Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Pembalasan Farel


__ADS_3

Apa lo udah bener bener ikhlas gue jadian sama Widya, Flo? Sepertinya lo terlihat baik baik aja. Sepertinya dugaan gue selama ini salah kalau lo juga punya rasa yang sama kaya gue. Apa cuman gue yang patah hati disini..


Reihand menarik nafas panjang, seketika sesak memenuhi rongga dadanya.


"Gimana? kalian mau kan ikut ke kafenya nyokap nya Reihand? makin rame makin seru kan?" Tanya Widya pada Meira dan Flo. Dia menatap kedua teman di depannya itu secara bergantian.


Flo tersenyum dan mengangguk. Ini ajakan pertama dari Widya setelah mereka ribut kemarin kemarin, dia tidak enak jika menolaknya. Sementara Meira diam beberapa saat.


"Gue tanya Arga dulu ya Wid. Gue gak janji, lo tahu kan Arga gak bisa ngebiarin gue kelayapan sembarangan abis pulang kuliah." Kata Meira.


"Yaah, yaudah ntar kabarin aja kalau bisa. Nanti kita kumpul di parkiran ya?"


"Oke."


Istirahat pertama telah datang.


Widya langsung mengajak Reihand ke kantin. Sementara Meira dan Flo masih berada di dalam kelas. Flo memutuskan untuk tetap tinggal disitu sebentar lagi karna dia masih mau menyalin materi kelas yang kemarin tidak dia hadiri karna sakit.


"Flo.." Meira membuka suaranya setelah beberapa saat mereka hanya terdiam disana.


Kelas sudah mulai sepi, karna sebagian teman temannya sudah berhamburan ke tempat lain.


"Ada apa, Mei?"


"Lo ngerasa ada yang aneh gak sama Widya?"


Flo menghentikan ketikan tangannya di keyboard laptopnya.


"Aneh gimana Mei?" Tanya Flo. Kemudian tangannya sudah sibuk lagi menyalin materi.


"Ya, aneh aja. Kenapa dia berubahnya cepet banget ya.. Apa terjadi sesuatu ya?"


Flo tersenyum lalu menatap Meira lurus.


"Gak ada yang aneh Mei, gue gak mau mikir macem macem sekarang. Gue bahagia hubungan gue sama Widya jadi membaik dengan dia bersikap welcome lagi sama gue. Kaya gini aja udah cukup buat gue Mei, gua gak mau mikir yang aneh aneh.."


Meira terdiam, benar kata Flo, harusnya dia senang Widya bisa bersikap baik lagi pada Flo, tapi sejujurnya di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa curiga pada perubahan sikap Widya. Tapi apa alasannya Meira sendiri tidak tahu.


"Udah nih, yuk ke kantin, lo laper kan?" Kata Flo sambil menutup laptopnya.


Meira mengangguk, kemudian dia berdiri dan menggandeng Flo jalan ke luar kelas.


Di perpustakaan.


Stella berjalan ke dalam ruangan yang penuh dengan buku buku ini seorang diri. Hari ini dia malas ke kantin dan lebih memilih untuk tidur di pojokan perpustakaan.


Suasana saat itu di dalam perpus lumayan agak rame. Stella berjalan ke deretan rak rak buku di bagian pojok ruangan. Disitu tempat buku buku bersejarah. Jarang ada yang membaca buku disana.


Akhirnya dia pun memilih tempat itu untuk beristirahat sejenak. Hari ini dia tidak enak badan. Gara gara Arga membentaknya kemarin, dia jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Tukang bully sekalinya kena damprat ternyata malah langsung down begini.


Stella berjalan diantara deretan dua rak. Dia duduk dilantai perpus dan menyenderkan punggungnya di salah satu sisi rak. Kakinya dia selonjor kan ke depan. Sambil menarik nafas dalam dalam, dia membayangkan wajah marah Manji saat menyuruhnya menjauh kemarin dan itu berhasil membuatnya terisak lagi.


"Ternyata bisa nangis juga ya lo!" Sebuah suara berat berhasil membuatnya menoleh.


Stella tersentak. Dia sangat hafal betul suara itu.


Kontan kedua matanya terbelalak saat mendapati wajah Farel terlihat diantara celah kosong deretan buku buku yang di susun rapi di lemari yang ada belakang punggungnya. Pria itu sedang menatapnya dengan senyum yang mengejek.


"Najis! kenapa gue bisa ketemu kunyuk kayak elo disini!" Desis Stella kesal.


