
Lemon hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak menyangka Pihak lain sangatlah Rakus, kemudian Lemon berkata: "Silahkan ambil sendiri kalau kau mampu".
Tao Tua langsung mengarahkan cakar-cakar panjangnya kearah Lemon, dengan suara dentuman yang sangat menggelegar.
Melihat Pihak Lain mengarah padanya, Lemon dengan sigap langsung mengarahkan Pedang Emasnya kepada Tao Tua.
"Slees... Slees" suara sayatan pedang emas begitu memilukan, namun serangan pedang emas mampu dihindari oleh Tao Tua dengan berkekuatan penuh.
Lemon menayunkan pedang emas kearah kepala Tao Tua, Namun dengan sigao cakar-cakar daripada Tao Tua menangkap pedang emas, yang membuat Lemon langsung menjatuhkan dirinya ketanah, dan dalam sekejab Lemon meninju bagian Perut Tao Tua.
"Brruuk" suara pukulan terdengar diperut Tao Tua, yang membuat Tao Tua merintih kesakitan, dan kemudian dia langsung memegangi perutnya.
Tao Tua memundurkan tubuhnya beberapa langkah kebelakang, kemudian dia menatap kearah Lemon dengan tatapan tajam.
Tanpa memberi banyak waktu, Lemon langsung bergerak cepat kearah Tao Tua, dia langsung mengarahkan Pedang Emasnya kearah Tao Tua.
Tao Tua sedikit mengernyit ketika dia melihat Pedang Emas bergerak kearahnya, dengan disertai dengungan yang sangat memilukan.
"Sleess" Tangan Tao Tua langsung ditebas, yang mengakibatkan lengan kananya jatuh ketanah dengan suara gedebuk.
Da, rah langsung mengalir dari lengan Tao Tua membasahi seluruh bajunya, dia bagaikan Mandi Anggur Merah.
Tao Tua mengerang kesakitan, dia mengutuk dengan keras Lemon, namun tidak menunggu lama pedang emas langsung memisahkan kepala Tao Tua dari Tubuhnya, kepala Tao Tua jatuh ketanah dengan mata dan mulut yang masih terbuka, dia ingin mengatakan sesuatu namun dia sudah berada di alam lain.
Kabut Putih bercampur hitam, menyelimuti tubuh Tao Tua yang sudah tergeletak ditanah tanpa ada lagi gerakan perlawanan, kabut putih hitam langsung membentuk pusaran Tornado dan langsung menghisap Tao Tua.
Lemon mengangkat tangannya, dan dalam sekejab kabut putih hitam langsung kembali kedalam jari-jarinya Lemon.
Lemon menghela nafas panjang, ketika dia melihat Jejak Darah Tao Tua yang masih tercecer ditanah.
"Orang Tua yang malang! Dia sangat mengandalkan kehebatannya, sungguh sangat memilukan" Batin Lemon dalam hatinya, sambil menggelengkan kepalanya pelan, dia merasa iba kepada Tao Tua yang sangat keras kepala dan tidak mempercayai kata-katanya.
Lemon dengan santai tanpa memperhatikan sekitarnya, dia berjalan kembali masuk kedalam vilanya.
__ADS_1
Dikejauhan 2 pasang mata menyaksikan aksi yang sangat menegangkan, pertarungan antara kedua kesatria, yang pada akhirnya ada salah satu yang menjadi korban diantara mereka.
Widya Sirait dengan tangan gemetar, dia menatap tanpa kata kearah Lemon yang terus berjalan masuk kedal Villa.
"Tuaan... A,, A, apa-apakah itu? Tuan CEO kita? Tuan Lemon?" Tanya Widya dengan termangap-mangap kepada Hasrat Naibaho.
Hasrat Naibaho melirik Widya dengan santai, dia tiba-tiba terkejut dengan suara Widya yang berkata kepadanya, dia baru sadar kalau Widya sedang bersamanya, dan seharusnya dia tidak boleh melihat Adegan barusan.
"Eemm... Kamu jangan ceritakan tentang apa yang baru kamu lihat! Anggap saja kamu tidak pernah melihatnya" titah Hasrat kepada Widya dengan penuh penekanan.
"Ba.. Baik Tuan.. Saya janji! Saya akan selalu mengingatnya" Sambut Widya Sirait dengan membungkuk hormat.
Hasrat Naibaho menganggukan kepalanya, kemudian dia berjalan menuju kedalam Vilanya Lemon.
Widya Sirait yang masih gemetaran ketakutan, dengan kaki yang gemetaran dia berjalan mengekori Hasrat Naibaho.
