
Manji garuk garuk kepala, tiba tiba suasana menjadi canggung saat Flo mundur kebelakang seolah menghindari sentuhan tangan Manji.
"Maaf Flo, gue refleks tadi.."
"Iya, gak apa ji.." Flo tersenyum keki. Dia juga kaget pada tindakannya sendiri, kenapa dia menghindar? padahal Manji cuman mau memeriksa keningnya saja.
"Flo itu kaget ji, padahal dia seneng banget kamu perhatiin, hihi." Widya menarik tangan Flo untuk kembali mendekat ke arah Manji, tak peduli Flo yang menggeleng sambil memohon untuk tak membuatnya tambah jadi pusat perhatian.
Sementara di sisi lapangan paling ujung, Stella, gadis yang kemarin terlihat sangat dekat dengan Manji, wajahnya cemberut berat. Sepertinya dugaannya kemarin itu benar, Manji suka pada cewek itu.
"Stell, itu kayaknya anak fakultas ekonomi deh, sahabat istrinya si Arga yang namanya Meira itu kan? gue sering banget liat mereka bertiga kemana mana soalnya, ada hubungan apa si Manji sama dia, kayaknya Manji perhatian banget.." bisik teman Stella yang bernama Anna.
Stella mengepalkan tangannya kuat kuat menahan gejolak cemburu yang luar biasa di dadanya.
Sudah hampir dua tahun dia mendekati Manji dengan berbagai cara sampai akhirnya bisa di posisi ini, diposisi sebagai teman tapi mesra.
Dia pikir Manji akan segera menjadi miliknya selangkah lagi, cukup selangkah lagi saja! tapi sepertinya Manji memang tidak berniat menjadikannya satu satunya, sampai di detik ini pun hanya dia yang merasa menyukai Manji sendirian sementara Manji tidak pernah sekalipun mengucapkan rasa sayang kepadanya.
Dia tidak pernah menolaknya tapi juga tidak pernah mengatakan tidak menyukainya.
Begitulah Manji menjadikan hubungannya abu abu, meski yang lain melihatnya berbeda, Stella adalah satu cewek yang di biarkan dekat dengan Manji tanpa jarak, sangat dekat bahkan terlalu dekat.
Padahal sesungguhnya yang Stella rasakan adalah kehampaan, senyum Manji, juga perhatian cowok itu memang untuknya tapi hatinya..sama sekali tidak terjangkau!
Stella semakin was was setiap kali ada cewek lain yang mencoba mendekati Manji, walaupun kebanyakan dari mereka hanya bisa mendekati Manji sampai ditahap kenalan saja, karna sebelum cewek cewek itu bisa melangkah lebih jauh, Stella sudah lebih dulu bergerak memukul mundur mental cewek cewek itu sampai hancur.
Contohnya yang terjadi pada Tiwi, anak fakultas seni itu terang terangan memberikan perhatian perhatian kecil seperti menyiapkan bekal untuk Manji atau melukis gambar Manji di kanvas dengan bakat seninya yang luar biasa.
Bisa di tebak selanjutnya Stella turun tangan, Stella suatu hari membuat tangan Tiwi cedera, tentu saja dengan penyerangan yang dibungkus seolah olah itu sebuah kecelakaan.
Stella menyewa seorang preman untuk menjambret Tiwi di jalan, tangan gadis itu terluka parah karna memberikan perlawanan pada orang suruhannya Tiwi.
Semenjak kejadian itu, Tiwi tidak berani lagi mendekati Manji, bukan hanya takut, tapi dia juga merasa terancam hidupnya, dua buah tangan yang masih berfungsi normal bagi seorang pelukis bukankah lebih berharga dari sebuah nyawa?
"Hati hati Wi, si Stella kan juga suka sama Manji, tuh anak deketin Manji lebih dulu dari elo, hati hati aja, dia kalau udah merasa terancam, tuh anak bisa nekat, serem." Suatu hari salah satu teman sekelasnya datang memperingatkan dengan tatapan khawatir.
Dia tahu keluarga Stella adalah salah satu keluarga dengan latar belakang yang terpandang, ayahnya seorang Mentri dan ibunya adalah pengusaha di bidang Fashion, dengan uang dan kekuasaan yang dia miliki, Stella bisa melakukan apapun.
"Lo akan terima akibatnya kalau lo berani melangkah lebih dari ini!" Suatu hari Stella datang memperingatkannya dengan sebuah senyuman, senyuman yang begitu mengancam.
Semenjak hari itu dia sering mendapatkan intimidasi melalui telpon atau pesan pesan masuk di ponselnya, dan Tiwi kini sadar satu hal, sepertinya dia tahu siapa dalang dibalik penyerangan dirinya waktu itu, pasti ada hubungannya dengan ancaman yang diberikan Stella.