Farel tertawa puas melihat kekesalan di wajahnya.


Saat Stella mendongak, tau tau pria itu sudah ada dihadapannya.


"Kenapa muka lo asem banget? abis lo di omelin si Manji ya?" Tanya Farel, yang jelas itu hanya basa basi, karna tanpa bertanya pun Farel sudah tau jawabannya.


"Diem lo! dasar tukang ngadu!"


"Masih mending dong tukang ngadu, daripada tukang bully kaya elo!"


"Elo!" Stella menunjuk wajah Manji geram dengan jari telunjuknya.


"Weits santai dong Stell. Inget ya segalak apapun elo, gue ini cowok. Lo harusnya lebih hati hati ketika berhadapan berduaan gini sama gue kan?" Farel mengangkat satu alisnya dan tersenyum manis ke hadapan Stella.


Tapi Stella tahu betul senyum yang diberikan Farel itu sama sekali bukan senyum ramah melainkan senyum yang membawa pertanda tidak baik, dari raut wajahnya Stella sudah bisa menebak kalau Farel sepertinya mau nantangin perang terbuka sama dia. Kayaknya belum puas nih cowok udah ngaduin dia ke Manji soap Flo kemarin.


"Gue gak takut sama lo!" Tantang Stella dengan mengangkat dagunya tinggi tinggi. Padahal hatinya agak sedikit ngeri melihat postur tubuh Farel yang tinggi besar. Dia bisa saja menang adu bocor dengannya tapi kalau adu kekuatan, Stella sudah pasti tidak akan bisa menang.


Farel mendesis jengkel. Ternyata memang tidak gampang membuat Stella jera. Bahkan setelah tertangkap basah melakukan kesalahan besar pun dia masih punya nyali untuk melawan. Benar benar gadis yang tidak tahu malu. Kayaknya kalau mau bikin dia benar benar insaf adalah dengan mengikuti cara mainnya, seketika sebuah ide jail muncul di kepalanya.


"Bener lo gak takut sama gue?" Farel membungkukkan badannya ke hadapan Stella. Gadis itu tak bergeming. Dia harus pasang badan pura pura tidak takut.


Dia adalah ketua geng mahasiswi yang terkenal akan kekuasaannya di kalangan para mahasiswi lain, gengsi dong kalau sampai takluk di hadapan cowok yang bukan siapa siapa ini.


"Mau ngapain lo? sana pergi jangan deket deket gue!" Stella mengibaskan tangannya.


"Kalau gue gak mau gimana? lagian ini perpus emang ya punya nenek moyang lo apa? Gue juga boleh kali duduk disini."


"Yaudah cari tempat lain sana. Masih banyak tempat kosongkan disana!" Stella menunjuk bangku dan meja di dekat pintu masuk yang memang disediakan oleh kampus bagi mahasiswa dan mahasiswinya yang mau menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan.


"Gue maunya disini gimana dong?" Kata Farel sambil menjatuhkan pantatnya tepat disebelah tempat duduk Stella.


Gadis itu melotot kaget.


"Lo ngapain sih deket deket gue!"


Di dorongnya tubuh Farel agar menjauh, tapi cowok itu sepertinya memang sengaja melakukannya agar dia kesal.


"Lo kan bisa berbuat seenaknya sama orang lain, sekarang lo rasain nih, gimana rasanya di semena-menain sama orang, enak gak?" Farel mengangkat dagunya sambil tersenyum puas.


"Lo tuh ya, nyebelin banget tau. Minggir!" Stella mendorong tubuh Manji lagi tapi cowok itu malah semakin merapatkan tubuhnya hingga Stella harus mundur beberapa jengkal ke pinggir.


Brugh


Pergerakan tubuhnya terhenti saat dia menoleh ke arah samping ternyata dia sudah sampai di ujung tembok. Dengan berang dia melotot ke arah Stella.


"Minggir lo! atau gak gue bakal teria..."


"Hmmpt" Mulut Stella keburu dibungkam paksa oleh tangan Farel.


Gadis itu terbelalak. Hanya sepasang matanya yang terlihat menyorotkan protes keras.


Dia mencoba menyingkirkan tangan Farel dari mulutnya tapi tenaga laki laki ini ternyata begitu kuat. Dia kewalahan dan Farel malah sepertinya menikmati kepanikan diwajahnya.


"Ayo, katanya lo gak takut sama gue. Lawan dong gue. Gue padahal gak ngeluarin tenaga sama sekali loh." seulas senyum tipis muncul di wajah Farel yang indonesia banget.


