
"Thanks ya udah mau jadi cowok gue.." Widya meraih salah satu tangan Reihand dan menggenggamnya di depan dada.
Lagi lagi Reihand cuman bisa diam. Dia merasakan genggaman tangan Widya semakin erat. Tak lama gadis itu tertidur setelah menyalurkan semua isi hatinya pada cowok yang sangat dicintainya ini.
.
Dirumah Flo.
Esoknya waktu menunjukkan pukul 07.30 Wib.
"Flo, kok kamu belum bangun sih nak. Ini udah jam berapa, kamu gak mau kuliah apa?" Ibu Flo berteriak di dapur.
Sudah hampir sepuluh menit yang yang lalu dia memanggil manggil nama Flo tapi anak gadisnya itu tidak juga menyahut panggilannya.
Di dalam kamar, tepatnya dibawah selimut. Gadis itu sedang menggeliat. Sekujur badannya terasa nyeri. Flo mengerjap. Sayup sayup mendengar lirih suara teriakan ibunya.
Dia bangun dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
"Iya, mah. Flo mau mandi dulu." Jawab Flo akhirnya.
"Yaudah buruan, nanti kamu telat kuliah, Flo."
Flo menguap. Meregangkan kedua tangannya ke atas untuk melemaskan otot otot di tubuhnya.
"Pada sakit banget ya nih badan. Pengennya rebahan, tapi hari ini ada kuis dari Pak Samsul." Katanya pada diri sendiri.
Akhirnya setelah beberapa saat berhasil mengumpulkan seluruh nyawanya, Flo bangun dan meraih handuk di gantungan pintu lalu dia bergegas pergi ke kamar mandi.
Di Mandala.
Manji dan Farel duduk di kantin bersama Arga juga Meira. Wajah wajah mereka tampak tak bersemangat setelah kejadian kemarin. Mereka masih tak menyangka jika Widya ternyata mengidap penyakit mematikan itu.
"Gimana kondisinya Widya?" Tanya Farel sambil mengaduk es kopi di tangannya.
Meira mengangkat bahu.
"Gue udah coba telfon Reihand semalem, tapi ponselnya mati." Kata Arga.
"Kalian udah sarapan?" Tanya Arga lagi.
Tak lama datang seorang penjaga kantin. Dia meletakkan dua piring cemilan ke hadapan mereka.
Farel yang biasanya langsung mencomot makanan yang ada di depannya kali ini hanya diam saja. Dia terlihat tidak berselera sama sekali.
"Udah makan dulu aja." Kata Arga.
Farel mengulurkan tangannya, meski wajahnya tampak tak bernafsu tapi dia menyuapkan potongan besar pisang goreng ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
Meira menahan tawa geli melihat kelakuan Farel yang ada ada aja.
"Oh iya, gue masih penasaran. Kenapa kemaren Flo tiba tiba jatuh ke dalam kolam renang ya?" Kata Meira. Yang baru teringat kalau dia belum sempat menanyakan kronologis kecelakaan yang menimpa Flo kemarin itu.
Farel tiba tiba tersedak. Buru buru Manji menyodorkan minuman ke hadapannya.
"Slow bro, gak akan ada yang makan selain elo!" Kata Manji nyeletuk.
Farel meneguk minumannya sampai habis. Dia terdiam. Langsung teringat akan kejadian kemarin di rumah Widya. Stella adalah biang onar atas kekacauan yang terjadi kemarin. Kalah Widya mau melihat Cctv rumahnya. Dia bisa melihat dengan mudah awal mula tragedi Flo jatuh ke dalam kolam renang itu adalah gara gara ulang si nenek lampir Stella.
"Gue tau siapa penyebab Flo jatuh kemarin!" Kata Farel. Wajahnya berubah serius.
Kontan semua menoleh berbarengan ke arahnya. Menatap Farel penasaran.
"Maksud lo Flo jatuh ke kolam renang kemarin karna ada seseorang yang dorong dia gitu?" Tanya Arga.
Farel mengangguk.
"Siapa Rel?" Tanya Meira tak sabar.
"Stella! gue ngeliat Stella yang udah mendorong Flo ke dalam kolam itu." Jawab Farel.
Semua terbelalak kaget. Manji kontan berdiri.
"Stella? lo serius?"
