PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 184. Wahyudin & Seraf Keok


__ADS_3

Selesai berkata Lemon langsung melangkah mundur kebelakang, dia mensejajarkan dirinya kepada orang-orang yang ada dibelakangnganya.


Selesai mendengarkan titah Lemon, Seraf langsung membalikan pandangannya kearah Wahyudin, wajahnya merah bagaikan bara api dikawah guru semeru.


"Dasar B-jingan Tua K" parat! Kau harus mampus ditanganku" Ujar Seraf dalam hatinya.


Wahyudin merasakan Tatapan tajam dari Seraf yang membuat dia langsung bergidik ketakutan, dia melihat bawahannya namun sayang dia tidak menemukan siapa-siapa lagi.


"Dasar manusia-manusia tidak berguna! Makan saja yang banyak, kekuatan untuk bertarung tidak ada, bahkan sekarang mereka melarikan diri meninggalkanku sendirian" Ketus Wahyudin dalam hatinya.


"Sa.. Saudara seraf! Apa yang anda lihat, Saudara jangan terpengaruh dengan bocah ingusan itu, dia sedang memprovokasi anda, saudara jangan percaya kepadanya begitu saja, dia itu hanya seorang penipu" Kata Wahyudin kepada Seraf, ketika dia menyadari raut wajah seraf berubah drastis kepadanya.


"Dasar Tua bangka K-parat! Kau masih berani berbicara seperti itu kepada Tuan Lemon! Kau harus membayarnya dengan nyawamu" Ujar Seraf dengan kata-kata berteriak sambil dia bangkit berdiri.


Melihat wajah Seraf yang penuh dengan kemarahan, Wahyudin perlahan mundur dari tempatnya, dia melangkah selangkah demi langkah, dia ingin melarikan diri namun apalah daya gunung masih tinggi, beberapa anak buah Seraf sudah berada tepat dibelakangnya.


"Maaf Tuan Lemon! Saya mohon ijin untuk membawa si Tua Bangka ini ketempatku, untuk memberikan pelajaran yang setimpal dengan perbuatannya" Seraf berkata memohon kepada Lemon.


Lemon hanya bisa menganggukan kepalanya pertanda dia setuju, namun sebelum mereka membawanya untuk pergi, Lemon tiba-tiba berkata: "Tunggu sebentar! Saya ingin menyampaikan kepada orang tua ini, bahwa mulai saat ini, dia tidak ada lagi hubunganya dengan sepupu saya Ririn, dan rencana pernikahan mereka dengan sendirinya batal, dan dimasa depan! Kau tidak boleh lagi menampakan wajahmu disini".


Wahyudin hanya menganggukan kepalanya tanpa berkata apa-apa, dan setelah itu dia seret oleh anak buah Seraf kedalam Mobil Rocky, kemudian mereka langsung meninggalkan tempat itu.


Melihat semua pihak lain sudah pergi, Lemon menghela nafas panjang, dia memutar tubuhnya kearah keluarganya yang masih berdiri disisinya.


Lemon tersenyum kecil, kemudian dia menyuruh semua orang untuk masuk kedalam "Ayoo.. Semuanya masuk kedalam, tidak perlu lagi dilanjutkan semua kegiatan itu".


Orang-orang masuk kedalam rumah, tanpa banyak kata.


Pak Yosa hanya menurut tanpa ada satu katapun, sementara Bu Meti masih menggenggam tangan Dewi karena dia tidak menyangka kekuatan bertarung Lemon sehebat itu.

__ADS_1


Setelah semuanya berada didalam ruang tamu, Lemon langsung angkat bicara "Paman.. Bibi! Kalian sekarang tidak perlu kuatir, karena Pernikahan Ririn dan Tuan Bangka itu tidak akan pernah terjadi, Ririn bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang".


Pamannya menghela nafas, kemudian dia mengusap wajahnya dengan santai, dia lalu berkata "Seharusnya saya yang patut disalahkan dalam hal ini, karena saya rencana pernikahan itu terjadi".


"Sudahlah Paman! Tidak usah lagi ada yang dipersalahkan dalam hal ini, semuanya sudah terjadi dan akan segera berlalu, kita jadikan ini sebagai hikmar dimasa depan" Jawab Lemon singkat dengan wajah datarnya.


"Iya Kak.. Tidak perlu merasa bersalah, karena semuanya sudah berlalu" Timpal Pak Yosa memberi saran kepada Saudaranya itu.


Ayahnya Ririn hanya mengangguk, kemudian dia menyuruh Ririn untuk berterimakasih kepada Lemon.


Ririn melangkah dihadapan Lemon, kemudian dia berlutut, yang membuat Lemon sedikit tidak nyaman, namun Lemon tidak bisa mengelekannya.


"Makasih Kak! Mungkin kalau tidak ada kakak, saya pasti sudah menjadi Korban Orang Tua bangka itu" Ririn berkata-kata mengucapkan rasa terimakasihnya.


