Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Masuk kuliah lagi


__ADS_3

Jam 7.30 wib


Sinar matahari sudah menyapa di antara celah jendela kamar sebuah rumah nan megah bercat warna putih.


Arga terbangun saat cahaya itu sampai dan menerpa wajahnya yang tampan, begitu silau.


Matanya perlahan terbuka, dia melirik Meira yang masih terlelap disampingnya.


Matanya ikut mengerjap karna sinar matahari itu juga mengenai wajah cantiknya.


Arga langsung menghalangi sinar itu dengan tubuhnya, dia menghadapkan tubuhnya ke samping serta merta mengangkat kepala lalu menopangnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menarik selimut dan menutup kain itu sampai ke atas leher Meira.


Arga mencoba melindungi kepala Meira dari cahaya matahari. Sambil tersenyum sepasang matanya menatap lurus gadis itu.


Lama dia tetap diam tanpa mengubah posisinya akhirnya Meira bangun juga dari tidurnya.


"Hoam.." Meira meregangkat kedua tangannya ke udara sambil menguap lebar lebar.


Tangannya bergerak bebas meregangkan otot otot dan syaraf yang terasa kaku. Semalam adalah malam yang sangat panas, sekujur tubuhnya terasa sakit dan juga ngilu.


Tapi tangannya yang sedang bergerak liar itu tiba tiba tak sengaja menyenggol wajah Arga.


Brugh


"Heh.." Meira terlonjak kaget dengan tindakannya sendiri, buru buru dia tutup mulutnya yang sedang terbuka lebar.


"Kau sudah bangun sayang?" sapa Arga sambil menyunggingkan senyum manis, terlalu manis.


"Maaf sayang, aku gak sengaja."


Arga tertawa lalu mengusap rambutnya hingga acak acakan.


"Kau tidak usah malu malu begitu, aku sudah melihat semuanya, apa lagi yang mau kau sembunyikan dariku, menguap saja selebar mungkin, aku tidak keberatan melihatnya" kata Arga lembut.


Tapi tetap saja Meira merasa malu, menguap lebar lebar seperti kudanil dengan ke wajah baru bangun tidur, apa yang lebih memalukan dari itu?


Setelah Arga berhenti tertawa barulah dia kembali menatap Meira.


"Kau mau masuk kuliah hari ini?" tanya Arga, tangannya menyusup ke balik selimut lalu mengelus perut Meira dengan lembut.


Meira menoleh kaget "Bolehkah aku masuk kuliah?"


Arga terdiam tapi kemudian menganggukan kepalanya pelan.


"Terima kasih sayang kamu baik banget sih!" Meira mencubit gemas kedua pipi Arga. Pria itu hanya diam membiarkan istrinya menguyel-uyel wajahnya.


"Aku cuman tidak mau membuat kamu dan anak kita stress, kalau boleh jujur aku ingin sekali mengurung mu dirumah selama hamil!"


"Kok kamu ngomongnya gitu? sayang ayolah, kita udah sepakat kan tentang ini?"


"Iya, iya!" jawab Arga cepat, dia sedang malas membahas masalah itu lagi karna hanya akan membuatnya kesal tidak karuan.


Jika dia kesal maka Meira akan tertekan, dia tidak mau moodnya sampai mempengaruhi kondisi kehamilan istrinya. Jadi sebisa mungkin selama hamil Arga akan berusaha semaksimal mungkin menuruti keinginan Meira, meski kadang keinginannya itu bertentangan dengan kata hatinya.

__ADS_1


"Ayo, bersiap, jangan sampai aku berubah pikiran." Arga membuka selimut yang menutup tubuh polos mereka berdua.


Dia menggendong Meira ke kamar mandi.


Meira hendak turun dan protes tapi tubuhnya terlalu lemas untuk melakukan perlawanan, apalagi semalam tenaganya habis terkuras untuk dipakai melayani Arga sampai tengah malam, akhirnya dia hanya bisa pasrah.


