
Meira langsung berlari menghampiri Arga, tangisnya pun seketika pecah melihat banyaknya darah yang keluar dari telapak tangan suaminya itu.
"Ga! tangan lo Ga! ayo kita obatin dulu!" Meira meraih tangan Arga yang berlumuran cairan merah itu.
Arga bangkit lalu menatap ke arah Reihand sesaat sebelum dirinya pergi.
"Urus dia, jangan sampai dia lepas!"
Reihand mengangguk, tak lama Manji dan Farel datang membantu untuk mengamankan Bima.
Tawuran pun selesai dan dimenangkan oleh anak anak Mandala.
"Kita kerumah sakit sekarang ya?" Ucap Meira saat mereka sudah berada di dalam sebuah taksi. Karna luka ditangannya Arga memilih untuk meninggalkan motor gedenya diparkiran kampus.
"Engga, kita pulang aja. Ini cuman luka kecil."
"Tapi darahnya terus keluar, pak kita kerumah sakit sekarang!" Meira tak memperdulikan Arga, dia berbicara pada sang sopir.
"Nggak usah pak, langsung ke jalan pramuka aja!" Arga bersikukuh, akhirnya Meira pun mengalah dan mengikuti keinginan dari Arga untuk segera pulang kerumah.
Meira meraih pergelangan tangan Arga yang berdarah lalu berusaha menutup sayatan dj telapak tangan Arga dengan ujung bajunya. Setidaknya dia berharap pendarahannya berhenti.
Arga bisa merasakan tubuh Meira bergetar hebat, tangis dipipi gadis itu pun masih mengalir deras.
"Pak bisa lebih cepet gak bawa mobilnya?! buruan ya pak ngebut aja gak apa apa!" Meira melirik sopir dan dengan wajah panik.
Pak sopir hanya mengangguk dan dapat dirasakan mobil pun menaikkan kecepatannya.
Seperti tersihir, Arga tak sadar mengangkat tangannya yang lain dan menghapus air mata di pipi Meira.
Meira terdiam lalu pandangan mereka saling bertubrukan sesaat. Namun buru buru Arga memutus kontak mata itu dengan memalingkan wajahnya ke depan.
"Jangan cengeng, gue gak apa apa." Ucapnya dingin.
Sepuluh menit kemudian taksi yang membawa mereka berdua pun sampai di depan rumah kediaman keluarga Alexander.
Meira membantu Arga turun dari mobil. Lusi yang sedang duduk diruang tv kaget melihat banyaknya darah yang bercecer dari tangan Arga.
"Kau kenapa lagi Arga?" Tanyanya Lusi, dia langsung mematikan televisi, lalu kemudian berjalan menghampiri anak tirinya itu.
"Biasa." Jawab Arga acuh.
Dia pun langsung naik ke lantai atas diikuti tatap dingin dari Lusi.
"Aku mau obatin tangan Arga dulu mah, permisi." Meira buru buru menyusul keatas.
__ADS_1
Setelah itu Lusi langsung mengambil ponselnya dikamar dan menelpon nomor Andrew.
Dia penasaran yang baru saja terjadi pada Arga apakah ulah dari Andrew.
"Halo, mah? ada apa?" Tanya Andrew diseberang telpon.
"Ndrew, kamu tau gak si Arga baru balik dari kampus dia babak belur banget! tangan tuh anak kayaknya habis disabet benda tajam, mamah liat darahnya banyak banget, ini ulah kamu bukan?" To the poin Lusi langsung bertanya ke intinya.
"Hah kok aku? aku malah baru tau dari mamah, dia mah babak belur gara gara abis tawuran kali mah!" Jawab Andrew.
"Ouh, kirain ulah kamu Ndrew. Mamah cuman pengen tau aja."
"Mamah nelpon aku cuman mau nanyain itu doang? yaudah aku tutup dulu telponnya ya."
"Iya, Ndrew, sorry ya mamah ganggu, kamu belum keluar kantor?"
"Belum mah, paling nanti jam tujuh malam aku balik."
"Okey, sampai jumpa dirumah."
"Iya mah." Andrew pun menutup panggilan telponnya. Dia bersandar dipunggung kursi kerjanya sambil menatap ke langit langit ruang kantornya.