"Gue gak pernah seserius ini men!" Jawab Farel. Menatap lurus Manji tanpa senyuman khasnya sedikitpun. Itu artinya Farel memang benar benar sedang mengatakan hal yang serius.
__ADS_1
Manji mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras menahan gejolak amarah yang tiba tiba membuncah di ubun ubun.
Stella? kalau sampai benar dia yang sudah membuat Flo kemarin tercebur ke dalam kolam renang. Dia tidak akan membiarkannya! Manji sangat geram.
"Lo mau kemana men?" Tanya Farel saat Manji hendak pergi dari bangku.
Meira dan Arga ikut memperhatikan.
"Gue mau nemuin Stella!" Ucapnya sambil berlalu meninggalkan teman temannya.
Di Fakultas X.
"Jessy, mana Stella?" Tanya Manji. Manji menghampiri salah satu antek antek Stella itu yang terlihat sedang duduk di depan Kelasnya.
Kedatangan Manji yang mendadak juga raut wajahnya yang menampakkan kekesalan membuat Jessy ragu untuk menjawab.
"Dimana Stella?" Desis Manji mengulang pertanyaannya. Kali ini suaranya meninggi.
Jessy menelan ludah ngeri. Akhirnya dia menunjukkan dimana keberadaan cewek itu. Dia ada di kelas salah satu antek anteknya Stella yang lain. Fakultas kesenian.
Tak menunggu waktu lama. Pria itu sudah melesat meninggalkan Jessy yang masih tertegun di tempatnya.
Buru buru dia meraih ponselnya dan menelpon Bosnya Stella.
"Halo." Suara Stella terdengar di sebrang telpon.
"Stell gawat. Manji tadi nyariin lo, kayaknya dia marah banget, Stell. Lo udah buat salah? apa jangan jangan dia udah tau perbuatan kita waktu di gudang belakang itu?" Kata Jessy dengan nada ketakutan.
"Lo yakin dia keliatan marah?"
"Iya lah. Kalau gak yakin, gue ngapain juga nelpon lo sih! mending lo buruan cabut dari situ. Dari pada Manji ngapa ngapain lo!"
"Halah, gak akan. Paling Manji cuman menggertak aja. Udah lo tenang aja." Jawab Stella di sebrang telpon.
Jessy menggaruk kepalanya. Bagaimana dia harus meyakinkan Stella kalau tadi dari sudut pandangnya, dia melihat Manji memang benar benar sedang marah besar.
"Udah ah, gue masih sibuk. Gue tutup dulu ya!"
Stella keburu menutup telponnya sebelum Jessy hendak melanjutkan kalimatnya.
Jessy kemudian masuk ke dalam kelasnya. Memilih untuk bersembunyi disana.
Di Fakultas kesenian.
Dari jauh pria itu melangkah dengan langkah langkah besar. Matanya menatap ke arah lorong lalu beralih ke depan Fakultas Kesenian.
Di depan Fakultas itu tidak terlihat batang hidung Stella. Dia pun segera mencari ke dalam kelas. Untunglah saat belum waktunya jam masuk pelajaran.
Sesaat Manji berdiri diambang pintu. Memindai seluruh isi kelas, cewek yang dicarinya ada diantara kelompok mahasiswi yang sedang sibuk mengobrol. Suara riuh terdengar di dalam kelas. Dasar cewek, sehari aja gak ngegosip, mati kali ya.
Gak seorang pun diantara para cewek itu menyadari kehadiran Manji. Lebih tepatnya tidak peduli. Karna mereka sedang sibuk dan asyik dengan kegiatan masing masing.
"Gue minta maaf nih sebelumnya udah mengganggu kesenangan kalian semua. Tapi terpaksa banget gue pinjem Stella bentar ya?" Ucap Manji dengan nada otoritas yang kontan membuat kegiatan mereka mengobrol terhenti seketika.
Tapi sepertinya perkataan Manji barusan bukanlah sebuah pertanyaan. Karna sebelum cewek cewek itu mempersilahkan, Manji sudah keburu menyambar salah satu tangan Stella. Otomatis Stella berdiri, Manji pun kemudian langsung menyeret cewek itu keluar dari kelas.
"Ikut gue!" Kata Manji dengan suara yang berubah dingin.