Farel punya wajah tulen indonesia. Ayahnya yang jawa asli bertemu dengan ibunya yang orang asli palembang, membuatnya punya tekstur wajah yang begitu rupawan.


"Gue kan udah bilang Stell, jangan semena mena. Di atas langit tuh masih ada langit, kalau gue mau macem-macemin lo sekarang, bisa aja sih. Tapi sayang..lo.."


Farel melepaskan tangannya dari mulut Stella. Gadis itu terbatuk, sudut matanya sudah mulai mengenang butiran air mata.

__ADS_1


Farel kembali mendekatkan wajahnya ke hadapan Stella. Saking dekatnya Stella bisa merasakan hembusan nafas Farel menerpa wajahnya. Cowok ini ternyata lebih berbahaya dari Manji dan Arga.


Farel melanjutkan kata katanya yang sempat menggantung tadi. "Lo bukan tipe gue! anak manja yang suka pamer uang orang tua, tukang bully, bermuka dua dan egois macam elo. Adalah cewek yang paling pengen gue tabok!"


Sepasang mata Farel yang biasanya terlihat jenaka kini menatap nyalang ke arahnya dengan tatapan yang bisa meruntuhkan keberanian Stella dalam sekejap.


Hah?


Stella terperangah. Niat hatinya ke perpustakaan untuk menenangkan hati, dia malah bertemu dengan cowok rese ini. Dan ternyata di luar dugaannya, cowok ini lebih menyeramkan dari teman temannya yang lain.


"Lo mau main kekerasan sama cewek? banci banget lo." Muka Stella sudah pucat tapi bibirnya ternyata masih mampu menjawab omongan Manji.


Farel malah tertawa.


"Lo ngerasa lo cewek Stell? kalau gitu kenapa lo gak bersikap kaya cewek cewek yang lain? gue liat cewek cewek yang lain gak kaya lo deh sifatnya."


"Emang gue kenapa?"


"Masih nanya lagi, mau gue tabok beneran?" Desis Farel semakin menajamkan tatapannya.


Yang di tatap nyawanya mungkin sudah berada di ubun ubun, siap melayang saking ketakutannya.


Farel menahan senyum geli melihat reaksi Stella. Ternyata mempan juga cara yang ini.


"Lo udah paham kan Stell sekarang?" Dengan tatapan tajamnya yang masih terarah pada Stella. Farel mendekatkan kembali wajahnya hingga menghilangkan jarak yang tadinya satu senti menjadi setengahnya.


Stella menciut. Dia sudah tidak berani menjawab kata kata Farel lagi. Keberaniannya sudah menguap ke udara seiring Farel lebih memajukan bibirnya, nyaris kedua bibir mereka saling bersentuhan. Stella benar benar dilanda ketakutan yang amat sangat saat ini.


"Mau apa lo Rel!"


"Gue mau kasih lo pelajaran! Lain kali kalau main main, inget batasan ya Stell." Kata Farel kalem.


Stella masih tak bergeming, bergerak sedikit saja, bibirnya sudah pasti akan bersentuhan dengan bibir cowok tengil ini.


Farel tersenyum jumawa. Setelah melihat lawannya takluk. Dia segera menarik kembali wajahnya dari hadapan cewek itu.


"Oke, gue cabut! bosan ah disini!"


Farel berdiri kemudian mulai melangkah meninggalkan Stella.


Gadis itu terperangah. Dia kepalkan kedua tangannya kuat kuat.


"Dasar sinting! lo pikir lo siapa beraninya ngancem gue! Gue Stella, bokap gue salah satu orang yang juga memegang saham di kampus ini! lo cuman anak yang di buang sama keluarga lo! meski pun lo kaya, tapi lo gak bisa apa apa karna keluarga lo udah ngebuang lo. Dasar belagu!" Katanya membuat Farel kembali menoleh.


Stella pikir kalimatnya tidak akan di dengar oleh cowok itu karna dia memaki Farel barusan dengan suara lirih, tapi ternyata pendengaran Farel sangat tajam.


"Ck! nyusahin aja sih lo. Udah gue bilang berkali kali tapi masih aja batu." Cowok itu padahal tadi sudah pergi tapi mendengar kata kata Stella dia mengurungkan niatnya. Kembali ke tempat gadis itu.


Stella berdiri. Astaga kenapa mulutnya keceplosan lagi.


Dia malah membuat situasinya jadi semakin mencekam.


