
"Mau ganti baju sendiri apa Mau mereka yang gantiin?!" Ucap Tara pada Sena sambil menunjuk dua orang pengawalnya.
Sena melotot tajam padanya, kemudian ia refleks menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.
Ingin sekali Tara tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kesal gadis itu. Tapi ia urungkan, Sena harus takut padaku putusnya.
Gadis itu loncat dari atas kasur, kemudian ia Lari terbirit-birit masuk kesebuah ruangan lain dalam kamarnya, Tara fikir itu ruang wardrobe.
Tara menunggu Sena berganti pakaian sambil duduk di sofa yang berada dekat jendela kamar itu.
Kamar itu terlihat kekanakan, hampir semua barang-barang di kamar itu didominasi warna pink dan putih. Ranjangnya pun demikian, warnanya putih, dengan aksen ala - ala tempat tidur Putri dalam film Disney. Kasur dan perlengkapan tidurnya juga berwarna pink putih.
Belum lagi di seberang tempat duduknya skarang terdapat rak pajangan berukuran besar penuh dengan boneka Disney, baik itu boneka kain, miniatur dan juga barbie plus dengan rumah dan perlengkapan lainnya.
Diatas Ranjangnya terdapat lampu gantung crystal yang mewah dengan ukuran yang sesuai.
__ADS_1
Cih, apa dia merasa dirinya putri dari negeri dongeng? Dia bukan putri, tapi nenek sihir, tandasnya dalam hati.
Tara mengedarkan pandangannya lagi,
persis dihadapan ranjang Sena, tergantung sebuah foto berukuran besar, itu adalah foto wanita yang sangat cantik sedang tersenyum menawan. Rambutnya panjang, diikat sebagian, dan sebagian lagi tergantung sampai ke pinggangnya. Di bagian sampingnya terdapat sebuah jepitan dengan taburan berlian disepanjang jepitan itu. Wanita itu sangat elegan, pikirnya. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumnya.
Tara merasa agak familiar dengan foto itu, tapi siapa yah dia benar-benar lupa. Kalau dilihat-lihat, wanita dalam foto ini masih cukup muda, tapi tetap lebih tua dari Sena. Apa ini Ibunya Sena? Terdapat beberapa kemiripan memang jika dicermati, tapi Tara sendiri tidak pernah memperhatikan wajah Sena, jadi ia tak begitu hafal. Maklum, setiap bertemu Sena, Tara malah seringnya enggan melihatnya, khawatir kebenciannya akan semakin tersulut. Setiap Sena datang menemuinya, ia akan Sibuk dengan pekerjaannya, dan hanya berbicara seperlunya. Malah baru hari ini rasanya Tara memperhatikan Sena lekat-lekat.
Tapi jika itu ibunya Sena, kenapa ia memasang foto itu ketika masih muda, pikirnya.
"Ayo jalan!" ucapnya pada Sena yang mengikutinya dari belakang.
Sena melangkahkan kakinya gontai berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan Tara yang memiliki kaki lebih panjang. Ia tak ingin keginggalan Tara, Karena jujur saja ia tidak tahu Kemana mereka akan pergi.
Saat sampai diruang tamu, ayah Sena sedang berdiri menunggu di ruang tamu. Sena mengikuti Tara dari belakang, kemudian duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kalian akan pergi skarang?" tanyanya membulat pembicaraan.
"Tentu saja Tuan Hutama, saya tidak mau anak bapak kabur dihari pernikahannya." jawab Tara pada ayah Sena.
Sena melotot padanya, namun Tara tak bermaksud menggubris tatapan tajam itu.
Kami akan ke hotel skarang, besok asisten saya akan menjemput Tuan Hutama menuju tempat pernikahan kami." ucapnya. Tak lama kemudian Tara melangkah keluar sambil memegang tangan Sena, mengintimidasinya agar tak ada niat macam-macam dari Sena.
"Tuan Tara.." ucapan Hutama terpotong dengan perkataan Tara.
"Silahkan panggil saya Tara, karena sebentar lagi kita akan menjadi keluarga." kata Tara.
"Baiklah, Tara aku titipkan Sena padamu, tolong kau jaga dia dengan baik." jawab Hutama.
Setelah mereka masuk dalam sebuah mobil Audi berwarna hitam itu, Sena dan Tara maju membelah jalanan Ibu kota yang sudah tak terlalu padat.
__ADS_1