
Bab 137.
Tiba-tiba salakan petir terdengar diatas langit, dan hujanpun turun membasahi bumi, yang membuat Yerfan Laiya melangkah mencari Gua terdekat untuk berteduh.
Setelah dia mendapatkan Gua, dia langsung masuk kedalam dan berteduh sembari mengisi kekuatannya yang sudah hilang.
Yerfan Laiya melihat setiap sudut-sudut Gua tersebut, kemudian dia teringat dengan Gurunya yang berada di Gua Fatolasa diPulau Tello.
"Saya harus kesana! Saya harus menemui guruku, supaya kultivasiku cepat Naik dan saya bisa membalaskan dendamku kepada Anak Sialan itu" Gerutu Yerfan sambil mengepalkan tinjunya dan Aura membunuh terpancar dari dalam dirinya.
Dipuncak gunung Vila Ginting, Lemon membawa Masuk Dewi yang sudah tidak sadarkan diri, dia langsung menyuntikan Qi Esensial Murninya kedalam tubuh Dewi.
Setelah menunggu beberapa Jam, Dewi masih belum menunjukkan tanda-tanda perubahan, dia masih saja tertidur pulas diatas ranjang dia hanya bisa bernafas.
Lemon mengerutkan keningnya, ketika dia memperhatikan kondisi Dewi yang tidak menunjukan perubahan sama sekali "Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Kata Lemon dalam hati.
Dalam pikirannya yang terus berpacu, tiba-tiba Lemon mengingat perkataan Yerfan Laiya kepadanya sewaktu dikediaman Laiya: "Jangan harap semudah itu kau bisa menyelamatkan kekasihmu, karena dia sudah diikat oleh Mantra sihirku...hahahaha".
"Apa yang harus kulakukan, tidak mungkin kondisinya terus seperti ini" Kata Lemon dalam hati sembari di menatap Dewi yang masih terbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur.
Lemon meraih gelangnya kemudian dia merapalkan mantra, dan dalam seketika dia sudah sampai digubuk ditepi sungai susua.
Lemon mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Elisama, namun dia tidak menemukan keberadaan orang tua itu.
"Uhuk Uhuk Uhuk" Terdengar suara seseorang yang sedang terbatuk-batuk dari samping gubuk, kemudian Lemon menghampirinya ketika dia mendengar suara tersebut.
"Ternyata Kakek berada disini!" Kata Lemon sambil tersenyum, ketika dia melihat Elisama yang sedang berjalan dengan tangan diletakan dibelakang.
__ADS_1
"Eemm... Kenapa kamu mencariku? Apakah kamu sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke Gunung itu?" Tanya Elisama dengan basa-basi.
Mendengar semburan dari Elisama, Lemon hanya bisa diam tak berkata-kata, karena tujuannya untuk menemui orang tua itu saat ini, bukanlah membahas tentang kepergian di Gunung Silewe, melainkan dia ingin bertanya tentang kondisi sang kekasih.
"Mohon Maaf Kek! Saya menemuimu karena ada sesuatu yang sangat penting yang ingin saya tanyakan" Kata Lemon dengan memberanikan diri, sambil dia menggertakan giginya untuk mendapatkan keberanian.
Elisama meliriknya sejenak, lalu dia kembali menatap kearah sungai yang sedang jernih.
"Baiklah!! Kamu tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan" Kata Elisama tegas terlihat dari tatapan matanya.
"Eemm.. Begini Kek! Teman saya diculik oleh kepala keluarga Laiya, Yerfan Laiya! Namun sampai saat ini teman saya tidak sadarkan diri, saya menjadi bingung dengan kondisinya sekarang ini, saya sudah berusaha untuk membuat dia sadarkan diri, namun tetap saja saya tidak bisa" Kata Lemon panjang lebar menjelaskan kepada Elisama.
Elisama sedikit mengernyit ketika dia mendengar nama Yerfan Laiya kepala keluarga Laiya, namun dalam sekejab dia tersenyum sinis dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Ternyata dia sudah mulai berani menunjukkan mukanya didunia persilatan, setelah beberapa dekade dia bersembunyi" Kata Elisama pelan.
"Ternyata Kakek mengenalnya" Kata Lemon dengan wajah penasaran, dia sangat terkejut dengan penuturan Elisama.
"Heem.. Temanmu telah disegel dengan Mantra Sihir, karena darahnya mungkin baik untuk peningkatan kultivasi, sehingga Yerfan Laiya mengunci kesadaran ilahinya" Kata Elisama lebih lanjut.
