
Mata semua bawahan itu terbelalak kaget, mereka semua tertegun menelan Ludah, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, tidak terkecuali Ardin Eben dan Murni, mereka sangat sulit untuk percaya, dengan kecepatan Lemon berlari bagaikan Peluru.
Lemon hanya bisa mengibas-ngibaskan tangannya, dia mengibaskan debu yang tersisa ditelapak tangannya, karena debu yang berserakan ditongkat Listrik, yang barusan dia patahkan menjadi sumpit.
Mata Dewi sangat terkejut, ketika dia melihat Adegan langka didepannya, dia baru percaya bahwa kekuatan Lemon memang tidak bisa dianggap sepele.
Dewi sengaja datang di Hotel Soechi, karena sebelum Lemon beranjak dari rumahnya, dia sudah meminta ijin Lemon untuk ikut, namun tak disangka setelah Dewi bersiap-siap untuk pergi ikut bersama Lemon, Lemon sudah menghilang dan pergi.
Sehingga dia memutuskan untuk pergi seorang diri saja, dan dia berharap Lemon tidak melupakan janjinya.
Semua bawahan Ardin yang menyerang Lemon, mereka sangat ketakutan ketika mata Lemon berubah menjadi warna biru, mereka semua gemetatan hebat, bahkan ada yang tanpa sadar sudah mengompol dicelananya.
Lemon menakut-nakuti mereka, dengan membuat tatapan dan bola matanya menjadi biru dan tajam, sehingga dalam sekejab seluruh bawahan Ardin Pingsan tak terelakan.
Eben langsung mengeluarkan Senjatanya, ketika dia melihat seluruh orang-orangnya, sudah jatuh terkapar ditanah tanpa suara.
"Kamu sudah berani memukul keamanan, maka saya tidak lagi mengampuni nyawamu" Eben Berkata dengan dingin.
"Duuaarr" Suara dentuman senjata pistolnya terdengar menggelegar.
"Tiiidaaak!!"... Dewi berteriak sangat kencang, Kemudian dia langsung berlari kearah Lemon, kemudian dia langsung memeluk Lemon.
Lemon yang menyadari akan ada tembakan yang kedua, dia langsung memutar tubuhnya dengan memeluk Dewi, kemudian tiba-tiba, suara tembakan terdengar lagi.
"Duuaarr, Duuaarr, Duuaarr" suara tembakan bertubi-tubi terdengar, yang membuat Lemon kebablasan, sehingga satu buah peluru menembus Bahu atasnya.
Dengan posisi Dewi masih dipelukan Lemon, Dewi merasakan detak Jantung Lemon yang seakan terhenti, ketika peluru menembus pundaknya.
Lemon jatuh tersungkur ketanah bersama Dewi, namun dengan wajah pucat Lemon terus memeluk Dewi dengan Erat.
__ADS_1
Setelah jatuh ketanah, Dewi langsung melepaskan Pelukan Lemon, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Lemon jatuh tak berdaya, kemudian darah mengalir deras dari bahunya Lemon.
Dewi melihat darah yang sudah memenuhi telapak tangannya, kemudian dia berkata "Tidak.. Tidak.. Kenapa harus begini, jangan pergi, jangan pergi, aku sangat menyayangimu" dewi terus berteriak sambil menggoyang-goyangkan tubuh kurus Lemon.
Ardin dan Murni sangat tercengang, ketika melihat Lemon sudah jatuh tak berdaya, karena terkena peluru dari Eben.
Ardin hanya menatap Eben tak percaya, kemudian dia menghela nafas panjang, dan dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke Sofa, dia tidak habis pikir, Eben akan melakukan aksi yang sangat Nekat!, senekat ini.
Kelemahan Lemon adalah, jika dia dipeluk oleh perempuan, maka kekuatannya akan melemah drastis, bahkan bisa dikatakan tidak mencapai 45% dari total kekuatannya sebelumnya.
Hasrat Naibaho juga tercengang dengan kejadian itu, dia langsung bergerak duduk memapah Lemon, namun Lemon sudah tidak sadarkan diri.
"Apa yang kalian lakukan, Polisi Macam apa kalian! Hah! Berani sekali kalian menebakinya, kalian herus bertanggungjawab!" Teriak Dewi menatap Ardin dan teman-temannya.
"Cepat panggil Ambulans, kita bawa dia dirumah Sakit Gomo" Hasrat berkata kepada pegawai hotel.
