Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Curiga


__ADS_3

"Gue gak nyangka Bima bisa nikam gue dari belakang kaya gini?" Reihand menghela nafas kasar. Hancur, begitu hancur hatinya ketika tau ternyata Bima sudah mengkhianatinya sebegitu rupa.


Arga menarik gelas dari atas meja disamping tempat tidurnya, meneguk isinya sampai habis lalu menatap Reihand kembali.


"Lo harus hati hati sama Bima. Dia kayaknya bukan orang yang baik."


Reihand terdiam. Tiba tiba jadi teringat sesuatu.


"Ga, apa lo liat siapa yang waktu itu mau ngelempar Meira pake batu?"


Arga mencoba mengingat ngingat kejadian waktu itu. "Enggak! dia pake penutup wajah, sayang sekali waktu itu gue gak keburu nangkep bajingan itu!"


Reihand tampak berpikir. Arga jadi penasaran.


"Kenapa?"


"Gue masih belum yakin, tapi kayaknya itu.."Reihand memenggal kalimatnya, membuat Arga semakin intens menatapnya, penasaran.


"Itu Bima."


Arga melotot. "Bima?" Tanyanya marah.


"Iya.."


Reihand pun menceritakan kronologi hari itu, saat dia ketiduran ada yang sengaja membajak ponselnya untuk mengirimkan pesan berantai kepada anak anak Jayakarta untuk menyerang anak anak Mandala. Dan yang terakhir kali bersamanya waktu itu hanyalah Bima.


Arga mengepalkan kedua tangannya.


"Apa yang mau dilakukan Bima sama Meira? mereka kan gak pernah saling kenal!"


"Itu yang gak gue tau Ga. Yang pasti kita harus mulai memperketat penjagaan pada Meira!!"


"Kita?" Arga mengulangi pertanyaan Reihand.


"Dia itu istri gue, gue yang akan jagain dia. Lo gak perlu repot repot!" Timpal Arga lagi, menegaskan, kali ini dengan memberikan tatapan setajam elang.


Reihand hanya diam. Sadar sepertinya dia telah salah bicara.


***


Pukul 16.10 wib dirumah sakit


"Kenapa lo diem aja? bantuin gue ke kamar mandi." Ucap Arga dengan nada memerintah.


"Iya, iya gue bantuin!" Jawab Meira sambil merengut.


Dasar tuan besar yang sok, tetep aja marah marah walaupun lagi sakit juga!

__ADS_1


Meira segera berjalan ke pinggir ranjang, mencoba memapah Arga. Diletakkannya salah satu tangan Arga untuk melingkar di bahunya, sementara satu tangannya lagi mencoba memegangi pinggang pria itu.


Dengan susah payah Meira mencoba membantu Arga berjalan ke kamar mandi, padahal yang punya badan tidak lemah sama sekali. Arga hanya pura pura saja.


"Lo berat banget sih! kita panggil suster aja deh!" Ucap Meira sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok.


Arga menahan tawa. Namun Meira tak dapat melihat ekspresi wajahnya. Dia memang sengaja mengerjai Meira.


"Yang ikhlas dong kalau bantuin orang! buruan!! gue kebelet nih!"


"Hah? yaudah yaudah ayok!"


Sambil tetap merengut Meira pun kembali mencoba memapah tubuh jangkung itu dengan sekuat tenaga. Saat sampai di depan pintu kamar mandi, Meira membukakan gagang pintu lalu mengangkat satu tangannya.


"Silahkan masuk tuan Arga yang terhormat, hamba permisi dulu!" Gayanya mirip pelayan dari kerajaan. Sambil membungkukkan badannya Meira pun hendak pergi namun Arga segera mencekal satu tangannya dari belakang.


"Mau kemana? siapa yang bilang tugas lo udah selesai?" Arga membungkukkan badannya, mencoba mensejajarkan wajahnya dengan wajah Meira.


"Maksudnya?" Meira menatap bingung.


"Bantuin gue sampai selesai dong!"


Arga pun langsung menarik paksa Meira ke dalam kamar mandi.


Meira kaget ketika melihat Arga dengan mudahnya mampu berjalan sendiri.


Bukannya menjawab pertanyaan Meira, Arga malah berbalik lalu menyeret tubuh Meira kebelakang pintu.


Klek, Seketika Arga langsung mengunci pintunya.


Meira terpojok. Arga tersenyum kecil. Bulu kuduk Meira langsung berdiri.


"Lo.. Lo mau apa Ga?" Tanya Meira gugup.


"Sesuatu yang manis!" Arga menatap bibir ranum Meira. Dia menelan ludah berat. Sedari tadi bibir itu terus menggoda hasratnya.


Sementara Meira masih mencoba mencerna kata kata Arga. Sesuatu yang manis?