"Coba ulangi? gue anak buangan?" Farel menatapnya tajam, kini cowok itu sudah meringsek maju menabrakkan dirinya pada Stella.


Kata kata Stella yang mengatainya anak buangan membuatnya berang. Berani beraninya dia membawa bawa statusnya ke dalam masalah ini.


Lagi pula siapa yang anak buangan? Farel memang sengaja tidak tinggal dirumahnya dan memilih tinggal sendiri bukan karna dia di buang tapi memang pilihan hidupnya yang ingin bebas. Tapi sepertinya ada seseorang yang sengaja menyiramkan bensin di bara api yang menyala. Gosip yang sudah beredar sejak setahun belakang itu tak juga mereda.


"Gue bukan anak buangan!" Kata Farel geram.


Stella menubruk lemari dibelakangnya karna Farel terus maju. Akibatnya buku buku di atas tubuh Stella berjatuhan bebas ke arah gadis itu.


Farel mendongak dan terperanjat ketika melihat gadis itu akan tenggelam bersama buku yang jatuh diatasnya kalau saja dia tidak segera maju dan membungkukkan badanya diatas Stella.


Buku buku itu berjatuhan mengenai punggung Farel. Stella memejamkan matanya ketakutan. Dengan tangan gemetar dia membenamkan wajahnya di dada cowok itu.


Sesaat Farel hanya diam membiarkan.


Hingga akhirnya suara buku buku yang jatuh itu tidak terdengar lagi.


Stella mendongakkan wajahnya. Seketika dia bertatapan dengan sepasang mata hitam pekat milik Farel.


"Lo mau nyuri nyuri kesempatan ya?" Desis Farel membuat Stella sadar jika jarak mereka saat ini begitu dekat.


Sontak dia menjauh dari cowok itu. Dengan menggelengkan kepalanya dia menatap Farel ketakutan.


"Lo sinting Rel! lo nyeremin tau!" Stella mundur beberapa langkah tepat ketika dia hendak lari tangan Farel mencegatnya.


"Mau apa lagi? lepas!"


"Enak aja minta lepas, noh liat buku buku itu emangnya bisa jalan sendiri ke lemari." Kata Farel sambil menunjuk buku buku yang telah tergeletak jatuh dari atas lemari.


Bu Ning sang penjaga perpus menghampiri pojok ruangan karna mendengar suara ribut ribut. Dia kaget saat sampai diantara kedua lemari yang letaknya memang agak menyempil di pojok ruangan perpus itu.


Dengan mulut ternganga dan mata yang membulat sempurna, Bu Ning menghampiri kedua orang yang terlihat di antara rak itu.


"Kalian berdua ngapain sih? kenapa bisa sampai berantakan gini buku bukunya?"


Farel terlihat tenang, sambil menyunggingkan senyum manis dia menghampiri Bu Ning.


"Bu, suruh cewek itu yang buat beresin ini semua, soalnya tadi saya lihat dia sengaja ngobrak ngabrik buku buku ini, dilempar sama dia ke lantai, katanya mau nyari satu buku tapi gak ketemu. Udah saya bilangin jangan di acak acak, tapi emang dia mah bebal bu, gak bisa diomongin apalagi di kasih tau.." Kata Farel sambil menatap Stella dengan seringai mengerikan.


Bu Ning langsung melotot ke arah Stella dengan tatapan marah. Dia tidak terima tempatnya di buat berantakan oleh cewek ini.


Stella pucat pasi saat menyadari Farel sudah menjebaknya. Sialan nih cowok, pake acara fitnah dia segala lagi. Padahal gara gara tadi yang udah bikin Stella menabrak lemari dan akhirnya buku buku ini jatuh ke lantai.


"Farel lo janga.."


"Apa Stell? lo mau minta tolong gue buat beresin buku buku ini? ogah ah, gue masih banyak tugas yang belum gue kerjain. Saya permisi dulu ya bu. Sisanya ibu urus aja cewek ini." Farel pamit dengan sopan kepada Bu Ning sambil menyalami tangannya.


Bu Ning tampak bingung. Dia masih tidak paham kalau Farel sengaja pergi untuk menghindari hukumannya.


"Kamu mau kemana? bantu dia beresin buku buku ini?" Kata Bu Ning akhirnya saat dia tersadar.


Tapi Farel menggeleng sambil tersenyum manis.


"Bu, kan dia yang udah bikin buku buku ini berantakan, masa saya yang kena getahnya. Saya masih ada tugas kan saya udah bilang tadi. Saya permisi dulu ya, daaah Stella." Farel mengedipkan satu matanya pada Stella sebel pergi.


