
"Emang gue gak pernah percaya lagi sama kata kata Lo nyet!" Reihand menarik tubuh Arga dan menyeretnya menuju halaman belakang ditempat makan itu.
Reihand benar benar kalap, dia sudah tidak ingin menahan dirinya lagi untuk memancing keributan dengan sang mantan sahabat.
Arga hanya pasrah sambil membiarkan Reihand meluapkan segala emosinya, karna dia tahu kebungkamannya selama ini memang sudah membuah kesalah pahaman yang cukup fatal diantara mereka. Namun mau bagaimana lagi, ini adalah amanat dari Viona sendiri.
"Please ga, gue mohon kasih tahu Reihand dan keluarga gue nanti kalau lo emang udah bener bener gak tahan nanggung semuanya, tapi biarin setelah ini Bima menyesali dulu kesalahannya, seandainya setelah beberapa tahun dia gak juga mau ngakuin anak ini, gue mohon sama lo, gue mohon kasih tau semua orang tentang kebenarannya!"
Sepenggal kata kata Viona di dalam percakapn telpon yang terakhir kali itulah yang membuat Arga akhirnya bungkam dan membiarkan isu miring menimpa dirinya beberapa tahu silam.
Dia tak menyangka setelah melakukan panggilan telpon itu Viona ternyata sedang sekarat dirumahnya, dan benar saja tak lama dia mendapatkan kabar kalau Viona telah bunuh diri bersama bayi di dalam kandungannya.
"Kenapa Ga? Kenapa harus Viona sepupu gue?" Dengan amarah memuncak, juga dengan kilatan mata yang siap membunuh bagai elang yang terbang bebas ke arah mangsanya.
Arga pasrah saat satu pukulan dari tangan mantan sahabatnya itu melayang keras ke arahnya. Arga pasrah dan seketika jatuh terjerembab ke rerumputan dibawahnya. Darah segar terlihat merembes lagi keluar dari kain kasa yang membalut kepala belakangnya. Tampaknya jahitan dibelakang kepalanya jebol lagi.
Arga memejamkan matanya mencoba menahan rasa sakit yang teramat dalam diarea kepalanya.
Namun sesuatu yang hangat tiba tiba jatuh diatas pelipisnya. Perlahan Arga membuka kedua matanya, tertegun. Reihand, yang sedang menindih tubuh dan berlutut diatasnya, menangis tanpa suara.
"Lo tau gak Ga, Tante gue Irene nyokapnya Viona, dia bahkan masih sering nangis sampai hari ini, dia menangisi kepergian anak semata wayangnya! dan lo tau paman gue juga masih suka sedih kalau lagi ngebahas soal anaknya itu.."
Arga menelan ludah yang bercampur darah. Dia menatap Reihand yang terlihat emosional.
"Kenapa harus Viona sih Ga? kenapa hah? padahal cewek lo banyak banget waktu itu! kenapa harus sepupu gue!?"
Kali ini teriakan Reihand membuat Arga meringis. Dulu dia memang playboy, namun semenjak bertemu dengan Viona, dia sudah berhenti menjadi laki laki brengsek.
Dia mengagumi Viona secara diam diam, merekapun menjalin hubungan tanpa status selama beberapa bulan sampai akhirnya Arga tau ternyata Viona sudah berpacaran dengan Bima yang tak lain adalah teman satu tongkrongannya saat itu dengan Reihand.
__ADS_1
Bima, yang ternyata saat ini telah berganti status menjadi sahabat baik Reihand menggantikan posisinya.
Reihand menarik kerah baju Arga hingga kepala Arga sedikit terangkat, lalu dengan salah satu lututnya ditekannya dada Arga kuat kuat hingga mantan sahabatnya itu terpekik nyeri.
"Brengsek lo Ga!" Reihand menundukkan kepalanya, berbisik ngeri di salah satu daun telinga Arga.
Arga malah tersenyum mengejek.
"Yang brengsek itu bukan gue Rei, tapi elo!" Balasnya sengit.
"Maksud lo?" Reihand menyipitkan matanya menatap Arga dengan tatapan tidak mengerti.
Kali ini Arga tertawa tanpa suara.
"Lo bahkan gak tau musuh lo yang sebenernya, lo bilang lo sepupu yang baik buat Viona, yang sesungguhnya terjadi dibelakang lo aja lo bahkan gak tau Rei!! Lo itu bukan hanya bego Rei tapi juga naif! Terlalu naif!"
"Bangsat! ngomong yang jelas!" Umpat Reihand geram. Ditempelengnya salah satu pipi Arga.
