PENJAGA KUIL NAGA

PENJAGA KUIL NAGA
Bab 78. Bertemu Ibunya Dalam Mimpi


__ADS_3

"Kejadian ini harus dilaporkan kepada kepala Kepolisian, jangan semena-mena saja Anggota Keamanan melakukan Penembakan kepada warga" Restu Chandra berkata menatap Valen Song.


"Heeemm.. Saya sependapat dengan Tuan Chandra, hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, saya takut kedepannya akan semakin banyak korban seperti yang dialami Tuan Lemon" Valen Song menjawab.


Kembali mengingat tentang pernyataan Dokter, yang mengoperasi Lemon, kenapa mereka tidak menemukan Peluru dibekas Luka Lemon, karena secara otomatis peluru itu berubah menjadi serpihan bubuk, dan lama kelamaan menjadi baja didalam tubuh lemon, yang akan menjadi perisai untuk menahan kulitnya dari serangan.


Hasrat yang berada diluar tiba-tiba HPnya berdering, kemudian dia mengangkat "Hallo".


"Apakah anda saudara Hasrat Naibaho? Kaki tangan dari Lemon Nababan?" Suara dari telepon itu berkata dingin.


"Betul! Ini dengan siapa saya berbicara?" Hasrat berkata santai, dia menekan Emosinya karena mengingat dia sekarang sedang berada di Rumah Sakit.


"Dasar Otak Mati! Kamu tidak perlu tahu siapa saya, yang Jelas katakan pada Tuanmu itu, besok saya akan menantangnya duel satu lawan satu, untuk membalaskan dendam Muridku David Laiya, Kalau tidak! Saya akan menghancurkan Yayasan Kuil Naganya dimuka bumi ini!" Suara tegas terdengar dari orang itu, yang membuat wajah Hasrat berubah pucat seketika.


Setelah berbicara, orang dari ujung telepon itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Hasrat Naibaho hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak habis pikir dalam keadaan seperti ini, akan ada ancaman yang sangat besara.


Hasrat memikirkan kekuatan Pihak lain, yang tidak mungkin dia tangani seorang diri, mengingat kekuatan David Laiya saja sangat kuat, apalagi jika gurunya yang datang untuk membalas mereka.


"Apa yang harus saya lakukan? Saya ragu dengan kekuatan Anggota Kuil Naga, tidak akan mampu menahan serangan pihak lain, tidak masalah jika Tuan Lemon bisa sadar sampai besok pagi" Hasrat berkata dalam hatinya, yang sudah sangat panik.


Hasrat langsung berjalan keluar rumah sakit, kemudian dia langsung membanting setir mobilnya menuju Yayasan Kuil Naga.


Lemon yang masih terbaring diatas bangsal, dia ditemani Dewi dan Lili beserta Tiwi yang duduk diujung kaki Lemon.

__ADS_1


Sementara Patriak Chandra dan Valen Song, mereka sedang duduk diluar, mereka sedang memikirkan hal-hal yang kemungkinan terjadi dimasa depan.


Lemon yang sedang terbaring, tiba-tiba dia bermimpi bertemu dengan ibunya, dalam mimpinya ibunya tersenyum kepada Lemon, kemudian dia berkata "Kamu jangan mencari tahu keberadaan ibu, kamu lebih baik menjalani hidupmu sebagai manusia biasa, kamu jangan mengikuti hawa nafsu duniawi, tapi ikutilah apa kata hatimu".


"Kenapa saya tidak bisa mencari tahu keberadaan ibu, saya ingin bertemu dengan bunda, tolong.. Tolong.. Jangan tinggalkan saya" Lemon berkata kepada ibunya.


Ibunya hanya tersenyum bahagia,


Ketika dia mendengar keluhan Lemon padanya, dia menggelengkan kepalanya, sambil berkata: "Untuk menemukan jawabannya, kamu harus memiliki kekuatan yang sangat besar, karena semakin jauh kamu ingin ketahui, semakin besar juga kamu membutuhkan kekuatan".


Lemon hanya bisa menghela nafas, ketika mendengar penjelasan dari sang bundanya, dia tidak pernah berpikir akan dia menghadapi situasi sulit seperti ini.