Kemarahan Stella memuncak, tak peduli sekarang dia sedang berada di dalam sebuah perpustakaan.


"Dasar cowok sinting!" Teriak Stella meluapkan segala emosi di dadanya yang sejak tadi dia tahan.


Bu Ning mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam. Wajahnya sudah merah padam melihat tingkah Stella yang berbuat salah malah masih bisa teriak teriak di dalam perpus.


"Stella! kamu bersihkan dan rapihkan kembali buku buku kini ke dalam rak. Kalau sampai kamu kabur kaya cowok itu, Ibu bakal laporin kamu sama Pak Rektor! Ibu gak main main ya Stell."


Mendengar ancaman Bu Ning barusan membuat Stella sontak lemas seketika. Dengan sangat terpaksa akhirnya dia harus membereskan buku buku ini dan mengembalikannya ke dalam lemari di sampingnya. Dia tidak mau berurusan dengan Pak Rektor alias ayahnya Arga itu. Berurusan dengan anaknya saja sudah membuat Stella tidak bisa berkutik apalagi ayahnya. Ih menyeramkan. Stella bergidik ngeri.


"Kalau belum selesai, jangan coba coba kabur ya Stell, awas! Ibu bakal terus ngawasin kamu!" Ancam Ibu Ning sebelum berlalu meninggalkan Stella sendirian.


Stella terduduk jatuh ke atas lantai. Sial, sepertinya sejak dia mengerjai Flo, dia malah selalu kena apes.

__ADS_1


Entah kelebihan apa yang Flo punya hingga semua orang selalu membelanya. Padahal menurut Stella, dia jauh di atas Flo dalam segala hal.


Gadis itu hanya gadis miskin penjaga salon di pinggir jalan. Dalam harta atau pun fisik jelas tidak bisa di bandingkan dengan dirinya yang punya segalanya.


"Awas ya lo, Flo. Gue akan bikin perhitungan serius sama lo!" Gumam Stella pelan. Amarah di dadanya memuncak lagi kalau ingat Flo.


Gara gara gadis itu hidupnya jadi berantakan. Segala usahanya mengerjai cewek itu selalu sia sia. Manji bahkan sekarsng marah besar padanya dan menyuruhnya untuk tidak muncul lagi dihadapannya.


Stella terisak. Nelangsa berat menyadari nasibnya.


Akhirnya siang itu jam istirahatnya dia habiskan di dalam perpustakaan untuk membereskan kekacauan yang Farel tinggalkan.


.


Sementara itu di lorong.


Farel terbahak setiap kali mengingat kejadian tadi.


"Bahahaaha rasain lo Stell..."


"Hahahaha!" Kembali Farel tertawa sendiri.


Semua orang yang sedang ada di lorong menatapnya heran.


"Lo kesambet Rel?" Tanya Suneo, cowok berkacamata yang kebetulan jalan di depannya. Cowok itu sampai menghentikan langkahnya dengan kening berkerut, dia menghampiri teman sekelasnya itu.


Mendengar dugaan Suneo Farel malah semakin terbahak.


"Emangnya tampang gue kaya orang conge yang suka kesambet ya?"


Suneo menggelengkan kepalanya sambil garuk garuk kepala.


Farel menpuk bahunya dari belakang.


"Dah lah gue duluan ya, dimana Manji sama Arga, lo liat gak?" Tanya Farel.


Suneo mengangguk. "Tadi gue liat mereka udah balik ke kelas sih Rel."


"Yaudah makasih ya!" Farel jalam duluan di depan Suneo, lagi lagi sambil tertawa sangat kencang. Suneo sampai merinding melihatnya.


Jangan jangan memang bukan kesurupan, melainkan gejala awal awal orang stres.


Hih, Suneo menggeleng ngeri.


.


Di dalam kelas Farel.


Farel masuk ke dalam kelasnya. Mengendarkan pandangan dan ternyata memang benar kata Suneo tadi. Kedua temannya itu sudah ada di dalam sana. Sedang terlihat duduk mengobrol sambil menunggu bel pelajaran kedua di mulai.


Segera Farel menghampiri mereka berdua dengan langkah tergesa gesa dan tawa yang sedari tadi tak lepas dari mulutnya.


"Hahahaha.."Farel tertawa terpingkal pingkal. Dia mengambil tempat duduk di seberang meja Arga dan Manji lalu menariknya mendekat ke arah dua sohibnya itu.


