
Tara berdiri memandangi gedung pencakar langit yang berjajar
tepat dihadapannya. Ia melihat pemandangan melalui kaca jela di ruangan
bernuansa hitam abu itu. Terlihat matahari sudah hampir mencapai puncaknya.
Tara mengangkat lengan kirinya, melihat jam berwarna hitam yang setia
melingkari lengannya. Waktu sudah
menunjukkan pukul sepuluh lebih empat puluh lima menit, itu menandakan bahwa
sekitar lima belas menit lagi Tara akan megucap akad pernikahannya dengan gadis
yang sama sekali tidak ia cintai, malah cenderung ia benci.
Tara berbalik menuju cermin yang berada tepatdi sudut
ruangan. Ia mematut diriya lagi, membenarkan posisi dasi dan sapu tangan yang
terlpatrapi dalam bibir saku di dada kirinya. Seperti iasanya, hari ini pun Tara
mengenakan setelan jas berwarna hitam, warna yang sudah melekat pada tubuh dan
barang-barangya selama empat than terakhir. Tak pernah sekalipun Tara
menggunakan warna lain sejak insiden yang terjadi pada kakanya itu. Tak seperti
pengantin lain yang elalu megenakan setelan jas berwarna putih saat hendak
melakukan pernahan meka, Tara tetap bersikukuh untuk menggunakan pakaianya
seperti biasa. Walaupun tentu saja itu tak sedikitpun menrangi gurat
ketampanannya.
Tok Tok Tok. Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Tak
berselang lama, muncul seorang laki-laki berjas abu dari balik pintu ruangan
itu.
“Selamat pagi Tuan, Anda sudah siap? Sekitar dua belas menit
lagi akad pernikahan anda akan dimulai.” Ucapnya.
Tara berbalikmenghadap sumber suara, kamudian ia berkata, “Tentu!”
jawabnya singkat sambil berjalan melewati Krisan menuju pintu ruangan.
Krisan menyunggingkan senyumnya, ia merasa sedikit terkejut
sekaligus bahagia. Ia merasa ada sedikit perubahan terjadi pada bosnya itu.
Pasalnya, Tara hampir tak pernah menjawab jika memang tak perlu ia jawab,
karena perilakunya sendiri sudah bisa menjelaskan pada siapapun tentang jawaban
apa yang pasti akan ia katakan. Hal yang tak begitu penting hanya ia anggap
sebagai angin lalu.
Tapi hari ini rasanya agak sediit berbeda, batin Krisan.
Semoga pernikahan ini benar-benar akan mengembalikanTar yang dulu, doanya.
Dalam benak Krisan, Tara empat tahun yang lalu merupakan
seorang yang sangat lembut dan penyayang, trutama pada keluarganya. Namun
__ADS_1
setelah insiden itu, ia berubah menjadi seorang yang dingin dan tak berperasaan,
hampir tak pernah ada lagi senyum diwajahnya.
Krisan jelas memahami alasan Tara menjadi seperti itu. Ayah
Tara meninggal sejak ia masi kecil, persaingan bisnis membuatnya memiliki
beberapa musuh yang merasa terancam oleh keberadan Zeldan Zoe, ayah Tara.
Mereka membunuh Zeldan Zoe yang direkayasa dalam sebuah kecelakaan pesawat
ketika ia akan melakukan perjalanan bisnis.
Zeldan Coorp yang saat itu kehilangan seorang direktur, mengangkat Chandra Zeldan
sebagai penerus berikutnya. Chandra diangkat menjadi CEO diusianya yang baru
lulus sekolah menengah. Sejak saat itulah Chandra pun menjadi sosok pelindung
dalam keluarganya, termasuk dengan Tara. Karena insiden itu, Tara terluka untuk
kedua kalinya, ia merasa orang luar selalu menjadi ancaman bagi keluarganya.
Terlebih dendamnya pada Sena yang menjadi alas an lukanya semakin dalam. Begitulah
ia mulai berubah menjadi seorang yang dingin seperti sekarang.
“Dimana Hutama ?” Tanya Tara pada Krisan tiba-tiba saat
mereka mencapai lorong.
“Beliau ada dikamar Nona Sena, Tuan.” jawabnya.
