Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Terpesona Pada Flo


__ADS_3

Di rumah Widya.


Sebagain tamu undangan sudah hadir memenuhi teras belakang rumah besarnya. Mereka sangat kagum saat mengetahui ternyata Widya adalah anak dari orang kaya.


Sebagian memang sudah tahu, tapi sebagian lagi yang benar benar baru menyaksikan sendiri kondisi rumah yang sudah mirip istana itu terkagum kagum dibuatnya.


Sebagian teman temannya yang sudah datang terlihat sibuk menikmati jamuan makanan yang di sediakan, ada yang juga sedang duduk duduk santai di pinggir kolam renang sambil menunggu pesta dimulai.


Meira dan Arga yang baru sampai ke teras belakang, sibuk mencari keberadaan sang empunya pesta.


Barulah setelah mengendarkan pandangannya ke segala arah, dia melihat Widya sedang asyik mengobrol di dekat meja panjang tempat diletakkannya kue ulang tahun.


"Hai Wid. Selamat ulang tahun ya.." Sapa Meira dengan wajah ceria. Meira mengulurkan tangannya menyerahkan sebuah kado ke tangan Widya.


Widya menyambut pelukan Meira dengan seulas senyum tercetak di bibirnya.


"Thanks ya Mei udah nyempetin hadir kesini. Ngapain sih lo repot repot bawa kado segala.."


"Gak kok, gak ngerepotin sama sekali. Lo cantik banget sih Wid hari ini." Puji Meira tulus sambil menatap Widya dengan penuh kekaguman.


Widya memang sangat total dalam menyiapkan penampilannya hari ini. Mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kepala. Semuanya sudah dia persiapkan sedemikian rupa untuk menyambut hari bahagianya ini.


"Cocok gak Mei dress yang gue pake ini?" Widya mengangkat ujung baju bawahnya, kemudian dia berputar putar di depan Meira layaknya peri. Memamerkan gaun cantik yang dia beli dari butik Mamahnya Stella kemarin.


Meira mengangkat dua jempolnya.


"Cocok banget. Serius Wid, lo cantik banget hari ini." Puji Meira lagi.


Widya menyibak helaian rambutnya ke belakang telinga. Agak malu mendengar pujian dari Meira barusan. Tapi hatinya jadi berbunga bunga. Itu artinya semua yang telah dipersiapkannya jauh jauh hari ternyata sukses besar. Dia berharap Reihand juga akan memuji penampilannya ini seperti Meira barusan. Karna sejujurnya orang yang paling ingin dia dengar terkagum kagum akan penampilannya adalah cowok yang sangat ditaksirnya yakni Reihand.


"Oh iya yang lainnya pada kemana?" Tanya Arga saat tak melihat teman teman cowoknya disitu.


"Tuh Manji ada disana!" Widya menunjuk sebuah tempat duduk melingkar di dekat kolam renang. Dia melihat Manji sedang duduk bersama seorang cewek. Meira mengerutkan alisnya.


"Itu, Stella kan. Ngapain tuh anak kesini? kamu ngundang dia juga Wid?" Tanya Arga sambil ikut menatap ke arah Manji dan Stella.


"Iya kenal Ga. Kebetulan ibunya Stella itu temen baiknya nyokap gue." Jawab Widya.


"Oh." Arga hanya mengangguk angguk.


"Kamu kenal dia sayang?" Gantian Meira yang menatap Arga.


"Iya kenal sayang. Kami sekelas. " Jawab Arga.


Arga kemudian mengajak Meira berjalan ke arah meja minuman. Mengambil segelas jus jeruk diatasnya.


"Kamu minum air putih aja ya sayang, jangan kebanyakan minum minuman yang manis, inget pesen Dokter kan? gak baik buat anak kita." Kata Arga. Dia berjalan ke arah pojok meja dan mengambil segeleas air putih disana.


"Iya sayang, iya." Jawab Meira patuh.


"Woi, gue kira lo gak dateng bos!" Tiba tiba Farel menggeplak bahu Arga dari belakang. Farel menyunggingkan senyum selebar senyum kuda kepada Arga dan Meira.

__ADS_1


"Datanglah, gue mau liat lo abisin semua makanan disini!" Kata Arga kalem.


Meira cekikikan.


"Tenang aja Bos. Pasti gue libas ini makanan satu satu! nanti juga semuanya bakal gue pindahin ke dalem perut gue!" alih alih tersinggung, Farel malah terlihat antusias sambil menatap hidangan di depannya dengan sorot mata buas.


"Dasar babon!"


"Hehehe!"


Farel lagi lagi nyengir kuda.


"Si Manji mana sih?" Tiba tiba Farel teringat pada temannya yang satu itu.


"Noh pacaran.." Arga menunjuk ke arah tempat duduk Manji dan Stella dengan dagunya.


"Dih amit amit!" Farel mengerutkan alisnya saat melihat kehadiran Stella.