Kening Arga dan Manji jadi berkerut.


"Kenapa lo? dateng dateng ketawa kaya orang habis menang undian aja!" Kata Manji sambil menatap Farel heran.


"Ah, basi undian mah. Ini lebih seru dari itu. Hahaha lo berdua pasti gak akan percaya apa yang barusan gue lakuin sama Stella."


"Stella?" Kening Manji dan Arga semakin keriting mendengar penjelasan Farel yang setengah setengah.


"Kenapa dengan Stella? lo apain tuh anak Rel?" Manji menatap curiga.


Farel berhenti tertawa lalu gantian menatap kedua temannya dengan tatapan lurus.


Dia mendekatkan wajahnya ke arah mereka berdua sambil mengubah gaya bicaranya yang biasanya nyeleneh itu kini terlihat dangat serius.


"Gue abis bikin perhitungan sama betina satu ini, tadi gue kerjain dia di perpustakaan."


"Lo cium ya tuh anak?" Potong Manji.


Farel langsung menjulurkan lidahnya meniru gaya orang yang sedang muntah.


"Ngarang! kebagusan amat gue ngerjain dia dengan cara itu!"


Manji dan Arga tersenyum tipis mendengarnya.


"Terus lo apain dia?" Tanya Arga. Dia menantikan penjelasan Farel selanjutnya.


Dengan senyum jumawa cowok itu menjawabnya.


"Tadi pas di perpus gue takut takutin dia, gue ancem aja kalau dia berani macem macem lagi, bakal gue apa apain. Terus mukanya jadi ketakutan banget hahaha.." Kembali Farel tertawa. Karna menurut dia melihat ekspresi wajah ketar ketirnya Stella membuatnya merasa senang.


"Gila lo ya sampe segitunya, untung aja tuh anak gak pingsan!"


"Ya kalau pingsan tinggal gue tinggalin aja tuh anak di perpus!"


"Jahat banget lo!" Dengus Manji tapi dia malah ikutan ketawa juga. Akhirnya tuh anak bisa di kerasin juga.


"Terus anaknya kemana sekarang?" Tanya Arga. Dia ikut ketawa karna merasa kabar yang dibawa Farel kali ini memang membuatnya cukup senang. Si biang onar itu sesekali memang harus dikasih pelajaran agar tidak semakin semena mens.


"Masih di perpus, paling lagi dihukum sama Bu Ning suruh beresin buku buku yang tadi jatoh dari lemari."


"Emangnya dia ngapain sampai di suruh beresin buku buku segala?" Arga tak paham.


"Tadi tuh pas gue takut takutin dia malah nyenggol lemari di belakang badannya.. yah lo bisa tebak sendiri lah kelanjutannya."


"Sinting lo Rel! bhahaha." Manji tertawa keras.


"Iyalah biarin aja, biar tau rasa. Tenang gue masih punya banyak stok buat ngerjain dia kalau dia sampe berani macem macem lagi ke depannya." Desis Farel sambil mengangkat satu alisnya tinggi tinggi.


Arga kontan menepuk pundaknya pelan sambil berbisik di telinganya.


"Hati hati Rel, gue kasih nasihat sama lo biar gak nyesel, jangan terlalu berlebihan benci sama dia, soalnya lo gak bakal pernah tau apa yang bakal terjadi ke depan. Soalnya benci sama cinta itu beda tipis!"


Farel membuang nafas kasar mendengar perkataan Arga barusan. Dalam hati dia menolak mentah mentah pendapat Arga itu.


"Amit amit gue sama nenek lampir?" Farel menunjuk dirinya sendiri sambil menatap Manji dan Arga bergantian.


"Mending gue sama si Suneo!" Kata Farel sambil menirukan gaya melambai yang centil. Nah si objek pembicaraan kebetulan baru datang ke kelas itu, Suneo mematung melihat sikap Farel yang lagi lagi aneh.


"Ya, kan Suneo? mending gue sama elo aja dah!" Tanya Farel sambil mengedipkan matanya.


Suneo menegang.


"Tuhkan udah gue bilang si Farel kesurupan!" Ucapnya sambil lari keluar kelas.


"Hahahaha!" Sontak Manji dan Arga terbahak melihat tingkah konyol sababatnya itu.


bersambung..

__ADS_1


gimana nih readers, setuju gak kalau Farel sama Stella aja biar gak gangguin Manji sama Flo lagi? haha jangan ngamuk ya sama othor..


__ADS_2