Arga menahan tawa melihat kepanikan di wajah istrinya.


"Kenapa? apa yang ada di otakmu itu? kau pasti sedang berpikir mesum!" kata Arga sambil meletakkan badan Meira di dalam bathub. Dia menyalakan air lalu ikut duduk di belakang Meira.


Meira melotot mendengar tuduhan Arga.


"Tidak, aku sama sekali tidak berpikir apa apa!" kata Meira dongkol, meskipun mulutnya mengatakan itu tapi sikapnya memang sedang was was, dia takut Arga akan menyerangnya lagi seperti semalam, Arga kan tidak bisa di tebak orangnya.


Arga membasuh punggung mulus itu dengan air hangat yang mengalir lalu menggosoknya dengan busa penggosok secara lembut dan hati hati.


"Tenang saja, aku tidak akan menyerang kelinci yang belum dikasih makan.."


"Apa? kamu menyamakan aku dengan kelinci?" Meira melotot tapi Arga malah tertawa terbahak.


"Aku cuman becanda sayang, lihat wajahmu itu, seperti aku ini buaya yang hendak menerkam mu saja!"


Memang iya! dalam hati mengiyakan.


"Kau masih mual tidak?" tanya Arga sambil terus menggosok setiap bagian tubuh Meira dengan telaten.


Meira sebenarnya malu tapi dia tahu Arga melakukannya dengan tulus jadi dia tidak punya alasan untuk menolak kebaikan suaminya.


Arga mangut-mangut.


Setelah selesai mandi mereka sarapan bersama lalu langsung pergi ke kampus dengan mobil Arga.


Meira benar benar tak sabar memberikan kabar bahagia tentang rencana liburannya kepada para sahabatnya.


Bagaimana ya reaksi mereka? hihi, Meira tersenyum bahkan terkadang cekikikan sendiri di dalam mobil saking senangnya.


Jam 08.10 wib dikampus Mandala


Arga melompat turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu untuk Meira.


Saat mereka melewati lorong, entah kenapa perasaan Meira jadi tidak enak, dia melihat tatapan tatapan kesal yang terarah kepadanya.


Ada apa ini? apa dia punya salah sebelumnya? Meira berjalan dibelakang punggung Arga dengan bingung.


"Gue udah tau nih alasan peraturan gila waktu itu, ternyata kita gak boleh pake parfum gara gara istrinya Arga lagi hamil, sebel deh gue! masa gara gara satu orang semuanya jadi kena imbas!" kata seorang mahasiswa yang sedang berdiri bersama teman temannya di ujung koridor.


Mereka tidak sadar kalau Arga dan Meira sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Iya, kesel gue juga, tapi ngomong ngomong Arga keren juga sih, dia buat peraturan kaya gitukan demi bikin Meira nyaman, gue denger Meira suka mual mual kalau nyium bau parfum." sahut temannya yang lain.


Meira bisa mendengar jelas percakapan itu karna jarak mereka kini semakin berdekatan.


Sontak semuanya diam ketika melihat objek pembicaraan mereka mendekat. Apalagi saat melihat sang pentolan kampus sedang menatap mereka dengan kilatan penuh amarah, sama seperti Meira, Arga juga bisa mendengar dengan jelas setiap percakapan mereka tadi.

__ADS_1


Kontan semua langsung mengunci mulut rapat rapat, mereka saling bertatapan sambil menundukkan pandangan, tak ada yang berani menatap balik sang pentolan kampus, wajah mereka jadi sepucat kertas, tidak tau setakut apa mereka saat ini, habis sudah riwayat mereka.


"Beraninya kalian menggunjing istriku!" Arga sudah mau berteriak tapi Meira buru buru memeluk tubuhnya dari depan, kontan Arga menghentikan langkahnya.


Meira bisa mendengar dengan jelas nafas Arga yang sedang memburu hebat, kedua tangannya terkepal erat. Tandanya Arga sedang marah besar.


