
Liburan kali ini bagi Meira sangat berbeda, ini liburan pertamanya setelah menikah dengan Arga. Meira sangat antusias sekali, rasanya dia ingin cepat sampai ke tempat tujuan.
Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya sampai di ambon pagi itu.
Ora Beach merupakan salah satu destinasi favorit turis lokal maupun asing yang singgah ke pulau seram. Arga sengaja memilih tempat indah ini sebagai tujuan liburannya kali ini. Dia ingin memanjakan Meira dan juga teman temannya.
Untuk menuju pantai ini memerlukan effort yg lumayan. Setelah mendarat di ambon dilanjutkan perjalanan darat 1 jam ke pelabuhan tulehu untuk menyebrang ke pulau seram selama 2 jam, lanjut darat lagi dari kota masohi ke lokasi kurang lebih 2 jam dan terakhir naik speedboat 15 menit. Namun cukup terbayar dengan suasana yang ada di Ora Beach ini.
Meira dan semuanya tercengang saat mereka menginjakkan kaki di pantai yang dijuluki kembarannya Maldives itu.
"Kita bakal nginep disini sayang?" tanya Meira tak percaya.
"Iya sayang, selamat datang di Ora Beach.." Arga mencium pipi Meira.
Semua bersorak gembira menikmati pemandangan indah yang terhampar di depan mata mereka.
Hanya pantai indah sejauh mata memandang. Resort di depan mata dengan Cottage yang berdiri di atas air yang akan mereka tempati selama liburan di pantai ini.
Meira bahkan bisa melihat terumbu karang dari atas dengan mata telanjang saking jernihnya air, sungguh indah ciptaan Tuhan ini.
Mereka berjalan beriringan diatas jembatan kayu panjang yang menghubungkan ke cottage cottage di depannya. Seorang penjaga cottage menjelaskan beberapa hal sebelum semuanya mulai memasuki cottage masing-masing.
Resort ini berada di Pulau Seram, menyelinap diantara Teluk Sawai dan tebing-tebing kapur Manusela yang indah juga eksotis.
Terdapat delapan cottage yang beratapkan rumbia. Dari dalam cottage, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan hamparan pasir putih dan air laut biru yang memukau mata. Tidak ada ombak, perairan di tempat ini sangat tenang karena letaknya diantara perbukitan.
Penginapan mereka letaknya langsung diatas air laut. Untuk menuju kesana mereka harus melewati sebuah jembatan kayu panjang yang menjadi penghubung antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lainnya.
Setelah melewati jembatan kayu yang cukup panjang, mereka pun sampai di lobi depan penginapan, disana ada bangku dan meja yang terbuat dari kayu, atap setiap bangunan termasuk kamar, yang ada dipenginapan tersebut masih terbuat dari pepohonan dan daun lontar atau kelapa.
Di cottage yang Arga pilih ini juga dilengkapi dengan Restoran, Restoran itu terbagi menjadi tiga tempat, yaitu restoran untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Menu restoran tersebut konon lengkap dan terbilang mewah, pengunjung bisa memesan aneka menu dengan bahan dasar seafood segar. Selain itu, karena penginapan memiliki konsep ramah keluarga, Arga dan teman temannya tidak akan menemukan menu minuman dan makanan beralkohol.
"Ya ampun Meira, ini kita lagi di surga ya? gue gak pernah ngeliat tempat seindah ini!" Flo takjub, mulutnya terbuka lebar tak berhenti tercengang dengan setiap detail keindahan pantai Ora.
Widya mengangguk setuju. Dia sudah sering berlibur di pantai pantai yang ada di indonesia, tapi tidak pernah menemukan pantai seindah ini.
"Selamat menikmati liburan tuan dan nyonya, saya permisi dulu." Penjaga cottage itu pergi setelah menyerahkan kunci kepada Arga.
"Men, thanks ya udah bawa kita ke tempat seindah ini." Reihand menepuk bahu Arga sambil tersenyum lebar.
"Sama sama, nikmati sepuasnya liburan kali ini, kalau ada yang kalian butuhkan bilang saja padaku."
Manji dan Farel mengacungkan jempolnya tinggi tinggi.
"Bos, emang paling the best!"
__ADS_1
"Taruh barang barang kalian di dalam kamar, setelah makan bersama kita bakal ngelakuin sesuatu yang menyenangkan."
"Emang kita mau ngapain men?" Tanya Reihand penasaran.
Arga hanya tersenyum penuh arti tanpa berniat menjawab.
"Ada deh." Arga merangkul bahu Meira dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan teman temannya yang masih sangat penasaran dengan ucapannya.
Klek
Arga mengunci pintu kamar dan merebahkan dirinya di atas ranjang yang sudah dihiasi dengan kelopak kelopak bunga mawar yang dibentuk dengan hati.
Setiap kamar dibekali dengan perabotan kamar lengkap, di antaranya kursi dan meja malas di teras serta di dalam kamar, lemari penyimpanan, dan tempat tidur yang bersih serta nyaman. Untuk kamar mandinya sendiri, berada di pojok kamar dengan peralatan mandi yang lengkap. Selain itu, ada juga kamar mandi yang terletak di luar kamar sebagai fasilitas tambahan.