Murni Halawa Memarahi Eben, karena kesalahan yang dia perbuat, yang membuat Eben akan dikenakan Kode Etik Kepolisian, dan dia akan diperiksa dikantor kepolisian Kota Gowe.
Ardin bersama Eben meninggalkam Hotel Seochi, sedangkan Murni tetap diHotel Soechi, karena dia memang tinggal di Hotel Seochi, untuk sementara waktu sebelum dia kembali ke Provinsi.
Dewi bersama Hasrat Naibaho, masih menunggu diluar ruangan IGD, dengan wajah cemasnya Dewi *******-***** jari-jarinya, Dewi takut Lemon kenapa-kenapa.
Tidal lama kemudian, Dokter yang menangani Lemon, keluar dari dalam ruangan operasi, kemudian Dewi yang melihatnya langsung menyerbu Dokter tersebut.
"Dokter bagaimana keadaannya?" Tanya Dewi dengan wajah panik.
Dengan senyuman dokter itu berkata "Pasien masih belum melewati titik beratnya, dia masih belum sadarkan diri".
"Bagaimana dengan lukanya dok" Tanya Hasrat yang berdiri dibelakang Dewi.
__ADS_1
"Heeemm" Dokter itu hanya bisa menarik nafas dan menggelengkan kepala, kemudian dia melanjutkan "Saya Heran! Kami tidak menemukan anak peluru dibekas lukanya, hanya lukanya saja yang terlihat akibat serangan peluru, namun kami sudah bersusah payah mencari peluru itu, namun kami tidak tahu peluru itu menyasar dimana".
Rasa penasaran menyelimuti dokter itu, karena dia sudah puluhan tahun melakukan Operasi, apalagi dia sering dipanggil menjadi Dokter Autopsi, dia menjadi dokter dalam menangani Pasien, Akibat peperangan yang sering terjadi di Nagari Padang.
Keheningan terjadi selama beberapa menit, seketika Dokter itu mempersilahkan Dewi untuk bisa menjenguk pasien.
"Pasien sudah bisa dijenguk, tapi ingat jangan banyak suara, karena pasien bisa-bisa mengalami gagal masa kritis karena suara" Dokter mempersilahkan sambil mengingatkan Dewi.
"Baik Dokter, kami akan selalu mengingatnya" Dewi berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
Dewi langsung bergegas masuk, kedalam ruangan VIP tempat Lemon berada, Hasrat Naibaho hanya bisa menunggu dari luar.
Dewi melihat Lemon yang sudah dipasang selang Oksigen, membuat Dewi terasa sesak entah kenapa, dia tidak tega melihat belahan jiwanya terbaring diatas bangsa.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar pintu kamar, Dewi berbalik dan melihatnya, dengan tangannya masih menggegam tangan Lemon.
"Kak Lemon! Kenapa bisa begini?" Tiwi Song langsung menyerbu Masuk kedalam, dan di langsung menyerbu Lemon, dengan pelukan hangatnya.
Valen Song dan Restu Chandra bersama Lili dan orang-orang tetua keluarga, mereka datang dirumah Sakit Gomo, ketika mendengar berita tentang Lemon, yang sudah ditembaki Peluru oleh, seorang anggota kepolisian.
Dewi yang matanya masih dipenuhi Air, dia samar-samar melihat Tiwi yang langsung datang memeluk Lemon, Dewi tidak menyadari pihak lain adalah Tiwi, kemudian dia memperhatikan dengan seksama sambil mengusap Air dimatanya.
Dia terkejut ketika melihat Tiwi, kemudian dia melihat kearah Ayah dan ibunya, seketika Dewi langsung melemparkan dirinya didalam pelukan ibunya.
"Ibu.. Lemon sedang dalam masa kritis, dia sekarang tidak bis diganggu, tolong dibilangin sama saudara tiwi, supaya jangan dia tidak mengganggu Lemon" Dewi berkata sambil menggertakan giginya, ketika dia melihat Tiwi yang semakin menjadi-jadi memeluk Lemon diatas bangsal.
Valen Song yang mendengar perkataan Dewi, dia langsung melangkahkan kakinya disamping Tiwi, kemudian dia memegang bahu Tiwi sambil berkata 'Nak! Kata Dokter, Tuan Lemon sedang measa kritis, kamu jangan terlalu mengganggunya!".
Mendengar perkataan Ayahnya, Tiwi langsung menganggukan Kepalanya, tanda dia setuju dengan pernyataan Ayahnya.
__ADS_1