Lemon yang berada didalam rumah, dia sedang membaringkan tubuh kurusnya keatas Sofa, sambil dia memejamkan sedikit matanya, karena pertarungannya barusan membuat dia kehabisan Energi Qi Esensial Murni.
"Tok tok tok" suara Pintu diketok, Hasrat Naibaho sengaja mengetuk pintu, karena dia tidak ingin Lemon merasa risih ketika dia menekan bel.
"Krek" suara gagang pintu terdengar, ketika Lemon membuka pintu.
"Ohh.. Kalian" ucap Lemon singkat sambil dia memutar badannya, dia berjalan kembali keSofa.
"Maaf Tuan! Kami menganggu istirahat anda" Jawab Hasrat setelah mereka masuk dan duduk disofa.
"Eemm... Ada apa? Kenapa kalian datang bersamaan?" Tanya Lemon dengan sedikit penasaran, sambil dia menjatuhkan pandangannya kepada Hasrat.
"Maaf Tuan! Saya sudah berulang menelpon anda, namun tidak bisa tersambung" Ujar Hasrat singkat.
"Eemm.. Ada masalah? Atau bagaiman?" Tanya Lemon lagi kepada Hasrat, kemudian dia menjatuhkan pandangannya kepada Widya.
Lemon mengernyit ketika dia melihat Widya, menundukan kepalanya dan dengan mimik wajahnya sedikit pucat karena ketakutan, dia memperhatikan wajah gadis itu, yang membuat Widya semakin salah tingkah, dia menggigit sedikit bibir bawahnya.
__ADS_1
Namun tidak berselang lama, Lemon langsung menarik pandangannya dia kembali melihat lurus kedepan, dengan wajah datarnya dia berpikir sejenak.
"Maaf Tuan! Kami datang kemari dengan membawa pengajuan Proposal kerjasama dari Keluarga Song" Hasrat berkata dengan hormat.
"Ya Sudah! Kamu proses dan setujui saja" jawab Lemon singkat dengan tatapannya masih menatap lurus kedepan.
"Apakah Tuan tidak.. Membaca isi pengajuan proposal mereka?" Tanya Hasrat dengan santai.
"Sudahlah! Kamu saja yang membahas soal itu, karena aku banyak pikiran untuk saat ini" Ujar Lemon dengan tenang.
"Tuu.. Tuan! Apakah Tuan tidak datang kekantor besok? Karena saya terus-terusan ditanyai oleh Nona Dewi, dia ingin sekali bertemu dengan anda" Ucap Widya menyela percakapan antara Lemon dan Hasrat.
Lemon langsung menatap Widya, sambil berkata: "Kamu bilang saja, kalau saya sedang berada diluar kota, jadi belum ada kesempatan untuk bertemu denganya, dan sampaikan saja salamku untuk mereka" Sambut Lemon dengan terpancar senyumam sumringah diwajah tampannya itu.
"Deg, deg" suara Jantung Widya langsung bergetar hebat seketika, ketika dia memandangi wajah Lemon yang sedang menatapnya dengan senyuman.
"Baik Tuan" jawab Widya singkat yang langsung dia menundukan kepalanya, dia takut akan jatuh pingsan ketika terus menatap wajah tampan bosnya itu.
"Dimana Dokumennya?" Tanya Lemon yang memecahkan keheningan, apalagi menyadarkan khayalan Widya dari lamunan terindahnya itu.
Hasrat Naibaho langsung meyerahkan Dokumen perjanjian kerjasama dihadapan Lemon, sehingga dalam sekejab Lemon langsung menandatangi surat kontrak kerjasama tersebut.
Setelah urusan mereka selesai, Hasrat dan Widya langsung berpamitan kepada Lemon.
Namun sebelum Hasrat pergi, Lemon berkata: "Saya akan pergi lagi kesuatu tempat, aku berharap kamu bisa menghendel seluruh perkembangan perusahaan ini".
"Baik Tuan! Saya akan berusaha semaksimal mungkin, saya bersama Widya dan saudara-saudara yang lain pasti melakukan yang terbaik" Jawab Hasrat dengan penuh hormat.
"Eemm.. Bagu!" Jawab Lemon singkat, sambil dia mengibaskan tangannya untuk mempersilahkan mereka berdua untuk pergi.
Widya dan Hasrat langsung meninggalkan Vila Ginting, setelah mereka mendapatkan rekomendasi pekerjaan dari Lemon.
Waktu terus berputar, hingga malam telah menguasai Bumi, Lemon memilih untuk berkultivasi dipinggir Danau Nias yang berada tepat dibelakang Vilanya
__ADS_1
Lemon terus berkultivasi hingga sampai esok pagi.