"Lalu bagaimana cara untuk membuka segel sihir itu Kek??" Tanya Lemon penasaran. "Hanya satu caranya!" Sambil menghela nafas panjang Elisama melihat langit biru. Lemon mengerutkan keningnya, dia menunggu kalimat lanjutan dari mulut Elisama.
"Kamu harus mencari Ginseng yang berumur seribu tahun, kamu rebus dan air itu diberikan padanya untuk diminum, dan secara permanen Segel Sihir itu langsung menghilang" kata Elisama menjelaskan panjang lebar.
Lemon hanya bisa menghela nafas panjang, ketika dia mendengar penjelasan dari Elisama, karena walau dia memiliki kekuatan dan kehebatan dalam dunia pengobatan, tetap saja dia sangat kesulitan jika berbicara tentang Ginseng seribu tahun.
Lemon memberanikan diri bertanya kepada Elisama "Kek!! Dimana saya harus mencari ginseng seribu tahun?" Karena mencari Ginseng seribu tahun pada Zaman modern sekarang ini, bagaikan mencari jarum didalam tumpukkan jerami.
__ADS_1
Elisama sejenak memejamkan matanya, ketika Lemon bertanya, kemudian dalam sekejab dia membuka matanya kembali, lalu dia berkata "Saya mendengar bulan ini, akan ada tumbuh dihutan pedalaman pulau Tello, kabupaten Nias Selatan".
"Apakah tempat itu berbahay Kek??" Tanya Lemon dengan penasaran.
"Eemm.. Tempat itu dipenuhi dengan Binatang Suci Legendaris, seperti beast Monyet monster dan Beberapa binatang zaman dahulu yang masih bersembunyi dipedalam hutan" Ujar Elisama menjelaskan secara detail kepada Lemon.
"Seminggu lagi akan tumbuh Ginseng itu, maka dalam jangka 2 hari lagi, kamu harus sudah berangkat" lanjut Elisama memberitahukan.
"Baik Kek! Saya akan berusaha semampuku untuk mendapatkan Ginseng tersebut" Kata Lemon meyakinkan Elisama, yang membuat Elisama tersenyum dingin ketika menatap Lemon.
"Ingat!! Kamu harus bersiap-siap untuk bulan dua belas bulan purnama, kamu harus pergi kegunung Silewe, untuk mengambil Air Mata Naga" Elisama berkata memperingati Lemon, supaya dia tidak lupa dengan tujuan utamanya.
"Baik Kek, saya akan tetap mengingatnya" sahut Lemon menatap Elisama.
Selesai berkata Elisama mengibaskan tangannya, dan dalam sekejab dia langsung melompat dan menghilang dari tempat itu.
Lemon hanya bisa menghela nafas panjang, ketika dia menatap keatas langit yang menghilangkan Elisama, kemudian dia berjalan kearah batu besar disamping sungai yang menjadi tempat dia sering duduk bersama Elisama.
Lemon menatap kearah Sungai sambil sesekali melemparkan batu kerikil kedalam aliran sungai, dia membayangkan jika dirinya tidak mendapatkan Ginseng Seribu tahun, Dewi akan terus-terusan seperti itu untuk selamanya.
"Semoga saja aku mendapatkan Ginseng itu, sehingga Segel Sihir itu langsung menghilang dari dalam tubuhnya" Bisik Lemon dalam hati.
Setelah beberapa saat, Lemon akhirnya terbangun dari lamunanya sehingga dia langsung meraih Gelangnya, dan membacakan Mantra dan dalam sekejab dia sudah berada didalam Vilannya dipuncak Gunung.
Lemon melihat Dewi yang masih terbaring diatas tempat tidur, kemudian dia memindai dengan Dewi dengan kekuatan Buku Mata Dewanya, Namun dia tidak menemukan sama sekali kejanggalan dan penyakit yaang terdapat dalam tubuhnya Dewi.
Betula saja, Buku Mata Dewanya hanya mampu memindai Penyakit yang terdapat dalam tubuh, sementara Sihir yang dimantrai didalam tubuh, tentu saja Buku Mata Dewa tidak mampu mendeteksinya.
__ADS_1
Lemon merasa frustasi ketika dia tidak mendapatkan solusi yang lain untuk kesembuhan Dewi, dia hanya terus merasa menyesal karena dirinyalah yang salah karena telah meninggalkan Dewi sendirian pada waktu itu.
Sehingga tanpa dia sadari dengan terus menyalahkan dirinya sendiri dan waktu terus berputar.