Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
pemeriksaan kehamilan


__ADS_3

Arga melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang terlihat ramai.


Tidak dipedulikannya Meira yang sepanjang perjalanan protes keras karna sikapnya. Dia merasa Arga terlalu berlebihan.


sepertinya dia memang benar benar belum pernah melihat kehidupan dari rakyat jelata. Tetap bekerja disaat hamil adalah hal lumrah, aaaa aku bisa gila kalau begini!


"Tunggu, kita mau kemana? ini bukan jalanan kerumah kita kan?" Tanya Meira ketika dia menyadari mobil yang dikemudian Arga tidak mengarah pada jalanan yang biasanya.


Arga membelokkan stir ke arah yang berlawanan.


"Kita mau ke dokter kandungan sayang." Jawab Arga enteng, wajahnya masih sama berseri seperti saat pertama kali dia mengetahui bahwa Meira tengah mengandung buah cintanya.


"Ke dokter kandungan?" Meira terbelalak.


"Yap, benar." Arga mengangguk sambil bersenandung kecil mengikuti lantunan lagu hip hop yang diputar di radio.


Sesekali kepalanya bergoyang ke kanan ke kiri.


"Buat apa Ga? dokter dikampus tadikan udah ngasih aku vitamin buat kehamilan!"


"Apa kamu pikir itu saja cukup? kita harus memeriksa lebih detail, aku tidak mau bayiku kenapa napa."


Akhirnya Meira hanya pasrah, dua belas menit kemudian akhirnya mobil yang dikemudikan Arga sampai didepan gedung rumah sakit X.


Pintu kaca mobil terbuka, Arga memanggil satpam yang berdiri di depan lobi rumah sakit.


"Pak Arga! kenapa bapak tidak telfon dulu kalau mau kesini?" Kata saftam itu saat membungkuk melihat ke dalam mobil ternyata yang datang adalah anak dari pendiri rumah sakit.


"Ini genting, cepat kosongkan poli obgyn!" Dengan entengnya mengatakan itu, sementara lawan bicaranya tampak syok begitupun Meira yang duduk disampingnya.


"Maaf tuan.."


"Aku bilang kosongkan, SEKARANG!" memberi penakanan pada kalimat terakhir.


Satpam itu masih berdiri terpaku.


bagaimana mengosongkan ruangan sedangkan antrian pasien baru saja dimulai.


Satpam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Beraninya kau mengabaikan perintahku, mau ku pecat?" Desis Arga kesal saat melihat satpam itu masih tak bergerak sedikitpun.


"Maaf tuan, maafkan saya, saya akan langsung ke dalam memberitahu Dr. Obgyn yang sedah bertugas."


Satpam itu pun berlari cepat masuk ke dalam lobi rumah sakit.


Arga tersenyum puas. Dia bergegas membuka sabuk pengaman Meira. Setelah itu dia keluar lebih dulu dan membantu Meira turun dari mobil.


"Arga, kenapa tadi kamu bilang sama satpam itu buat mengosokan ruang Obgyn? jangan jangan rumah sakit ini.."


"Iya, ini salah satu rumah sakit terbaik milik keluarga Alexander." Menjawab dengan tersenyum riang seolah tidak habis membuat gempar di depan lobi tadi.


Jangan bilang dia mengosongkan ruang Obgyn itu hanya untuk memeriksa kehamilanku? ah gila, dia bisa membuat kehamilanku stres di awal semester!


"Arga, begini, sejujurnya kau tidak perlu sampai repot repot mengusir para pasien lain kalau cuman mau periksa kehamilan aku, kita bisa atur jadwal dokter yang kosongkan? kau tau ini tidak bukan keadaan genting." Meira berkata sangat hati hati, dia tidak mau merubah mood Arga.


Mereka berjalan menaiki lift menuju lantai ke 3 tempat dimana spesialis kandungan berada.


Arga menghela nafas kasar.


"Genting atau tidaknya biarkan dokter ahli saja yang memutuskan."