"Si nenek lampir kok bisa disini sih? hadeh tuh bocah ternyata cinta mati akut sama Manji. Kemana mana ikut terus heran!" Farel geleng geleng kepala.


"Bukan Manji deh kayaknya yang ngajak dia, tapi dia di undang sama yang punya pesta."


"Widya bos maksud lo?"


"Yoi."


Farel mengangguk. Jadi ternyata Widya kenal juga toh sama Stella.


Sementara itu di rumah Flo.


Reihand kelihatan gugup menunggu gadis yang sedang berganti baju di dalam rumahnya.


Sudah hampir sepuluh menit berlalu. Dia berdiri. Mondar mandir kesana kemari. Canggung dan gugup menyelimuti dirinya.


Berkali kali dia melirik ke arah pintu. Harap harap cemas. Tak sabar dia ingin melihat Flo memakai dress dengan nuansa berwarna coklat susu yang dipilih untuk gadis itu.


Waktu itu, setelah mengantarkan Widya ke butik mamahnya Stella. Pulangnya Reihand sengaja mampir ke sebuah toko baju. Dia teringat Flo dan tiba tiba berinisiatif ingin membelikan gadis itu pakaian.


klek


Pintu rumah Flo pun terbuka. Gadis yang sedari tadi di tunggunya keluar juga.


Reihand tersentak, jantungnya berdebar sangat kencang nyaris balapan dengan irama nafasnya yang memburu.


Di balut dress warna coklat susu diatas lutut dengan model lengan terbuka membuat Flo benar benar terlihat sangat anggun dan.. cantik!


Reihand ternganga. Tanpa sadar menghampiri Flo. Membetulkan letak tali di pundak gadis itu yang sedikit melorot.


"Sorry.." Katanya canggung.


Flo menunduk. Malu sekali. Rasanya dia ingin lenyap saja dari situ. Baru kali ini dia memakai pakaian seperti ini.

__ADS_1


Dia merasa tidak pantas. Apalagi bagian punggung dan bahunya lumayan terbuka meski masih dalam batas wajar.


Reihand membuka jaketnya dan mengalungkannya di tubuh Flo. Flo mendongak. Mata mereka saling bertubrukan tak terelakan.


Flo bisa jantungan kalau gini. Dibalut kemeja formal hitam. Ketampanan Reihand nyaris naik berkali kali lipat.


"Yuk kita jalan sekarang, Flo." Reihand mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu.


Flo menyambutnya ragu ragu. Reihand tersenyum jumawa. Begini ya rasanya jatuh cinta. Semua terasa begitu indah jika gadis yang kau cintai ada di sisimu.


Reihand menggandeng Flo hingga ke motor. Dia memakaikan helm ke kepala Flo.


"Sorry, ya Flo. Tadinya gue mau bawa mobil tapi waktunya mepet banget."


Flo hanya menggeleng pelan.


"Gak apa apa. Lagian lo tuh harusnya langsung ke rumah Wid.."


"Sttt.. jangan rusak suasana deh! Lo tuh ya.." Pinta Reihand sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Flo.


Flo tersentak buru buru menyingkirkan tangan itu dari bibirnya.


Reihand tertawa geli. Kemudian dia naik lebih dulu ke atas motornya di susul oleh Flo naik di jok belakang.


"Pegangan ya Non? Lo gak mau kan gue ngebut lagi kaya waktu itu?"


Flo buru buru menggeleng.


"Jangan, awas kalau lo ngebut! gue lompat ntar!" Ancam Flo.


Reihand terbelalak kemudian membuka helmnya.


"Jangan ngomong sembarangan dong!" Reihand melotot marah.


"Kalau ada apa apa sama lo gue gak akan pernah maafin diri gue sendiri." Kata Reihand lagi dengan nada serius tanpa maksud. Flo terdiam, kenapa wajahnya malah bersemu merah mendengar kata kata Reihand barusan.


Buru buru Flo memalingkan wajahnya. Tidak mau Reihand memergokinya yang sedang tersipu malu.


"Kan gue udah bilang pegangan!" Reihand berdecak kesal saat Flo tidak juga mau berpegangan padanya.


"Iya." Jawab Flo singkat.


Tangannya terulur ke depan, ragu ragu dia berpegangan pada sisi pinggang Reihand.


Lo gak tau apa, setengah mati gue nahan gugup ini, Rei!


Reihand menarik nafas panjang, tidak sabar melihat pergerakan Flo yang sangat lamban.


Buru buru dia menarik kedua tangan Flo untuk saling bertautan dengan yang satunya. Flo tersentak otomatis, tubuhnya terdorong menempel ke punggung Reihand dengan posisi memeluk erat cowok itu dari belakang, kini keduanya nyaris tanpa jarak.


Flo pasrah, akhirnya dia menempelkan wajahnya di punggung Reihand.

__ADS_1


Dengan senyum yang mengembang tercetak di wajahnya. Reihand melesatkan motornya ke arah jalanan menuju rumah Widya.


__ADS_2