
Hasrat Naibaho hanya bisa menggelengkan kepala, dia tidak tau apa yang didalam Otak anak ini dihadapannya.
"Baiklah kalau itu kehendakmu, aku tidak akan ikut campur" Selesai berkata Hasrat mundur kebelakang, dia langsung memberi kode kepada orang-orangnya.
"Beri dia pelajaran, buat dia masih hidup, retakan seluruh anggota tubuhnya" Titah Hasrat kepada orang-orangnya, yang langsung dianggukin oleh Maret dan Roy Hitler.
Orang-orang Hasrat langsung berjalan kearah Bos Gangster, sehingga dia langsung memasang Kuda-Kuda bertarungnya.
Hasrat Memilih untuk duduk kembali, dia menikmati tontonan yang sangat jarang dihadapannya.
"Buumm.. Baak.. Brruukk" Suara Pukulan terdengar memilukan, ketika orang-orang bawahan Hasrat Naibaho memgeksekusi Bos Gangster, Bos Gangster hanya mengerang kesakitan ketika beberapa anggota tubuhnya telah diremukan.
"Kalian semua B-rengsek!! Lebih baik kalian membunuhku saja, B-Debah kalian semua" Teriak Bos Gangster dengan menggertakan giginya.
Namun seberapa hebat Bos Gangster itu meraung, orang-orang Hasrat Masih saja terus menghajarnya, sampai-sampai dia ngeces dan akhirnya tidak sadarkan diri lagi.
"Bawa dia keMarkas kita, yang lain itu kalian bakar mereka didekat Sungai Gomo, hilanglan jejak tanpa ada sisa" Perintah Hasrat ketika dia sudah berdiri.
"Baik Tuan" Jawab serentak oleh beberapa anggota Hasrat, kemudian Hasrat bersama dengan yang lain langsung keluar dari dalam Gedung tersebut.
Lemon yang masih stay didalam Mobil, dia mengeryitkan keningnya ketika dia melihat beberapa anggotanya, memopong seseorang yang sudah terlihat sangat berantakan.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan Informasi dari mereka?" Tanya Lemon kepasa Hasrat ketika Hasrat sudah sampai didekat Lemon.
"Maaf Tuan, Bos Gangster itu masih bungkam, dia sekarang lagi tidak sadarkan diri, saya telah menyuruh orang-orang untuk membawanya keMarkas, dan saya percaya disana dia pasti buka mulut" Ucap Hasrat Naibaho dengan hormat.
"Bagaiamana dengan sisa-sisa yang lain?" Tanya Lemon dengan wajah datarnya.
"Sudah dibereskan Tuan tanpa adanya Jejak" Jawab Hasrat dengan jujur.
"Baiklah.. Sekarang kita kembali" Ujar Lemon yang menurunkan kaca jendela mobilnya.
Lemon meninggalkan Gedung terbengkalai itu, dengan waktu sudah menunjukan Pukul 2 lewat siang.
Lemon memilih untuk pergi Ke Perusahaan Yayasan Kuil Naga, dia melihat ada beberapa persetujuan Kerjasama yang harus dia tandatangani, sembari dia menunggu informasi dari penyelidikan Hasrat terkait kejadian diperusahaan Keluarga Chandra.
__ADS_1
Diperusahaan Yayasan Kuil Naga, Lemon sudah sampai dipintu Masuk, dia seorang diri masuk dilift khusus CEO.
Sesampainya dia dipintu diruangan CEO, Lemon langsung disambut oleh Dennis, dengan senyuman sumringahnya Dennis memberi hormat kepada Lemon, dengan disusul oleh Widya Sirait.
"Bagaimana Pekerjaanmu? Apakah kamu senang?" Tanya Lemon dengan wajah senangnya.
"Iya, saya senang bekerja diperusahaanmu Tuan Lemon, saya sepertinya merasakan jati diriku sudah ada" Jawan Dennis dengan senyuman lebarnya.
"Hahahaa.. Sudahlah! Kami jangan terlalu Sungkan seperti itu, panggil saja aku sama seperti biasa, anggap saja kita sebagai rekan kerja" Tutur Lemon sambil melangkahkan kakinya kedalam ruangannya.
Setelah Lemon sampai didalam Rungan Kerjanya, dia melihat Proposal Pengajuan Dana dari Perusahaan Keluarga Chandra, dia hanya tertawa kecil ketika memeriksa berkas tersebut, dia melihat Nama Dewi tertera didalam pengajuan proposal tersebut.
"Maaf Tuan, itu proposal pengajuan dana dari perusahaan Keluarga Chandra, saya tidak berani untuk memprosesnya, saya harus menunggu persetujuan dari anda" Ujar Widya Sirait yang berdiri tegal dihadapan Lemon.
"Heemm" Lirih Lemon sambil dia menggelengkan kepalanya, kemudian dia menatap Widya.
"Apakah Dewi sudah datang kesini hari ini?" Ungkap Lemon dengan penasaran.
"I-iya Tuan! Namun saya memintanya untuk menunggu persetujuan dari CEO" jawan Widya dengan menundukkan kepalanya.
