Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Ternyata Arga tahu semuanya


__ADS_3

Tak lama setelah acar dansa itu selesai, semua memutuskan untuk kembali ke dalam resort.


Di dalam kamar Meira, Arga baru keluar dari kamar mandi, dia habis gosok gigi dan cuci muka.


Meira menunggu di atas ranjang sambil memeluk guling nya.


"Kamu belum tidur sayang?" Arga ikut naik ke atas ranjang dan menyingkirkan guling yang dipeluk Meira.


"Sayang, kenapa guling ku dibuang ke lantai?"


"Peluk aku saja. Aku tidak sudi saingan sama guling jelek itu di atas kasur."


Meira terkikik mendengar perkataan Arga.


Astaga sama guling aja dia cemburu.


"Tidur disini." Arga menepuk nepuk dada bidangnya.


Meira menggeser tubuhnya lebih dekat dan menempelkan kepalanya disana. Detak jantung Arga bisa dia dengar dengan jelas, detak jantung favoritnya. Meira selalu ketagihan mendengar detak jantung suaminya.


"Kau bahagia hari ini?" Tanya Arga, dia mengambil selimut di kakinya lalu membungkus tubuh mereka berdua.


Meira mengangguk cepat.


"Aku sangat bahagia, terima kasih sayang." Meira mengecup pipi Arga sambil tersenyum lebar.


Arga sudah menyiapkan liburan paling indah untuknya, seumur hidup dia mungkin tidak akan punya kesempatan merasakan ini semua kalau bukan karna Arga.


"Aku jadi ingin mengajak keluargaku kemari. Mereka pasti bahagia karna selama ini keluargaku tidak pernah liburan kemana mana, apalagi ibu, dia selalu bekerja selama sisa hidupnya." Kata Meira sambil menghela nafas pendek, tiba tiba wajahnya berubah sedih.


Arga mengacak rambutnya.


"Sudahlah, jangan memasang wajah sedih itu saat di dekatku, lain kali kita ajak semua keluargaku kesini."


Meira menoleh kaget. " Beneran sayang?"


"Iya." Arga mencium kening Meira mesra.


"Dan lagi kau tidak perlu mengkhawatirkan keluargamu, mereka sudah menjalankan usaha dari uang yang aku kirim, aku memantau mereka lagi setelah ingatanku sempat hilang kemarin, usaha mereka ternyata berjalan dengan lancar."


Meira tercengang mendengar penjelasan Arga.


"Kamu serius sayang?"


Argan hanya mengangguk sambil tersenyum hangat.


Meira memandang Arga dengan mata berbinar, ya Tuhan ternyata suamiku adalah seorang malaikat, meskipun dia orang sangat tidak bisa di tebak, tapi hatinya begitu baik, dia tidak pernah melihat Meira sedih.


Dia selalu berbuat baik pada orang lain tapi hebatnya dia tidak pernah mau menunjukkannya.


"Apakah anak ayah juga bahagia hari ini? aku ingin mendengar detak jantungnya di perutmu." Kata Arga tiba tiba, wajahnya terlihat malu saat mengatakan itu.


Arga memindahkan kepala Meira ke atas bantal, dia duduk lalu mengusap perut istrinya dengan lembut.


Meira menarik tangan Arga untuk mendekat ke arah perutnya.

__ADS_1


"Tempelkan saja kepalamu disana sayang. Ajak dia bicara, dia akan dengar semua yang kamu ucapkan. Semakin rajin kamu mengajaknya bicara, dia akan semakin senang."


"Benar, begitu?" Arga tampak kaget. Memangnya bayi yang ada di dalam perut istrinya bisa di ajak ngobrol?


Ragu ragu Arga mendekatkan kepalanya ke atas perut Meira.


Dia menempelkan wajahnya disana, sambil tangan kanannya sibuk mengusap pelan perut itu.


"Apa kau mendengar suara ayah di dalam sana?"


Meira tertawa geli melihat tingkah Arga.


"Hei, kau tidak menjawab ayah? baiklah biar ayah saja yang bicara, dengarkan ayah baik baik. Kau harus bahagia dan tumbuh besar, ayah tidak sabar ingin bertemu denganmu, tapi.."


Arga diam sejenak, dia masih mengusap lembut perut Meira.


"Apa kau bahagia punya ayah seperti aku?"


Meira langsung menggeplak tangan Arga.


"Pertanyaan konyol macam apa itu, jelas saja dia bahagia."


Arga hanya tertawa kecil lalu kemudian diam, dia mengangkat kepalanya dari perut Meira, memandang Meira dengan penuh cinta.


"Terima kasih Meira, kau sudah mau mengandung benih cintaku."


