Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Kembalinya sang pentolan kampus


__ADS_3

Semua mata memandang terkesima pada sosok tubuh jangkung dengan wajah yang begitu tampan.


Seperti yang sudah Meira duga, kehebohan melanda kampus Mandala hari itu. Arga yang sudah beberapa bulan ini absen dari kampus nyatanya telah kembali lagi kehabitat aslinya.


Dia berjalan santai dan tak mau ambil pusing dengan tatapan orang orang disekitar yang memandangnya penuh ke kepoan.


Kabar Arga hilang ingatan pun sudah menyebar luas hingga satu kampus begitu penasaran. Apakah dengan hilang ingatannya Arga membuat sang pentolan kampus itu berubah menjadi manusia yang baik atau sebaliknya?


"Woy kalian!! ngapain ngeliatin gue sampe segitunya? mau gue congkel tuh mata terus gue kasih ke anjing jalanan yang lagi kelaparan hah?" Teriak Arga geram, dia menatap sekeliling. Risih juga dia akhirnya.


Sontak semua kembali pura pura sibuk dengan urusan masing masing. Takut, karna semua mahasiswa Mandala tau manusia ini dari dulu memiliki sisi monster dalam dirinya. Sekali dibangkitkan dia bisa menghancurkan segalanya tanpa ampun.


Arga pun menahan tawa, ternyata dia masih menjadi singa penguasa dikampus, padahal tadi dia hanya menggertak saja.


Dia pun kembali berjalan di lorong menuju kantin. Arga merogoh ponselnya untuk memberitahu Manji dan Farel agar datang juga kesana.


"Woy men, lo masuk kuliah lagi?" Tanya Manji sambil menepuk pundaknya, tiba tiba Manji sudah berdiri dibelakang Arga sambil menampakan wajah tidak percaya.


"Yoi. Gue suntuk dirumah! baru aja gue mau ngasih tau lo buat gabung di kantin."


"Emang lo gak ke perusahaan?"


Arga menggeleng.


"Lo bareng Meira?"


Tiba tiba Arga menghentikan langkahnya saat mendengar Manji menyebut nama itu.


Raut wajahnya tiba tiba berubah kecut.


"Kenapa gue harus bareng sama cewek ngeselin itu?"


Manji menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia lupa kalau sahabatnya itu sedang tidak ingat sama sekali pada istrinya sendiri.


Bagaimana dia harus mulai menjelaskan semuanya kepada Arga.


"Men, Meira itu istri lo.." Manji berkata dengan sangat hati hati agar Arga tidak marah.


Manji melanjutkan kalimatnya. "Meira itu sayang banget.."


"Stop! gue gak minat ngebahas dia pagi pagi, mending lo cabut aja kalau masih mau ngebahas tentang cewek itu!" Potong Arga kesal.


"Weits jangan gitu dong men, oke deh oke, gue gak akan bahas soal Meira lagi!" Manji akhirnya mengalah, mungkin Arga masih butuh waktu buat kembali mengingat Meira. Seketika Manji kasihan pada gadis itu.


Sampai di kantin Arga sudah melihat farel duduk di pojok kantin dengan sepiring nasi kuning di atas mejanya.


Arga dan Manji pun menghampiri Farel yang kaget melihat kedatangannya.


"Eh, Ga. lo kok udah masuk kuliah?"


Arga tersenyum sesaat. Dia berdiri dan memesan segelas es teh manis lalu kembali duduk di dekat Farel dan Manji.


"Gue bosen dirumah! lagian gue gak boleh ke kantor juga sementara sama bokap."


"Terus Meira tadi ikut sama lo? dia juga udah lumayan lama gak masuk kuliah kan karna nungguin lo dirumah sakit?"

__ADS_1


Manji mendongak lalu mencubit pinggang Farel. Farel meringis dan menoleh ke arah Manji.


"Diem bego!" Manji menggerakkan mulutnya tanpa bersuara, Manji menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri mencoba memberi isyarat pada Farel untuk diam.


