Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Petaka dimulai


__ADS_3

Meira termenung, tiba tiba kejadian saat dirinya hendak di serang pria bertopeng waktu tawuran muncul lagi dibenaknya.


Buru buru dia meringkuk dan mendekap erat dada bidang Arga. Dia gemetar hebat setiap kali teringat kejadian mengerikan itu.


"Kenapa sayang? ada apa?" Tanya Arga khawatir, dia bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar.


Meira menggeleng dan semakin membenamkan kepalanya dipelukan Arga.


"Apa yang membuatmu takut?"Tanya Arga lagi. Dibalasnya pelukan Meira, didekapnya gadis itu dengan erat.


"Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu Ga, kalau Andrew bisa senekat itu menyewa orang untuk mencelakaiku, maka dia tidak akan segan segan melakukan hal sama pada kamu Ga."


Arga tersenyum sambil membelai lembut kepala Meira.


"Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan kenapa napa."


Meira mempererat pelukannya, entah kenapa kali ini perasaannya benar benar tidak enak.


***


Lusa pun tiba, hari keberangkatan Arga ke puncak untuk mengurus proyek besar sudah di depan mata.


Pagi itu, Meira sedang melihat pantulan dirinya di cermin, sambil menyisir rambut dia melamun sesaat. Kenapa perasaannya jadi tidak enak begini, entah kenapa hatinya tidak rela Arga pergi ke puncak.


"Meira.."


Arga tiba tiba sudah berdiri dibelakangnya, entah sejak kapan Meira yang melamun sampai tidak sadar.


Arga membungkuk lalu memeluk tubuh Meira, dia ikut menatap ke arah kaca yang kini menampakkan pantulan dirinya dan juga gadis itu.


"Kenapa? kok murung? ayolah, aku cuman pergi untuk dua minggu saja.." Ucap Arga sambil tersenyum lebar.


Meira menunduk, rasanya begitu sesak, mungkin karna ini kali pertema setelah menikah Arga akan pergi meninggalkannya untuk beberapa waktu yang cukup lama.


"Angkat wajahmu yang cantik ini, aku tidak ingin pergi dengan terbayang bayang wajah cemberutmu!" Arga mencubit gemas kedua pipi Meira dari belakang.


Gadis itu tetap diam, malah wajahnya terlihat semakin sendu.


Arga mengangkat tubuh Meira dan menggendongnya ke kasur. Dia mendudukkan Meira di tepi kasur, lalu Arga bersimpuh di depan gadis itu.


"Hei, lihat mataku!" Pinta Arga lembut.


Meira mendongak, Arga tersentak ketika melihat mata gadis itu ternyata sudah basah oleh air mata.

__ADS_1


"Astaga kenapa kamu menangis?" Tanyanya khawatir.


Dia ikut duduk di samping Meira lalu mendekap gadis itu ke dalam pelukannya.


"Aku tidak tahu Ga, tapi aku punya firasat buruk, bisakah kamu tidak pergi saja?" Tanya Meira akhirnya. Gadis itu menatap Arga lekat lekat.


Arga membelai pipi Meira sambil mengusap butiran bening yang masih terlihat membasahi wajahnya.


"Jika aku tidak pergi, maka papah akan kehilangan satu kesempatan besar untuk mengembangkan perusahaan yang ada disini. Aku tidak mungkin lepas dari tanggung jawab ini Mei, kau tidak perlu khawatir, aku akan baik baik saja sayang."


"Tapi.."


Belum sempat Meira menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah dibungkam lebih dulu oleh bibir Arga. Arga memberi pagutan yang begitu dalam. Ditekannya tengkuk Meira hingga gadis itu tak bisa berkutik.


"Arga!!" Berontak Meira kesal.


"Aku pasti akan merindukan bibir manis ini, jadi ijinkan aku menyentuhnya lebih lama."


Arga kembali memagut bibir ranum itu meski sang pemilik menolaknya. Meira berusaha melepaskan diri namun tenaga Arga jelas bukan tandingannya.


Akhirnya dia pasrah dan membiarkan Arga ******* habis seluruh isi mulutnya.


Setelah beberapa menit Arga barulah melepaskan tautan mulutnya.


"Jaga dirimu baik baik selama aku pergi."


Meira mengangguk dan dengan berat hati hari itu dia mengantarkan Arga sampai di depan gerbang. Perlahan mobil hitam milik Arga menjauh meninggalkan dirinya yang masih setia mematung ditempatnya.


