
Waktu menunjukkan pukul 19.00 wib dikediaman Heru Alexander
"Mah gawat mah gawat!!!!" Andrew yang baru kembali dari kantor langsung menghampiri ibunya di kamar.
Lusi tampak kaget melihat Andrew yang baru pulang seperti orang yang habis dikejar kejar setan.
Andrew tampak panik, dia mondar mandir tak karuan sambil menggigit ujung jarinya sendiri.
"Kenapa sih Ndrew? kenapa?" Lusi mencoba menenangkan putranya itu.
"Gawat mah! aku harus gimana mah!!"
"Tenang dulu ndrew, coba duduk dan ceritain semuanya, mamah gak ngerti kamu kenapa!"
Nyonya Lusi menuntun Andrew dan membantu pria itu untuk duduk dipinggir ranjang.
Malam itu kebetulan suaminya tuan Heru sedang dinas diluar kota.
Andrew mengusap wajahnya dengan gusar.
"Bima, orang yang aku suruh buat nyelakain Arga udah ketangkep mah, kacau! aku gak tau apakah dia bakal bongkar semuanya atau engga!"
Hah? Lusi terperangah, mulutnya terbuka lebar tak mampu menyembunyikan keterkejutannya tentang kabar yang baru saja keluar dari mulut Andrew.
Kini wajahnya jadi ikutan panik.
"Kamu serius Ndrew?"
"Iya mah, aku stres banget mah, sekarang aku bener bener takut Arga dan papah bakal tau semuanya! rencana kita bakal hancur mah!"
Lusi tampak berpikir keras, tidak! dia tidak boleh membiarkan semuanya kacau begini, usahanya selama bertahun tahun untuk menjadikan Andrew pewaris utama kekayaan milik suaminya harus terlaksana, tidak boleh ada kata gagal!
"Gimana ini mah?" Tanya Andrew dengan wajah yang sarat akan kecemasan.
Lusi menarik nafas dalam dalam. Dia harus berpikir jernih, jika dia ikut panik dia tidak akan menemukan jalan keluar.
"Tidak ada cara lain Ndrew, mamah punya satu ide." Lusi membisikkan sesuatu ditelinga Andrew.
Laki laki itu seketika terkejut namun raut wajahnya perlahan mengangguk sambil menyeringai jahat.
"Bagus juga ide mamah!"
"Gimana? setuju gak kalau kita ngelakuin ini?"
Andrew mengangguk cepat. Tidak salahnya mencoba ide yang diberikan ibunya, yaitu menculik Meira dan menjadikannya sandra untuk ditukar dengan berkas pengalihan harta keluarga Alexander.
Jam 20.10 wib
__ADS_1
Mobil putih milik Arga terlihat memasuki gerbang, tak lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu utama. Pelayan membukakan pintu saat tau tuan mudanya datang.
"Dimana Meira?" Tanya Arga saat seorang pelayan mendekat.
"Di dalam kamar tuan, nona belum keluar sejak sore."
Arga langsung bergegas naik ke lantai atas. Langkahnya tampak tergesa gesa.
Setelah mengetahui dari Bima jika kakak tirinya Andrew adalah dalang dari semua kejahatannya selama ini, Arga jadi was was meninggalkan Meira seorang diri di dalam rumah, karna dirumah ini ternyata ada setan berwujud manusia.
Klek
Arga menghembuskan nafas lega ketika melihat Meira sedang duduk sambil memainkan laptopnya diatas meja.
"Kau sedang apa?"
Arga mendekat. Meira menoleh kaget, dia tidak sadar jika ternyata Arga sudah berada di dalam kamar.
"Arga! kamu udah balik?"
Meira bangkit dari tempat duduk.
"Tidak usah bangun, teruskan saja. Kau sedang apa memangnya?" Arga menekan bahu Meira hingga gadis itu terhempas kembali dalam posisi semula.
"Aku lagi meriksa materi buat ujian besok."
"Oh." Arga membungkuk lalu menempelkan wajahnya tepat disamping wajah Meira untuk melihat apa yang ada dilayar laptop. Harum aroma parfumnya seketika menyeruak, membuat Meira lagi lagi tak bisa mengontrol irama jantungnya.
Untung saja Arga langsung berdiri lagi, pria itu berjalan ke arah kamar mandi setelah mengambil handuk dari dalam lemari.
