Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Melakukannya di kantor


__ADS_3

Jam pulang kantor telah tiba. Namun Velina tidak lekas membereskan meja kerjanya dan bersiap-siap untuk pulang. Ada beberapa laporan yang harus ia kerjakan sekarang juga.


"Apa kau akan pulang lembur hari ini?" Tiba-tiba Juan sudah ada di sisi mejanya.


"Entahlah, aku hanya berusaha menyelesaikan laporan presentasi untuk meeting besok."


"Baiklah, aku akan menemanimu di sini."


"Apa?" Velina seketika mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya menatap Juan.


"Kenapa? Tidak apa-apa kan kalau aku menemanimu di sini? Kecuali--" Juan sengaja menjeda kalimatnya sembari menundukkan kepalanya mendekat ke arah wajah Velina.


"Kecuali apa?" Velina menghindar ke belakang.


"Kecuali kau takut ada yang marah jika melihat kita berduaan seperti ini." Kedua matanya menyelidik, seolah mencari apa yang coba Velina sembunyikan di balik matanya.


"Kau tidak berhak mencari tahu privasiku."


Mendengar itu, Juan terkekeh dan menegakkan badannya kembali. "Apanya yang lucu?" Dengus Velina kesal. Pria ini bahkan terlihat lebih menyebalkan daripada Diego.


"Aku kan hanya becanda, tapi kenapa wajahmu panik begitu? Atau jangan kau memang sudah punya kekasih, ya?"


"Itu bukan urusanmu!"


"Oh... ayolah, itu hanya pertanyaan biasa, kenapa kau harus semarah itu?" Juan tidak melihat perubahan wajah Velina, wanita itu masih menatap kesal ke arahnya. "Baiklah, aku tidak akan menanyakan lagi prihal kehidupan pribadimu. Kau tahu... aku hanya berharap kita bisa akrab layaknya teman."


Aneh sekali, pikir Velina. Sejak kapan pria ini jadi banyak bicara dan super keppo seperti ini? Bukankah biasanya dia itu sok cool? Sepertinya ia sedang salah minum obat.


Pintu ruangan Diego terbuka, keduanya pun menoleh dan melihat sosok tampan itu tampak keluar dari sana. Ia melirik ke arah Velina dan Juan secara bergantian, dan tiba-tiba perasaanya menjadi kesal, karena Velina terlihat begitu dekat dengan Juan.


Apa kau suka menggoda pria lain juga? Dan kau merasa nyaman dengannya? Kesal Diego dalam hati.


"Kenapa kalian belum pulang? Bukankah ini sudah lewat jam pulang kantor?" Tegur Diego pada keduanya. Meski kesal, ia mencoba untuk tetap terlihat tenang.

__ADS_1


"Velina sedang berusaha menyelesaikan proposalnya, dan aku menawarkan diri untuk menemaninya," sahut Juan seraya tersenyum.


"Oh... begitu," Diego lagi-lagi melirik Velina dengan tajam. Ia ingin meluapkan kekesalannya namun situasinya tidak memungkinkan. Jika ia tiba-tiba marah itu akan membuat Juan merasa curiga.


"Juan ... apa kau lupa? Bukankah seharusnya malam ini kau menghadiri pesta pernikahan putri Tuan Eden client kita, kan?"


Juan seketika menepuk jidatnya, "Anda benar, Tuan. Kenapa aku bisa melupakan hal ini?"


"Kalau begitu bergegaslah pulang dan bersiap-siap."


"Tapi Velina--"


"Jika kau khawatir padanya, biar aku saja yang mengantarnya pulang." Potong Diego.


"Tapi--"


"Apa lagi?" Suara Diego sedikit meninggi tapi ia tetap berusaha mengontrol dirinya.


"Sebagai teman, aku harap kau tidak mempermainkannya, oke? Aku tahu reputasimu, tapi untuk kali ini saja, jangan berusaha menggodanya," pinta Juan sungguh-sungguh.


Mendengar itu, Juan sedikit menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu."


***


Velina tidak menyangka jika sebenarnya Diego dan Juan adalah teman dekat. Mereka terlihat profesional layaknya atasan dan bawahan jika masih dalam jam kerja. Namun jika di luar jam kerja, mereka benar-benar terlihat layaknya dua sahabat.


"Apa kau belum selesai juga?" Velina buru-buru menjejakkan kembali kakinya ke dunia nyata setelah mendengar suara dalam Diego.


"Ah... ya, sedikit lagi."


"Untuk apa kau harus bekerja sekeras ini? Sebenarnya kau bisa mengerjakannya besok, masih ada waktu sebelum jam meeting di mulai." Ujar Diego tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Aku tidak suka menunda-nunda pekerjaan, terlebih lagi jika aku di remeh kan."

__ADS_1


"Memang siapa yang telah meremehkanmu?" Diego mengalihkan tatapannya pada Velina.


Velina terdiam, berpikir, apakah dirinya harus menceritakan tentang perlakuan para karyawannya terhadapnya? Velina takut itu akan berdampak panjang dan buruk bagi mereka.


"Tidak ada, sebenarnya ... aku sendiri yang tidak ingin di remehkan, sebab itu aku harus bekerja lebih keras lagi," sahut Velina dengan masih fokus dengan layar laptopnya.


Diego menaruh ponselnya ke dalam saku jasnya, kemudian Beringsut mendekati Velina. Ia berdiri di belakang kursi yang di duduki Velina dan merundukkan badannya sedikit. "Untuk apa kau bekerja keras untuk ini? Bukankah kau sudah memiliki segalanya dengan melayaniku?" Ujar Diego dengan suara sensual tepat di dekat telinga Velina.


"Apa yang kau lakukan?" Velina reflek menoleh ke arah pria itu. Mata mereka bertemu dan saling tatap. Jantung Velina mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya.


Kerena tak ingin hanyut ke dalam pesona pria itu, Velina mencoba memalingkan wajahnya, namun Diego dengan cepat menariknya kembali ke hadapannya. Tak hanya itu, kini bibirnya pun turut ******* bibir Velina dengan rakus.


"Ah..." Velina tanpa sadar mendesah saat ciuman Diego turun ke leher.


"Apa kau lupa kita sedang dimana?" Velina mencoba mengingatkan dengan napasnya yang sedikit tersentak menahan serangan bibir Diego di area dadanya.


Pria itu dengan cepat melepas satu per satu kancing blousnya dan tak hentinya menjilat daerah itu bagai singa yang lapar.


"Memangnya kenapa? Ini kantorku."


"Tapi bagaimana jika ada yang datang dan melihat?" Velina masih berusaha mempertahankan kewarasannya meski serangan demi serangan dari Diego membuat gairahnya turut bangkit.


"Tidak akan, ini kan sudah jam pulang kantor. Lagipula aku juga tidak peduli jika ada yang melihat," sahut Diego yang kini bersiap membopong tubuh Velina pindah ke sofa.


Ia merebahkan tubuh ramping dan sudah tak berdaya itu di sana, dan segera menindihnya dengan tubuhnya yang atletis.


"Kau gila!"


"Tapi kau menyukainya kan?"


Velina terdiam, kata-kata Diego seolah membungkamnya. Jujur saja, tubuhnya memang tak pernah bisa menolak sentuhan pria itu.


Sore menjelang malam itu mereka habiskan dengan bercinta hingga keduanya kelelahan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2