"Bukan gue yang udah bikin Viona hamil. Bukan Rei! Ayah sebenarnya dari bayi yang dikandung Viona itu adalah Bima! Bima, si pengecut yang selalu ada di samping lo itu!"
Deg! Seperti tersambar petir yang menggelegar, Reihand begitu tercengang. Namun sejurus kemudian dia menggeleng kuat.
"Kenapa? Lo gak percaya sama perkataan gue? gue punya bukti! akan gue kirim rekaman percakapan terkahir gue sama Viona, lo dengerin ini baik baik!"
Arga mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia memang sudah menyimpan percakapan telfon itu sebagai bukti, sejak Viona mengatakan kalau dia dihamili Bima, firasat Arga sudah tidak enak. Apalagi melihat tingkah bima yang bagaikan pengecut tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
Berjaga jaga jika sesuatu terjadi, setiap percakapan antara dirinya dengan gadis itu direkamnya setiap malam saat Viona curhat kepadanya.
Arga memutar satu audio dari galeri suaranya. Mendekatkannya ke arah Reihand yang terlihat sedang menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Dia sudah muak, teramat muak pada tuduhan palsu yang selama ini mengarah kepadanya.
"Please ga, gue mohon kasih tahu Reihand dan keluarga gue nanti kalau lo emang udah bener bener gak tahan nanggung semuanya, tapi biarin setelah ini Bima menyesali dulu kesalahannya, seandainya setelah beberapa tahun dia gak juga mau ngakuin anak ini, gue mohon sama lo, gue mohon kasih tau semua orang tentang kebenarannya!"
Reihand tercengang mendengar setiap kalimat demi kalimat yang keluar dari rekaman suara itu. Itu memang benar suara mendiang sepupunya Viona. Reihand sangat hafal dengan suara itu.
Seketika tubuhnya membeku. Mulutnya terbuka lebar tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Bima? benarkah Bima? Bima yang selama ini bahkan sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Yang telah menjadi bayang bayangnya kemanapun dia pergi.
Yang kepada Bima dia tumpahkan semua keluh kesah permusuhannya dengan Arga dan juga tentang kesedihannya ditinggal oleh Viona.
Reihand begitu terhenyak, kenyataan pahit itu sungguh menikam dirinya. Selama ini ternyata dia malah melindungi pembunuh sepupunya sendiri, naasnya dia malah tidak bisa melihat kebenaran itu padahal setiap hari dia selalu makan bersama Bima.
Reihand kembali menangis tanpa suara, dia anggap dirinya sebagai abang yang baik buat Viona. Nyatanya dia bahkan tidak tahu secuilpun kebenaran itu.
"Sejak kapan Bima dan Viona menjalin hubungan?" Kalimat Reihand tertahan ditenggorokannya. Dia menatap Arga yang sedang mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak. Merasa bersalah, Reihand melunakkan pandangannya pada Arga.
"Sejak gue deket dengan Viona, sejak itu juga gue tau Bima ternyata udah pacaran sama Viona dibelakang lo. Gue emang sayang sama Viona waktu itu, tapi gue gak pernah sekalipun nyentuh dia juga cewek cewek yang pernah deket sama gue! gue tau batasan gue sebagai laki laki." Arga menatapnya sendu.
Habis sudah pertahanannya selama ini. Dia lelah, teramat lelah dengan permusuhan yang tak berkesudahan ini.
Reihand tertunduk, seketika amarah yang memuncak tadi lenyap. Tak ada lagi makian juga pandangan benci yang selama bertahun tahun ini dia tunjukkan terang terangan kepada Arga.
Karna kenyataannya Arga sahabatnya ini ternyata tidak bersalah sama sekali, dia malah membiarkan dirinya menjadi tertuduh atas perbuatan keji yang Bima lakukan. Reihand merasa malu, bahkan untuk menatap Arga pun dia tidak sanggup.
Dia merasa dirinya benar benar to lol dan begitu bodoh!
Arga hanya diam melihat keterpurukan Reihand, dia tahu kondisi ini juga tidak mudah untuk Reihand. Karna diapun pernah kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya yaitu kakaknya.
Dia juga begitu marah, teramat marah saat itu pada Siska kakaknya Meira. Seketika Arga tertegun, sadar akan sesuatu. Apakah ini yang juga dirasakan oleh Meira, sangat tidak nyaman menjadi tertuduh atas perbuatan yang sebenarnya sama sekali tidak dilakukannya.
__ADS_1
Arga merenung, dalam lubuk hati kecilnya dia sadar jika balas dendamnya selama ini pada Meira sudah salah alamat.
bersambung