"Tapi bagaimana jika diantara para pasien itu ada ibu hamil yang sedang benar benar membutuhkan pertolongan dari dokter? kau tidak boleh mengusirnya begitu saja!" kata Meira mulai frustasi.


"Memangnya kau tidak memerlukan pertolongan dokter?" Masih tidak mau kalah.


"Tidak, aku masih bisa menunggu."


"Aku tidak mau kau menunggu, itu bisa membuatmu lelah." Kata Arga final.


Lift pun terbuka, Arga menggandeng tangan Meira. Melewati beberapa bangsal hingga akhirnya sampai di depan sebuah pintu yang bertuliskan Ruang Obgyn.


Arga bisa melihat lewat kaca bulat di tengah tengah pintu masuk, ternyata para pasien yang lain masih belum pergi dari ruangan itu.


"Sial, sepertinya satpam itu ingin merasakan gaji terakhirnya hari ini!" Mendesah kesal. Meira tahu apa yang ada di benak Arga.


"Ayo, masuk!"


Arga hendak membuka pintu namun Meira mencegat tangannya.


"Tunggu Arga!"


"Ada apa?"


"Aku mohon, jangan usir pasien lain, bagaimana kalau begini saja, aku menyela antrian pertama saja ya? tapi kumohon jangan usir ibu ibu itu, kasihan mereka Ga, mereka pasti udah jauh jauh kesini untuk memeriksakan kehamilan mereka." Kata Meira mencoba membujuk Arga.


Memelas sambil menggelayut dilengan Arga dengan mesra.


Arga masih terlihat kesal.


"Sayang, ayolah aku tidak mau kena karma karna kamu mengusir ibu ibu hamil itu! kau tau tidak, kutukan ibu hamil itu sangat gampang dikabulkan oleh Tuhan loh! saat ibu hamil itu kamu usir, mereka pasti akan menyumpahi kita ini itu, kamu tidak mau kan bayi kita kena batunya gara gara ulah kamu." Kata Meira dramatis sambil mengusap usap perutnya sendiri.

__ADS_1


Arga menggeleng keras.


"Tidak! kau benar Meira, kenapa aku tidak berpikir sejauh itu."


haha benar kenapa aku tidak menakutimu sejak dilobi tadi, fuih untunglah ibu ibu hamil yang lain selamat kali ini.


Bernafas lega, seperti habis mencegah perang dunia.


"Yasudah, untuk kali ini aku bakal tetap membiarkan mereka menemui Dr. Obgyn, tapi kamu harus masuk di antrian pertama!"


"Sip!" Meira mengangguk ceria.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan, melewati beberapa ibu hamil dan anak anak kecil yang berada dalam gendongan orang tuanya.


Meira dan Arga diam membisu, pikiran mereka masing masing berkeliaran kemana mana.


Arga memperhatikan sepasang orang tua muda, sang ibu menggendong bayi yang kira kira berusia 7 bulan, sesekali ayahnya bermain cilukba dengannya, membuat sang anak tergelak tawanya.


Arga seakan ikut terbawa dalam kehangatan itu. Sementara Meira melihat ke arah lain, ke arah seorang ibu yang sedang hamil besar. Sepertinya dia mulai merasakan kontraksi, terlihat berkali kali memegangi perut buncitnya.


Berbeda dengan Arga yang bahagia, wajah Meira jadi sedikit tegang.


Satpam yang tadi bertemu mereka di lobi kaget saat membuka pintu ruangan Dokter dan melihat Arga sudah berdiri di depannya.


"Tuan muda.. maafkan saya, saya baru mau membubarkan antrian,"


"Tidak jadi, pergilah!" Arga mengibaskan tangannya.


Satpam itu membungkuk dan hampir saja bersujud, dia pikir Arga sudah memecatnya karna dia tidak menuruti ucapan Arga untuk langsung membubarkan antrian pasien.


"Hei, sedang apa kau? jangan menyentuh kakiku!" Arga mundur saat pria itu hendak bersimpuh.


"Pak, astaga bapak sedang apa?" Meira hendak mencegah pria itu untuk bersimpuh namun tangan Arga sudah lebih dulu menarik bahu satpam itu dan membantunya berdiri.