Gara gara berita yang ibunya sampaikan soal Arga barusan membuat Andrew kepikiran. Apa mungkin ini ulahnya Bima? sudah beberapa hari ini pria itu susah untuk dihubungi.
Panggilan keluar terlihat muncul dilayar ponselnya, namun tak lama panggilan itu terputus.
"Sial, nomornya masih gak aktif, kemana sebenernya si bangsat itu? kerjaannya gak ada yang beres satupun! argh sial!!!!" Andrew menyapu semua benda yang ada di atas meja kerjanya dengan membabi buta, berkas berkas seketika berceceran ke lantai, amarah di dadanya memuncak ketika dia teringat kembali kegagalan Bima dalam menjalankan misinya menghabisi Arga.
Coba saja Bima berhasil membuat Arga tiada, posisi sebagai pewaris utama keluarga Alexander pasti sudah jatuh ke dalam genggamannya.
Sementara itu di dalam kamar Arga
Meira mengambil kotak medis yang dia simpan di lemari, lalu kemudian bergegas keluar kamar untuk mengambil air hangat dari dapur.
Saat kembali ke kamar, Arga sudah membuka kemejanya yang telah berubah warna senada dengan warna darah, Merah.
Arga duduk dipinggir kasur, meskipun terlihat tenang namun Meira tahu Arga cukup kesakitan akibat serangan Bima tadi.
"Ga, sini tangan kamu!" Meira duduk disebelah Arga. Dia mulai membuka kotak medis dan mengeluarkan kain kasa juga peralatan lainnya untuk membersihkan luka ditelapak tangan pria itu.
Arga mengulurkan tangannya, sementara matanya fokus menatap Meira yang sedang sibuk membalurkan revanol ke atas luka sayatannya.
"Aw!" Pekiknya. Membuat Meira seketika menoleh cemas.
"Perih ya?" Meira meniup niup telapak tangan itu berharap udara yang lewat dari celah bibirnya bisa sedikit mengurangi perih goresan ditangan Arga.
__ADS_1
Namun dia tak sadar tindakannya itu justru membuat Arga tersenyum kecil, lumayan lama dia memandangi gadis disebelahnya itu, terkesima lebih tepatnya.
Tanpa sadar lengannya sudah berada di pucuk kepala Meira, mengelus pelan rambut panjang itu.
Meira terdongak keget, seketika mata mereka saling bertubrukan.
"Ada sesuatu di kepala kamu tadi." Tukas Arga berbohong.
Dia pun merasa aneh, kenapa tiba tiba dia jadi salah tingkah begini, padahal kemarin dia masih begitu membenci gadis ini.
Apa gara gara serpihan ingatannya dulu yang tadi sempat muncul dikepalanya yang membuatnya perlahan mulai penasaran pada sosok Meira, sebenarnya sepenting apa gadis ini dalam hidupnya?
"Udah selesai Ga, kamu mau makan gak? aku bawain kesini ya?" Meira memasukan kembali alat alat medis ke dalam kotak putih, dia sudah selesai membalut luka Arga.
Arga menggeleng, dia pun berdiri dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil handuk.
"Kamu mau mandi? yaudah aku ambil plastik dulu ya biar gak basah perbannya." Meira hendak berlari keluar kamar namun Arga dengan cepat menghalangi langkahnya.
Dia sudah sampai di depan pintu lebih dulu sebelum Meira berhasil meraih gagang pintu, tubuh jangkungnya kini menghalangi jalan keluar.
"Eits, mau kemana?"
Meira mengerutkan keningnya.
"Mau ke dapur ngambil plastik buat tangan kamu, percuma dong diobatin kalau langsung basah kena air lagi! gimana sih?"
Arga menggoyangkan jari telunjuknya.
"No no no! aku gak butuh plastik. Nih!" Arga melempar handuk ke wajah Meira.
Sret
Meira melongo, masih tak paham dengan maksud Arga.
"Bantuin aku mandi!" Ucap Arga sambil mendekatkan wajahnya.
Meira tersentak dan mundur beberapa langkah.
"Engga aku gak mau!"
"Ini bukan pilihan, ini perintah. Dan kamu pasti tau kalau aku paling gak suka dibantah!"
Dengan senyum smrik Arga mendekat dan langsung menggendong tubuh Meira ke dalam pelukannya.
Dia pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tak dipedulikannya Meira yang masih berusaha meronta untuk diturunkan.
__ADS_1