"Ya ampun sayang, cantik banget.." Meira tak hentinya berdecak kagum.
Semua yang ada disini seolah menyihir matanya untuk tidak hentinya berkedip.
"Kau suka?" Arga bangun dan berjalan ke arah balkon kamar.
Meira lagi lagi dibuat ternganga.
Saat membuka pintu balkon kamar matanya langsung disambut pemandangan laut yang terhampar luas, begitu tenang, begitu damai dan membuat hati tentram.
"Aku sangat senang, terima kasih sayang.." Meira mendekat dan memeluk erat Arga.
"Sudah ku bilang berterima kasihlah diatas ranjang!" ucapnya nakal sambil mengedipkan satu matanya.
Arga kembali mengunci pintu balkon kamar.
Meira menggigit bibirnya, jantungnya tiba tiba berdetak lebih cepat. Astaga harusnya tadi dia tidak mengucapkan terima kasih dulu.
Badannya masih sangat lelah setelah melewati perjalanan yang lumayan panjang tadi.
"Berterima kasihlah dengan benar." ucap Arga lagi, seringai tipis muncul diwajah tampannya.
Arga naik ke atas ranjang dan mendekati Meira yang sedang meringkuk di sisi kasur.
"Mendekat lah! kenapa masih diam disitu." kata Arga sambil menepuk nepuk kasur disebelahnya.
Pria itu sudah berbaring sambil meluruskan kakinya.
Meira mengangguk lalu bringsut mendekat. Dia meletakkan kepalanya di dada bidang Arga sementara tangannya melingkar diatas perut sixpack suaminya.
Arga mengusap kepalanya sambil mencium keningnya lama.
__ADS_1
"Ini bukan hanya liburan, tapi anggaplah sebagai bulan madu kita juga, kau tidak lupakan?" Arga mengangkat alisnya tinggi tinggi, sepasang matanya menatap Meira lurus, lalu beberapa saat senyum nakal itu muncul lagi.
Spontan Meira mengangguk, wajahnya sudah tegang, badannya masih sangat cape. Haruskah melayani dengan keadaan begini?
Diam diam Arga menahan tawa melihat ketakutan diwajah istrinya.
"Kenapa mukamu begitu? seperti sedang melihat harimau yang hendak memakan mu hidup hidup saja." Sungut Arga.
"Sayang, aku..aku masih lelah." kata Meira ragu, dia takut menolak Arga tapi tubuhnya memang sedang sangat lelah.
"Aku tau." Sejenak Arga bangun lalu mengangkat selimut yang tergeletak di dekat kakinya untuk menutup tubuh mereka berdua.
Meira mengerutkan keningnya menatap Arga heran.
"Kau lelahkan? aku berbaik hati kali ini, istirahatlah sebentar, layani aku nanti malam saat tenagamu sudah pulih." bisiknya lembut sambil mencium kening Meira.
Meira menarik nafas lega, dia pikir tadi Arga hendak menyerangnya lagi.
"Tidurlah sebentar, setelah itu kita makan bersama di restoran, aku sudah menyiapkan banyak menu istimewa untuk mu."
"Benarkah?" Meira terbelalak, dia sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan dari penginapan ini.
"Aku bersyukur bisa singgah ke tempat seindah ini, kalau bukan karna mu mungkin selamanya aku tidak akan punya kesempatan untuk kesini.."
Meira mengeratkan pelukannya, dibenamkan wajahnya lebih dalam di dada Arg, mencoba menyembunyikan tangis yang hampir melesak keluar dari sudut matanya, Arga sudah memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupnya.
Arga tersenyum lalu tangannya mengelus punggung gadis itu lembut.
"Bayarlah semua ini dengan tetap berada disampingku Meira, aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa mu, justru aku lah yang merasa sangat beruntung bisa bertu dengan gadis sebaik dirimu."
Arga mengangkat wajah Meira, tapi gadis itu menolak. Kata kata Arga yang manis itu malah membuat lelehan air mata di pipinya. Arga bisa merasakan tetesan air mata itu jatuh membasahi lengannya.
"Hei, kenapa menangis?" Arga mencoba melihat wajah Meira lagi, kali ini dia berhasil membuat Meira menatapnya.
"Kenapa menangis? apa ada yang sakit?" tanyanya panik sambil mengusap air mata itu.
Meira menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya terharu.." jawab Meira malu malu.
Arga tercengang lalu kemudian tertawa kecil.
"Kau membuatku panik saja."
Arga mengelus pipi Meira, mereka saling bertatapan, Arga mendekatkan wajahnya perlahan, deru nafas mereka bersatu diudara, bisa Meira rasakan jantungnya kembali berdegup dengan cepat.
__ADS_1
Perlahan bibir Arga menyatu dengan bibirnya, Arga ******* bibirnya dengan rakus dan penuh perasaan, sambil terus menatap mata Meira, Arg memperdalam ciumannya.