
Seluruh Tanah menjadi berlubang karena dampak semburan Api dari Naga Emas dan Kelabang Raksasa.
Rumput dan Pohon disekitar tempat pertarungan menjadi gundul dan hangus, tidak ada yang lemas dari antara kedua Makhluk itu.
Kelabang raksasa mengangkat tubuhnya keatas, dia mengibaskan ekornya menghantam dada Naga Emas, Naga Emas tidak sempat mengelak karena sedang menghindar semburan Api dari Mulutnya Kelabang raksasa.
"Boom" suara hantaman Ekor Kelabang Raksasa didada Naga Emas, yang membuat Naga Emas terdorong kebelakang berkisar 5 meter.
Naga Emas meraung dengan keras, dia mengerak-gerakan tubuhnya, terlihat Aura besar keluar dari dalam tubuhnya, yang membuat otot-ototnya mengeras bagaikan baja.
Naga Emas langsung terbang melesat kearah kelabang raksasa, kelabang raksasa menatap naga emas sambil menggertakan cangkangnya.
Naga Emas menyemburkan Api dari mulutnya, ketika dia sampai diatas kepala kelabang raksasa, yang membuat kelabang langsung mengelak dan berlari dari tempatnya semula.
Semburan Api dari Naga emas meluluhlantahkan tempat itu dalam sekejab, yang membuat hutan menjadi terbakar dengan kobaran Api yang sangat besar.
Lemon dan beberapa orang lainnya, mereka menghindari dampak kobaran api yang sangat besar, namun beda halnya dengan Naga Emas dia langsung turun dan mengejar kelabang raksasa.
Kelabang raksasa memutar tubuhnya, ketika dia melihat pihak lain mengejarnya dengan semburan api yang sangat besar.
Kelabang raksasa tidak tinggal diam dengan serangan Naga Emas kepadanya, dia langsung menerjang kearah Naga Emas dengan raungan yang mengerikan dan mengeluarkan semburan api Qi Murninya.
Kelabang raksasa dengan sekuat tenaga membuat serangan yang mematikan, dia berharap Naga Emas langsung Keok dalam satu serangan.
Namun seberapa kuat Kelabang memberikan serangan yang sangat fatal, tetap saja Naga Emas tidak mendapatkan pengaruh yang cukup fatal, Naga Emas malah dengan leluasa bergerak kearah kelabang raksasa.
Naga Emas memang tidak merasakan dampak dari semburan api kelabang, karena dia sudah mengeluarkan kekuatan Qi Esensialnya yang berada pada tahap penempaan bumi lapisan ketiga, sehingga kulitnya dapat setara dengan ketebalan baja yang 3 lapis.
__ADS_1
Naga Emas meraung didalam kobaran api, dia terlihat bagaikan Dewa kematian, sehingga dia langsung menerkam leher kelabang raksasa, yang membuat Monster kelabang itu tidak bisa bergerak dan melawan.
Semburan Api terlihat dari dalam Mulut Naga Emas, yang membuat leher kelabang raksasa dalam sekejab menjadi sate panggang.
Kelabang Raksasa meraung dengan kesakitan, namun raungan itu semakin lama semakin melemah dan akhirnya tidak ada lagi suara dari kelabang raksasa.
Naga Emas melepas gigitannya, sehingga terlihat dengan transparan ketika kelabang jatuh dari atas langit, kemudian menghantam tanah dengan suara gedebuk.
Kelabang Raksasa akhirnya Dead, didalam serangan Naga Emas.
Setelah Naga Emas telah menyelesaikan tugasnya, perlahan-lagan dia berubah menjadi Kabut Putih samar dan dalam sekejab dia kembali kedalam jari-jarinya Lemon.
Setelah semuanya dirasa beres, Lemon menghela nafasnya kasar, dia kemudian membalikan badannya melihat Kondisi Tianus Lase yang sudah sangat pucat.
Kemudian Lemon duduk berjongkok memeriksa denyut nadinya, Namun Lemon hanya bisa mengerutkan keningnya ketika dia merasakan denyut Nadi Tianus Lase sudah tidak bergerak lagi.
Tianus Lase berkata: "Tidak ada gunanya memeriksaku lagi Tuan, karena rasanya seluruh tubuhku kedinginan, saya hanya memberitahukan kepada Tuan Lemon, bahwa kita sudah sampai dipedalam Hutan Pulau Tello, Tuan Lemon hanya tinggal berjalan beberapa meter lagi kedalam hutan itu" Sambil dia menunjukkan kearah Hutan.