"Emm.. Baik! Mulai sekarang sebaiknya kamu lanjutkan sekolahmu, biar kamu bisa menjadi orang sukses dimasa depan" Sambut Lemon dengan senyuman lebarnya, sambil dia mengangkat Ririn untuk berdiri.


"Kalau bisa Ririn sekolah diKota saja, biarkan nanti kami yang akan membiayaimu untuk sekolah" Dewi berkata dengan tersenyum kepada Ririn sembari dia melirik Lemon.


"Kamu kenapa berani sekali untuk mengatakan hal itu? Ingat.. Kita ini masih dibiayai oleh orang tua" Bantah Lemon dengan wajah penuh penasaran.


Lemon masih saja membual untuk tetap menjadi anak yang tidak mampu, karena dia masih saja ingin menyembunyikan identitasnya sebagai Pemimpin Yayasan Kuil Naga.


"Heemm.. Kamu kira aku tidak bisa membiayainya dengan uangku sendiri! Aku itu sebenarnya punya perusahaan sendiri, termasuk Hotel Soechi yang sering kamu kunjungi" Ujar Dewi dengan santai sambil tersenyum.


Lemon hanya bisa mengerurkan keningnya ketika dia mendengarkan kejujuran dari bibirnya Dewi.


"Baiklah.. Terserah kamu saja, asalkan Tuan dan Nyonya tidak keberatan" Ujar Lemon dengan pasrah.


"Heemm.. Ayah daj Ibu tidak akan menolaknya, karena aku ingin menjadikan Ririn sebagai Adikku sendiri" Jawan Dewi dengan senyuman lebarnya.

__ADS_1


Lemon dan Dewi kembali diposisi mereka semula, setelah mereka selesai berbisik-bisik.


"Paman, Bibi, Kalau Ririn ingin melanjutkan sekolahnya dikota kalian mesti bicarakan dulu, kalau sudah disepakati maka kalian telepon saya untuk menjemputnya, karena kami tidak akan lama-lama tinggal disini" Ucap Lemon kepada Pamannya.


"Baiklah Nak! Biarlah kami bicarakan dulu, nanti kalau sudah kami sepakati, kami langsung mengantarkanya diKota Gowe" Sahut Ayah Ririn dengan wajah yang serius.


Selesai berkata Lemon dan Dewi berpamitan kepada Paman dan Bibibnya sekaligus kepada Ririn.


Lemon bersama Dewi dan Kedua orang tuanya mereka kembali kerumah, sementara Maret Silalahi sedang Asik duduk mengobrol kepada anak-anak muda dikampung itu.


Lemon membawa kedua orang tuanya kepasar, setelah mereka memberitahukan kepada Maret, supaya Maret makan sendiri, sehingga mereka langsung OTW kepasar Tora untuk mencari Rumah Makan.


Pak Yosa hanya bisa pasrah ketika mereka dibawa Lemon kesalah satu Rumah Makan yang cukup terbilang mahal dikalangan kampung Pasar Tora.


"Nak! Apa tidak sebaiknya kita cari warung makan selain ini, karena inikan terlalu mahal untuk kita makan ditempat ini" Ucap Bu Meti dengan penuh perasaan campur aduk.


Dewi tersenyum menatap Bu Meti "Ibu tidak perlu kuatir, anggap saja aku yang mentraktir, sebagai ucapan salam dariku" Jelas Dewi kepada kedua orangtua itu.


"Baiklah Nak Dewi! Terserah Nak Dewi saja" Timpal Bu Meti dengan pasrah.


Lemon dan semuanya duduk ditempat yang berada tepat menghadap Sungai kecil, dengan panorama Pedesaan yang Asri dengan rumput yang masih hijau.


Lemon sengaja memesan Ikan Bakar Tawar, dan beberapa makanan khas Daerah Tora, yang membuat Pak Yosa dan Bu Meti sedikit ngiler melihat berbagai hidangan makanan yang sudah tersaji diatas meja.


"Ayah dan Ibu makanlah, karena selama ini aku masih belum memberikan kalian kebahagiaan, semoga suatu saat nanti aku bisa membawa Ayah dan Ibu ke Kota Gowe" Ucap Lemon dengan suara sedihnya.


"Kamu berkata apa sih Nak? Ayah dan Ibu tidak pernah berharap yang lebih darimu, yang penting kamu selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak dan gajimu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluargamu dimasa depan" Sergah Ibu Meti dengan matanya yang sedikit berkaca.


Pak Yosa yang melihat suasana yang begitu haru, dia langsung berkata "Ya Sudah.. Sudah.. Lebih baik kita sekarang makan, nanti sayang kalau sudah dingin".

__ADS_1


Dewi hanya terharu melihat suasana keluarga Lemon yang terlihat Romantis.


__ADS_2