Widya Sirait menganggukan kepalanya, kemudian dia langsung berlalu pergi.
Keesokan harinya, Lemon bersama Dennis pergi kekampus, Dennis sekarang menjadi kaku terhadap Lemon, semenjak dia diangkat sebagai Sekretaris Kedua CEO.
Dennis memilih untuk tidak menggunakan Fasilitas Kantor jika dia pergi kuliah.
Sesampainya mereka ditaman Kampus, Bryan Calvin memanggil Lemon dan Dennis.
"Wooii Bang Bro! Jangan sombonglah, lewat gak lirik kiri kanan, kita disini" Teriak Bryan Calvin dengan melemparkan senyuman jahilnya.
Lemon dan Dennis sontak memalingkan wajah mereka, melihat kearah sumber suara itu.
"Wooii bang bro, ternyata kalian disitu" jawab Lemon dengan sambutan senyuman manisnya, kemudian mereka langsung menghampiri Bryan Calvin.
Setelah sampai didekat Bryan Calvin, Lemon terkejut ketika melihat Dewi bersama Lea sedang duduk bersama dikursi taman kampus, Dewi dan Lea masih belum menyadari keberadaan Lemon dan Dennis.
__ADS_1
Mereka hanya menganggap Bryan sedang mengoceh kepada teman-teman kampus yang lain.
"Wii.. Memangnya kerugian Perusahaanmu mencapai ratusan juta ya?" Tanya Lea dengan wajah serius, dengan posisi mereka sedang membelakangi arah Lemon dan yang lainnya.
"Iya Niih.. Aku sekarang lagi bingung! Mau minta suntikan dana darimana, aku kemarin sudah mengajukan proposal diperusahaan Yayasan Kuil Naga, namun belum ada Informasi, aku juga berpikir kalau Perusahaan Kuil Naga gak mau bantuin perushaan kami lagi" Ucap Dewi dengan nada malasnya.
"Kok kamu bicara seperti itu, memangnya kamu tahu darimana kalau Perusahaan Yayasan Kuil Naga tidak mau bantuin keluargamu?" Tanya Lea dengan penuh penasaran.
Mendengar pernyataan dari Dewi, Lemon dan Dennis saling menatap, kemudian Bryan ingin membuka mulutnya, untuk memberitahukan keberadaan Lemon dan Dennis, namun sudah duluan Lemon memberi kode untuk Bryan tidak buka suara.
"Iya Lea, perusahaan Keluarga Kami kan sudah berulang kali meminta asupan dana dari perusahaan itu, apalagi ketika aku bertemu sekretaris CEO kemarin, dia tidak bisa memberi harapan, katanya dia harus menunggu persetujuan dari CEO perusahaan, makanya bisa aku tebak kalau kami tidak ada peluang untuk dibantu" ujar Dewi panjang lebar.
"Heemm.. Bagaimana kalau kita cari bantuan Asupan dana dari perusahaan yang lain? Siapa tahu kamu dapat rezeki" Ucap Lea dengan jujur.
"Mana mungkin ada Perusahaan yang mau membantu perusahaan kami, sudah jelas-jelas perusahaan keluarga kami mengalami kerugian yang sangat fatal" Jawab Dewi singkat.
"Ehem, ehem" Batuk Lemon membuat mereka langsung memalingkan pandangan mereka.
"Wee.. Ada pahlawan tampan rupanya" Ledek Lea yang langsung berdiri mensejajarkan dirinya dihadapan Lemon dan yang lainnya.
"Lagi bahas apa sih? Kok kelihatannya serius amat?" Selidik Lemon dengan wajah polosnya.
"Oohh ini.. Dewi sedang curhat, kalau perusahaan keluarganya lagi ngalamin masalah, dan dia sekarang lagi butuh donatur dari perusahaan lain untuk nyelesain masalah itu" Ujar Lea dengan mulut Embernya.
Dewi langsung mencubit lengan Lea, ketika dia mendengar penuturan Lea yang semakin ember, Dewi memberi isyarat supaya Lea tidak berbicara terlalu banyak lagi.
"Oh ya? Siapa tau kamu ada teman yang bisa membantu, tolong dong dibantu Dewi, kasihan tuh dia, cantik-cantik dan masih muda lagi, sudah memiliki beban terhadap perusahaan" ujar Lea semakin memperdalam.
"Oooh.. Kalau masalah itu mah gampang, yang penting teman kamu tuh, harus memberiku hadiah yang pantas nantinya" Bisik Lemon dengan pelan, sambil dia mengedipkan matanya.
"Waaduh.. Babang tamvan! Kalau soal itu mah gampang! Yang penting kamu bisa bantu dia, ia kan Dewi?" Ledek Lea sambil dia melirik Dewi sambil memanyunkan b-birnya.
"Heemm.. Tapi teman kamu, kayaknya gak percaya deh sama gua!" Ujar Lemon dengan senyuman menyindir.
Dewi hanya bisa menghela nafas pelan, sambil dia memejamkan mata.
__ADS_1