Lemon tidak menghiraukan perkataan Tianus Lase "Kamu jangan banyak bicara, biarkan saya mencoba untuk mengobatimu".
Lemon langsung mengarahkan Qi Esensialnya kedalam Tubuh Tianus Lase, Namun seberapa kuat dia melakukannya, tetap saja dia tidak bisa menahan rasa sakit dan kedinginan ditubuh Tianus Lase.
Tianus Lase menggelengkan kepalanya "Tuan Lemon jangan memaksakan, lebih baik Tuan menyimpan tenaga, karena besok tidak dipastikan apa yang akan dihadapi, lebih baik kalian tinggalkan aku sendiri saja" Tianus Lase berkata dengan nada lemas dan serak.
"Baiklah kalau begitu! Terimakasih atas informasi yang sudah kau berikan, mungkin dikehidupan yang lain saya akan membalaskan kebaikanmu" Jawab Lemon dengan nada lemah, dia hanya bisa menggertakan giginya dan mengepalkan tinjunya, karena dia tidak bisa menyelamatkan orang-orang yang berada disampingnya.
Tianus Lase tersenyum bahagia "Saya sangat bangga bisa mati berjuang dengan seorang Pahlawan Ksatria seperti Tuan Lemon.. Uuhuuk..Uhuukk" Tianus Lase batuk-batuk dengan darah menyembur keluar, ketika dia berkata kepada Lemon.
__ADS_1
Setelah batuk-batuk, Tianus Lase dengan mata masih terbuka, dia sudah tidak bernafas lagi.
Lemon hanya bisa menggertakan giginya, ketika dia melihat Tianus Lase sudah meninggal dengan wajah yang masih tersenyum bahagia.
Lemon mengusap Mata Tianus yang masih dalam keadaan terbuka, kemudian dia membantu Maret Silalahi untuk mengangkatnya, dan membersihakn Mayat Tianus Lase dari Noda darah yang sudah melumuri tubuhnya.
Mereka berdua mengubur jasad Tianus Lase, dibawah Patung Besar yang menyerupai Manusia "Semoga kamu tenang dialam sana saudaraku, dan kamu cepat bereinkarnasi didalam kehidupan berikutnya" Ujar Lemon sambil menabur bunga diatas kuburannya Tianus Lase.
Ketika mereka menguburkan Tianus Lase, malam sudah sangat larut, sehingga mereka memilih untuk membuat Api unggun dan tidur disamping batu besar, yang berada tepat disamping gerbang kuno.
Keesokan harinya...
"Dring..dring..dring" suara getaran HP terdengar, kemudian dia menjawab.
"Bagaimana dengan penyelidikanmu terkait keluarga Laiya yang sudah hancur dalam semalam, ini sudah berapa lama?" Terdengar suara dari ujung telepon.
"Maaf Pak Menteri, kami sudah melakukan yang terbaik, semampu kami! Namun jejak pelakunya sangat Misterius, tidak ada meninggalkan bukti apa-apa ditempat kejadian, lagian semua CCTV dikawasan itu sudah rusak parah" Jawab Ardin Kenzo.
Ardin Kenzo menjawab telepon dari Menteri BUMN, karena Menteri BUMN sudah mengingatkannya beberapa hari yang lalu, supaya mengusut dengan cepat masalah yang menimpa keluarga Laiya.
"Lalu bagaimana tanggungjawabmu sebagai Inspektur disana? Hah! Apakah kasus ini ditutup dengan sendirinya? Tanpa diketahui siapa dalang dari pelakunya?" Menteri BUMN berkata dengan marah-marah kepada Ardin Kenzo.
"Baik Tuan! Kami akan melakukan lagi yang terbaik" jawab Ardin Singkat, yang membuat Menteri tidak menjawabnya dan langsung menutup teleponnya.
"Siaal!! Kenapa kasus ini terlihat sangat misterius sekali, tidak ada satupun Korban yang masih tersisa dan selamat? Huh!" Gerutu Ardin Kenzo dalam hatinya.
"Siang Pak! Maaf Pak, saya terlambat" Eben Haezer hormat kepada Ardin Kenzo karena Eben Sudah terlambat masuk kantor.
__ADS_1
"Darimana saja kau ini? Hah! Bagaimana dengan penyelidikanmu? Apakah sudah ada tanda-tanda informasi" Bentak Ardin ketika melihat Eben Haezer.
"Maaf Komandan, saya tadi sarapan sebentar karena perut saya sangat keroncongan, semalam saya lembur" Ujar Eben dengan nada memohon.