadapanmu? Apakah peraturan itu masih berlaku sekarang? Hah" Tanya Lemon dengan sedikit mengejek, ketika dia telah sampai dihadapan Wanti Ngurah.
Wanti Ngurah tidak bergeming, dia hanya terus menunduk dengan tubuh gemetar, kemudian dia berkata: "Mohon Maaf Aku! Aku memang salah, aku yang salah, aku memang bodoh! Aku yang bodoh" kata Wanti Ngurah dengan memukul-mukul wajahnya sendiri, dengan deraian Air Matanya.
Lemon kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya kearah Wanti Ngurah, dia tersenyum sinis melihat wajah cantik itu.
"Kamu sangat cantik gadis manis! Tapi sayangnya!! Kecantikanmu itu kau salah gunakan dalam kesombongan! Wajah cantikmu itu bisa saja hancurkan dan saya rusak sekarang, Apakah kamu bersedia?" Tanya Lemon dengan acuh tak acuh.
"Mohon ampuni saya! Saya berjanji tidak akan melakukan hal yang sama dimasa depan" Wanti Ngurah dengan harga dirinya yang terinjak, dia berlutut dihadapan Lemon sampai wajahnya mencium tanah.
Wanti Ngurah merasakan Aura yang sangat mengerikan dari dalam diri Lemon, sehingga dia sangat ketakutan jika pihak lain benar-benar menghancurkan wajah cantiknya itu.
Lemon berdiri dengan tegap, dia berdiri dengan wibawa yang sangat elegan, orang-orang merasa ngeri melihatnya, karena dia seakan-akan bagaikan Dewa pencabut nyawa.
"Ba.. Ba.. Baik Tuan! Baik! Saya berjanji akan selalu mengingatnya dan tidak akan menginjakan kaki kesini lagi dimasa depan" Jawab Wanti Ngurah dengan terbata-bata, dia langsung menyambut perkataan Lemon dengan senang hati.
"Baik! Saya pegang janjimu itu! Ketika saya melihatmu dan orang-orangmu dimasa depan masih berkeliaran dikota ini! Hem.. Maka sayaakan pastikan... Semuanya akan saya hanguskan dalam sekejab" Titah Lemon dengan penuh penekanan.
Lemon kemudian melambaikan tangannya, untuk mengisyaratkan Wanti Ngurah pergi dari hadapannya.
Melihat kesempatan Emasnya, Wanti Ngurah langsung berdiri tegap, dia langsung memerintahkan belasan pengawalnya untuk meninggalkan kota itu segera.
Setelah Wanti Ngurah dan orang-orangnya sudah pergi, Hasrat Naibaho berjalan kearah Lemon dengan berkata : "Apakah Tuan Baik-baik saja?".
"Iya.. Saya baik-baik saja kok, saya tidak apa-apa" Jawan Lemon dengan tersenyum, lalu dia kembali berjalan ketempatnya semula.
Diparkiran Klub, Wanti Ngurah dengan tatapan tajamnya, dia menatap dengan kesal kepada para pengawalnya.
"Kalian semua tidak berguna! Percuma kalian dibayar mahal oleh Keluarga Ngurah, hanya dia seorang diri mampu mematahkan seluruh kekuatan kalian" Wanti Ngurah berkata mengoceh, sambil dia masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Para pengawalnya hanya bisa berjalan mengikuti sambil memegang perut masing-masing, sedangkan pengawal yang badannya kekar hanya bisa menunduk dengan malu.
Rombongan Wanti Ngurah langsung menancap pedal gas mobil mereka, sampai mereka tidak terlihat lagi.
Kembali didalam Klub, Lemon terus meminunm Amer yang sudah tersedia diatas mejanya, dia terus menatap kearah langit-langit plafon, dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tiba-tiba HPnya berdering, kemudian dia menjawab dengan santai "Hallo".
"Hallo Nak! Ini Ayahmu.. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kamu baik-baik saja?" Kata pak Yosa dengan nada khawatirnya.
Lemon langsung menegakkan badannya, setelah dia mendengar suara dari sang Ayah, kemudian dia dengan tergesa-gesa melangkah keluar dari dalam klub.
Hasrat Naibaho dan beberapa bawahannya yang lain, hanya bisa mengernyit ketika mereka melihat Lemon yang sedang tergesa-gesa pergi keluar.
"Aku baik-baik saja disini Ayah! Bagaimana kabar Ibu?" Tanya Lemon dengan suara pelan.
"Emmm.. Ibumu baik-baik saja nak! Dia sekarang duduk mengobrol dengan Bibi-bibimu Yang sedang beres-beres" Ucap Pak Yosa terlihat santai.
"Oohh.. Syukurlah Ayah, aku sangat khawatir dengan kondisi ibu! Aku juga belum ada kesempatan untuk pulang kampung" Sambut Lemon dengan Nada Antusiasnya.
"Kalau ibumu baik-baik saja kok, malah dia lebih baikan setelah kamu meramu obat untuknya" Kata Pak Yosa panjang lebar.
"Kenapa Ayah menelponku malam-malam begini? Aku tadi sangat terkejut, aku kira ada yang terjadi?" Tanya Lemon dengan pelan.
"Tidak Nak! Kamu jangan panik, Ayah hanya menelponmu, karena Ayah mau mengajak kamu untuk pulang kampung, karena 2 hari lagi Sepupu kamu Embun, akan melangsungkan pesta pernikahannya, jadi Ayah ingin kamu ada disini diAcara itu" Kata Pak Yosa dengan nada memohon kepada Lemon.
"Loh.. embun itu kalau gak salah, masih belum tamat SMP yah, kenapa dia bisa menikah diumur yang masih sangat mudah?" Tanya Lemon dengan keheranan.
"Adik sepupumu itu tidak mau sekolah lagi, dia lebih memilih untuk membentuk keluarga saja, apalagi Om dan Tantemu semakin Tua, jadi mereka ingin melihat Embun segera menikah" Pak Yosa memberi alasan yang masuk logika.
"Baiklah Ayah, kalau aku ada waktu, aku akan pulang, biar aku pikirkan dahulu" Jawab Lemon dengan santai.
"Baiklah Nak! Kamu hati-hati saja disana, usahakan kuliahmu, jangan samapi kamu gagal, ingatlah kata-kata kami padamu" Ujar Pak Yosa dengan memberi penguatan kepada Lemon.
"Iya Ayah, aku akan selalu mengingatnya" Jawab Lemon dengan penuh hormat.
__ADS_1