Stella berjalan pontang panting mengimbangi langkah Manji yang super cepat. Dia sudah merasa dirinya seperti akan terbang karna Manji berjalan dengan langkah yang besar besar.
"Kemana Ji?"
Manji tak menjawab lagi. Dia terus berjalan hingga sampai di persimpangan lorong. Berbelok ke belakang gedung itu, Setelah sampai di pojok sebuah gedung Fakultas Manji langsung menghentikkan langkahnya.
Dia balik badan dan mengunci tubuh Stella disana.
Stella yang menyadari aura kemarahan di wajah Manji mendadak jadi ciut juga. Ada apa ini? tidak biasanya Manji begini. Apa jangan jangan benar kata kata Jessy tadi. Jangan jangan Manji tau tentang kejadian di gudang belakang itu. Bisa jadi dia marah karna tau dirinya lah yang sudah membuat Flo basah kuyup.
"Jawab pertanyaan gue dengan jujur." Manji menatapnya lurus.
"Apaan? lo mau nanya apaan?" Tanya Stella gagap.
Meskipun wajah Manji tampak tenang dengan seulas senyum tersungging di bibirnya. Tapi dia tahu cowok ini sedang dalam mode berbahaya. Senyumnya sudah bukan lagi terlihat sebagai senyum ramah. Tapi senyum yang membawa pertanda maut.
"Kemaren, lo yang bikin Flo jatuh ke kolam renang?" Manji langsung bertanya pada intinya.
__ADS_1
Stella terperangah. Dia kaget. Kenapa Manji bisa tahu? Ah, iya kenapa dia malah bertanya. Jawabannya jelas pasti Farel yang sudah memberitahunya.
Stella membuang muka ke arah lain. Dia tak menyanggah tuduhan itu, karna saksi matanya adalah sahabat karib Manji. Sialan memang tuh si Farel. Bisa bisanya kemarin dia di pergoki waktu ngedorong Flo ke kolam renang.
"JAWAB!" bentak Manji.
Stella terperanjat. Kembali dia menatap Manji tak percaya. Selama ini Manji tidak pernah berkata kasar apalagi membentaknya.
"Lo kelewatan ya, Stell. Kenapa lo ngedorong Flo ke kolam renang?" Desis Manji kesal.
"Gue cuman becanda Ji, gue.."
"Becanda? lo pikir itu LUCU!" potong Manji sambil menekankan kata terakhir dalam kalimatnya seolah ingin menegaskan tindakan Stella itu sama sekali bukan sesuatu yang pantas untuk dijadikan bahan lelucon.
"Ya sorry, kan gue gak tau kalau dia gak bisa renang! lo kenapa sih berlebihan banget!" Seperti biasa, Stella tidak mau kalah. Dia selalu mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Sorry?" Manji benar benar tak percaya, semudah itu dia mengatakan sorry setelah semua kekacauan yang dia buat kemarin di pesta Widya. Akibat ulahnya Flo harus menanggung semua kemarahan dari Widya.
"Iya udah sih. Lagian juga tuh anak udah gak apa apakan Ji? kenapa elo yang repot sih Ji. Bisa gak sih lo gak usah berlebihan kalau tentang Flo. Dia tuh gak ada perasaan apa apa tau sama lo!"
"Lo sakit sih Stell!" Desis Manji sambil menyipitkan matanya menatap Stella geram. Disini dia murni marah karna kesal dengan ulah Stella.
Selama ini dia berusaha mengubah tabiat buruk Stella yang sering membuat onar. Ternyata nasihat dan juga kata katanya sama sekali tidak di dengar oleh gadis ini.
"Lo harus minta maaf sama Flo!" Kata Manji. Sekuat tenaga dia menekan amarahnya agar tidak meledak. Bagaimana pun dia masih bisa berpikir waras. Kali ini Stella selamat karna gender. Dia pantang memukul cewek.
Stella menggeleng. "Kalau dia gak sadar dan masuk rumah sakit baru gue bakal minta maaf sama dia, ini kan anaknya juga gak apa apa!" Jawab Stella.
Manji menggebrak tembok di belakang punggung Stella dengan amarah yang memuncak. Kurang ajar betul, sepertinya sikapnya yang selama ini selalu memaklumi kegilaan Stella sudah membuat gadis ini melewati batas. Dia tidak tahu mana hal hal yang boleh di langgar dan mana yang tidak.
