Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Cemburu


__ADS_3

"Meira!" Meta tersentak kaget, kedua bola matanya melebar menyaksikan sosok yang berdiri dihadapannya.


Meira mematung dibelakang punggung Arga, dia baru saja kembali dari dapur setelah mengambil sebotol air dingin.


Pemandangan di depan matanya membuat Meira terbelalak. Kakak iparnya Meta seperti sedang berusaha menempelkan bibirnya di bibir Arga suaminya. Dan yang membuatnya sakit adalah ketika melihat Arga sepertinya hanya diam saja tak memberikan penolakan apapun.


"Meira! bu.. bukankah kau tadi sedang di dalam kamar?" Meta tergagap, dia refleks mundur beberapa langkah.


Arga langsung berbalik dan menatap Meira, sudut mata gadis itu mulai tergenang butiran bening. Sepertinya Meira sedang berusaha menahan tangis.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanyanya lagi dengan suara serak.


Meira masih mematung ditempatnya.


"Mei, ini.. ini gak seperti yang kamu pikirin. Tadi.. tadi saya gak sengaja.."


"Mau nyium Arga?!" Potong Meira.


"Engga bukan Mei bukan!" Sanggah Meta buru buru.


Meira menatap Arga, laki laki itu malah terlihat santai dan tak berusaha sedikitpun membela dirinya. Meira mengepalkan lengannya.


"Terus apa? malem malem gini kalian ngapain disini?"


Arga menggertakan giginya. Dia lalu berjalan menghampiri Meira dan menarik salah satu lengannya.


"Lepaaas, jangan sentuh gue!" Kilahnya. Meira menepis lengan Arga dan menghempaskannya sekuat tenanga.


Arga hanya menahan tawa melihat sikap Meira.


Meta panik, dia terus melihat ke arah lantai bawah. Dia takut keributan ini akan ketahuan oleh Andrew. Bagaimanapun dia tadi memang sedang berusaha menggoda Arga. Jika sampai Andrew tahu maka habislah riwayatnya dirumah ini.


"Lo.." Meira menunjuk wajah Arga.


Namun belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Arga sudah menggendong tubuhnya dengan paksa.


"Arga! turunin gue!!!" Pekiknya marah, namun Arga malah senyam senyum sendiri.


Dia menggendong tubuh Meira masuk ke dalam kamar.


Namun saat sampai di depan pintu langkahnya terhenti.


"Meta, apa lo gak tau setiap sisi rumah ini ada kamera pengawas? berterima kasihlah pada Meira, berkat kedatangannya, kamu tidak jadi di tendang dari rumah ini." Ucap Arga tanpa menoleh sedikitpun.


Setelah mengatakan itu, Arga kembali melanjutkan langkahnya.


Meta terbelalak. Lututnya tiba tiba lemas. Jadi Arga tadi sengaja diam saja untuk menjebaknya. Sialan! Dia ternyata lebih licik dari yang Meta bayangkan.


Brak


Arga menggebrak pintu dan langsung menurunkan Meira setelah sampai di dalam kamar.


Meira menatapnya penuh emosi.


Arga menarik nafas panjang. Dia berjalan ke arah Meira dan mencoba menyentuh pipi gadisnya itu.


"Jangan Sentuh gue!" Desahnya penuh emosi.


Kali ini Arga tak bisa lagi menahan tawanya.


"Kenapa lo malah ketawa? ada yang lucu? gue lagi marah tau!"


"Marah kenapa?" Arga menghentikan tawanya lalu menatap intens ke arah Meira.


Meira hanya diam. Tengsin dia mengakui jika sebenarnya dia sekarang sedang cemburu berat. Entah kenapa hatinya begitu sakit saat melihat Arga hendak dicium Meta tadi. Dia bahkan tak bisa mengendalikan emosinya saat ini.

__ADS_1


Meira melipat kedua tangannya didada, bibirnya monyong beberapa senti kedepan. Dia kesal teramat kesal pada Arga. Kenapa dia tidak peka sekali sii? aku sedang cemburu tau! gumamnya dalam hati.


Arga menggelengkan kepalanya lalu mulai melepas satu persatu kancing kemejanya.


Meira melirik dengan sudut matanya. Dia mundur beberapa langkah namun Arga dengan seulas senyum nakal malah berjalan mendekatinya.


Kini kancing kemejanya telah terlepas sempurna hingga tubuhnya yang bak roti sobek bisa terekspose dengan jelas dibalik kemeja putihnya itu.


Meira masih berusaha mundur hingga akhirnya langkahnya terpaksa terhenti karna sudah tidak ada jarak lagi antara dirinya dan dinding kamar dibelakangnya.


Arga menyandarkan satu tangannya diatas tembok dan mengunci kepala meira disana, Meira menahan nafasnya.


"Kenapa? lo cemburu sama Meta?" Tanya Arga lembut. Salah satu tangan pria itu mulai turun dan hendak menyentuh wajah Meira. Namun Meira langsung menepisnya dengan secepat kilat.


Lagi lagi Arga terkekeh. Meira menautkan kedua alisnya. Bingung harus menghadapi Arga dengan cara bagaimana lagi.


"Lo kenapa sih gak bisa serius dikit! kenapa dari tadi malah ketawa terus? emang ada yang lucu? gue lagi serius tau gak!" Cerocos Meira tanpa henti. Gadis itu melotot hingga kedua bola matanya nyaris keluar.


Arga membungkukkan wajahnya, Meira tersingkap, buru buru dia tamengi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia tidak mau luluh karna harus bertatapan sedekat itu dengan Arga.


Arga tersenyum, lalu dengan lembut dia buka kedua tangan Meira yang menghalangi wajahnya.