Selang lima belas menit Arga sudah keluar dari sana dengan hanya memakai handuk putih yang terlilit di pinggangnya, rambutnya yang basah membuat ketampanannya naik dilevel yang tidak manusiawi.
Meira berjalan ke arah lemari untuk mengambil selimut, Arga yang sedang mengambil baju mengekor pergerakan Meira dengan satu alis yang terangkat.
"Mau ngapain ngambil selimut lagi? kan di kasur udah ada!"
Arga menarik tangan Meira hingga tubuh gadis itu terjerembab dan jatuh tepat di depan dada bidangnya.
"I-ini buat alas tidur." Meira menjauhkan kepalanya yang tak sengaja mencium dada itu.
"Tidur dimana?" Arga menatap tajam.
Ragu ragu Meira menunjuk karpet dibawah kasur.
Ck! Arga berdecak kesal.
"Siapa yang nyuruh kamu tidur dibawah?" Arga kembali mendekatkan wajahnya namun Meira malah mundur ke belakang hingga tubuh gadis itu menabrak pintu lemari yang terbuka.
__ADS_1
"Aku pikir kamu masih belum mau tidur seranjang.." Jawab Meira hati hati, dia tidak ingin menyinggung Arga sedikitpun.
Arga tersenyum smrik, entah polos atau memang bodoh, gadis ini masih tak paham juga jika situasi telah berubah sejak tawuran kemarin, perasaannya pada Meira sudah mulai kembali ke tempatnya meskipun ingatannya masih belum kembali secara sempurna.
"Kembalikan selimut itu ketempatnya, naik ke atas ranjang sekarang dan tidurlah."
Meira mengangguk patuh, buru buru dia berjalan ke arah kasur, menaikkan tubuhnya lalu segera menarik selimut dan menutup hampir seluruh tubuhnya.
Setelah memakai baju, Arga terlihat keluar kamar sebentar lalu tak lama dia muncul kembali dan ikut tidur disebelah Meira.
***
Pagi pun datang, Arga duduk cemas dipinggir kasur. Meira yang baru selesai mandi memperhatikan aura kegelisahan itu, dia bingung kenapa Arga tidak turun duluan untuk sarapan seperti biasanya.
Arga nampak sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Ada apa Ga?"
Belum sempat Arga menjawab tiba tiba terdengar ketukan dari pintu kamar. Arga langsung berlari, dan ternyata seorang pengawal tengah berdiri dengan mimik wajah yang terlihat sama persis seperti Arga, cemas.
Arga dan pengawal itu tampak mengobrol serius, tak lama dia kembali lagi ke dalam kamar.
"Ada apa sih?" Meira semakin penasaran.
Arga mengusap wajahnya gusar.
"Andrew dan Lusi kabur dari rumah! kayaknya mereka keluar tadi malam."
Hah? sepasang mata Meira membulat sempurna.
"Kabur? kenapa harus kabur?" Meira masih tak mengerti.
Arga tak menjawab, wajahnya tampak kesal.
"Sebenernya ada apa sih ini?" Meira mendekat dan mengguncangkan bahu Arga meminta penjelasan.
Arga menarik napas panjang, dia menatap Meira tepat di manik matanya.
"Mei, Bima udah mengakui semuanya, ternyata dia hanya lah orang suruhan yang dibayar Andrew dan Ibunya untuk mencelakai kita."
Meira ternganga, meskipun dia tahu dua orang itu jahat namun kabar yang barusan disampaikan Arga tetap membuatnya terkejut.
"Kecelakaan yang menimpaku kemarin juga adalah salah satu bagian dari rencana mereka. Mereka sudah lama mengincar posisi pewaris utama.." Arga terduduk di kasur.
Pikirannya kalut, dia sedih memikirkan bagaimana caranya dia harus memberitahu ayahnya tentang pengkhianatan kedua orang yang selama ini begitu dipercayainya. Laki laki tua itu pasti hancur jika tahu kalau istri dan anaknya sendirilah yang hampir membuat nyawanya melayang kemarin.
Meira ikut menjatuhkan diri dan duduk disamping Arga. Tangannya mengelus lembut punggung Arga.
__ADS_1
"Kau harus memberitahukan semuanya mau tak mau.."
Arga tak menjawab, dia menarik tubuh Meira dan memeluk erat, menyandarkan kepalanya disalah satu bahu gadis itu, berharap bisa sedikit melenyapkan kegundahannya.