
Pagi telah menyapa, semalaman rasanya dia tak bisa tidur nyenyak. Ini kali pertama dia diijinkan tidur di kasur Arga.
Dia pikir kasur empuk nan mewah itu bakal membuatnya bermimpi dengan sangat indah, bahkan mungkin bisa membantunya memimpikan sebuah surga. Namun kenyataannya tidak, jangankan bermimpi, terlelap sedetikpun rasanya sulit sekali.
Yang membuatnya menjadi mimpi buruk apalagi kalau bukan kehadiran laki laki yang semalaman terus saja membuat jantungnya berdisko tak karuan.
Sebenernya jantung gue kenapa? kenapa akhir akhir ini sering sekali sesak seperti ini?
apakah gue udah gak waras mengharapkan Arga menyatakan perasaanya? apa mungkin sebenernya gue yang udah jatuh cinta sama Arga.
Meira mengacak rambutnya, frustasi tingkat dewa.
Meira mencuri pandang dan menoleh sekilas ke arah Arga. Wajah tampan itu begitu mempesona saat dia sedang terlelap begini, hidung yang mancung dan rahangnya yang tegas membuat siapapun akan dengan mudahnya terpana, tapi kalau dia sudah bangun, tak akan ada yang menyangka jika kelakuan Arga bisa melebihi raja iblis dimuka bumi ini.
Dengan santainya dia tidur disamping Meira. Tanpa memberikannya penjelasan dan alasan mengapa dia bisa berubah seratus depalan puluh derajat. Dia yang begitu menyebalkan kenapa akhir akhir ini malah bersikap sangat manis?
Apa timpukan batu waktu tawuran itu sudah membuat Arga geger otak?
"Kenapa ngeliatin gue?" Arga membuka sepasang matanya secara tiba tiba, menatap Meira lurus-lurus. Memperbaiki posisi tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya di dada dan kini menghadap ke arah Meira.
Buru buru Meira menggeser badannya ke tepian ranjang, tak ingin Arga sampai mendengar detak jantungnya yang mungkin kini sudah seperti tabuhan genderang perang.
Sejak kapan dia bangun? jangan jangan dia tadi tau gue ngeliatin dia terus. Aish memalukan.
Rasanya Meira ingin menepuk nepuk jidatnya sendiri.
"Lo ke kampus hari ini?" Tanya Arga.
"Iya."
"Gue anter." Bukan tawaran melainkan sebuah titah. Sudah pasti tidak akan bisa Meira bantah.
Meira menatap Arga, Arga sudah terduduk dan memijat bahunya sendiri. Melihat punggung Arga dari belakang kenapa membuat Meira semakin berdebar.
Arga bangkit, lalu segera mengambil handuk dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai merapikan buku bukunya, Meira menyusul Arga keluar kamar.
Seorang pengawal sudah berdiri di depan pintu, membungkuk ketika Arga keluar. Mereka terlihat berbicara sebentar lalu tak lama pengawal itupun pergi menuruni tangga.
Arga membalikan badannya. Menatap Meira.
"Lo yakin udah gak apa apa? gue bisa kok berangkat sendiri. Emangnya udah mau masuk kerja lagi?" Meira melihat perban dikepala Arga sudah menghilang. Namun dia masih khawatir jika kondisi Arga belum sepenuhnya pulih.
"Jangan kebanyakan nanya! Ayo. Sarapan dijalan aja, gue udah nyuruh pelayan nyiapin bekal buat dimobil."
"Kenapa sih buru-buru?" Meira mengernyitkan dahinya namun sigap mengikuti langkah Arga dari belakang.
"Ada urusan penting hari ini, gue bisa telat kalau sarapan dulu."
"Yaudah kalau gitu, gue berangkat sendiri aja Ga, gue gak mau ngerepotin lo!" Ucap Meira. Berharap dia bisa lepas dari Arga kali ini.
Arga menghentikan langkahnya secara tiba tiba hingga membuat wajah Meira bertubrukan dengan punggung laki laki itu.
"Lo mau ngebantah gue lagi?" Kali ini Arga menoleh dan membuat aura iblis yang begitu menakutkan.
__ADS_1
Meira langsung menggeleng cepat dan tak berani membuka mulutnya lagi.
Lusi dan Andrew yang melihat keduanya turun dari atas tangga menatap ke arah mereka berdua.
"Arga, apa kau tidak sarapan dulu?" Lusi bertanya ketika melihat Arga melewati ruang makan begitu saja.
"Aku ada urusan." Jawab Arga singkat.
Tak banyak bertanya lagi Arga pun segera melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat pagi itu.
"Buka ini." Arga menyerahkan sebuah bungkusan berwarna coklat. Mereka duduk dibelakang, kali ini Arga memutuskan untuk tidak menyetir sendiri.
Meira menerimanya lalu mengikuti perintah Arga untuk membuka bungkusan itu.
Ternyata sebuah kotak makan berwarna hitam.
"Bukalah, lihat apa yang pelayan isi didalamnya."
Meira membuka kotak makan itu, nasi goreng dengan lauk nugget tersaji di dalamnya. Wajah Meira berubah riang.
Arga tersenyum kecil. Ternyata membuat Meira tersenyum sangatlah gampang, berikan saja dia makanan, maka mulutnya itu akan menarik ke atas dengan sendirinya.