Kini mereka saling bersitatap. Tak ada lagi tawa yang menjengkelkan diwajah Arga. Raut wajahnya sekarang berubah serius.


Dipandangnya Meira dengan sorot mata minta maaf.


Buru buru Meira memalingkan wajahnya.


"Mei.." Tegurnya halus.


Meira degdegan. Tidak pernah dia mendengar Arga memanggil namanya dengan selembut itu.


"Liat gue!" Perintahnya. Di peganginya wajah Meira dengan kedua tangannya.


Kini Meira sudah tidak bisa mengelak. Meira menarik nafas panjang. Ini bagian paling menyebalkan karna dia pasti akan cepat luluh saat bertatapan dengan Arga.


"Gue udah pernah bilangkan, tubuh dan perasaan ini cuman milik lo." Ucapnya sambil mengelus pucuk kepala Meira.


Kedua pipi Meira memerah.


Deg! Ya Tuhan! kayaknya gue harus pergi kerumah sakit, nanya nanya kali aja ada jantung nganggur, soalnya kayaknya jantung gue sebentar lagi bakal tamat karna terlalu sering berdebar melebihi batas ketentuan maksimum.


"Lo cemburu? Lucu juga sih, sering sering aja ya.." Pintanya sambil menahan tawa.


"Kenapa emang?" Meira mengerutkan keningnya.


"Karna kalau lo lagi cemburu, lo mirip monyet yang abis direbut makanannya! haha!"


Tawanya kemudian meledak, apalagi melihat Meira semakin meradang, dipukulnya dada Arga dengan membabi buta.


"Dasar ngeselin!" Balas Meira galak. Tidak bisakah dia serius dikit!


"Ok, ok gue minta maaf Mei, gue cuman becanda." Msih terdengar sisa tawa dari mulut laki laki tampan dihadapannya.


"Enggak!" Jawabnya ketus.


"Mei.." Lagi lagi memanggil dengan suara begitu lembut.


"Engga!" Masih terus memukuli dada Arga dengan kedua tangannya.


"MEI!" Panggilnya, kali ini suaranya terdengar lebih kencang namun tetap lembut.


Akhirnya Arga mencengkram kedua pergelangan tangan Meira, barulah gadis itu berhenti dan mau menatapnya.


"Liat mata gue, apa lo gak liat cuman ada lo disana?" Ucap Arga sambil menatap Meira dengan lurus.

__ADS_1


Wajahnya yang jenaka tadi sudah menghilang.


Meira langsung membeku. Jantungnya kembali berdegup kencang.


"Terus kenapa tadi lo gak ngehindar pas dia mau.."


Meira memenggal kalimatnya.


"Mau apa?"


"Itu.."


"Nyium gue?" Potong Arga. Meira mengangguk.


Arga tersenyum lembut sambil membelai pipi Meira.


"Gue cuman mau bikin Meta kapok, kalau gue punya satu bukti aja, udah lebih dari cukup buat nendang dia keluar dari rumah ini."


"Maksud lo apa Ga?"


"Meta gak pernah cinta sama Andrew, Mei."


Meira mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud perkataan arga.


"Jadi?"


"Yang dia suka itu gue."


Meira terbelalak, tak lama dia langsung tertawa terbahak.


"Kenapa ketawa? ada yang lucu?" Kini gantian Arga yang merasa bingung.


"Iya, lucu. Lagian aneh, kalau dia emang gak suka sama Andrew dan sukanya sama lo, kenapa dia harus mengorbankan dirinya buat nikah sama orang yang gak dia sayang. Apa tujuannya?"


Arga menghela nafas panjang.


"Justru itu yang mau gue tau.."


Meira langsung terdiam. Keliatannya yang Arga ucapkan bukanlah omong kosong. Meira kemudian mengingat kilas balik saat beberapa waktu lalu berpapasan dengan Meta.


Kakak iparnya itu emang agak aneh, saat dirinya menanyakan soal Arga, mata wanita itu terlihat begitu antusias. Seolah dia begitu tertarik dengan Arga.


"Jadi.. dia emang beneran suka sama lo?" Ucapnya masih tak menyangka.


Arga mengangguk pelan. Meira menarik nafas panjang. Pikirannya jadi gamang. Baru saja dia merasakan jatuh cinta, kenapa saingannya sudah sebanyak ini. Novi saja belum selesai sekarang malah kakak iparnya sendiri!


"Kenapa malah ngelamun?" Tanya Arga saat melihat Meira hanya diam saja.


"Gak apa apa." jawab Meira tertunduk. Sejujurnya dia sangat cemburu saat ini.


Ada sedikit khawatir di dalam hatinya, bagaimana kalau Arga sampai tergoda oleh salah satu wanita wanita yang menyukainya itu? apalagi tadi Meta begitu nekat. Dia tidak sanggup membayangkan jika sampai sesuatu terjadi ketika dia tak ada disamping Arga.


Meira bergeming ketika Arga tiba tiba mengangkat dagunya.


"Buka mulut.." Perintah Arga.


"Hah?" Meira menatap Arga tak mengerti.


Laki laki itu mendekatkan wajahnya, lalu memberikan satu pagutan lembut dibibir Meira.


Meira tersentak. Buru buru dia hendak menghindar namun kedua lengan kekar Arga sudah menahan kepalanya dari belakang.


"Hmmptt" Meira mencoba melepaskan diri. Hampir saja dia kehabisan nafas.


Arga ******* bibirnya dengan sangat brutal. Dia menautkan lidahnya di lidah Meira lalu menyesapnya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Mata itu menatapnya dengan hangat di sela sela ciumannya, melalui ciuman yang dia berikan, Arga sekali lagi meyakinkan Meira tentang perasaannya, bahwa dirinya seutuhnya hanya milik gadis itu.


bersambung


__ADS_2