"Hei, kau tidak dengar yang ku katakan, pergilah!"


"Tuan muda, saya mohon jangan pecat saya, saya masih punya istri dan juga.."


"Siapa yang mau memecat mu?" memotong ucapan satpam sampai laki laki itu mendongak kaget menatap Arga.


"Tapi.."


"Pak, lebih baik bapak keluar saja, hehe tenang saja Arga tidak akan memecat bapak, iyakan sayang?" Kata Meira sambil mengedipkan mata pada Arga.


Arga hanya memalingkan wajah setelah mengatakan "Hem"


Dia tidak mau jadi pusat perhatian di ruangan itu karna Meira mulai mendengar kasak kusuk dari para pasien yang sedang menunggu.


"Aamiin, terima kasih banyak pak doanya." Kata Meira sambil tersenyum.


"Sudah selesai? ayo masuk!" kembali merengkuh bahu Meira dan mengajak istinya masuk.


Arga dan Meira sempat mendengar beberapa mulut yang protes karna mereka diserobot antriannya.


"Mereka mau aku usir ya?! sudah bagus tadi tidak ku suruh pergi dari sini!" Marah marah sendiri sambil menendang kaki meja saat telah sampai di ruangan.


"Haha, sayang, sudah sudah jangan marah marah terus, wajar kalau mereka protes, kita baru datang tapi sudah menyerobot antrian pertama!" Meira tertawa sambil memukul mukul punggung Arga keras. Sengaja karna dia menahan kesal kepada Arga sejak tadi.


kau sadar tidak justru jika mereka tidak protes malah aneh rasanya, aku pun kalau jadi mereka akan melayangkan protes kepadamu, dasar Arga!


Dokter Obgyn yang sedang berjaga hanya mampu menahan nafas melihat tingkah Arga.


"Tuan Arga, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Dr. William mempersilahkan Arga dan Meira untuk duduk.


Arga menoleh, menatap William sesaat.


"Hei, memangnya tidak ada dokter wanita disini?"


astaga sekarang apa lagi?!


"Tidak ada tuan Arga, Dokter irene sedang mengambil cuti untuk seminggu kedepan." William menjawab dengan santai, dia sudah tau perangai Arga seperti apa jadi tidak begitu kaget saat pria itu bersikap angkuh.


"Apa? cuti seminggu? ck! suruh dia datang sekarang juga jika tidak mau aku suruh mengajukan surat pengunduran diri."


Meira melotot, padahal dia tadi sudah tenang namun kegilaan Arga malah kambuh lagi.


"Arga dengar, siapapun dokternya aku tidak masalah." Kata Meira.


"Tapi aku masalah, aku tidak sudi kamu disentuh pria lain!" Melotot kesal ke arah William.


William berusaha menahan diri untuk tidak terpancing.


"Arga.." Meira meraih tangan Arga, bersikap sangat manis untuk meredam cemburu gila suaminya.


"Tidak, kau diam saja Meira.."


"Tapi sayang.." Masih berusaha berucap semanis mungkin padahal dia benar benar sudah gondok.


Tapi Arga tetap tidak memperdulikan.


"William, cepat telpon dokter Irene!"

__ADS_1


"ARGAAAAA!!!!" Teriak Meira akhirnya. Nafasnya naik turun.


Arga dan William sampai terbengong.


"Hei, sayang tenanglah, jangan berteriak seperti itu, nanti bayi kita kaget." Kata Arga sambil membelai punggung Meira. Lalu beralih mengusap usap perut Meira.


"Gimana aku mau tenang, kamu terus mencari masalah sejak tadi! cukup dengarkan aku sekarang, biarkan dokter William yang memeriksaku, jangan mengganggu dokter Irene yang sedang cuti! kalau kau masih bersikap seperti ini aku lebih baik pulang sekarang!" Meira berdiri dan menyambar tasnya di meja.


Arga ikutan berdiri. "Tidak Meira, tunggu dulu sayang. Oke oke aku akan menuruti kemauanmu, tapi duduk ya kita periksa bayi kita?" kata Arga memohon, nadanya sudah terdengar melunak.


