Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Mulai luluh


__ADS_3

Meira mendekati ranjang Arga dengan langkah pelan, pemilik wajah tampan itu masih terlelap. Mungkin pengaruh obat biusnya masih ada.


Saat memperhatikan wajah Arga tiba tiba jantungnya berdebar lagi. Tak mampu ditepis, kali ini Meira menyadari ada yang tak beres dengan perasaannya.


"Ish, gue kenapa sih!" Desis Meira kesal sambil mengetuk ngetuk keningnya sendiri dengan tangannya.


Inget Mei inget! Arga nikahin lo cuman buat balas dendam, gak lebih! Gerutu Meira dalam hati.


Meira pun semakin mendekat dan mencoba membetulkan letak posisi selimut Arga yang sedikit turun. Ditariknya selimut itu hingga ke ujung dada Arga.


"Gue harap lo cepet sembuh Ga, gue gak tau kenapa, ngeliat lo kaya gini, gue jadi sedih banget.." Ucap Meira pelan. Sangat pelan dan Meira berpikir hanya dia yang mampu mendengar suaranya tadi.


Dia pun langsung berbalik dan hendak menuju sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang untuk membaringkan dirinya. Namun tiba tiba sebuah lengan terulur dari belakang, mendekap tubuhnya dengan sangat erat.


"Mau kemana?" Suara Arga terdengar begitu serak dan pelan. Meira menoleh ke belakang. Sepasang mata coklat itu kini tengah menatapnya lurus.



Meira tercengang.


"Lo udah bangun Ga?" Tanyanya gugup. Diapun buru buru melepaskan lengan Arga yang tengah melingkar dipinggangnya.


Namun Arga malah menarik kedua tangannya dengan sangat cepat hingga Wajah gadis itu kini jatuh terjerembab tepat diatas dada bidang milik Arga.


Meira kaget dan hendak membetulkan posisinya namun lengan kekar Arga menahannya.


"Kalau lo mau gue sembuh, temenin gue tidur diranjang malam ini.." Bisik Arga lirih.


Meira menelan ludah berat, jangan jangan Arga mendengar ucapannya tadi!


Arga lalu menggeser tubuhnya sendiri dan memberikan ruang untuk Meira berbaring disampingnya.


Meira mematung, dia merasa aneh juga bingung karna sikap Arga yang tidak seperti biasanya ini.


Benarkah yang dihadapannya sekarang ini adalah Arga? mengapa Arga bersikap begitu baik? Ya Tuhan, apa jangan jangan saat beradu jotos dengan Reihand tadi sore membuat otak Arga jadi sedikit konslet!


"Kenapa malah bengong, cepet naik ke ranjang!" Meskipun dengan suara pelan namun tetap terdengar seperti memerintah. Nah ini baru Arga nih!


Tapi Meira masih tidak yakin.


"Gue..gue panggil dokter dulu ya buat meriksa lo!" Ucap Meira mengalihkan topik pembicaraan.


"Gue gak butuh dokter. Cepetan tidur disamping gue!" Ucap Arga lagi. Membuat Meira kembali melongo.


"Selain bodoh, lo juga budeg ya sekarang?"


Meira memukul bahu Arga pelan. "Enak aja! kalau gue bodoh, gue gak akan dapet beasiswa di Mandala!"


"Emang bodoh hanya berlaku untuk sebutan orang yang gak bisa pelajaran doang? makannya maen yang jauh biar wawasan lo nambah, jangan terus menerus bertumpu hanya pada buku buku yang lo baca! Lo bodoh karna lo gak pernah bisa baca situasi!" Nada bicara Arga terdengar sok.


Meira kesal. Kali ini dia yakin jika orang yang dihadapannya sekarang memanglah Arga! Arga si tengil!

__ADS_1


"Yaudah gue akuin gue emang bodoh! dan si bodoh ini gak mau tidur diranjang sama lo! wee!!" Meira menjulingkan matanya lalu sengaja memeletkan lidahnya ke arah Arga.


Arga menahan tawa karena merasa gemas melihat kekonyolan Meira. Saat gadis itu hendak berbalik dia langsung mencekal tangannya.


Terpaksa harus menggunakan sedikit kekerasan dengan tanda kutip menarik paksa tubuh Meira ke atas ranjang.


Jarak yang terlalu dekat. Hembusan nafas Arga yang bahkan bisa Meira rasakan menerpa kulit wajahnya. Jantung Meira kembali berdebar kencang saat dia harus bertatapan langsung dengan wajah Arga.


"Tidur disamping gue.." Kali ini nada Suara Arga terdengar lembut dan serius.


