
Sena terkekeh geli sekaligus kesal mengingat kejadian semalam. Tapi juga sempat terkejut, Sena merasa Tara yang sombong itu tersenyum, walaupun hanya selintas. Sena merasa itu awal yang bagus, ia yakin bisa membuat Tara Zeldan bertekuk lutut padanya.
Oya, semalam Tara membawanya ke sebuah Hotel ternama di Jakarta, ini bukan tempat yang tak pernah ia kunjungi, karena ia sempat juga beberapa kali menginap disini atau sekedar menghadiri pesta undangan.
Namun satu hal yang ia tak tahu, sepertinya ini hotel milik Tara Zeldan. Tadi malam saat mereka sampai di hotel itu, mereka disambut oleh para karyawan yang membungkuk dan berjajar rapi, Sena sempat mendengar mereka menyapa, 'Selamat Datang, Tuan dan Nyonya", sambil tak berhenti membungkuk.
Hotel ini memiliki tinggi sekitar 30 lantai. Saat kita masuk, kita akan disuguhkan dengan lobby yang sangat mewah, jika dilihat lobby ini bahkan lebih mirip ballroom. Lantainya yang dihiasi karpet tebal bernuansa red-gold, furniture kayu yang minimalis sekaligus mewah, dan lampu crystal super besar tergantung indah diatasnya.
Sena tak ingat ia turun di lantai berapa, yang jelas, saat ia keluar, Sena sempat memperhatikan bahwa hanya ada 2 pintu disana. Bisa kebayang kan seperti apa luasnya setiap kamar disana, pikirnya.
Saat Sena masuk kedalam, sesuai ekspektasinya, ruangan itu sekitar dua kali lipat kamarnya. Didalamnya terdapat tempat tidur berukuran king size, satu set sofa mewah dan minibar di sudut ruangan.
Jam sudah menunjukkan pukul empat subuh, Sena bergegas untuk mandi dan berendam dalam bathtube. Ia butuh membuat tubuhnya menjadi lebih relax.
Tok Tok Tok.. terdengar suara pintu diketuk.
__ADS_1
Sena mengumpat tak suka waktunya terganggu. Tapi melawan bukan hal bijaksana yang bisa ia lakukan sekarang, putusnya. Sena bangkit dari duduknya, membersihkan sisa-sisa sabun yang masih menempel kemudian ia melilitkan handuk pada tubuhnya.
Namun alangkah terkejutnya Sena saat keluar dari pintu kamar mandi dan melihat selusin manusia yang berpakaian pelayan.
Dibandingkan merasa tersanjung, Sena malah merasa jengah dengan semua ini.
"Ini pakaian anda Nona, mari kami bantu Nona untuk berganti." Ucap salah satu pelayan paling depan sambil membawa baju.
Sena mengambil baju itu, "tidak, aku bisa sendiri." jawabnya ketus. Sena kembali kedalam kamar mandi dan berganti pakaian disana.
"Apa ini?!" tanya Sena pada pelayan itu setelah ia kembali ke kamarnya.
"Maaf Nona, Tuan berpesan pada kami untuk membantu Nona bersiap dalam acara siang ini." tuturnya.
Pelayan itu melanjutkan, "Saya membawa beberapa orang dari bagian SPA untuk melakukan perawatan pada tubuh Nona, begitu pun stylish rambut sudah saya siapkan untuk menatap rambut Nona, dan ini gaun yang akan Nona gunakan dalam acara tersebut." ucapnya sambil menunjukkan sebuah gaun pernikahan yang masih melekat pada manekin dihadapannya.
__ADS_1
Entah mengapa Sena samasekali tak merasa senang, bahkan melihat gaun yang bertaburkan ribuan berlian. Sena yakin harganya mencapai puluhan juta. Tapi hatinya tak tergerak, Sena sudah menghapus bersih, kata pernikahan dalam hidupnya. Titik.
Sena tak punya pilihan untuk menolak, akhirnya lagi-lagi dia menuruti kemauan si Raja Sombong, Tara Zeldan, batinnya.
Beberapa jam berselang, Akhirnya Sena selesai pada tahap terakhir, yaitu mengenakan gaun pengantin yang telah dipesan khusus untuknya itu dan sebuah mahkota berwarna silver yang bertahtakan berlian.
Sena mematut dirinya di depan cermin. Ia merasa takjub dengan fitur dirinya, bagaimana tidak wajahnya tirus, mata bulat sempurna, kulit putih, tubuhnya pun tinggi dan langsing, membuat gaun itu benar-benar sangat cocok untuknya.
Tapi ia merasa sedih lagi sekarang, ia merasa dalam cermin itu tampak seperti mami tersayangnya, maminya yang cantik jelita. Sayangnya, Mami tak disini, batinnya. Sena merasa sesak mengingat itu. Hampir saja ia menangis, namun buru-buru ia tahan agar tidak jatuh dan merusak riasannya.
"Nona sangat cantik." ucap seseorang yang meriasnya.
Sena hanya tersenyum tanpa menjawab, setuju dengan apa yang dikatakan wanita itu.
__ADS_1