PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 113. Pak Rahmat & Stempel


__ADS_3

Mendengar perkataan pak Rahmat, Lemon hanya bisa tersenyum sumringah, kemudian dia menyerahkan Kartu Tanda Mahasiswanya untuk ditandatangani dan di Stempel oleh Pak Rahmat, selaku wakil direktur universitas.


Selesai mendapatkan tandatangan dan stempel oak Rahmat, Lemon langsung bergegas keluar dan pergi dari ruangan Pak Rahmat.


Lemon pergi kekantin kampus, dimana disana dia telah ditungguin oleh Dewi dan beberapa teman-temannya yang lain.


Sebelum Lemon sampai dikantin kampus, dikoridor dia bertemu dengan Vina yang sedang menelpon dengan seseorang. Ketika Vina melihat Lemon dia bergegas menghampiri Lemon, yang membuat Lemon melambatkan sedikit langkahnya.


"Haaii.. Miskin! Kenapa kamu baru menampakan wajahmu disini? Apakah kamu bosan mengemis diluar sana? Hah" Vina berkata sambil menatap tajam kearah Lemon, yang membuat Lemon sedikit mengerutkan keningnya.


Lemon hanya menatap Vina dengan tatapan memelas, kemudian dia berkata ketus: "Apakah samaku kamu berbicara?" Lemon berkata sambil dia menghujuk dirinya sendiri.


Mendengar Lemon berkata menyepelekannya, tiba-tiba wajah Vina menjadi murka dan dia berkata dengan marah "Dasar Kentut! Kamu berani mempermainkanku, apakah kamu sudah merasa hebat sekarang?".


"Heemm.. Saya rasa aku gak ada urusan sama kamu, jadi biarkan aku pergi" Lemon berkata singkat.


Selesai berkata Lemon langsung melangkahkan kakinya untuk pergi, karena dia berpikir kalau terus meladeni gadis itu, dia akan semakin hilang kendali atas dirinya sendiri.


Namun sebelum Lemon melangkah pergi, tiba-tiba Vina berkata "Apakah kamu yang menghancurkan keluarga David Laiya, dan yang menjebloskan Kepala Keluarga Laiya dipenjara?".

__ADS_1


Mendengar peryataan dari pihak lain, tiba-tiba Lemon terkejut dan merasa penasarann, "Kenapa dia bisa tahu tentang kejadian itu?" Lemon berkata dalam hati.


"Apa maksudmu? Saya tidak tahu soal hal-hal seperti itu, saya hanyalah seorang mahasiswa, mana ada sangkut pautnya dengan saya" kata Lemon dengan wajah menyelidik.


"Sudahlah! Kamu tidak perlu mengelak lagi, karena kami sudah mencaritahu tentang semuanya, dan kamu memang yang telah menghancurkan keluarga Laiya, jadi tunggu saja pembalasan Marko sama kamu" kata Vina tegas.


Lemon hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya, dia berkata mencibir "Heemm.. Seratus orang seperti Marko itu! saya tidak akan pernah gentar".


Dengan tatapan yang sangat tajam, Lemon pergi meninggalkan Vina, sedangkan Vina Hanya terdiam membatu, ketika dia melihat tatapan tajam Lemon.


Vina langsung melakukan panggilan telepon, setelah dia tidak lagi melihat Lemon.


"Wi.. Kenapa Lemon lama sekali dari ruangan Pak Rahmat" Bryan bertanya kepada Dewi, karena sebelum Lemon pergi keruangan Pak Rahmat, dia sudah memberitahukan kepada Dewi, sewaktu mereka keluar dari dalam kelas. Sehingga Dewi memberitahukan kepada mereka, supaya sabar menunggu Lemon.


Tidak berselang lama, Lemonpun muncul dan duduk disamping Dewi, karena Bryan Calvin dan Lea, sudah mengatur Kursi yang kosong tepat berada disamping Dewi, sedangkan Dewi yang melihat perbuatan teman-temannya itu hanya bisa tersenyum, karena dilain sisi dia juga senang berada disamping pujaan hatinya.


"Wooii.. Hai Masbro!" Teriak Lemon ketika dia melihat Bryan Calvin. "Eehh... Bangbro! Apa kabarnya? Sudah lama ya kita gak basuo!" Jawab Bryan Calvin sambil menyalami Lemon dengan salam Metal.


Lemon melihat Dewi ketika duduk dikursi yang kosong, sambil berkata "Aku duduk disini? Apa gak ada nanti yang marah?"Ujar Lemon menyindir Dewi, yang membuat Dewi melotot melihat Lemon.

__ADS_1


"Apa Maksudmu? Ada yang marah" Dewi berpura-pura melihat sekeliling, lalu dia kembali berkata "Ohh.. Kamu takut duduk disini kan? Kamu takut pacar kamu marah! Lebih baik aku duduk disana, biar pacarmu gak marah" sambil Dewi berdiri.


Lemon langsung menggegam tangan mulus Dewi, kemudian dia berkata "Hehehe... Tuan Putri.. Maaf! Aku hanya bercanda" sambil memberikan tangannya didada untuk memohon.


Mendengar permintaan maaf Lemon, Dewi langsung duduk dan tersenyum bahagia, sementara teman-teman mereka yang lain tertawa cekikikan, karena Lemon terlihat sangat lucu ketika dia minta maaf tadi.


"Apa yang kalian tertawakan?"Lemon berteriak kepada teman-temannya. "Habisnya kamu lucu, sewaktu kamu meminta maaf tadi" Dennis angkat bicara sambil tertawa terbahak-bahak.


Dewi hanya tertawa kecil, ketika dia melirik Lemon yang sedang merasa malu, namun hal itu langsung ditepis Dewi, ketika Dewi langsung memegang lengan Lemon.


"Lemon kan, memang lucu! Iya kan sayang?" Kata Dewi yang terlihat menyenangkan hati Lemon, yang membuat darah Lemon berdesir seketika, ketika dia mendengar Dewi memanggilnya sayang.


Lemon memang hebat dalam segi pengobatan dan seni bela diri, bahkan dia hebat dalam mengembangkan perusahaan Kuil Naga, namun dalam hal percintaan dia sangat kaku dalam hal itu, bisa dikatakan dia memang tidak bisa menyenangkan hati wanita, apalagi jika dalam hal keromantisan.


Selama ini Lemon tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang pacar, Vina adalah cinta pertama Lemon, namun cinta Vina kepada Lemon hanya sebatas taruhan, sehingga Lemon tidak pernah dipanggil dengan kata-kata romantis.


Lemon menatap Dewi dengan senyuman kasih sayang, kasih sayang yang tidak bisa diukir dalam hal apapun.


"Makasih ya? Kamu sudah membuatku bahagia" kata Lemon yang penuh dengan kasih sayang, sambil dia menggenggam tangan Dewi, yang berada dibawah meja.

__ADS_1


Dewi hanya menganggukan kepalanya, sambil dia tersenyum menatap Lemon, dengan senyuman dan perasaan yang tidak bisa ditebak.


__ADS_2