"Lo kebelet apa emang? mau buang air kecil?" Dengan polosnya Meira masih mengira Arga ingin ditemani pipis.


Arga hanya diam, ditatapnya Meira tepat di manik matanya.


Meira membeku, sekujur tubuhnya panas dingin. Arga mendekatkan wajahnya, hembusan nafasnya bisa Meira rasakan menyapu lembut kulit wajahnya.


Tak tahan lagi, Arga langsung memberikan satu pagutan ke bibir gadis itu. Meira tersentak, kaget mendapatkan serangan dadakan. Refleks dia hendak mendorong tubuh Arga namun pria itu menangkap tangannya lalu menguncinya kebelakang tubuhnya.


"Hhh" Tak sadar Meira pun mend esah ketika Arga semakin melum at habis isi mulutnya.

__ADS_1


Seakan tak memberikannya kesempatan untuk bernafas panjang. Meira mencoba memberontak dan sudah pasti usahanya itu sia sia saja.


Barulah Arga melepaskan ciumannya ketika melihat wajah Meira hampir membiru.


Sedang berusaha mencoba untuk mengambil nafas dalam dalam, Arga sudah menyerangnya lagi, kali ini tangannya yang mulai bergerilya masuk kedalam kaosnya.


"Ga!" Seru Meira tertahan.


"St!" Arga langsung menempelkan jari telunjuknya. Meira bisa mendengar nafas Arga yang mulai tak beraturan.


"Ahh.." Lagi lagi tanpa sadar Meira mend esah ketika merasakan lengan kekar Arga mulai mere mas kedua pay udaranya.


Kenapa gue menikmati sentuhannya? gue pasti udah gila!


Tanpa aba aba, Arga perlahan berlutut dan mensejajarkan wajahnya dengan dada Meira. Meira benar benar kehabisan kata kata sekarang, pikirannya blank.


Arga membuka setengah baju Meira sampai di dada. Meira memejamkan matanya sambil mencengkram bahu Arga. Gugup dan deg degan ketika perlahan bibir Arga menempel dan mendarat lembut di salah satu pay udaranya. Arga menyesapnya dan memberikan stempel merah disana.


"Ingatlah Meira. Mulai sekarang, tubuhmu ini seutuhnya milikku, tidak akan ku biarkan siapapun menyentuhnya. Kau paham?" Desis Arga sambil mendongakan kepalanya, menatap Meira yang terlihat hanya diam tanpa bisa membuka mulutnya. Kelu, entah apa maksud dari ucapan Arga barusan..


Seenaknya saja! tanpa menyatakan cinta, apakah pantas mengatakan hal seperti itu? apakah dia tidak sadar aku hampir mati saking gugupnya dengan semua ini?!


Arga kembali berdiri. Lalu membetulkan kembali baju Meira, menutup lagi bagian perutnya yang sempat keliatan. Diusapnya pelan pinggang Meira untuk kemudian didekapnya gadis itu erat.


Arga mencengkram dagu Meira lalu sekali lagi melu mat bibir itu dengan penuh nafsu.


"Tunggu dulu!" Ucap Meira sambil menjauhkan wajahnya. Membuat aktifitas ciuman seketika terhenti.


Arga menatapnya lurus.


"Sebenernya.. apa arti dari kata kata lo tadi? gue butuh penjelasan! apa itu artinya.." Ragu untuk bertanya, Meira menggantung kalimatnya.


Arga menahan tawa, dia paham apa yang ingin dikatakan oleh Meira. Sebuah pengakuan cinta bukan? Arga menebak sambil mendekatkan wajahnya.


"Artinya apa? lanjutin dong! yang jelas kalau bertanya!" Ketus Arga.


Sial! nih anak kayaknya sengaja mancing mancing gue. Masa iya gue harus ngemis pengakuan cinta lebih dulu! gue kan cewek!


Karena melihat Meira diam saja Arga akhirnya menjentikkan jari telunjuknya di depan wajah Meira.


"Ding dong! waktu lo udah selesai! oke percakapan kita cukup sampai disini aja, keluar! kebelet BAB nih!" Arga membuka pintu lalu segera mendorong tubuh Meira dari dalam kamar mandi.


Meira melongo, tak menyangka akan mendapatkan perlakuan sedemikian rupa setelah Arga puas menja mah tubuhnya. Dia di usir begitu saja sebelum mendapatkan apa yang ingin ditanyakan nya. Curang! ini benar benar curang!


Arga langsung mengunci pintu dari dalam setelah Meira berdiri diluar kamar mandi. Lalu menyenderkan kepalanya di daun pintu sambil mengelus dadanya.


Meira tidak tahu jika Arga pun sama gugupnya dengan dia, hanya laki laki itu begitu pandai menyembunyikannya lewat ketenangan sikapnya.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2