Arga merentangkan satu tangannya dan mengangkat kepala Meira untuk bertumbu dan menjadikan salah satu tangannya sebagai bantal yang empuk.


Arga menatapnya dengan intens, membuat Meira harus mati matian menahan gejolak rasa asing itu di dalam dadanya. Malam itu, disaksikan bulan yang menggantung indah dilangit. Meira, untuk pertama kalinya tidur disamping suaminya.


***


Pagi itu pukul 08.00 wib di salah satu perusahaan milik keluarga Heru Alexander.


Andrew sedang berada di dalam ruangannya, sibuk dengan beberapa berkas penting yang terlihat menumpuk di atas meja kerjanya.


Tak lama dia menoleh ketika terdengar bunyi ketukan pintu.


tok tok tok


"Siapa? Masuk saja!" Ucap Andrew sambil kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Selamat pagi Ndrew."


"Meta, duduklah." Wajah Andrew langsung berubah cerah.


"Ada apa? apa ada yang bisa saya bantu?"


"Hmm itu.." Meta tampak ragu melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa Arga gak masuk ya? saya dengar dia dirawat dirumah sakit, apa itu benar Ndrew?"


Wajah cerah Andrew tadi mendadak lenyap. Berganti dengan ekspresi kecut.


"Kamu kesini cuman mau nanyain soal adik saya?"Tanya Andrew acuh. Dia pun kembali sibuk dengan berkas berkas dihadapannya.


Meta yang menyadari sikap Andrew yang mulai berubah langsung mencari alibi.


"Ga gitu Ndrew, sebenernya saya mau ngasih tau kalau Tuan heru menyuruh kamu menggantikan meeting siang ini diluar perusahaan. Beliau menyuruh saya menemani kamu."


"Siang ini?"


Meta mengangguk.


Andrew tersenyum tipis. Baguslah, ada untungnya juga Arga sakit. Jadi sekarang ayahnya mulai menyerahkan pekerjaan penting kepadanya lagi. Coba kalau ada Arga, dia yakin ayahnya pasti tidak akan meliriknya untuk mengurus hal hal seperti ini.


"Oke, siapkan saja semuanya. Saya akan menghadiri meeting itu bersama kamu."

__ADS_1


"Baik Ndrew."


Andrew mencuri pandangan pada Meta. Gadis itu benar benar idamannya, wajah blasteran jerman dengan tubuh bak gitar spanyol itu mampu membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali mereka bertemu.


Dia pikir dengan statusnya sebagai anak dari pemilik perusahaan bisa membuat Meta meliriknya. Namun ternyata sangat sulit mendapatkan perhatian dari gadis di depannya ini. Tapi Andrew berjanji pada dirinya, dia tak akan menyerah sampai janur kuning melengkung.


"Met, tunggu.." Andrew menghampiri Meta yang hendak pergi dari ruangannya.


"Iya, ada apa Ndrew?"


"Setelah meeting, kamu keberatan gak kalau kita makan bareng?"


Meta tertegun, sejujurnya dia tidak berminat sama sekali pada Andrew, yang dia inginkan justru adiknya Arga.


Tapi untuk mendapatkan kakap bukankah kita harus punya umpannya lebih dulu?


"Oke, saya mau makan bareng kamu Ndrew.."


"Yes!!!"


Andrew hampir saja melompat kegirangan. Tak menyangka ajakannya kali ini akan diterima oleh Meta.


Meta pun segera meninggalkan ruangan Andrew dengan senyum terselubung tersungging di bibirnya.


***


Diruang kerja perusahaan Alexander


"Hah? Lo nerima ajakan Andrew buat makan bareng? gak salah denger nih gue? tumben! katanya lo gak suka sama dia." Jessy kaget saat Meta menceritakan tentang tawaran makan siang dari Andrew tadi.


"Iya serius. Gue emang gak suka sama Andrew!"


"Terus?" Jessy tak paham.


"Iya, sebenernya gue punya rencana buat bisa deket sama Arga lewat Andrew.."


"Hah?" Kedua mata Jessy terbelalak mendengarnya.


"Gila lo!" Timpal Jessy kemudian.


Meta malah tertawa melihat kekagetan Jessy.


"Pinter kan gue?"


"Lebih ke nekat sih lo! segitunya banget pengen deketin Arga."


"Ya iyalah, lo kan tau sendiri, gue tuh paling gak bisa dibikin penasaran! pokoknya gue bakal lakuin apapun buat bisa milikin Arga, apapun!" Tukas Meta final.


bersambung..


Hai readerku sayang.. jangan lupa vote, likenya ya :)

__ADS_1


__ADS_2