Farel jadi bingung sendiri, apa dia sudah salah bicara?


Arga tampak berpikir, sepertinya Meira memang punya hubungan khusus dengannya sehingga semua orang selalu membicarakan soal gadis itu kepadanya.


"Gue dan Meira menikah karna apa?"


Pertanyaan Arga itu sontak membuat Manji dan Farel saling bersitatap.


"Ceritain semuanya sama gue! gue gedek soalnya tiap kali liat tuh anak, kayaknya dia punya dosa gede dimasalalu yang bikin otak gue gak mau nginget dia sedikitpun!"


Manji terkekeh, lucu sekali mendengar perkataan Arga barusan. Justru dia lah orang paling berdosa yang sudah memaksa Meira menikah dengannya dulu.


Akhirnya Manji dan Farel pun menceritakan garis besar hubungan diantara Arga dan Meira.


"Gue yang maksa Meira buat nikah?" Arga tercengang.


"Yoi bos, dan lo juga sih yang dulu kekeuh pengen banget Meira jadi istri lo kalau gak nikah sama dia, lo dulu ngancem bokap lo buat bunuh diri" Farel menambahkan supaya terkesan dramatis.


Manji menahan tawa melihat kekagetan di wajah Arga.


"Masa gue sampe segitunya?"


"Heeh makanya itu jangan galak galak geh sama Meira, kasian tau tuh anak hidupnya sengsara banget dulu di awal pernikahan sama bos, dia kan selalu kita jailin, yakan Ji?" Farel menatap Manji dan dijawab anggukan keras oleh pria itu.


Arga menggelengkan kepalanya. Rasanya sulit untuk percaya ucapan kedua sahabatnya ini. Dia harus mencari tahu jawabannya sendiri, sebenarnya sepenting apa wanita bernama Meira itu dalam hidupnya.


Namun secepat apapun dia mencoba mengejar waktu, dia tetap kalah. Bel masuk telah berbunyi lima belis menit yang lalu.


Kini Meira mematung didepan kelas. Bingung, entah dia harus masuk atau merelakan kelasnya pagi ini. Pintu bercat coklat itu tertutup rapat. Dia bisa mendengar dengan jelas Pak Yogi Dosen ekonomi itu sedang menjelaskan materi di dalam sana.


Akhirnya setelah beberapa menit hanya diam mematung Meira pun memilih untuk pergi. Kalau dipikir pikir percuma juga dia memaksa masuk karna nanti dosen yang terkenal sangat disiplin dengan waktu itu pasti akan mengusirnya keluar.


"Argh! semua ini gara gara Arga! dasaaar tengil! kenapa sih lo harus balik lagi ke diri lo yang dulu Ga?!!" Sepanjang lorong Meira mengumpat Arga. Kalau saja dia sedang tidak hilang ingatan rasanya Meira ingin sekali meninju Arga dengan kedua tangannya.


Novi, gadis yang begitu terobsesi dengan Arga sedari tadi berdiri diujung lorong memperhatikan gerak gerik Meira dari tersenyum licik sambil menggulung ujung rambutnya sendiri.


"Kayaknya tuh anak udah gak punya pelindung sekarang, gue denger dari anak anak, si Arga hilang ingatan dan gak bisa nginget Meira sama sekali Nov." Ucap Ica temen Novi.


Novi mengangguk lalu seketika muncul satu ide dikepalanya.


Novi pun membisikan sesuatu kepada Ica, Ica menoleh kaget dan menggeleng cepat namun setelah Novi menyodorkan beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu Ica pun akhirnya setuju untuk mengikuti ide Novi kali ini.


Setelah menerima uang Ica pun terlihat pergi meninggalkan Novi. Novi langsung berlari dan menghampiri Meira dengan wajah sok bersahabat.


"Hai Mei," Sapa Novi sambil tersenyum hangat.


Meira menatap Novi dengan alis bertaut.