***


Seminggu berlalu sejak kepergian Arga kepuncak, Meira jadi sering uring uringan sendiri.


Meskipun Arga menelponnya hampir setiap jam, namun tetap saja Meira merasa tak puas. Dia merasa begitu rindu kepada suaminya, dia ingin sekali secepatnya bertemu dengan Arga.


Apalagi selama Arga pergi, dia benar benar dijaga ketat oleh para pengawal dan tentunya juga Reihand. Hari harinya jadi tidak bebas, dia merasa seperti dibelenggu meskipun dia tau itu untuk kebaikannya. Arga ingin memastikan dirinya aman dan baik baik saja.


Seperti sore ini, selepas pulang dari kampus Meira dan kedua sahabatnya sudah janjian untuk nonton film bersama. Arga memberikan ijin asal Reihand ikut bersama mereka.


"Ah, Mei, gak asik banget sih! kan ini acara khusus cewek, masa si Reihand ikutan juga sih!" Omel Widya ketika dia melihat Reihand sudah berdiri manis di depan gerbang kampus.


"Iya, Mei. Lagian gue perhatiin dia kok deket deket elo terus sih? dia gak tau apa ya lo udah punya suami!" Timpal Flo tak kalah sengit.


Meira hanya garuk garuk kepala, dia tidak mungkin memberitahukan alesan sebenarnya kepada kedua sahabatnya itu jika Reihand disini untuk menjaga keselamatannya, dan justru yang menyuruh Reihand terus berada di dekatnya tidak lain adalah Arga suaminya.

__ADS_1


"Hai, Meira.." Sapa Reihand hangat, seperti biasa laki laki itu selalu muncul dengan senyum jenaka diwajahnya yang tampan.


"Hai Flo.. Wid." Kali ini tatapannya beralih pada kedua cewek yang berdiri disebelah Meira.


"Hai Rei." Balas Flo dan Widya hampir bersamaan.


"Yuk, kita berangkat sekarang, setengah jam lagi filmnya bakal dimulai, naik mobil gue aja ya, gimana?"


"Eh tapi ngerepotin gak?"Tanya Flo buru buru.


Reihand menggeleng keras.


"Engga dong! yaudah yuk!" Reihand langsung berbalik dan berjalan lebih dulu ke arah mobil silvernya yang diparkir tak jauh dari gerbang kampus.


Dia lalu membukakan pintu untuk Meira dan kedua sahabatnya.


Tak disangka di dalam mobil suasana yang tadinya kikuk mendadak ramai ketika Reihand melontarkan beberapa guyonan untuk kedua cewek di samping Meira.


Meira tersenyum melihat keakraban teman temannya, syukurlah sepertinya mereka mulai melihat sisi baik dari Reihand. Meira tahu selama ini Reihand sudah berusaha sangat keras untuk bisa di terima di kampus Mandala.


Dia pasti sangat tertekan setelah pindah ke kampus yang dulu jadi sasaran tawurannya ketika dia masih menjadi anak Jayakarta.


Bahkan anak anak sekelaspun masih enggan untuk dekat dan sekedar ngobrol dengan dirinya. Sepertinya di otak mereka masih tertanam jelas, bahwa sang pentolan Jayakarta adalah musuh abadi meskipun dia sekarang sudah berganti alamamater.


Saat mereka asyik mengobrol tiba tiba Reihand membanting setirnya ke bahu jalan. Tubuh Meira dan kedua temannya yang duduk dibelakang ikut miring dan saling berbenturan dan berhimpitan di dekat pintu mobil.


"Rei, ada apa? kenapa ngerem dadakan?"


Tanya Meira kaget.


"Pasti ada kucing mau lewat ya?" tebak Flo.


namun Reihand tak menyahut, dia terlihat fokus menatap jalan di depannya.


Meira mengerutkan kening, diapun ikut mendongak demi bisa melihat ke depan, dan betapa terkejutnya Meira saat melihat segerombolan laki laki datang dan mengitari mobil mereka.


"WOY KELUAR!!!" Salah satu pria itu menggedor gedor kaca penumpang hingga membuat Meira, Widya dan Flo saling menatap ketakutan.


"Rei, mereka siapa?"


"Mereka anak anak Jayakarta Mei! kalian tetap disini oke?!"


Reihand beringsut dari tempat duduknya dan keluar dari mobil dengan tangan terkepal.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2