Meira segera mengambil sendok dari dalam bungkusan dan menyuapkan satu suapan ke dalam mulutnya.
"Enak?" Arga bertanya namun lebih tepatnya menyindir.
Meira mengangguk. Mulutnya kini penuh dengan nasi goreng.
"Apa lo lupa ada yang belum sarapan juga?"
Buru buru dia mengambil tisu lalu hendak mengelap ujung sendok namun Arga menahan tangannya.
"Kenapa di lap? jangan buat gue nunggu, buruan suapin gue!" Pinta Arga.
Hah? Meira tergelak.
"Tapi sendoknya bekas gue." Ucap Meira merasa sungkan, apalagi ada sopir di depan mereka.
"Gue gak keberatan. Lo gak punya penyakit menular kan?"
Dengan polosnya Meira menggeleng. Padahal Arga hanya memancingnya untuk protes.
"Yaudah buruan suapin!"
"Iya iya!" Meskipun mulutnya menggerutu namun Meira tetap mematuhi perintah Arga, membuat Arga tersenyum begitu puas. Meski senyum itu tak bisa Meira tangkap.
"Ngomong ngomong, kenapa ayah kemarin kerumah? dia gak mungkin bener bener mau ngejenguk lo doang kan?"
Tiba tiba Meira teringat lagi pada kedatangan orang tuanya kemarin. Rasa penasarannya masih belum menemukan jawaban. Dia merasa ada yang aneh, pasti ada sesuatu yang ayahnya inginkan dari Arga. Karna tidak ada dalam sejarah hidup ayahnya, dia peduli apalagi repot repot menjenguk orang yang sedang sakit.
"Ternyata lo begitu mengenal ayah tiri lo.."
"Kalau gitu kasih tau gue apa yang dia mau?"
Arga hanya diam. Kali ini memalingkan wajahnya. Meira menunggu dengan sabar. Memang harus sabar, karna dia tidak bisa memburu buru seorang Arga.
__ADS_1
"Dia meminta uang senilai 100 juta."
Mata Meira seketika terbelalak kaget.
"Buat apa?"
"Entah, dia bilang dia ingin menggunakannya untuk membuka usaha."
"Dan lo percaya sama ucapannya? ayah gue pasti minta uang buat main judi, lo pasti tau informasi soal itukan?! dia itu pejudi berat, jadi jangan berharap banyak dari dia."
Entah kenapa Meira merasa aneh, kenapa Arga bisa segampang itu memberikan apa yang diingkan oleh ayah tirinya.
Arga menutup kedua matanya, menyenderkan kepalanya di kursi.
"Gue gak bodoh Mei. Tentu ayahmu itu tidak menerima uang itu secara cuma cuma!" Arga tersenyum tipis.
Meira tak mengerti. "Maksudnya?"
Arga tak menjawab lagi, sibuk dengan sebuah rencana besar di kepalanya.
Sementara itu dirumah, Andrew masih duduk di meja sarapan bersama ibunya. Dia menyeruput teh hangat ditangannya lalu kemudian beralih menatap sang ibu.
"Mah, sore ini ayahkan kembali dari luar kota. Rencananya saat makan malam ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada semuanya."
Lusi menaikkan satu alisnya.
"Hal penting apa Ndrew?" Lusi menatap Andrew penasaran.
Andrew mengetuk ngetuk ujung gelasnya. Setelah menarik nafas dalam dalam, barulah dia kembali berkata.
"Aku ingin menikah mah!"
Hah? Lusi melotot seketika diikuti mulutnya yang terbuka lebar.
"Menikah?" Lusi mencoba meyakinkan pendengarannya.
"Iya mah, aku ingin menikah dengan seseorang yang sudah lama aku sukai. Aku akan membawanya saat makan malam nanti." Jawab Andrew mantap.
"Siapa gadis itu? kau jangan gegabah Ndrew! apa kau sudah ketularan gilanya si Arga! kenapa mendadak minta nikah begini sih?" Lusi terlihat masih sangat syok.
"Ini gak mendadak mah! aku memang sudah lama menyukainya, dan baru akhir akhir ini aku bisa mendapatkan perhatian gadis itu, aku tidak ingin kehilangannya mah, aku ingin mengikatnya untuk menjadi istriku, keputusanku kali ini sudah bulat, aku mohon restui hubunganku."
Andrew meraih tangan Lusi lalu menatapnya dengan penuh harapan.
"Apa dia dari keluarga elite?" Lusi langsung menanyakan ke intinya. Meskipun dia masih belum setuju dengan rencana pernikahan mendadak dari Andrew ini.
"Iya, keluarganya memiliki beberapa cabang butik di kota ini." Andrew tak berbohong, Meta memang lahir dari kalangan orang yang cukup berada meski kekayaannya tak sebanding dengan kekayaan keluarga Alexander.
Lusi terdiam sejenak, bingung, namun melihat wajah Andrew yang seperti berharap banyak darinya membuatnya tak tega juga.
"Baiklah, bawa dia kemari, ibu ingin melihatnya dulu."
Rona bahagia langsung terpancar jelas di wajah Andrew.
"Terima kasih ma." Ucap Andrew sambil memeluk Lusi dengan erat.
__ADS_1
Bersambung