Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Rasa yang mulai disadari


__ADS_3

Jam 19.00 wib


Rumah Sakit Melati


Arga menunggu di depan ruang ICU dengan perasaan cemas. Sudah setengah jam dia mondar mandir seperti setrikaan. Hatinya benar benar tak tenang, sesekali matanya terus menatap ke arah pintu ICU, berharap dokter didalam sana segera keluar dengan membawa kabar baik.


Saat mengetahui Meira pingsan tadi, Arga langsung membawanya kemari. Gadis itu memang benar benar ceroboh! Entah ini yang keberapa kalinya selalu berhasil membuatnya khawatir setengah mati karna ulahnya konyolnya.


Klek


Handle pintu dibuka dan tak lama seorang dokter keluar dari dalam ruangan. Dia membuka maskernya dan berjalan ke arah Arga yang sudah menunggu dengan wajah cemas.


"Pak Arga, maaf sudah menunggu lama, pak Arga tenang saja, nona Meira keadaannya sudah tidak apa apa, kami sudah mengobati luka di keningnya, besok pagi juga nona Meira sudah boleh pulang.." Kata Dokter sambil menepuk bahu Arga pelan.


Arga menghembuskan nafas lega, syukurlah Meira tidak apa apa.


"Tidak ada luka dalam kan dok?" Tanya Arga memastikan.


Dokter menggeleng sambil tersenyum.


"Tidak ada, pak Arga tak perlu khawatir."


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan sekarang.." Seorang suster tiba tiba muncul dari dalam ruangan dan membuka kedua sisi pintu ICU agar ranjang tempat Meira berbaring bisa dikeluarkan dari sana.


"Pak Arga, saya pergi keruangan saya dulu ya, kalau butuh sesuatu, pak Arga bisa memanggil saya atau suster yang sedang berjaga."


"Baik, terima kasih dok."


Dokter itu pun bergegas pergi meninggalkan Arga.


Tak berapa lama dua orang suster terlihat mendorong sebuah ranjang keluar dari ruang ICU tersebut.


Arga langsung menghampiri dan ikut membantu mendorong ranjang itu, matanya menatap lurus tubuh Meira yang terlihat sedang tertidur pulas diatas ranjang, wajah Meira tampak sedikit pucat.


Suster pun meninggalkan ruangan setelah memastikan semua alat bantu medis telah terpasang dengan semestinya di badan Meira.


Tinggallah Arga berdiri mematung di sebelah ranjang Meira. Arga mengusap wajahnya dengan cemas. Dia bahkan tak peduli pada pakaian kantornya yang sudah tak berbentuk.


Kilas balik, dia kembali teringat pertemuan pertama dengan gadis ini. Terjebak diantara tawuran, dan entah bagaimana ternyata Meira adalah adik dari orang yang selama ini paling dia salahkan atas kematian kakaknya Stefan.


Niat awalnya menikahi gadis ini hanya untuk balas dendam pada akhirnya malah membuatnya jatuh ke dalam perangkapnya sendiri.


Sepertinya ada yang mulai menggoyahkan pertahanannya, entah bagaimana dia tidak rela jika melihat Meira terluka. Dia tidak bisa mengalihkan pikirannya secara normal lagi.


"Arga.." Ucap Meira pelan.


Arga menoleh kaget saat menyadari Meira sudah membuka matanya.


"Lo udah bangun?" Arga menarik kursi di dekat ranjang lalu duduk persis disebelah bahu Meira.

__ADS_1


"Hmm.." Meira mengangguk pelan.


"Apa kepalanya masih sakit? gue panggil dokter ya buat meriksa?"


"Gak usah Ga, gue udah gak apa apa.."


"Yaudah lo tidur lagi, besok pagi kalau udah mendingan kita balik dari sini."


"Lo gak ngasih tau orang tua gue atau kak siska kan?"


"Mau gue kasih tau?"


Meira langsung menggeleng.


"Yaudah gak usah lo pikirin, gue gak bilang siapa siapa lo masuk rumah sakit. Gak ada yang nyariin lo juga!" Dengus Arga.


Meira melotot kesal mendengarnya, nih cowok gak ada empatinya sedikitpun!


Arga membuka jas kemejanya yang terlihat sangat kotor.


Dia berdiri sambil menelpon seseorang di sebrang sana.


Tak lama dia kembali duduk disebelah Meira. Arga menatap Meira dengan lurus.


"Dinda gimana keadaannya?" Tanya Meira mengalihkan pandangan, sejujurnya dia sangat gugup ditatap seperti itu oleh Arga.