Tiba-tiba sebuah sinar cahaya yang sangat menyilaukan, terlintas dihadapan Lemon, yang seketika ibunya juga ikutan menghilang dari hadapannya.


Lemon tiba-tiba Muncul ditepi sungai Susua, disamping Gubuk yang sering dia kunjungi, dia kemudian melihat Elisama yang sedang duduk bersilah diatas batu besar.


"Maaf Kek, saya sudah lalai selama beberapa hari belakangan ini, saya akan berusaha mengejar ketertinggalan saya itu" Lemon berkata dengan nada rendah kepada Elisama.


"Eemm.. Bagus!" Elisama berbalik dan menatap Lemon, kemudian dia memindai Lemon dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Ternyata Kultivasimu sudah pada tahap Penempaan Bumi Lapisan pertama, melewati tahap pembentukan tubuh nyata, tapi kekuatanmu itu masih lemah, karena tidak dilatih dengan terus-menerus" Elisama berkata dengan wajah tegas.


"Terimakasih Kek! Saya akan terus berlatih dimasa depan" Lemon berkata sambil membungkuk kepada Elisama.


"Tidak! Kamu harus pergi ke Gunung Mosoe untuk berlatih, pergilah kesana dalam 2 hari lagi" Elisama berkata santai, dan setelah itu dia langsung menghilang.

__ADS_1


"Huuft.. Kenapa semakin banyak beban" Lemon berkata sambil menghela nafasnya, kemudian dia duduk diatas batu yang berada tepat diadapannya.


Keesokan harinya, Dewi yang sudah terjaga masih menunggu disamping Lemon, Tiwi dan Lili beserta keluarga yang lain, mereka memilih untuk kembali kerumah mereka masing-masing, berhubung itu juga merupakan kesepakatan mereka bersama, sementara Dewi memilih untuk tetap tinggal.


Restu Chandra dan Lili tidak berkata apa-apa, mereka memilih diam, karena mereka sudah mengetahui tentang perasaan anak mereka yang manis itu.


Tiba-tiba Pintu kamar terbuka, Terlihat Lea, Bryan dan Dennis, mereka membawa buah-huahan untuk Lemon, namun apa yang mereka lihat, Lemon masih dalam keadaan Masa Kritisnya, dia masih terbaring kaku diatas tempat tidur pasien.


"Waaduuh.. Bang bro! Kenapa bisa seperti ini? Saya akan membalaskannya" Bryan berkata sambil menggertakan giginya, dia mengepalkan tinjunya, sambil dia meninju kearah Infus Oksigen Lemon, yang menyebabkan Infus itu terlepas seketika terkena Pukulan dari Bryan.


Dewi yang melihat hal itu seketika dia berteriak, "Heii.. Monyet! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan itu, apakah kamu ingin membunuhnya? Hah!".


Seketika mata semua orang terbelalak, mereka semua terkejut dengan kelakuan bryan, yang telah melepas Infus Oksigen dari tabungnya.


"Eehh.. Sory? Sory, saya tidak sengaja, cepat panggilkam Dokter" Bryan berkata panik.


Dennis yang berada disamping, seketika bergerak dengan cepat memanggil dokter, sehingga tidak menunggu lama, dokterpun tiba diruangan Lemon.


"Kenapa infusnya bisa terlepas?" Dokter bertanya sambil membenarkan kembali Tali Infus Oksigen, yang terhubung ditubuh Lemon.


"Eemm.. Maaf Dok! Itu karna saya, saya tidak sengaja menyenggolnya, sehingga tali infusnya terlepas. Bryan berkata jujur.


"Eemm.. Sekarang semuanya sudah beres, saya harapkan hal ini jangan terulang lagi, karena itu bisa mengancam keselamatan Pasien, dan kalau sampai hal itu terjadi, saya tentu tidak akan bertanggungjawab" Dokter berkata memperingatkan Dewi bersama teman-temannya .


"Baik Dokter, kami akan selalu mengingatnya" Jawab mereka serempak, setelah dirasa semuanya telah aman, dokter itu langsung meninggalkan Ruangan itu.

__ADS_1


Dewi dan teman-temannya hanya saling menghela nafas, ketika mereka melihat Lemon belum menandakan adanya siuman, Karena Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 wib.


__ADS_2