PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 153. Lemon Taklukan Ki Baso


__ADS_3

Ki Baso mengangkat pedang andalannya itu, sambil menjulurkan lidahnya keluar, dia menjilati pedangnya dengan penuh kebanggaan.


Tianus Lase hanya berkata mencibir "Jangan pikir saya Gentar menghadapi pedang sampah seperti itu, heemm" Tianus Lase sengaja memprovokasi Ki Baso, supaya dia tidak fokus dalam melakukan perlawanan.


Ki Baso yang mendengar Hinaan pihak lain tentang Senjata Andalannya, dalam sekajab dia langsung menebas Pohon Jati yang berada disampingnya.


Dalam sekejab Pohon Kayu Jati yang berukuran sebesar paha anak kecil itu langsung terbelah menjadi beberapa bagian.


"Majulah biar urusan ini cepat selesai" ujar Tianus Lase dengan nada memprovokasi, sehingga dalam sekejab Ki Baso langsung mengarahkan ujung pedangnya kearah Tianus Lase.


"Bangs" t.. kau Rasakan ini!" Teriak Ki Baso yang berlari kearah Tianus Lase.


"Treng, Treng, Tring" Suara pedang ketika beradu dengan gagang panas api Tianus Lase, Panah Tianus Lase langsung muncul seketika ketika Ki Baso mengarahkan ujung pedangnya.


Ki Baso menebas Tianus Lase dengan kekuatan penuh, namun Tianus Lase berhasil menghindari sabetan pedang itu, sehingga pedang itu memotong Kayu yang berada tepat disebelah Tianus.


Tianus Lase melihat potongan kayu itu dengan mata terbelalak, dia tida bisa memikirkan jika dibadannya pedang itu terhunus.


Tianus Lase hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian dia berkata ketika Ki Baso menarik kembali pedangnya "Gus gus gus.. Pedangnya memang mampu menebas kayu ta'ie.. Gus gus gus" dengan wajah meremehkan Tianus Lase berkata-kata.


Kibaso yang mendengar Cibiran Tianus Lase, wajahnya berubah menjadi semakin kusam, dia tida habis pikir pihak lain menertawakan senjata andalannya itu.


Ki Baso menyerang lagi Tianus Lase, namun dengan tiba-tiba pedang yang berada ditangannya, diraih oleh seseorang yang berlari dengan kecepatan tinggi bagaikan peluru.


Ki Baso dengan wajah pucatnya, dia langsung terhenti dan melihat tangannya yang tidak memegang apa-apa lagi.


"Si..siapa yang melakukan ini?" Kata Ki Baso sangat lirih dan terbata-bata, namun bisa didengar jelas oleh orang-orang.


Tianus Lase juga menelan ludahnya, ketika dia menyadari arti keterkejutan Ki Baso, kemudian dia melemparkan pandangannya kearah sosok itu, dan dia sangat tertunduk ketika dia melihat Lemon sudah memegang pedang andalan Ki Baso.


Dalam sekejab Tianus Lase menyembunyikan senjata andalannya, karena dia merasa malu kepada Lemon yang memiliki kemapuan seni bela diri jauh diatasnya, walau Lemon masih berumur sangat muda.

__ADS_1


Ki Baso memutar pandangannya ketika dia melihat Tianus Lase menundukan kepalanya, dengan wajah pucat dan tak percaya dia menelan ludahnya.


"Ba..bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Kenapa dia mampu meraih pedang andalanku" Ki Baso dengan berkata terbata-bata, dia ingin menyerbu ribuan pertanyaan kepada pihak lain yang sudah merebut senjata andalannya, namun dia tidak memiliki kuasa untuk menanyakan hal itu, sehingga dia hanya memandang Lemon dengan inci dan dengan dipenuhi ketidakpercayaan.


Lemon hanya tersenyum miring ketika dia melihat Pedang Andalan Ki Baso, dia mengangkat pedang itu keatas langit kemudian dia memperhatikan secara detil.


"Lumayan bagus! Namun sayang? Pemiliknya tidak sebagus pedangnya, dipenuhi dengan rasa arogan!" Ujar Lemon sembari menatap dan membolak-balik pedang itu.


"Si..siapa kau sebenarnya? Apakah kau bisa menyembunyikan kekuatan jiwamu?" Tanya Ki Baso dengan sungguh-sungguh sembari dia sedikir gemetar.


"Saya tidak suka mengusik ketenangan orang lain, tadi saya sudah bilang, kalau kami hanya sekedar untuk lewat, tapi kamu merasa dunia ini milikmu" Sambil berkata Lemon memutar pandangannya kearah Ki Baso, kemudian dia melemparkan pedang itu kembali ditangan Ki Baso.


Ki Baso tercengang ketiak dia melihat Pedang Andalannya sudah kembali didalam genggamannya, sehingga dia baru merasakakan ada Aura yang sangat besar menekannya.


Aura besar itu menekan Ki Baso, yang membuat Ki Baso berlutut ditanah dengan suara gedebuk.


