
Bunyi ban berputar terdengar sayup sayup di telinga Meira. Matanya kontan terbelalak sambil terus berusaha memanggil nama Arga berkali kali namun hasilnya nihil, tak ada sahutan sama sekali dari mulut suaminya itu padahal beberapa detik lalu dia dan pria itu baru saja mengobrol bersenda gurau.
"Arga please jawab aku! kamu baik baik ajakan?" Tanya Meira histeris.
Tetap hening tak ada yang menyahut membuat Meira semakin panik.
Dia pun bergegas keluar dan menghampiri kamar ayah mertuanya.
Tok tok tok
"Meira ada apa nak? kenapa kamu keliatan panik banget?" Tanya tuan Heru sambil memakai kacamatanya, dia keluar kamar setelah mendengar Meira memanggil manggil namanya dari luar.
"Pah, Arga pah.." Ucap Meira terbata, tangis mulai membasahi pipinya yang mulus.
"Kenapa Arga?" Tanya Lusi, dia ikut keluar kamar setelah mendengar kegaduhan teriakan Meira.
"Arga tadi.. dia tadi.."
"Iya, Arga kenapa Mei? coba kamu ambil nafas terus tenangin diri kamu dulu baru kamu cerita sama papah." Tuan Heru menepuk nepuk punggung Meira, berusaha menenangkan menantunya itu.
"Arga pah.. dia sepertinya.. terjadi sesuatu pah sama Arga, Arga lagi nyetir mobil sendiri ke arah Villa, aku ngedenger seperti ada benturan benda keras saat kami telponan tadi, karna setelah bunyi itu Arga gak nyahut panggilan aku padahal telpon kami masih tersambung." Meira menyerahkan ponselnya ke tangan tuan Heru.
Dan betapa terkejutnya laki laki tua itu saat melihat di layar ponsel Meira masih ada nama Arga dengan gambar waktu yang masih berjalan, ternyata benar panggilan telpon dari Meira ke ponsel anaknya memang masih terhubung.
Dengan tangan gemetar tuan Heru mendekatkan ponsel Meira ke telinganya.
"Arga, kau disana nak?" Panggil tuan Heru cemas.
Namun benar kata Meira, tidak ada sahutan dari Arga.
Tuan Heru mengusap wajahnya gusar, kini dia menatap layar ponsel Meira dengan pandangan yang benar benar khawatir, beda dengan Lusi, dia seakan bersorak riang di dalam hatinya, jangan jangan ini ulah Andrew, bagus lah biar mampus anak itu! umpat Lusi bahagia.
"Meira, kamu coba telpon terus ya, papah akan suruh orang untuk segera mencari tahu keberadaan Arga disana!" Setelah mengatakan itu tuan Heru langsung bergegas turun ke lantai bawah memanggil beberapa pengawalnya. Dia terlihat sibuk mengerahkan pria pria itu dengan wajah serius.
Meira kembali menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Masih terhubung panggilan telpon pada Arga, dia terduduk lemas dilantai, hatinya benar benar tak tenang sebelum dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu.
Lusi mendekati Meira dan pura pura menenangkannya.
"Sudahlah tak perlu kau pikirkan, Arga pasti baik baik aja Meira, dia kan punya sembilan nyawa."
__ADS_1
"Maksud ibu?" Meira menoleh sinis.
"Ah maksudku dia pasti baik baik aja."
Meira menahan nafas, sesak tiba tiba memenuhi dadanya. Dia berdiri tanpa memperdulikan Lusi, dia tahu Lusi hanya berpura pura simpati.
Meira pun bangkit lalu berjalan kembali ke dalam kamarnya.
Dia memutus panggilan telpon Arga, lalu mencoba panggilan keluar lagi, berharap Arga akan mengangkatnya. Namun hampir setengah jam dia mencoba hasilnya tetap nihil.
Di balkon kamar Andrew
"Bagaimana?" Tanya Andrew tenang. Dia sedang duduk di balkon kamarnya sambil menghisap cerutu di celah jari jarinya.
"Beres! siapkan saja imbalan yang kau janjikan. Aku sudah mengirim Arga menemui almarhum kakaknya." Jawab Bima di sebrang telpon.