Tumben nih anak nyapa gue, kesambet setan apa dia?


Meira membalas senyum Novi dengan keki.

__ADS_1


"Mei, temenin gue yuk ke kantin, lo ada kelas?"


Tanya Novi sok akrab.


"Ada sih, tapi gue terpaksa bolos, kesiangan."


"Ouh, yaudah ayok kita ke kantin aja kalau gitu!"


Meira hendak menolak namun Novi sudah keburu menggandeng tangannya, menyeret langkahnya menuju kantin.


Sesampainya di sana, kedua mata Novi menyapu seisi kantin, dia melihat Ica sudah duduk manis sambil melambai ke arahnya.


Ica seperti memberi kode dan mengcungkan jempolnya. Novi tersenyum licik, apalagi setelah melihat tak jauh dari tempat duduk Ica ada Arga yang tengah duduk dibelakang meja itu hanya selisih satu meja dengannya.


Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak pada Novi.


Kali ini dia tidak takut untuk menjahili Meira karna gadis itu sudah bukan siapa siapa bagi Arga. Novi juga penasaran apa reaksi yang akan Arga berikan saat melihat Meira dalam masalah nanti.


Novi pun menggandeng Meira yang masih belum sadar kalau dirinya sedang jadi target kejahilan Novi.


"Mei, duduk disini, gue pesenin makanan dulu!"


Novi menunduk menatap bangku yang akan Meira tempati. Diatas bangku itu sudah Ica olesi lem super sesuai dengan permintaan Novi, Meira tak menyadari karna posisinya dia sudah berdiri di depan bangku itu.


"Duduk aja Mei duduk!"


Meira hanya terpaku, menatap lurus kedepan sana, ternyata Arga sedang duduk bersama kedua sahabatnya.


Novi yang menyadari itu langsung menekan bahu Meira agar gadis itu tidak kemana mana.


Meira pun duduk dan seketika pantatnya beradu dengan lem yang super lengket itu.


Meira tersentak kaget saat menyadari ada sesuatu yang basah yang baru saja dia duduki. Dia pun berusaha untuk bangkit namun sesuatu seolah menahan kain rok yang dikenakannya dengan sangat kuat.


Meira memeriksa dan seketika matanya membulat sempurna.


"Apaan nih? ini kayak lem, kok gak bisa dilepas?" Tanya Meira dengan wajah tegang. Dia menatap Novi namun gadis itu telah pergi ke untuk memesan makanan.


Meira mencoba menarik kain roknya agar terlepas dari lem itu namun sia sia. Arga yang menyadari kepanikan diwajah Meira menatap gadis itu lurus.


Tak lama Novi kembali dengan semangkuk somay ditangan kanannya.


"Nov, ini pasti kerjaan lo kan?" Tanya Meira dengan wajah panik, dia menunjuk bagian pantatnya yang kini menempel sempurna dengan permukaan bangku.


"Maksud lo apa sih Mei, gue gak ngerti." Elak Novi, dia menahan tawa melihat kepanikan diwajah Meira.


"Jangan berlaga bego, gue yakin ini pasti kerjaan lo!" Meira masih berusaha untuk melepaskan kain roknya dari bangku namun lagi lagi gagal.


Novi pun berpura pura membantu Meira dengan menarik badan gadis itu, dia mengkode Ica yang sedari tadi terus terkekeh untuk ikut membantu mengangkat tubuh Meira.


"Lepas! gue bisa sendiri!" Meira menepis lengan Novi dan Ica namun dua orang itu tetap kekeh memaksa menarik tubuhnya.


Tak lama terdengar bunyi kain robek, Meira tersentak, wajahnya seketika menjadi pias. Karna kehebohan tiga orang itu semua yang berada di dalam kantin pun menoleh.


"Yah Mei, rok lo bolong tuh!" Ucap Novi dengan intonasi yang sengaja dikeraskan.

__ADS_1


Yang lain ikut berdiri demi melihat apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2