Krisan berjalan megikuti Tara menuju lift yang telah khusus
disediakan olehnya untuk menuju ruang
sampai di tujuannya.
Tara berjalan keluar dari lift menuju ruangan pernikahannya.
Terlihat para tamu undangan sudah memenuhi ruangan. Mulai dari relasi bisnis,
karyawannya bahkan petinggi Negara sudah Nampak hadir, tak terkecuali para paparazzi
yang telah datang untuk meliput acara pernikahan pengusaha muda dan sukses itu secara
live.
Banyak diantara para tamu menghampiri dan menyapanya sekedar
untuk berbasa-basi. Namun banyak juga diantara mereka yang ingin menjilat orang
sekelas Tara Zeldan, tentunya.
Tara duduk di tempat yang telah disediakan oleh penanggung
jawab acara. Tempat duduk itu berada di barisan paling depan. Ia duduk
bergabung bersama ibu dan adik perempuannya, Camila Zeldan.
“Tara, kamu yakin dengan ini?” Tanya Teana Zeldan, ibu Tara sambil
memegangi tangan Tara diatas pahanya. Wajahnya jelas terlihat khawatir, Teana
sangat tahu alasan dibalik pernikahan ini, Tara tak mengenal cinta, ia sangat
takut malah Tara yang akan tersakiti oleh pernikahan ini. Tara sudah cukup
__ADS_1
menanggung banyak beban berat dalam hidupnya.
Tara menangkupkan telapak tangan satunya diatas tangan
ibunya, mencoba menenangkannya. Ia sangat paham kekhawatiran ibunya, apalagi
karena gadis ini Chandra mengalami kejadian itu. Tapi tak mungkin bagi Tara
untuk mundur, tak pernah ada kata menjilat ludah sendiri dalam hidupnya.
“Hadirin yang berbahagia, acara akad pernikahan pengusaha
muda Tara Zeldan akan segera kita mulai, marilah kita sambut Tuan Tara untuk
meju ke tempat yang telah kami sediakan”. Ucap MC dari atas podium di depan.
Tanpa ragu Zeldan melangkah menuju tempat akad bernuansa
putih yang terletak di tengah ruagan. Disana telah ada seorang yang ia kenal,
orang yang akan menjadi ayah mertuanya, Hutama dan petugas dari KUA beserta
penghulu yang akan membimbingnya mengucapkan akad nikah.
“Apaka Anda sudah siap Tuan Zeldan”. Tanya penghulu padanya.
Tara menganggukkan kepalanya. Kemudian penghulu
membimbingnya untuk mengucapkan akad nikah. Akhirnya akad nikah pun selesai
dilafalkan. Semua tamu undangan berucap syukur karena merasa bahagia dengan
menyatunya pasangan suami istri baru itu. Namun tidak bagi Tara yang merasa
semuanya ini hanya rekayasa sebagai pembungkus manis bingkisan pembalasan
dendamnya pada Sena. Tunggu pembalasanaku, Sena Zafiera. Selamat datang ke
neraka, ucapnya dalam hati.
“Hadirin yang berbahagia, marilah kita sambut mempelai
pengantin wanita, Sena Zafiera!”. Ucap MC. Seketika lift terbuka, tampaklah
seorang wanita cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih bertaburkan berlian.
Rambutnya digelung menyisakan beberapa helai dibagian atas menjuntai ke dekat
telinganya. Anting berlian menyilaukan mata yang melihatnya. Tak lupa dipuncak
kepalanya tersemat sebuh mahkota bertahtakan berlian yang sangat besar. Wanita
itu berjalan perlahan dibantu para dayang-dayangnya menuju ke tempat akad
disamping Tara.
Semua mata terpukau, menatap takjub oleh keindahan
dihadapannya. Ratusan kamera mengacung, mengabadikan momen wanita yang mereka
anggap paling mempesona di acara tersebut. Namun tidak bagi Tara yang
menganngap itu hanya bagian dari trik make up jaman sekarang. Jadi walaupun
wanita itu terlihat cantik, jangan terpedaya karena itu palsu, putusnya.
Tara mengulurkan tangannya menunggu Sena membalas, setelah
itu mereka berjalan menuju panggung yang telah disediakan. Menerima para tamu
__ADS_1
yang menyalami mereka satu persatu.