"Sayang, sudah sudah, mereka pasti hanya sedang meluapkan kekesalan karna peraturan konyol mu itu, lagian kenapa sih kamu malah mengeluarkan peraturan kaya gitu?!" Bentak Meira sambil tetap memeluk tubuh Arga dengan erat.


Sepasang alis Arga bertaut.


"Kenapa malah aku yang disalahkan? kau tidak lihat mereka sudah lancang membicarakan dirimu dibelakang? lepas biar ku hukum mereka semua!" Arga sudah tidak sabar tapi Meira masih berusaha menahannya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memeluk Arga lebih erat.


Sebenarnya sangat wajar kalau seluruh kampus ini protes, kampus mana yang bisa seenaknya mengeluarkan aturan yang menyangkut HAM begitu!


"Sayang..."


"Lepas!"


"Tidak!" Jerit Meira akhirnya. Dia tahu meredam kemarahan Arga tidak akan mudah. Tapi dia harus tetap mencobanya, jika tidak, maka bisa dipastikan nasib gadis gadis itu akan tamat hari ini juga.


Meira segera menoleh kebelakang dan mengibaskan satu tangannya menyuruh gerombolan mahasiswi itu untuk enyah dan segera menyelamatkan diri, karna dia sendiripun tidak tahu sampai kapan dia bisa menaham tubuh jangkung ini.


Mereka kompak mengangguk, sorot mata mereka mengungkapkan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada Meira, setelah itu mereka bergegas lari pontang-panting.


"Hei!!!" Arga sudah geram sekali tapi tubuh Meira yang memeluknya erat tidak bisa membuatnya berkutik apalagi mencoba mengejar gadis gadis itu.


"Sayang, aku mohon tenanglah.." pinta Meira dia mendongak dan melihat wajah Arga masih diliputi kekesalan. Tidak juga mencair hanya dengan pelukan ternyata.


"Sayang, aku takut melihatmu kesal begini, aku tidak suka sayang.." kata Meira sambil mengelus perutnya, sengaja menciptakan kesan dramatis.


Maafkan ibu nak, kali ini ibu harus melibatkan mu untuk meredam amarah gila ayahmu.


"Aku rasa anak kita sedikit ketakutan karna kau marah marah terus.." kata Meira lagi, dia harus berakting sedih.


"Benarkah?" Arga akhirnya terpancing, dia menatap Meira khawatir.


Arga jongkok dan mengelus perut Meira dengan lembut.


"Maafkan ayah nak, maafkan ayah, kau takut ya? aku tidak membentak mu sayang.." Arga mengelus ngelus perut Meira sambil menciumnya dengan mesra.


Meira menutup wajah malu, sekarang mereka malah jadi tontona gratis di koridor. Aduh Meira sudah tidak bisa mengendalikan keadaan. Tidak tahukah Arga betapa malunya dia, tapi lihatlah dia, dia bahkan mengajak bicara bayi di dalam perut istrinya dengan santainya.


"Sayang, udahlah hayu kita terusin jalannya." Meira mencoba membuat Arga berdiri. rasanya dia ingin segera menghilang dari sana.


"Kau benar sudah tidak apa apa?" tanya Arga smabil memegang bahu Meira, menatap gadisnya lurus lurus.


"Iya sayang, sepertinya dia sudah tenang sekarang."


Lagi lagi Meira meminta maaf karna sudah menjual nama anaknya untuk urusan kali ini.


"Yaudah yuk kita jalan lagi, pelan pelan aja ya.." kata Arga lembut. Meira menarik napas lega, untunglah sepertinya usahanya untuk membuat Arga melupakan kejadian tadi berhasil.


Arga menggenggam tangan Meira dan mereka pun kembali melanjutkan perjalan ke arah kantin, masih ada waktu setengah jam sebelum kelas pertama dimulai.

__ADS_1


__ADS_2