
Lemon mengantarkan mereka semua satu persatu, kerumah mereka masing-masing dan hanya tersisa Dennis yang diantar keasramanya.
Setelah Denis diantarkan diAsrama, tinggal Dewi dan Lemon yang terdiam sangat dingin tanpa berkata apa-apa.
"Eemm.. Saya antar kamu pulang" Dewi berkata memecah kesunyian.
"Itu masalah gampang" Lemon memberhentikan Mobil di Jembatan Ampera yang mereka Lewati.
Kemudian Lemon menatap Dewi, sambil dia menyandarkan satu tangannya dikemudi, lalu dia berkata: "Saya sudah tahu semua kata-katamu, sewaktu Anggota Polisi itu menembaki saya, Apakah benar semua apa yang kamu bilang itu? Kamu takut kehilanganku, karena kamu mencintaiku?" Lemon menatap Dewi dengan sambil tersenyum sumringah.
Dewi wajahnya memerah merona, dia merasa sangat malu, kemudian dia menatap Lemon dengan perlahan, lalu dia menganggukan kepalanya.
"Heemm.. Tapi! Apakah kamu tahu kan, saya dan kamu ibarat langit dan bumi, saya ini berasal dari keluarga Miskin dari Desa, sedangkan kamu adalag anak keluarga kaya nomor satu dikota gowe" Lemon berkata menghela nafas.
"Saya tidak perduli soal status sosial, yang penting saya mencintaimu dengan Tulu, dan saya berharap kamu juga sebaliknya, mencintaiku dengan tulus" Dengan nada tulus Dewi berbicara.
Melihat ketulusan dimata Dewi, Lemon langsung merangkulnya kemudian dia menyandarkan kepalanya dibahu Lemon.
"Aku Mencintaimu" Lemon berbisik ditelinga Dewi, yang membuat Dewi semakin mengencangkan Pelukannya.
Setelah mereka saling mengutarakan isi hati mereka, Lemon mengeluarkan Giok Biru, yang diberikan Naga Emas padanya, waktu dia berkultivasi dipuncak gomo.
"Ini untuk kamu, sebagai tanda cintaku padamu, mulai sekarang kamu adalah pacarku, saya tidak sempat untuk membuatnya menjadi kalung" Lemon menyerahkan Giok biru itu dengan penuh kasih sayang.
"Makasih ya sayang, Aku janji akan menyimpannya selalu, dan aku akan membuatnya menjadi kalung" Dewi menatap Lemon dengan penuh kasih sayang, sambil dia menyimpan Giok birunya, kemudian sebuah ciuman kasih sayang dia berikan dibibir Lemon.
Lemon membalasnya dengan kasih sayang, kemudian mereka berpelukan selama beberapa menit, sampai tiba-tiba HP Dewi berdering.
Dewi melihat Hpnya kemudian dia berkata "Ibu menelpon saya, calon mertua kamu" ketus Dewi tersenyum, sambil dia mengarahkan HPnya kepada Lemon.
"Ya sudah, angkatlah" Lemon menyuruh Dewi untuk mengangkatnya.
"Halo bu" Jawab Dewi dengan santai.
__ADS_1
"Kamu dimana? Ini sudah malam, kamu bersama siapa?" Serbu Lili dengan beberapa pertanyaan.
"ibu kalau bertanya? Satu satu dong bund? Saya lagi bersama Tuan Lemon calon mantu ibu" Dewi berkata bercanda kepada ibunya dengan tertawa sedikit, sambil dia melirik Lemon.
Wajah Lemon langsung berubah merah, ketika dia mendengar omong kosong, wanita tercantik yang berada disampingnya, dia tersenyum merasa malu kepada ibunya Dewi.
"Kamu jangan membuat banyak omong kosong, nanti tuan Lemon marah lo" Tegur Lili asal-asalan terdengar dari ujung telepon.
"Ibu jangan mengganggu! Saya dan Lemon sedang bersantai di Jembatan Ampera, sebentar lagi saya pulang" Dewi berkata sambil tersenyum, dengan jarinya melilit-lilitkan rambutnya.
"Ya Sudah! Kalian hati-hati ya" Lili langsung memutuskan sambungan telepon setelah mereka selesai berkata.
Lili tersenyum sumringah sambil menatap langit-langit malam, kemudian dia membayangkan anaknya mendapatkan seorang pemuda yang memiliki bakat luar biasa.
"Ibu kenapa tersenyum-senyum sendiri?" Tanya Restu Chandra yang sedang berdiri disamping Lili.
"Eehh.. Ayah! Oh tidak! Saya hanya merasa bahagia saja, karena sekarang Dewi dan Lemon sedang bersama" jawaban lili dengan tersenyum sambil memutar tubuhnya menghadap Restu.