William sudah benar benar tidak bisa menahan tawanya, hampir saja tawa itu meledak, untungnya tangannya bergerak cepat membekap mulutnya sendiri.


"Oke, tapi janji jangan berbuat ulah!"


"Iya, sayang aku janji!"


Meira akhirnya kembali duduk begitupun dengan Arga.


"Ehem." William berdeham sebelum memulai pemeriksaan.


"Jadi, apa yang bisa saya bantu untuk tuan Arga."


"Periksa istriku, dia sedang hamil 4 minggu." Jawab Arga sambil memalingkan wajah, kesal.


Meira menahan tawa, menggemaskan sekali kalau wajahnya menjadi keruh seperti itu.


"Wah, selamat ya nona untuk kehamilan nona Meira." William mengulurkan tangannya.


Arga menepisnya.


"Terima kasih dok." Meira yang menyambut uluran tangan itu, tersenyum lebar pada William.


Dua orang itu sepertinya sangat puas melihat Arga jengkel.


"Sudah cukup basa basinya, William cepatlah periksa Meira!"


"Baiklah baik, sepertinya calon ayah kita ini sangat tidak sabaran haha."


William berdiri dan mempersilahkan Meira untuk berbaring di atas kasur.


"Meira maaf ya, tarik sedikit bajunya biar saya periksa perut kamu."


buka baju?


Arga melotot.


"Hei, beraninya kau mau menyentuh tubuh istriku!" mendekat ke arah ranjang, mengibaskan tangan William yang hendak mendaratkan stetoskop ke atas perut Meira.


William tergelak. "Arga, kalau aku tidak menyentuh Meira bagaimana aku tau kondisi bayinya?"


Arga! kau manusia dari planet mana sih? Mengeram kesal di dalam hati.


"Sayang, kau tidak lupa yang barusan kau ucapkan bukan? biarkan Dr William memeriksaku! jangan mengganggu ya.." kata Meira memberikan sorot mata mengancam.


Arga mengepalkan tangannya, sial! dia tidak bisa tahan melihat gadisnya disentuh pria lain meskipun dia seorang dokter yang sedang menjalankan tugasnya.


"Argh, cepatlah! jangan berani mengambil kesempatan, atau aku akan memecatmu William!" ancam Arga.


Karna frustasi akhirnya dia berbalik badan tidak mampu membendung emosinya jika sampai melihat adegan selanjutnya, melampiaskannya dengan menendang tembok.


Beberapa detik berlalu Arga tak mendengar apapun, William memulai usgnya.


"Arga lihatlah, sudah ada kantung janin di dalam rahim Meira dan lihat ini, ini calon janin kalian!" Kata dokter William menunjuk pada titik di dalam kanton janin.


Arga berbalik dan menatap layar usg. Dia melihat sebuah gambar seperti kacang.


"Apa itu bayi kami? kenapa kecil sekali? aku tidak bisa melihat wajahnya." Memperhatikan dengan seksama sampai alisnya berkerut.


William dan Meira menahan tawa bersamaan.


"Arga, jelas saja kamu tidak bisa melihat wajahnya, masih dalam proses tumbuh kembang, janin akan mulai terlihat jelas diusia kandungan 4 bulan."


Arga mendekat ke arah monitor.


"Kau bisa mendengar detak jantung bayimu."


William sengaja mengeraskan volume di monitor.


Deg deg deg


Arga dan Meira terdiam, perlahan air mata haru menyeruak di pelupuk mata Meira.


Dia benar benar masih tak percaya jika sekarang tengah mengandung seorang nyawa di dalam rahimnya.


"Sayang, tumbuhlah sehat didalam sana.." Ucap Meira senang sambil mengusap usap perutnya.


Arga mendekat ke arah ranjang dan mencium kening Meira, mengusap lelehan air mata di pipi istrinya.


"Terima kasih Meira, aku mencintaimu." Hanya itu dari ribuan kalimat manis yang bisa dia ucapkan kepada Meira.


Meira memeluk Arga dan menangis bahagia sejadi jadinya.

__ADS_1


__ADS_2