"Kau bicara apa sih!? dia juga anakku tau!bukan hanya milikmu, benih cintaku? bahasa macam apa itu, harusnya kamu mengatakan buah hati kita."


Arga terkekeh lagi.


Arga kembali tiduran dan menyuruh Meira memeluknya.


"Tapi aku benar benar berterima kasih Meira, aku tahu hamil itu tidak mudah, terima kasih sudah mau menjalani peran ini dengan sangat baik."


"Ah, jangan ngomong gitu dong, nanti aku malah nangis!" Meira memukul dada Arga. Dasar, kenapa tiba tiba dia terus mengucapkan terima kasih seperti ini, hati Meira terlalu sensitif untuk mendengar ucapan terima kasih dari Arga.


Harusnya dia yang berterima kasih karna Arga sudah membawa banyak kebahagiaan hingga detik ini.


"Aku menyayangimu Meira.." Arga mengangkat wajahnya dan memberikan pagutan lembut di bibir Meira.


Meira membalasnya, kali ini begitu menikmati ciuman Arga.


"Kau mau tidur atau..?" Arga tersenyum nakal.


Meira menggeleng pelan.


Dia ingin lebih dari sekedar ciuman.


Akhirnya malam itu mereka memadu kasih di atas ranjang. Rintihan kecil keluar dari tubuh Meira saat Arga mempercepat ritme permainannya. Peluh keringat membanjiri tubuh mereka berdua.


Permainan yang panas, penuh dengan cinta dan rasa sayang. Meira begitu menikmati serangan demi serangan yang Arga berikan malam itu.


Hingga akhirnya permainan itu berakhir dengan erangan panjang yang keluar dari mulur Arga.


Meira terengah melayani kebuasan Arga malam ini. Mereka kembali ke dalam selimut tapi kali ini tubuh mereka benar benar polos tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


Meira merasakan hangat kulit Arga saat bersentuhan dengan kulitnya.


Arga mengusap kepalanya lembut.


"Aku mencintaimu Meira, terima kasih sudah mau melayaniku malam ini." Bisik Arga sambil menjilat kuping Meira.


Meira terbelalak lalu menarik wajahnya, geli sekali.


"Dasar nakal!" Meira memukul dada Arga.


"Hahaha" Arga tertawa keras. Dia senang menjahili Meira, mukanya yang galak membuat Arga ingin selalu mengisenginya.


"Sudah tidur lagi disini." Arga menarik kepala Meira kembali ke dadanya, membenamkannya disana.


"Sepertinya Reihand menemukan cintanya juga."


Meira terbelalak. Kenapa tiba tiba Arga membahas Reihand.


"Maksud kamu Widya?"


"Haha" Arga malah tertawa.


"Kenapa ketawa? aku serius sayang, siapa yang kamu maksud? Widya kan?" Tanya Meira, dia pikir Arga mengira Reihand mencintai Widya.


"Bukan Widya tapi Flo."


Kontan Meira membeku, astaga jadi Arga tahu juga yang sebenarnya, tapi dari mana? karna selama ini Flo atau pun Reihand tidak pernah terlihat berdekatan satu sama lain.


"Kamu tau dari mana sayang?"


Arga tersenyum sambil menghembuskan nafas panjang.


"Reihand itu sahabatku Mei, tidak ada yang tau dia lebih baik dari aku, hanya dengan melihat tatapannya ke Flo saja aku sudah bisa menebak isi hatinya."


Glek, Meira tersentak.


"Aku tahu dia tidak menyukai Widya, Reihand sepertinya hanya berusaha menghargai perasaan Widya, temanmu si Flo itu juga sepertinya menyukai Reihand."


Lagi lagi Meira tersentak. Astaga Arga tau segalanya. Tapi kenapa selama ini dia hanya diam? kalau Meira tahu Arga sudah tahu semuanya, dia kan bisa curhat permasalahan Flo pada Arga.


Benar benar suaminya ini tidak bisa di tebak isi kepalanya, dia sangat pintar membaca situasi.


"Sayang, sejak kapan kamu tahu ini?" Tanya Meira penasaran.


"Sejak Reihand memperhatikan Flo di kantin waktu itu."


Meira kehabisan kata, luar biasa dugaan Arga semuanya benar.


"Sayang, sebenarnya.." Meira terdiam, bicara tidak ya sama Arga tentang permasalahan sebenarnya antara Flo, Reihand dan Widya.


"Ada apa?" Tanya Arga.


Sepasang alisnya bertaut saat melihat wajah Meira yang berubah serius.


Akhirnya Meira memutuskan untuk menceritakan semuanya, toh Arga juga sudah tau ini semuanya, tak ada salahnya dia meminta pendapat Arga tentang peliknya cinta segitiga diantara Flo, Reihand dan Widya.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2