"Siapa sih dia? cari tau info tentang anak itu!" pinta Stella pada teman disebelahnya. Wajahnya cemberut berat, dia kesal dan teramat marah melihat Manji perhatian pada gadis bernama Flo itu.
Latihan pun kembali dimulai, seluruh pemain kembali ke tempat masing masing. Manji pamit ke tengah lapangan sambil memutar-mutar bola basket diatas jari telunjuknya dia terus menatap Flo lurus.
Flo jadi salting juga saat Manji tak berhenti memalingkan wajah darinya. Baru setelah salah satu timnya menepuk pundaknya, cowok itu pun balik badan dan berlari ke posisinya.
"Wid, kita pulang sekarang aja yuk!" ajak Flo, dia sudah mulai tidak nyaman dengan tatapan tatapan sinis dari cewek cewek sekitarnya.
"Kok pulang? enggak ah! orang belum selesai juga latihan basketnya!" Tolak Widya sambil mempererat cengkeramannya di tangan Flo. Dia tidak mau Flo kabur meninggalkan lapangan.
"Ah, elo Wid!" desisnya pelan. Menggerutu pun kayaknya percuma, karna Widya memborgol tangannya dengan sangat erat.
Flo menarik napas panjang, pasrah. Akhirnya dia mengikuti kemauan Widya menonton latihan itu sampai akhir.
"Eh, Flo. Cewek yang kemaren yang kata lo deket sama Manji itu yang mana?" tanya Widya sambil berbisik ditelinga Flo.
Flo terdiam, lalu kemudian sepasang matanya berkeliaran ke segala arah. Dia mencari cari sosok cewek itu, dan pandangannya seketika berhenti tepat dipojok lapangan, sepertinya itu menjadi tempat favoritnya karna cewek itu berdiri di tempat yang sama seperti kemarin.
"Tuh ada di pojok kanan Wid, yang rambutnya di kuncir satu pake tang top item!" bisik Flo sambil menunjuk ke arah pojokan.
Widya mengikuti ekor mata Flo.
"Oh, yang itu, itu si Stella kan?!"
"Iya, bener namanya Stella, eh kok lo tau sih?" Flo menoleh kaget, menyipitkan matanya dan menatap penasaran ke arah Widya.
"Iya lah gue tau, kan Stella anaknya temen nyokap gue, nyokap gue sering banget tuh belanja di butik punya keluarganya dia Flo.." jawab Widya santai.
Flo mengangguk angguk mendengar penjelasan Widya, berarti latar belakang keluarga Stella adalah dari orang orang seperti Widya, sekelas dengan sahabatnya, orang orang berduit.
Flo memperhatikan Stella, gadis itu cantik, memiliki wajah oriental yang sangat khas, kulitnya yang seputih kapas jelas tidak bisa disandingkan dengan Flo yang memiliki kulit khas indonesia banget, kuning langsat.
__ADS_1
"Flo tenang aja! gue bakal cari tau apa kah bener tuh si Stella udah jadian sama Manji atau cuman deket aja, lo gak usah khawatir." kata Widya berusaha menghibur Flo.
Flo mengangkat satu alisnya, lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Emangnya gue terlihat khawatir ya? gue gak apa apa kok Manji udah punya pacar, gak apa apa banget malah..
Flo terperangah, tubuhnya menegang, tunggu dulu! apa tadi kata hatinya? 'gak apa apa Manji punya pacar?'
Flo syok sendiri, lalu sepasang matanya melirik ke arah Manji yang tengah sibuk latihan basket di lapangan, kemarin wajah itu begitu gampang membuatnya terpesona bahkan nyaris selalu menjerit histeris tiap kali melihatnya, tapi tadi apa yang dikatakan hatinya? dia ikhlas melihat Manji punya pacar..
Apa mungkin perasaan Flo sudah tidak sama lagi, setelah itu dia beralih melihat ke arah Reihand teman sekelasnya, seseorang yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
Flo meraba dadanya sendiri, jantung Flo tiba tiba berdegup sangat kencang, nafas Flo tercekat di tenggorokan, dia terpesona, bahkan Reihand seperti punya magnet kuat yang membuat Flo tanpa sadar terus mengikuti pergerakan langkahnya.
Tapi kemudian keterpesonaannya dia enyahkan jauh jauh, Flo mengerjapkan matanya sambil menggeleng kuat.
Tidak! ini tidak benar! Widya sangat menyukai Reihand, dia tidak boleh memiliki perasaan apapun pada Reihand, Widya akan sedih dan Flo tidak mau itu terjadi.