"Lo udah kayak gini masih bisa nanyain keadaan dia? Dinda selamet sentosa gak ada yang lecet sedikitpun!" Arga menggeleng kesal. Kenapa Meira begitu lemot, apa dia tidak sadar yang sebenarnya harus dia khawatirkan selain dirinya sendiri adalah orang yang saat ini ada dihadapannya.


"Kenapa sih emang? kan gue cuman khawatir!"


"Ck!" Arga berdecak sebal.


Meira melirik diam diam, dilihatnya kemeja putih polos Arga kini sudah berubah bentuk dan warna. Sebagian warna putih itu telah hilang di tutupi noda noda darah dan debu yang menempel akibat tawuran tadi siang.


Yang membuatnya terbelalak adalah ketika matanya terfokus pada bagian leher Arga yang kelihatan lecet dan agak memar. Tiba tiba Meira teringat lagi kejadian mengerikan saat Arga terkena gebukan balok dibelakang punggungnya.


"Ga coba kemari!" Pinta Meira.


Meira mencoba meraih salah satu lengan Arga. Arga menoleh spontan.


Gadis itu lalu memutar badannya membelakangi tubuhnya. Meira menyibak kemeja Arga demi melihat kondisi punggung laki laki itu.


Benar saja dugaannya, hampir saja dia menjerit histeris ketika mendapati punggung kekar suaminya itu terlihat membiru dan banyak bekas bekas pukulan disana. Refleks Meira menutup mulutnya sendiri. Kini raut wajahnya berubah cemas.


"Ga, punggung lo harus diobatin!" Ucap Meira cemas. Dia hendak menekan bel untuk memanggil suster namun lengannya langsung dicegat oleh Arga.


"Gak perlu!" Arga menatapnya lurus, kini wajah mereka saling berhadapan, begitu dekat, hingga Meira bisa merasakan hembusan nafas Arga menerpa kulitnya. Membuat bulu kuduknya seketika berdiri tegak.


"Ta.. tapi.."

__ADS_1


Arga langsung menutup bibir Meira dengan salah satu jari telunjuknya.


"Bodoh! apa otak lo gak pernah dipake buat mikir? baru sadar kalau gue juga luka?" Suaranya masih terdengar kesal.


Meira jadi semakin bersalah. Karna terlalu mengkhawatirkan Dinda dia malah lupa pada keadaan Arga, orang yang begitu berjasa menyelamatkan hidupnya dari serangan laki laki bertopeng itu.


"Maaf ya Ga..dan makasih udah nyelametin gue.." Kata Meira tulus.


"Makasihnya gitu doang?"


"Maksudnya?" Meira menatap bingung.


"Belum cukup!" Ucapnya getas.


"Apanya?"


"Gue gak mau cuman kata kata doang, lo gak liat badan gue bonyok gini demi nyelametin orang ceroboh kayak lo!" Kata Arga dramatis. Wajahnya yang tadi tenang berpura pura menahan sakit sambil menunjuk ke belakang punggungnya sendiri.


"Terus gue harus ngapain?" Tanyanya lirih.


Arga memutar kedua bola matanya, berpura pura berpikir sambil mengetuk ngetuk dagunya sendiri.


"Gue mau.."


Tok tok tok


Tiba tiba ketukan pintu terdengar.


Arga dan Meira menoleh berbarengan ke arah pintu. Arga memutar badannya lalu menghampiri pintu dan membukanya.


Meira sempat melihat seorang pengawal berdiri tepat didepan pintu sambil menyerahkan sebuah tas ke tangan Arga. Setelah bercakap sesaat, Arga kembali menutup pintu.


"Apa itu?" Meira melihat penasaran ke arah tas hitam yang dibawa Arga ke dalam ruangan.


"Baju buat ganti." Jawab Arga sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.


Kini dada bidangnya bisa terlihat dengan jelas. Spontan Meira langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Degup jantungnya mulai berdisko lagi.


Arga tersenyum smirk sambil mendekat ke arah ranjang.


"Siapin diri lo! gue mau minta imbalan setelah mandi nanti. Ucapan terima kasih aja gak cukup nona Meira!"


Glek


Meira menelan ludah berat. Mati aku!


bersambung.


Hai reader setiaku, maaf tidak sering upload beberapa waktu ini, dukung terus ya novel ini dengan cara vote, like dan tinggalkan komen biar aku terus semangat upnya, terima kasih, salam cinta dari thor^^>

__ADS_1


__ADS_2