Andrew menyeringai puas. Rasanya dia ingin sekali bersorak keras mendengar kabar ini.
Kecelakaan Arga tadi ternyata adalah bagian dari rencananya dengan Bima. Demi menyingkirkan adik tirinya itu dia rela melakukan segala macam cara, termasuk menyewa Bima untuk menghadang mobil Arga dari arah berlawanan.
Bima sudah membuntuti Arga selama seminggu terakhir, dan ketika waktunya pas dia pun melancarkan aksinya.
Namun Andrew tak sadar jika sedari tadi Meta tengah berdiri mematung dibalik jendela, dengan wajah ketakutan dia sudah mendengar semuanya.
Tiga jam berlalu namun masih tak ada kabar juga tentang sang pentolan kampus Mandala itu.
Meira mondar mandir hampi setiap detik karna resah dan gelisah dihatinya. Dia tak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk terjadi, berkali kali dia menggeleng sambil terus melantunkan doa agar Arga secepatnya ditemukan dalam keadaan baik baik saja.
Air mata mengalir deras di kedua pipi mulusnya, dia mencoba untuk terus menelpon nomor Arga, namun kini nomor itu malah tidak bisa dihubungi sama sekali, sepertinya ponsel Arga mati.
"Kamu dimana sih ga?" Tanya Meira sambil terus menatap layar ponselnya dengan wajah cemas.
Tok tok tok
"Meira.." Suara Tuan Heru yang terdengar serak membuat Meira menoleh seketika.
Laki laki tua itu mendekat masuk dari arah pintu dengan langkah gontai, dari wajahnya yang sudah senja itu muncul gurat gurat kesedihan yang selama ini tidak pernah Meira lihat sebelumnya.
Perasaan Meira tiba tiba berubah tidak enak. Dia mengepalkan kedua tangannya yang mulai diliputi keringat dingin.
__ADS_1
"Mei.. Arga.."
"Arga kenapa pah?" Dengan segenap keberanian dia bertanya.
Laki laki itu menatap Meira dengan sorot mata sedih sekaligus kasihan. Walaupun dia tidak tahu apa yang akan disampaikan ayah mertuanya ini namun yang jelas pasti sebuah kabar yang tidak menyenangkan untuk didengar.
"Arga mengalami kecelakaan Mei.. dia masuk ke dalam jurang.." Laki laki itu tertunduk, jelas sekali Meira melihat kedua matanya mengeluarkan cairan bening. Tuan Heru menangis tanpa suara.
Bak disambar petir di siang bolong, jantung Meira seakan hendak berhenti berdetak, dia bahkan tak sadar sudah menjatuhkan ponsel yang sedari tadi digenggamnya.
Mulutnya terbelalak, dia mencoba menggeleng sekuat tenaga.
"Meira.. kau harus kuat nak.." Laki laki mendongak dan mencoba mengusap bahu Meira.
Namun Meira malah berjalan mundur, dia terus menggelengkan kepalanya seperti orang kesetanan.
"Engga vah gak mungkin!"
"Mei.."
"ENGGA! ENGGA MUNGKIN!!!" Teriak Meira histeris sambil menutup kedua telinganya.
Tuan Heru semakin prihatin dia mencoba mendekat dan menenangkan Meira.
"Meira, tenanglah, kau harus tenang nak, yang penting Arga sudah ditemukan sekarang."
Meira terduduk lemas dilantai, seluruh tenaganya tiba tiba hilang, dengan sesegukan dia menangis sejadi jadinya.
"Meira, tenanglah nak.."
"Bagaimana kondisinya pah? dimana Arga sekarang?" Tanya Meira dengan suara tercekat.
Tuan Heru terdiam sesaat. Dia menarik nafas dalam dalam.
"Arga sudah dibawa menuju Rs dikota bogor, papah kesini karna ingin mengajakmu kesana untuk melihat kondisi Arga."
Tanpa membuang waktu lagi, Meira mengusap kedua pipinya yang basah.
"Ayo, pah kita kesana sekarang! aku mau liat keadaan Arga!" Tiba tiba Meira berdiri lalu buru buru menyambar tasnya yang tergeletak diatas meja.
__ADS_1
Dan malam itu akan menjadi malam yang tak akan pernah dilupakan oleh Meira.