Lagi pula ciuman itu juga tidak berarti apapun, Reihand pasti menciumnya hanya karna kebetulan di ingin.
Akhirnya sepanjang menonton latihan basket itu Flo hanya banyak diam, sementara Widya dengan antusias terus meneriaki nama Reihand berkali kali.
Jam 18.05 menit.
Lampu lampu kampus telah dinyalakan di berbagai sudut bangunan.
Lapangan masih terlihat ramai, latihan basket telah usai. Beberapa cewek langsung berkerumun ke tengah lapangan menghampiri beberapa pemain idolanya.
Salah satunya Reihand dan Manji.
Flo masih mematung ditempatnya namun sedetik kemudian Widya menarik lengannya dengan paksa, pontang panting Flo berusaha mengejar langkah Widya yang sangat gesit.
"Ayo, Flo! kita ke Reihand!" lengan Flo terus ditarik hingga akhirnya mereka sampai ditempat Reihand dan teman temannya yang sedang duduk beristirahat sejenak.
Flo sengaja melepaskan cengkraman tangan Widya, dia memilih untuk diam berdiri dibelakang kerumunan cewek cewek penggemar Reihand, sementara Widya tetap maju menerobos kerumunan itu dengan mengibaskan kedua tangannya, Widya mencoba menyingkirkan cewek cewek yang sedang bejubel membentuk lingkaran mengelilingi Reihand dan anak anak basket yang lain.
"Minggir! minggir!" teriak Widya sambil terus berjalan maju hingga akhirnya dia sampai persis di hadapan Reihand.
Buset! Flo tergagap tak mampu berkata kata, ternyata keberanian Widya patut diacungi empat jempol!
Mereka tak terima Widya menyela antrian yang sudah mereka buat lebih dulu.
Widya hanya menoleh sambil memeletkan lidahnya.
"We, bodoamat!" sahut Widya sambil memalingkan wajahnya tak perduli.
Flo terkekeh geli. Tapi kemudian dia membisu saat melihat Reihand membuka baju basketnya sehingga dada dan perutnya yang berotot bisa terekspos semua mata, kontan lapangan kembali riuh, cewek cewek kembali histeris gak jelas, melihat tatapan mata cewek cewek itu membuat Reihand lama lama risih juga, buru buru Reihand mengambil kaos hitam dari dalam ranselnya dan segera memakainya.
"Berisik banget!" desisnya yang lama lama jengkel juga.
Flo masih berdiri di belakang, melihat Widya mendekat ke arah Reihand, entah sejak kapan ditangan Widya ada sebotol air mineral.
Kening Flo berkerut, perasaan tadi tuh anak gak bawa apa apa! apa jangan jangan dia udah persiapan bawain tuh air di dalam tasnya.
"Reihand.." sapa Widya sambil tersenyum.
"Eh, Widya.." Reihand menoleh sambil tangannya terus membereskan baju basketnya ke dalam ransel.
"Lo mau balik ya? oiya nih air minum buat lo." Widya mendekat dan mengulurkan air mineral ke hadapan Reihand sambil tersenyum manis, sangat manis.
Flo memperhatikan dari belakang sambil berdoa semoga usaha sahabatnya itu untuk mendekati Reihand berhasil.
"Ouh, thanks ya Wid, gak usah repot repot padahal." kata Reihand sambil menerima air mineral itu dari tangan Widya.
"Lo mau balik Rei?" Widya mengulangi pertanyaannya, karna sebenarnya ada maksud terselubung dibalik pertanyaannya itu, dia ingin Reihand menawarinya untuk pulang bareng.
"Iya, nih." Jawab Reihand sambil berdiri, dia pun berjalan melewati kerumunan cewek cewek yang kecewa karna tidak digubris sama sekali oleh Reihand.
Widya ikut membuntuti langkah Reihand di belakang.
"Rei, lo mau langsung pulang?" tanya Widya sekali lagi, dia sudah mulai bete karna sepertinya Reihand masih belum paham maksud dari pertanyaannya.
Reihand terus berjalan sampai akhirnya dia berhenti secara mendadak saat melihat Flo berdiri dihadapannya, mendadak berhentinya Reihand itu membuat tubuh Widya yang sedang berjalan cepat di belakangnya kontan bertubrukan keras dengan punggungnya.
__ADS_1
"Aw!" pekik Widya sambil memegangi hidungnya yang terasa senat senut.
Tapi Reihand malah tak menggubrisnya, pandangannya lurus menatap Flo.
Keduanya mematung saling bersitatap dan diam untuk beberapa saat.