"Heemm... Ibu ini ada-ada saja, kalau saya sih? Terserah mereka saja, dan kita serahkan kepada Tuhan, karena manusia merancang Tuhanlah yang menentukan, kalau mereka ditakdirkan menjadi pasangan, ya Ayah setuju-setuju saja" balas Restu tersenyum sambil menyeduh Teh yang ada ditangannya.
Lili dan Restu hanya terdiam, sambil memandang bintang-bintang dilangit malam yang gelap.
Kembali diJembatan Ampera, Lemon memutuskan untuk mengantarkan Lemon, walaupun Dewi meminta untuk mengantarkan Lemon, namun Lemon tidak setuju, dia lebih memilih untuk mengantarkan Dewi dirumahnya.
Lemon langsung menancap pedal gas mobil, mereka langsung menghilang dikejauhan malam sunyi.
Dikediaman David Laiya, Marko sedang menatap Foto Ayahnya, dengan matanya sedikit mengeluarkan tetesan Air yang bening.
Kemudian dia menatap tetua keluarga yang berada disampingnya, "Paman! Siapa yang sudah melakukan ini semua? Kenapa keluarga saya memgalami penurunan seperti ini?" Marko bertanya dengan ekspresi dingin.
Marko baru pulang dari kempingnya, dengan beberapa teman-temannya dan bersama Vina dari gunung salak, diGunung Salak tidak bisa mengakses Jaringan internet, sehingga semua berita tentang keluarganya dia tidak tau sama sekali.
"Maaf Tuan Muda, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kekuatan pihak lain sangat besar, sehingga patriak bisa diseret dikantor polisi" Jawab Tetua keluarga Laiya yang sedang berdiri tegak disamping.
__ADS_1
Dengan menggertakan giginya tetua keluarga Laiya melanjutkan: "Yang melakukan ini semua adalah Hasrat Naibaho dan bersama pimpinannya Lemon".
Mendengar nama Lemon, tiba-tiba mata Marko terkejut, kemudian dia berbalik melihat Tetua keluarga sambil berkata "Siapa Lemon itu? Kenapa saya baru mendengar namanya?".
''Lemon itu adalah Pemimpin Yayasan Kuil Naga, mereka sekarang yang menguasai pasar dunia gelap, karena Lemon itu merupakan diatas Master seni bela diri" Kata tetua keluarga itu dengan wajah datar.
Marko mengernyitkan keningnya, kemudian dia berkata:
"Sepertinya nama Lemon itu pernah saya dengar, tapi tidak mungkin" sambil dia melihat langit-langit plafon rumahnya.
"Apakah Tuan Muda mengenalnya?” tanya tetua keluarga itu singkat.
Marko menggelengkan kepala, dia melangkah sambil berpikir kemudian berkata: "Paman! Saya punya teman kuliah dikampus, namanya Lemon, tapi! Tapi tidak mungkin dia yang paman ceritakan, karena saya tahu dia adalah seorang laki-laki pengecut, dan dia tidak tahu tentang Seni bela diri".
"Mungkin Namanya saja yang sama Tuan Muda, karena berdasarkan cerita itu, dia sama sekali tidak memiliki kualifikasi" Ucap Tetua itu singkat.
"Eemm.. Baik! Biar saya cari tahu melalui Ayah, besok pagi saya akan menemui Ayah dipenjara" Ucap Marko tegas.
Kembali dikediaman Restu Chandra, Lemon memberhentikan Mobilnya, kemudian dia turun dan langsung membukakan Pintu untuk Dewi.
"Dewi, saya langsung pulang saja ya, takut ketahuan sama orang tua kamu" kata Lemon pelan, sambil dia melirik kearah Pintu kediaman Chandra.
Tanpa mereka sadari 2 pasang mata, sedang mengintip mereka dari balik horden jendela, tanpa ada kata-kata.
"Kamu naik apa?" Tanya Dewi. "Saya carikan taksi diujung sana" Lemon sambil memoncongkan bibirnya kearah jalan umum.
"Kamu mampir dululah lihat kondisi Ayah dan Ibuku, kan kamu sudah berada disini" Ajak Dewi.
"Lain kali sajalah, ini sudah malam" pungkas Lemon singkat.
"Ya sudah kalau begitu, kamu bawa saja mobilku, besok kamu jemput saya disini, kita bareng dikampus" Dewi berkata sambil tersenyum, karena ini merupakan kesempatannya untuk meminta Lemon terus bersamanya.
"Baiklah" Lemon menjawab tanpa banyak komentar.
__ADS_1