"Lo bener bener ya!"
Manji menarik nafas dalam dalam. Sudah tidak bisa ditolerir, bahkan untuk alasan menghargai persahabatan antara orang tuanya dan orang tua Stella. Dia akan memberi pelajaran pada kesalahan Stella yang satu ini. Kali ini dia akan membuat Stella sadar dengan siapa dia berhadapan.
Stella meremas jemarinya. Negeri juga dia melihat Manji yang seperti sedang mati matian menahan gelagat amarah di matanya.
Dia menatap Stella nyalang seperti seekor singa yang hendak menyantap mangsanya hidup hidup.
"Kalau lo gak mau minta maaf sama Flo. Mulai sekarang.." Manji memenggal kalimatnya. Dia membungkukkan badannya hingga melenyapkan jarak diantara dirinya dan Stella.
Stella menelan ludah. Hanya beberapa senti lagi wajah Manji dan wajahnya akan bersatu. Harusnya dia senang, karna sebenarnya inilah yang dia nanti nantikan. Tidak ada jarak yang membentang diantara dia dan Manji.
Matahari menyoroti punggung cowok itu. Cahaya yang mulai terasa panas membuat setiap pori pori tubuh Manji yang tidak tertutup meneteskan keringat. Seketika aroma sebuah parfum mahal bercampur dengan aroma tubuh Manji yang khas menciptakan wangi yang maskulin.
Tak ayal membuat semua angan liar yang selama ini di pendam Stella dalam angan angannya bawah sadarnya menari nari gila, mencoba menyeruak keluar dan menuntut penuntasan.
Beberapa saat kemudian Stella berhasil memaki dirinya sendiri agar sadar bahwa situasi saat ini bukan untuk para angan itu terwujud.
Manji kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Mulai sekarang, lo gak usah muncul dihadapan gue lagi!" Katanya tandas, final dan tidak bisa di tawar.
Dia kemudian menegakkan lagi punggungnya. Stella terperangah, wajah ketakutannya berubah menjadi wajah yang penuh dengan kepanikan.
"Engga Ji. Jangan ngomong kaya gitu!" Buru buru Stella meraih salah satu tangan cowok itu.
Manji menepisnya perlahan dengan seulas senyum yang lagi lagi bertolak belakang dengan fungsi yang seharusnya. Senyum itu melambangkan kemarahan yang dalam, lalu sedetik kemudian tangan itu di hentakannya kencang ke belakang hingga tubuh Stella terjengkang ke belakang tembok.
Stella terbelalak. Perlakuan kasar Manji membuatnya terperangah. Dia kaget, cowok yang selalu bersikap lembut dan tidak pernah marah padanya kini berani berbuat kasar.
"Ji." Stella sudah tidak bisa membendung tangisnya. Hal yang paling dia takutkan adalah kehilangan Manji, meskipun selama ini mereka belum resmi menjadi pasangan kekasih. Tapi kedekatannya dan cowok itu juga tidak bisa di bilang hanya sebatas hubungan teman belaka.
Dia sudah sering menunjukkan perasaannya secara terang terangan pada cowok ini, dan selama ini Manji tidak pernah protes atau keberatan. Oleh karena itu Stella menganggap hubungannya dengan Manji ada di atas level pertemanan biasa.
"Ji, tunggu!" Stella mengejar cowok itu yang sudah mulai pergi meninggalkannya.
"Jangan buat diri lo malu Stell, di depan sana rame loh. Lo gak mau kan gue bentak di depan orang banyak!" Kata Manji tiba tiba menghentikkan langkahnya tanpa menoleh. Punggung cowok itu membuat Stella diam untuk beberapa saat.
Stella menegang. Benar yang diucapkan Manji. Hal yang paling dia benci adalah kekalahan di depan banyak orang. Dia harus menahan diri. Tapi bagaimana pun pilihan yang di berikan Manji sangat sulit.
Dia tidak mungkin minta maaf pada gadis miskin itu. Tidak pernah ada dalam kamus hidupnya Stella meminta maaf pada seseorang. Justru orang lain lah yang harus berlutut dan memohon kepadanya. Jika dia meminta maaf pada Flo. Gadis itu pasti akan semakin besar kepala. Sial, ini semua gara gara mulut embernya Farel.
.
bersambung
__ADS_1