Jantung Flo kembali berdetak kencang begitupun dengan Reihand, meskipun raut wajahnya terlihat begitu tenang, tapi siapa sangka di dalam dadanya sedang bergemuruh hebat irama jantung yang mulai tak bisa dikondisikan.
Dia bahkan harus mengatur nafasnya sedemikian rupa demi menyembunyikan kegugupannya.
"Flo.. kamu belum balik?" akhirnya Reihand yang membuka mulutnya lebih dulu.
Flo hanya menggelengkan kepalanya.
"Rei.. lo mau langsung balik? gue boleh ikut nebeng gak Rei?" Widya tiba tiba datang mendekat dan memeluk salah satu lengan Reihand, gadis itu menatapnya penuh harap.
Melihat Reihand sama sekali tidak menjawab pertanyaannya akhirnya Widya nekat. Persetan lah dengan harga diri, dia sudah tidak peduli!
Flo terhenyak, sepasang matanya menatap tangan Widya yang sedang bergelayut manja disalah satu lengan Reihand. Entah kenapa hatinya tiba tiba sakit, tapi Flo tetap berusaha mengendalikan diri.
"Nebeng?" Reihand akhirnya menoleh juga ke arah Widya.
"Iya, Reihand. Gue lagi sedikit gak enak badan nih, boleh gak gue nebeng pulang sam lo, lo bawa motor kan?" tanya Widya kepada Reihand, tapi matanya malah menatap Flo dengan tampang memelas yang penuh arti.
Untungnya Flo langsung paham, dia mengerti Widya sedang mencoba meminta dukungannya untuk pulang bareng Reihand.
"Iya Rei, tolong anterin Widya pulang ya, kasihan dia tadi kepalanya agak pusing katanya." kata Flo kepada Reihand.
"Kalau sakit kenapa maksain nonton sampai malem gini Wid?" desis Reihand merasa heran, karna keliatannya Widya baik baik aja.
"Emang gak boleh ya gue nontonin lo latihan?"
"Boleh Wid, tapi lo kan harus lebih merhatiin kesehatan.."
"Yaudah gak apa apa kok kalau gak mau nganterin balik!" sela Widya, wajahnya mendadak cemberut berat.
"Bukan gitu Wid, yaudah yaudah gue anterin balik ya." ucap Reihand akhirnya, tak enak melihat teman sekelasnya itu merajuk.
"Beneran lo mau nganterin gue balik Rei?" tanya Widya antusias, binar bahagia dimatanya muncul lagi.
"Iya, bener." jawab Reihand sambil tersenyum.
Widya pun kembali mendekat dan memeluk salah satu lengan Reihand.
Flo menggigit bibir bawahnya, kenapa hatinya tidak bisa diajak berkompromi sih! kenapa rasanya sakit sekali.
"Flo, kita duluan ya!" Widya memandang Flo dengan tatapan penuh arti. Matanya menunjuk ke arah lorong yang terhubung dengan gerbang depan, Gih cepet pergi dari sini Flo! begitu Flo menangkap arti sorot mata Widya.
"Iya, Wid, hati hati ya, gue juga duluan ya..gue lupa udah mesen ojeg tadi di depan, dah!" kata Flo berbohong, Flo melambai dan langsung balik badan.
Tapi Reihand yang tersadar segera melepaskan tangan Widya yang masih menggelayut di lengannya,dia kemudian mengejar Flo yang tengah berlari sekencang kencangnya.
Flo yang fokus berlari tak memperdulikan Reihand yang terus memanggil namanya dari belakang,
Gerakan Flo sangat cepat, tapi tidak sulit bagi Reihand untuk menangkap Flo, dia berhasil meraih salah satu tangan gadis itu dan mencengkeramnya dengan kuat, akhirnya langkah Flo terhenti di tengah lorong.
Dengan nafas yang memburu Flo menatap Reihand.
"lo mau kemana Flo? gue anter pulang juga ya?" kata Reihand lembut.
Flo tidak langsung menjawab, dia malah menatap Widya yang baru saja sampai dibelakang punggung Reihand.
Widya menggeleng sambil kedua tangannya menyilang di depan dada.
"Jangan mau Flo" Kata Widya tanpa suara, dia hanya menggerakkan mulutnya.
Flo segera melepaskan cengkeraman tangan Reihand.
"Maaf, Rei. Gue udah pesen ojeg online! sorry.. gue duluan ya!"
Dengan menahan tangisnya Flo kembali berbalik dan lari sekencang kencangnya.
Reihand hendak mengejarnya lagi tapi tangan Widya menahan lengannya dengan kuat.
__ADS_1
"Biarin aja Rei.. Flo bisa balik sendiri."