Ki Baso menundukkan kepalanya, dia tidak berani lagi menatap Lemon dengan tatapan tajamnya.


Namun Maret Silalahi tidak terlalu mengambil pusing dengan hal itu, dia hanya asik menikmati pemandangan itu dengan diam.


"Apakah kami boleh pergi sekarang? Atau kau masih tidak mengijinkannya?" Tanya Lemon dengan suara tegas.


"Ti..tidak! Tidak.. Saya. Saya tidak berani! Tuan! Mohon ampuni saya, saya..saya yang sudah buta tidak mengenal Tuan! Saya tidak memiliki kuasa untuk menahan anda" Kata Ki Baso terbata-bata dengan tubuhnya yang gemetar, dia bersujud menyembah dibawah kaki Lemon sampai mulutnya mencium tanah.


"Hemm.. Baiklah kalau begitu" Lemon menarik kembali Auranya, yang membuat Ki Baso menghela nafas panjang, seakan bebannya yang ratusan kilo, baru saja terangkat dari punggungnya.


Setelah selesai bicara, Lemon dan teman-temannya beranjak pergi dari tempat itu.


Namun sebelum mereka melangkahkan kaki, Ki Baso bertanya dengan Suara Pelan "Maaf Tuan! Apakah saya boleh bertanya siapa Nama Tuanku ini? Karena saya harus mengingat Tuan dimasa depan".


"Emm.. Namaku Lemon, Lemon Nababan" jawab Lemon singkat dan langsung kembali menatap kedepan dan berlalu pergi.

__ADS_1


Mereka meninggalkan Ki Baso dalam keadaan yang menyedihkan, kesombongannya beberapa waktu yang lalu, sekarang sudah hilang bagaikan ditelan Bumi, dia masih berlutut ditanah tanpa mendongak.


Setelah Lemon dan Orang-orangnya sudah pergi, Ki Baso dengan gigi gemetar dia mengepalkan tinjunya dan meremas gagang pedang andalannya, sambil dia berkata: "Sialan!! Hari aku sudah dipermalukan oleh bocah ingusan! Saya tidak akan terima hal ini" Ki Baso menatap kearah Hutan, kearah Lemon dan teman-temannya pergi.


Keesokan harinya didalam Gedung Kampus Universitas Kota Gowe, Lea bersama Bryan Calvin sedang duduk ditaman kampus dengan wajah yang tidak bersemangat.


"Apakah kamu sudah menjenguk Dewi?" Tanya Bryan bertanya dengan wajah penasaran.


"Emm.. Sudah! Aku baru menjenguknya 2 hari yang lalu" Jawab Lea dengan suara Lembut.


"Bagaimana dengan keadaannya? Apakah dia masih belum sadarkan diri?" Tanya Bryan lagi. "Masih belum, dia masih sama kayak waktu baru pertama ditemukan oleh Lemon" ujar Lea dengan senyuman lesuh.


"Lalu... Apakah sudah ada kabar dari Lemon?" Kata Bryan dengan masih menatap kearah depan. Lea menggelengkan kepalanya pelan, kemudian dia berkata: "Menurut Tante Lili, Lemon membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai dipedalaman Hutan Pulau Tello itu, apalagi didalam hutan tidak ada yang memastikan tentang hal-hal yang akan terjadi".


"Huuuft.. Semoga saja dia berhasil dan kembali dengan selamat" ucap Bryan sambil menghela nafas pelan.


Tanpa mereka sadari Vina sudah berada dibelakang mereka sejak tadi, Vina menatap tajam kedua orang itu.


Vina berjalan mendekati Lea dan Bryan, kemudian dia berkata dengan suara lantang "Hei Kalian! Ternyata kalian juga termasuk antek-antek si Lemon anak Miskin itu! Aku pastikan kalian akan merasakan akibatnya karena sudah berpihak padanya, dan kalian dengan sengaja melawan Marko".


Lea dan Bryan Calvin mengerutkan kening, ketika mendengar kata-kata Vina yang sedang mengancam.


"Heeii.. Wanita J"lang!! Memangnya siapa kau, dan siapa Marko berani-berani memerintahkan dan mengancam kita" kata Lea dengan suara tegas karena kesal.


"Ada hubungan apa kalian sama anak Miskin itu? Hah!" Vina berkata sambil mengangkat tangannya dan mengarahkan jari telunjuknya kepada Lea dan Bryan.


Lea memonyongkan bibirnya kemudian dia berkata: "Memangnya kau siapa! Hah.. Nanya-naya seperti itu? Kami mau berteman dengannya, mau bermusuhan dengannya, urusannya denganmu apa? Hah!".


Vina hanya bisa mengangkat tangannya, kemudian dia mengepalkan tinjunya sambil menggertakan giginya.


"Kalian ini ya!! Awas saja kalian.. Kalau Marko sudah kembali" Ancam Vina dengan suara tegas.

__ADS_1


Setelah dia berkata dia langsung berbalik dan pergi.


__ADS_2